iklan

Tanaman Keladi Hias

Saat ini banyak terdapat tempat wisata yang memilki tema menyatu dengan alam, hal ini menggambarkan pesatnya usaha pertanian yang dikombinasikan dengan trend masa kini. Para pemuda zaman sekarang sangat tidak bisa dipisahkan dengan aktifitas berkumpul bersama pada suatu café, tempat wisata maupun resto. Akibat adanya perkembangan zaman dengan hadirnya social media, kebutuhan akan pergi ke café dan resto tertentu semakin meningkat sebagai sarana untuk bergaul dan bertukar pikiran satu sama lain, tentu saja dengan adanya fenomena tersebut mereka ingin mencari sebuah café dan resto yang unik dan bagus untuk bergaul. Maka dari itu banyak para pengusaha membuat café maupun resto yang unik yang memberikan kesan kepada pengunjung.

Café masa kini banyak yang bertemakan perkebunan, dan saat ini banyak café yang mendekor dengan menggunakan tanaman hias kecil yang memiliki warna serta bentuk yang indah. Salah satu usaha yang sedang digemari pemuda milenial yaitu plant’s decor atau menyediakan tanaman sebagai alat mendekorasi baik untuk disewakan maupun dijual. Plant’s decor juga menyediakan tanaman untuk dekorasi di acara formal maupun non-formal contohya pernikahan, pemotretan, dan lain- lain. Saat ini banyak pemuda yang membuat acara dengan bertemakan garden party yang tentunya sangat membutuhkan dekorasi- dekorasi memnggunakan tanaman hias. Tanaman yang disediakan sangat beragam bentuk dan warna yang cantik, ukuran dari tanamannya pun beragam mulai dari ukuran kecil yang biasa ditempatkan pada rak- rak pajangan maupun disudut ruangan untuk tanaman yang berukuran besar.

Salah satu tanaman yang digunakan dalam usaha plant’s decor yaitu tanaman keladi wayang atau Caladium bicolor. Keladi merupakan sekelompok tumbuhan dari genus Caladium (suku talas-talasan, Araceae). Dalam bahasa sehari-hari keladi kerap juga dipakai untuk menyebut beberapa tumbuhan lain yang masih sekerabat namun tidak termasuk Caladium, seperti talas (Colocasia). Menurut Tjitrosoepomo (2004), Caladium bicolor atau keladi hias merupakan genus dari famili Araceae, klasifikasi lengkap dari Caladium berdasarkan sistem klasifikasi tumbuhan adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Sub Divisi: Angiospermae, Kelas : Monocotyledoneae, Ordo : Arales, Famili : Araceae, Genus: Caladium, Spesies : Caladium bicolor

Daun keladi hias sangat beragam bentuk, corak, dan warna, serta perawatannya yang mudah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang untuk membudidayakan keladi hias. Bentuk khas dari tanaman keladi hias ini yaitu daunnya yang seperti simbol hati/jantung.warna daunnya bervariasi dari hijau muda, hijau kehitaman, hijau keunguan, kuning, putih, merah muda, merah tua, ungu, keperakan, cokelat,atau  kehitaman, hingga kombinasi dari warna warna tersebut. Daunnya biasanya licin dan mengandung lapisan lilin. Ukuran keladi tidak pernah lebih daripada 1m. Beberapa jenis dan hibridanya dipakai sebagai tanaman hias pekarangan.. Caladium secara alami tumbuh di hutan-hutan tropis yang rindang, subur, dan lembab. Lokasi tumbuhnya antara lain di pinggir sungai, di bawah pohon besar, dan tempat-tempat berongga yang lembab pada ketinggian 0- 1000 m dpl. Tanaman ini dapat tumbuh pada suhu 21-31 ˚C. pada suhu di bawah 15 ˚C Caladium akan mati secara perlahan-lahan dan pada suhu diatas 32 ˚C umbinya akan tumbuh menciut. Sementara itu intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan Caladium 50-70%. Jika intensitas cahaya matahari yang diterima kurang dari 50%, warna daun Caladium akan memucat, maka dari itu tanaman ini ditempatkan indoor dan cocok untuk penghias dalam ruangan.

            Tanaman keladi hias yang biasa digunakan untuk mendekorasi biasanya memiliki tinggi berkisar antara 80- 100 cm. proses perawatan tanaman ini cukup mudah dan tidak memerlukan biaya mahal. Media tanam yang digunakan untuk budidaya keladi hias yaitu sekam, humus, dan tanah. Penyiraman tanaman keladi hias dapat dilakukan dua kali sehari, tanaman ini juga memerlukan pemberian pupuk NPK sebulan sekali. Harga jual keladi hias dimulai dari dua puluh ribu rupiah hingga serratus lima puluh ribu rupiah untuk ukuran sedang yang digunakan dalam usaha plant’s decor.

            Tanaman keladi hias biasanya dipasarkan melalui media cetak maupun online. Seorang plant’s decor biasanya memasarkan tanaman- tanaman yang dijual melalui media online. Seperti Instagram, facebook, dan twitter serta platform perdagangan elektronik seperti shopee, tokopedia dan lain lain. Dengan begitu proses jual beli keladi hias maupun proses penyewaannya sangat mudah dilakukan, serta penjual dapat mengetahui permintaan pembeli terhadap tanaman keladi hias, serta dapat mempermudah komunikasi dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan calon pembeli seputar keladi hias, sehingga pembeli dapat puas dengan pelayanan penjual.

oleh : Maulidya PS

Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan sebagai Penenang Pikiran di Jakarta

Gambar terkait

Minimnya lahan  di Jakarta sebagai tempat bercocok tanam menjadikan sekelompok warga di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan membuat sebuah kawasan pemukiman berbasis pertanian urban. Apabila kita berkunjung langsung ke tempat ini, maka hal pertama yang akan kita lihat langsung yakni gapura yang bertuliskan “Selamat Datang Di Kampoeng Agrowisata”. Jika kita masuk lebih dalam lagi akan terlihat sejumlah pohon mangga yang hampir ada di setiap rumah warga, baik di pekarangan maupun di pinggir jalan depan rumahnya. Maklum saja, kampung ini memang dijadikan kampung percontohan. Sebagai buktinya, bibit pohon mangga yang ditanam di kampung ini pada mulanya memang hasil sumbangan dari Menteri Pertanian RI kala itu. Sampai saat ini, apabila musim mangga telah tiba, maka semua rumah tidak perlu membeli mangga lagi karena mangga dengan rasa yang manis dapat dikonsumsi sepuas hati.

Walaupun kampung ini ada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, di kawasan ini terdapat banyak sekali pepohonan rindang, mulai dari tanaman hias, tanaman budidaya untuk dipanen hasilnya, hingga tumbuhan yang hidup dengan sendirinya berpadu menjadi penenang pikiran di pagi hari saat berolahraga. Adanya kampung ini bermula dari seorang wanita lansia bernama Ibu Haryo yang mencoba untuk menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di halaman rumahnya. Wanita tersebut menanam mengkudu, ginseng, jambu biji dan lain-lain. Ketika diadakan acara arisan RT di rumah wanita lansia tersebut, banyak dari kawannya yang melihat tanaman budidayanya dan penasaran dengan khasiat dari tanaman-tanaman tersebut. Alhasil banyak kawan Ibu Haryo yang merasakan khasiat dan mencoba untuk membudidayakannya di halaman rumahnya sendiri. Hingga tahun 2007, dapat dipastikan dalam kawasan tersebut sebanyak 1060 kepala keluarga telah memiliki minimal 1 tanaman obat keluarga.

Pada 25 Oktober 2009, Kampoeng Agrowisata telah diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan kala itu yakni H. Syahrul Effendi SH., MM. Hal tersebut dapat terjadi karena Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan telah memenuhi kriteria sebagai Kampung Agrowisata, diantaranya setiap rumah sudah memiliki minimal 1 pohon, terdapat banyak lubang biopori dan juga banyak pula warga yang menanam bunga-bungaan untuk mempercantik pekarangan rumahnya sehingga lingkungan menjadi semakin asri. Bagi warga yang menanam sayuran di pekarangan rumahnya, apabila tanaman sayuran telah siap panen, maka biasanya warga di lingkungan sekitar akan menggunakan sayuran tersebut sebagai pelengkap ruko jajanan di tempat tersebut. Panganan yang disediakan bervariasi, mulai dari pecel lele, ayam goreng, bakso, hingga siomay. Saya sendiri sering ke Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan ini untuk berolahraga jogging. Apabila setelahnya merasa lapar, maka biasanya langsung ke ruko jajanan yang tersedia.

Selain itu, warga di lingkungan ini juga aktif dalam kegiatan sosialnya. Hal itu terlihat dalam setiap minggunya para ibu rumah tangga rutin berolahraga senam pagi demi menjaga kesehatannya, lalu juga ada perkumpulan para pensiunan yang biasanya bermain musik keroncong tiap awal bulan, pengajian rutin tiap malam jumat, santunan anak yatim tiap menjelang Idul Fitri hingga kegiatan pencak silat yang biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja. Ditambah lagi dengan adanya warga yang juga rutin untuk membuat pupuk kompos sendiri dari sampah-sampah organik terutama daun-daun yang berguguran. Sekitar 30 persen warganya bekerja mengolah pupuk kompos untuk dijual ke luar Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk sampah yang non-organik,  juga dapat didaur ulang menjadi berbagai macam kerajinan. Ibu-ibu PKK biasanya membuat sampah plastik, botol, kaleng bekas, koran bekas menjadi barang yang bernilai jual. Biasanya barang hasil kerajinan tersebut tidak dipasarkan keluar kawasan, tetapi hanya dijual di sebuah toko kerajinan yang juga ada di dalam Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan tersebut.

Dengan adanya Kampoeng Wisata Pesanggarahan ini diharapkan para pengunjung bisa mengambil sisi positif dalam budidaya pertanian yakni jika tidak ada lahan untuk bercocok tanam dapat dilakukan di media pot atau dengan metode hidroponik apabila tidak memiliki tanah sama sekali di rumahnya dan juga dapat memotivasi kawasan-kawasan di Jakarta dan sekitarnya untuk turut menghijaukan kembali lahan yang kian tergusur oleh pembangunan infrastuktur dan peningkatan polusi agar tercipta udara yang bersih dan sehat serta bermanfaat.

Oleh : Aksha Febryadi