iklan

Dampak Pemupukan terhadap pertanian berkelanjutan

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambah an penduduk serta pertumbuhan sektor industri telah mendorong munculnya system pertanian modern dengan ciri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terhadap pupuk anorganik. Kondisi ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah.  Usaha pertanian dengan mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan berlanjut hingga ke masa sekarang serta banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.  Penggunaan input kimiawi dengan dosis tinggi tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia ke dalam tubuh manusia dan lingkungan.

Sejak zaman purba sampai saat ini, pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan struktur dan  agregat  tanah  yang mantap dan berkaitan erat dengan kemampuan tanah mengikat air, infiltrasi air, mengurangi resiko terhadap ancaman erosi, meningkatkan kapasitas pertukaran ion dan sebagai pengatur suhu tanah yang semuanya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman ( Kononova, 1999).

Pertanian Berkelanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung” dapat pula “ kemampuan untuk bertahan dan menjaga tidak merosot”.  Dalam  kontek  pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR), 1988 dalam  Reijntjes  C  (2002) menyatakan bahwa Pertanian Berkelanjuta  adalah  pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Namun demikian, banyak orang yang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut ( Soetanto, 2006) :

  1. mantap secara ekologis, yang berarti mampu mempertahankan kualitas sumber daya alam dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan,
  2. bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti dapat mengembalikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan serta meningkatkan penghasilan,
  3. manusiawi, yang berarti menghargai semua bentuk kehidupan, dan
  4. luwes, yang mana para petani mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Sugito. Y, (2003) menyatakan bahwa yang perlu diperhatikan dalam penerapan pertanian berkelanjutan antara lain:

  1. Mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil panen.
  2. Mengurangi tingkat   kerusakan  lahan  sebagai akibat pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
  3. Mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami, misalnya mengusahakan terjadinya siklus bahan organik dan unsur hara.
  4. Dapat meningkatkan daya pegang tanah
  5. Mengurangi penggunaan  input  dari  luar  yang bersifat kimiawi, salah satunya adalah mensubstitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik.
  6. Memberdayakan petani   untuk   meningkat-kan rasa percaya diri atas keberhasilan usaha taninya
  7. Meningkatkan efisiensi  proses  produksi  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan.

Teknik budidaya kimiawi seperti yang dicanangkan pada Revolusi Hijau dapat meningkatkan produksi pada waktu pendek,  namun untuk jangka panjang dapat menurunkan kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah, sehingga akan menambah jumlah lahan kritis dan marginal di Indonesia. Selain itu juga akan berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma/ dampak negatif juga akan tampak pada timbulnya hama resisten, berkembangnya organisme parasit, meningkatnya ancaman bagi organisme predator, ikan, burung bahkan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Pengaruh racun tidak hanya terbatas pada daerah pemakaian, tetapi dapat menjadi makin luas melalui komponen rantai makan, seperti air minum, sayuran, buah-buahan dan produk lain yang terkontaminasi. (Zulkarnain,2009).  Introduksi varietas unggul padi yang responsif pada pemupukan, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi andalan program Bimas. Di satu sisi, Revolusi Hijau terbukti mampu meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi menyebabkan permasalahan lingkungan sebagai dampak dari aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif, antara lain kecenderungan penggunaan input yang tinggi, terutama pupuk dan pestisida, karena mencemari sumber daya lahan, air dan lingkungan. Sekitar air yang mengairi sebagian sawah di Jawa mengandung 54 mg/l nitrat atau 20% lebih tinggi dari batas toleransi yaitu 45 mg/l (Las et al,2006).

Pupuk   anorganik   dapat   dibedakan   menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara saja, misalnya pupuk urea yang mengandung unsur N, pupuk TSP yang mengandung unsur P dan pupuk KCl yang didominasi oleh unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya N+K, N+P,P+K, N+P+K dan sebagainya. Sedangkan pupuk lengkap adalah pupuk  yang mengandung unsur  hara  makro  dan mikro. Pemberian pupuk anorganik  ke  media tanam sangat digemari petani, hal ini disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki pupuk anorganik antara lain

  1. pemberiannya dapat terukur dengan tepat,
  2. kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat dan dalam waktu yang cepat,
  3. kadar unsur yang dikandungnya   tinggi,   sehingga   dengan pemberian    yang sedikit dapat memenuhi kebutuhan tanaman,
  4. banyak diperjual bellikan sehingga mudah didapat,
  5. proses pengangkutan ke lahan lebih mudah karena jumlah yang diangkut lebih sedikit
  6. tanaman memberikan respon yang sangat tinggi terhadap pem-berian pupuk anorganik.

Selain kelebihan yang dimilikinya, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan, yaitu :

  1. selain unsur hara makro, pupuk anorganik sangat sedikit atau hampir tidak mengandung unsur hara mikro,
  2. pemberian pupuk  anorganik  melalui akar harus diimbangi dengan penggunaan pupuk daun yang mengan-dung unsur hara mikro,
  3. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat merusak tanah,
  4. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian tanaman
  5. dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, salinisasi, tercemar logam berat dan tercemar senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah.

Kerusakan srtuktur tanah ini dapat  terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurang nya biodiversitas organisme tanah, dan biasanya terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain ( fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebab-kan pemasaman tanah dan menurunnya populasi cacing secara drastis.

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.  Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.  Penggunaan pupuk yang berlebihan, cenderung tidak efektif dan banyak mengeluarkan biaya. Selain itu untuk zat hara yang tidak diserap tanaman akan terbawa oleh air tanah dan terbuang ke sistem perairan misal ke selokan, sungai, waduk atau danau. Zat hara ini justru akan dimanfaatkan oleh gulma di selokan dan sungai seperti rumput liar, gulma, tanaman air seperti kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Akibatnya sistem perairan akan tertutup dengan tanaman liar ini dan produksi perikanan mungkin terganggu, keseimbangan ekosistem perairan juga akan terganggu.

Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia. Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Oleh : Evy Latifah

 

Nikmatinya kopi “Bulan Madu”

Nikmatnya Kopi Bulan Madu Racikan Alumni Bata-Bata Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbaik dunia. Kopi ini tumbuh di atas 1000 dpl di kawasan lereng Gunung Ijen, Raung dan Argopuro. Kopi yang tumbuh di sekitar lereng Gunung Ijen dan Raung ini juga telah diproses secara organik oleh petani dengan menggunakan pola tanam dan perawatan sesuai standar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia.

Kopi ini memiliki cita rasa khas yakni beraroma coklat dengan rasa manis dan pedas jika dikecap lama – lama. Selain itu kadar keasaman juga pas dan tak berbahaya untuk lambung. Cita rasa yang khas inilah yang juga mengantarkan kopi Bondowoso memperoleh sertifikat indikasi geografis dengan nama “Java Ijien Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Kini  kopi Bondowoso juga telah di ekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika.

Peluang bisnis ini kemudian ditangkap oleh Muhlis Adi Rangkul, alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang kini tinggal di Perumahan Taman Mutiara, Blok AA-15, Pejaten Bondowoso.

Bondowoso dideklarasikan sebagai sebagai “Republik Kopi” pada Mei 2016 kemarin oleh Drs. H. Amin Said Husni Bupati Bondowoso, yang juga Presiden Republik Kopi. “Jadi sejak Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi, saya kemudian membuka usaha kopi. Saya menjualnya dalam bentuk bubuk kopi murni. Namun demikian, kopi Bulan Madu ini hanya khusus untuk oleh oleh. Saya tidak buka cafe,” ujar Muhlis.

Menurut Muhlis, saat ini ia masih belum memiliki alat yang memadai untuk memproduksi sendiri. Sehingga ia kemudian bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani kopi di Kecamatan Sumber Wringin dan Kecamatan Pakem. Kelompok petani kopi ini merupakan binaan DInas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Bondowoso. Mereka mengolah kopi mulai dari menanam hingga memetik sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).

“Jadi saya membeli bubuk kopi murni dari para petani yang sudah bekerja secara professional itu. Lalu saya mengemas kopi bubuk murni itu dengan kemasan yang menarik. Adapun harga per bungkus adalah Rp. 50.000 dengan berat bersih 200 gram,” terangnya. Kopi-kopi yang sudah ia kemas itu, lanjut Muhlis kemudian ia jual ke sejumlah daerah semisal Jember, Situbondo, Banyuwangi, Malang, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Dalam setiap harinya, rata-rata ia mampu menjual antara 5-10 bungkus. “Biasanya kopi bulan madu itu dijadikan oleh-oleh. Selain itu juga untuk konsumsi pribadi dan juga keluarga,” terangnya. Menurut dia, kopi bulan madu tidak berbahaya di lambung. “Salah satu cara efektif untuk mengetahui kopi itu baik untuk pencernaan adalah melalui bau kencing. Kalau kita minum kopi kemudian ketika buang air kecil kita berbau kopi, itu biasanya tidak baik untuk pencernaan.

Namun jika tidak bau, maka itu dapat diartikan baik untuk pencernaan,” katanya. Untuk menghasilkan rasa yang lebih baik, cara penyeduhan kopi bulan madu adalah dengan cara memasukkan 10 gram bubuk kopi murni kopi bulan madu ke dalam gelas atau cangkir. Kemudian air dimasak hingga mendidih dan diamkan beberapa saat. Setelah itu masukkan air ke dalam gelas atau cangkir perlahan-lahan. Selanjutnya seduh ke kiri, bukan kekanan agar aromanya naik ke atas. Baru kemudian dimasukkan gula sesuai selera.

Pebisnis agri, kini.

Teknologi membuat dunia berubah sangat cepat, semua sektor bisnis terimbas, tak terkecuali bisnis sektor pertanian.  Saya alumni Fakultas Pertanian yang cukup lama menjauh dari bidang studi saya.  Setengah tahun terakhir, saya kembali tersambung dengan para sahabat aktivis sektor pertanian.  Mereka masing-masing sudah memiliki domain bisnis, mulai dari tanam menanam komoditas pertanian, beternak sapi, kambing, domba, lele dan aneka hidupan lain, membuat produk olahan pertanian dan peternakan, memproduksi sarana pertanian, pupuk, obat-obat pertanian dan sejenisnya.  Mereka masing-masing bertumbuh menjadi ahli di bidang usahanya masing-masing.

Saya tidak memiliki pengalaman apapun yang bersentuhan dengan bidang pertanian dan peternakan.  Pengalaman saya bercocok tanam, sebatas masa lalu di lahan praktikum dan beberapa tetumbuhan pot di rumah.  Selepas kuliah, pengalaman saya lebih banyak bersentuhan dengan bisnis ritel, komunitas belajar bisnis, komunitas Usaha Kecil Menengah (UKM), website, ecommerce dan start-up.   Selain dari saya pernah bekerja sebagai wartawan, bekerja di konsultan Public Relations dan Penulis di sebuah organisasi non pemerintah nir laba.

Sehingga, saat saya terhubung dengan teman-teman pelaku bisnis sektor agri, dan aktif berdiskusi di komunitas Incagri.  Saya serupa tamu, yang melihat sektor pertanian dan pelakunya dari luar.  Saya memiliki sudut pandang yang berbeda, dari teman-teman yang berkecimpung di dunia agri.

Ada yang harus diubah – mindset kita.

Teman saya si pegiat peternakan sapi dan pemilik rumah potong, sibuk memikirkan naik turunnya harga daging, produksi susu dan semua hal terkait seluk beluk usaha ternaknya.  Teman lain,  si peternak kambing, sibuk mendampingi para peternak kambing, sambil bingung bagaimana mendapatkan pasar bagi usaha kambingnya.  Katanya, kebutuhan kambing tinggi, tapi harga jual kambing tidak pernah tinggi.  Kesulitan cari pembeli, kambing yang sudah digemukkan dengan susah payah, ditawar dengan harga murah.

Disebelah sana, Teman yang berkebun bunga Krisan, perlu modal untuk memperluas lahan. Sambil masih meraba-raba, kemana arah pemasaran hasil panen krisan-nya kelak, apalagi jika melimpah.  Dijual sebagai bunga potong, harganya murah, mau dipasok ke industri, jumlah panennya belum mencukupi kuota.  Kawan yang lain, menawarkan gagasan berkebun kelapa pandan wangi, konon ini jenis kelapa yang paling enak untuk sajian welcome drink.  Gagasannya menguap di udara, tidak tersambut. Teman lain lagi, menawarkan investasi berkebun sorghum.  Teman pegiat hidroponik, ingin mengembangkan usahanya.  Teman satunya lagi lagi, memproduksi olahan susu, memproduksi bawang goreng dalam kemasan, kopi hijau siap seduh dan lain-lain. Kemana produk akan dipasarkan ?

Sebagian teman lain, berhasil berinovasi menemukan produk-produk sarana pertanian organik.  Penyubur tanah, penyehat tanaman dan pembasmi hama penyakit yang sangat ramah lingkungan.  Tapi terkendala perijinan, perlu uang untuk mengurus ijin edar.  Persis dialami  oleh  teman yang ingin memproduksi sabun dan produk lain dari susu, terhambat perijinan.

Semuanya memiliki potensi, semua sibuk merintis bisnis, dan berjuang mempertahankan nyawa bisnis. Sendiri-sendiri.  Bagaimana mensinergikan semua potensi itu ?  bagaimana saling terhubung dan tumbuh bersama ?  Diluar sana, derap startup dengan beraneka kisah investasi skala triliun membuat tercengang.  Teknologi sedang mendisrupsi semua sektor, juga sektor agri.  Dan para aktivis agri-pun, tergagap-gagap menatap perubahan.

Apapun jenis bisnis yang sedang kita geluti saat ini, tidak bisa dilihat dalam proyeksi linier.  Perilaku pelanggan berubah, pola konsumsi berubah, yang dulunya lapak ramai pembeli, sekarang sepi.  Semakin banyak orang membuat produk, semakin ramai orang berjualan.  Semakin sibuk orang-orang dengan gawai masing-masing, melakukan berbagai aktifitas dan pemenuhan kebutuhan dengan perantara gawai.

Para pebisnis agri lapis baru -yang bergelar sarjana-, harus mau belajar,  bertukar pikiran memperluas jaringan.  Bukan lagi belajar bercocok tanam, bukan lagi belajar pemijahan.  Mereka harus belajar, bagaimana pertanian dijalankan di era teknologi.  Bagaimana pengetahuan dan penguasaan akan data, menjadi penentu penting bagi masa depan bisnisnya.   Bisnis yang kita jalani, produk yang kita buat, tidak lagi bergerak, seperti air mengalir pada sebuah pipa.   Produk yang kita buat, harus berupa produk yang memberi nilai tambah bagi penggunanya.  Produk kita harus berinteraksi dengan penggunanya.  Produk kita berkolaborasi dengan produk lain, membentuk nilai tambah baru.  Ada inovasi, ada pembaruan, ada solusi atas masalah.  Bahkan sebuah masalah, yang dulu belum pernah ada.

Para pebisnis agri, harus membuka diri, mengkoneksikan diri dengan derap perubahan diluar.  Memperkuat nilai diri, dan mengambil posisi dalam ekosistem bisnis.  Memikirkan bisnis yang memiliki potensi untuk bertumbuh multi arah, bukan tunggal. Yang menurut kita tak mungkin hari ini, biasanya karena kita belum tahu, bahwa dibelahan dunia lain, para pelaku agri disana sudah melakukannya.  Pengetahuan sudah lintas batas, kita harus membongkar sekat-sekat pikir.  Berjejaring, belajar dan berupaya menemukan formulasi bagi tumbuhnya ekosistem bisnis agri modern. Teman-teman di komunitas incagri adalah pebisnis agri lapis baru, hanya dengan terus belajar maka kita akan punya tangan dan kaki yang kuat untuk menarik gerbong besar pertanian Indonesia.

Caranya bagaimana? Mari kita pikirkan dan kita temukan cara itu.

Sumber : Ines Handayani (2017)

Muda Talenta, Pengusaha Buah Jeruk

Bagi sebagian besar Pemuda yang memiliki peran sebagai Youth of Change, berkarir sekaligus berwirausaha , tentu dituntut untuk menjalankan peran sebagai pendobrak kenyataan dengan  mengambil jatah bersusah susah dahulu bersenang senang kemudian. Maka tak heran, setiap hari sebelum bergegas pergi bekerja, biasanya pemuda perkasa  dan bersahaja ini harus terlebih dahulu berdoa membaca Al Waqiah  setelah sholat subuh. Siklus ini sudah biasa dijalani oleh Sosok Pemuda rantau, yang dilakukan Deris Tamura 30 tahun. Pria kelahiran Sidoarjo. Pada kesempatan minggu ini Team Redaksi Incagri berkesempatan mewawancarai di sela-sela kesibukannya sebagai juragan buah jeruk.

Team   : Apa kabar mas Deris, sibuk banget ini kayaknya?hehehe,…

Deris    : Alhamdulillah kabar baik, iyaaa ini ada pesenan jeruk ke Kalimantan. Lumayan banyak  juga. Yaa harus di kemas dengan rapi dan gak telat kirim.

Team   : Pelanggan ya mas?

Deris    : Iyaa sudah lama kita kerjasama.

Team   : Mas Deris, dalam seminggu bisa kirim berapa kg jeruk?

Deris    : Kalau sepi 600-700 kg, kalau pas ramai ya bisa sampai 1 ton. Itu yang dikirim keluar malang. Tapi kalau untuk sekitaran malang raya ya biasanya 300kg – 500kg

Team   : Wah, banyak juga yaa mas. Apa sih mas kuncinya bisa sebanyak itu?

Deris    : Pemasaran kita! Kuncinya di situ.

Kami memasarkan buah jeruk, sama seperti memasarkan barang di digital market. Memaksimalkan sosmed, grup di WA dan ikut event-event.

Team  : Selain pemasaran, ada lagi kah mas?

Deris    : Kita tetap mengutamakan kwalitas buah, karena ini kan termasuk pelayanan.

Team   : Selama ini ada kendala atau suka duka apa mas dalam berbisnis buah jeruk?

Deris    : Ya paling keterlambatan saja sih, karo kwalitas buah kita bisa jamin. Lebih banyak suka juga she daripada duka.

Team   : Pertanyaan terakhir, kenapa mas deris memilih bisnis ini?

Deris    : Dagang itukan salah satu pintu rezeki yang disarankan Nabi, dan siapa she yang gak suka buah jeruk. Mulai dari masyarakat golongan bawah sampai masyarakat golongan atas pasti suka jeruk. Hanya saja keterjangkauan harga dan kwalitas mempengaruhi daya beli masyarakat. Bisnis buah jeruk ini juga cukup menjanjikan, persaingan harga oleh pedagang besar memang hal wajar. Tapi yaa tetap saja enjoy, dinikmati.

Team   : Terima kasih mas atas waktunya, sukses selalu  untuk usahanya. Ditunggu kabar berita usaha lainnya ya.hehe