iklan

Abu Vulkanik Gunung Sinabung Membawa Dampak Bagi Pertanian

Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan gunung api. Abu vulkanik terdiri atas partikel berukuran besar sampai halus. Istilah abu vulkanik digunakan untuk material ketika sedang berada di udara.Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda. Bencana satu hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Akan tetapi suatu bencana dapat membawa dampak negatif tetapi ada juga yang membawa dampak positif khususnya di bidang pertanian karena pertanian sangat berpengaruh terhadap suatu negara terdapat 70% pendapatan dan belanja yang berhubungan dengan pertanian yang digunakan sebagai bahan pangan.

Gunung Sinabung terletak di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini 2.460 meter diatas permukaan laut. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600 (Global Volcanism Program, 2008). Debu dan pasir vulkanik yang disemburkan ke langit mulai dari berukuran besar sampai berukuran yang lebih halus. Debu dan pasir vulkanik ini merupakan salah satu batuan induk tanah yang nantinya akan melapuk menjadi bahan induk tanah dan selanjutnya akan mempengaruhi sifat dan ciri tanah yang terbentuk (Fiantis, 2006). Bahan-bahan vulkanis tersebut nantinya akan menjadi bahan induk penyusun tanah (Hardjowigeno, 2007). Pada tahun 2010 Gunung Sinabung mengeluarkan asap, hujan pasir dan abu vulkanis yang sangat tebal. Hingga saat ini gunung sinabung masih dalam zona merah. Hal tersebut menyebabkan masyarakat Kabupaten Karo banyak mengeluh akibat dari abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktivitas aktivitas yang akan dilakukan. Saat itu abu vulkanik menyelimuti permukiman dan lahan pertanian warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketebalan abu vulkanik yang berkisar antara 2 hingga 5 sentimeter membuat tanaman para petani terpapar abu vulkanik.

Tebalnya material abu yang bercampur batu kerikil telah merusak berbagai jenis tanaman hortikultura. Tidak hanya itu banyaknya atap rumah mereka yang jebol akibat dari batu kerikil tersebut. Kondisi ini mengakibatkan para petani terancam gagal panen karena semua tanaman yang terkena abu vulkanik rusak bahkan ada yang mati sehingga membuat para petani gagal panen. Tanaman sayur mayur, buah buahan, kopi dan tembakau yang menjadi sumber penghasilan pasti gagal panen karena timbunan abu vulkanik apalagi pada saat itu Tanah Karo musim kemarau membuat tanaman yang terkena abu akan gosong dan mati. Dalam hal ini, dampak erupsi Gunung Sinabung terhadap kondisi sosial ekonomi petani tidak positif, yang berarti erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi sosial ekonomi petani, baik itu dalam segi pendapatan,pendidikan maupun kesehatan. Begitu juga karena sebagian besar masyarakat Tanah Karo mengharapkan hasil dari bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari hari .

Namun, disamping itu abu vulkanik juga dapat membawa dampak positif yang menguntungkan para petani yaitu karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, mineral tinggi dan sulfur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sehingga baik untuk tanah di wilayah Tanah Karo serta karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, dan mineral tinggi serta dapat memperbaiki struktur tanah dan kandungan hara yang miskin karena intensifikasi pertanian, serta menjernihkan air yang memiliki kualitas rendah. Abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menurunkan tingkat keasaman pada tanah tetapi dalam jangka panjang sangat bagus bagi manusia terutama pada bidang pertanian. Sedangkan dalam jangka panjang, manfaat dari hujan abu vulkanik bagus bagi pertanian. Tentunya setelah melewati proses denormalisasi. Denormalisasi bisa secara alami yang diolah oleh tanah, bisa juga oleh manusia sendiri yang melakukannya. Caranya adalah dengan pemberian dolomit atau pengapuran (CaCo3) yang akan merubah mineral di abu menjadi pupuk yang berguna bagi tanah, banyak terdapat aneka bahan tambang seperti belerang, logam, dan permata yangdapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk mendapatkan hasil.

Pada gambar ini menunjukkan seorang petani yang menyiram tanaman yang terkena abu vulkanik agar meminimalisir terjadinya kematian pada tanaman. Lalu menyemprot dengan obat-obat yang dapat menyegarkan tanaman tersebut dan dapat menghasilkan, hasil yang maksimal.

Oleh: Margaretha Libertyna Br Bukit