iklan

Dampak Pemupukan terhadap pertanian berkelanjutan

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambah an penduduk serta pertumbuhan sektor industri telah mendorong munculnya system pertanian modern dengan ciri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terhadap pupuk anorganik. Kondisi ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah.  Usaha pertanian dengan mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan berlanjut hingga ke masa sekarang serta banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.  Penggunaan input kimiawi dengan dosis tinggi tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia ke dalam tubuh manusia dan lingkungan.

Sejak zaman purba sampai saat ini, pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan struktur dan  agregat  tanah  yang mantap dan berkaitan erat dengan kemampuan tanah mengikat air, infiltrasi air, mengurangi resiko terhadap ancaman erosi, meningkatkan kapasitas pertukaran ion dan sebagai pengatur suhu tanah yang semuanya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman ( Kononova, 1999).

Pertanian Berkelanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung” dapat pula “ kemampuan untuk bertahan dan menjaga tidak merosot”.  Dalam  kontek  pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR), 1988 dalam  Reijntjes  C  (2002) menyatakan bahwa Pertanian Berkelanjuta  adalah  pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Namun demikian, banyak orang yang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut ( Soetanto, 2006) :

  1. mantap secara ekologis, yang berarti mampu mempertahankan kualitas sumber daya alam dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan,
  2. bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti dapat mengembalikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan serta meningkatkan penghasilan,
  3. manusiawi, yang berarti menghargai semua bentuk kehidupan, dan
  4. luwes, yang mana para petani mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Sugito. Y, (2003) menyatakan bahwa yang perlu diperhatikan dalam penerapan pertanian berkelanjutan antara lain:

  1. Mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil panen.
  2. Mengurangi tingkat   kerusakan  lahan  sebagai akibat pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
  3. Mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami, misalnya mengusahakan terjadinya siklus bahan organik dan unsur hara.
  4. Dapat meningkatkan daya pegang tanah
  5. Mengurangi penggunaan  input  dari  luar  yang bersifat kimiawi, salah satunya adalah mensubstitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik.
  6. Memberdayakan petani   untuk   meningkat-kan rasa percaya diri atas keberhasilan usaha taninya
  7. Meningkatkan efisiensi  proses  produksi  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan.

Teknik budidaya kimiawi seperti yang dicanangkan pada Revolusi Hijau dapat meningkatkan produksi pada waktu pendek,  namun untuk jangka panjang dapat menurunkan kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah, sehingga akan menambah jumlah lahan kritis dan marginal di Indonesia. Selain itu juga akan berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma/ dampak negatif juga akan tampak pada timbulnya hama resisten, berkembangnya organisme parasit, meningkatnya ancaman bagi organisme predator, ikan, burung bahkan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Pengaruh racun tidak hanya terbatas pada daerah pemakaian, tetapi dapat menjadi makin luas melalui komponen rantai makan, seperti air minum, sayuran, buah-buahan dan produk lain yang terkontaminasi. (Zulkarnain,2009).  Introduksi varietas unggul padi yang responsif pada pemupukan, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi andalan program Bimas. Di satu sisi, Revolusi Hijau terbukti mampu meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi menyebabkan permasalahan lingkungan sebagai dampak dari aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif, antara lain kecenderungan penggunaan input yang tinggi, terutama pupuk dan pestisida, karena mencemari sumber daya lahan, air dan lingkungan. Sekitar air yang mengairi sebagian sawah di Jawa mengandung 54 mg/l nitrat atau 20% lebih tinggi dari batas toleransi yaitu 45 mg/l (Las et al,2006).

Pupuk   anorganik   dapat   dibedakan   menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara saja, misalnya pupuk urea yang mengandung unsur N, pupuk TSP yang mengandung unsur P dan pupuk KCl yang didominasi oleh unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya N+K, N+P,P+K, N+P+K dan sebagainya. Sedangkan pupuk lengkap adalah pupuk  yang mengandung unsur  hara  makro  dan mikro. Pemberian pupuk anorganik  ke  media tanam sangat digemari petani, hal ini disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki pupuk anorganik antara lain

  1. pemberiannya dapat terukur dengan tepat,
  2. kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat dan dalam waktu yang cepat,
  3. kadar unsur yang dikandungnya   tinggi,   sehingga   dengan pemberian    yang sedikit dapat memenuhi kebutuhan tanaman,
  4. banyak diperjual bellikan sehingga mudah didapat,
  5. proses pengangkutan ke lahan lebih mudah karena jumlah yang diangkut lebih sedikit
  6. tanaman memberikan respon yang sangat tinggi terhadap pem-berian pupuk anorganik.

Selain kelebihan yang dimilikinya, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan, yaitu :

  1. selain unsur hara makro, pupuk anorganik sangat sedikit atau hampir tidak mengandung unsur hara mikro,
  2. pemberian pupuk  anorganik  melalui akar harus diimbangi dengan penggunaan pupuk daun yang mengan-dung unsur hara mikro,
  3. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat merusak tanah,
  4. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian tanaman
  5. dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, salinisasi, tercemar logam berat dan tercemar senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah.

Kerusakan srtuktur tanah ini dapat  terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurang nya biodiversitas organisme tanah, dan biasanya terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain ( fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebab-kan pemasaman tanah dan menurunnya populasi cacing secara drastis.

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.  Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.  Penggunaan pupuk yang berlebihan, cenderung tidak efektif dan banyak mengeluarkan biaya. Selain itu untuk zat hara yang tidak diserap tanaman akan terbawa oleh air tanah dan terbuang ke sistem perairan misal ke selokan, sungai, waduk atau danau. Zat hara ini justru akan dimanfaatkan oleh gulma di selokan dan sungai seperti rumput liar, gulma, tanaman air seperti kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Akibatnya sistem perairan akan tertutup dengan tanaman liar ini dan produksi perikanan mungkin terganggu, keseimbangan ekosistem perairan juga akan terganggu.

Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia. Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Oleh : Evy Latifah

 

Lindungi Sawah agar tidak menjadi Beton

Konversi lahan sangat mempengaruhi terjadinya penurunan produksi karena semakin sempit suatu lahan maka akan semakin sedikit lahan yang dapat ditanami tanaman pertanian. Berdasarkan data Kementrian Pertanian konversi lahan pertanian  96.500 ha per tahun. jumlah penduduk yang semakin meningkat berarti semakin besar juga kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Lahan pertanian dikonversi menjadi lahan permukiman, jalan, industri dan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif dan ketersediaannya yang terbatas. Alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian disebabkan oleh beberapa faktor meliputi faktor eksternal (adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi), faktor internal (kondisi sosial-ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan), dan faktor kebijakan (aspek regulasi yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian).

Dampak konversi lahan sawah antara lain menurunkan produksi padi nasional, kerugian akibat investasi dana untuk mencetak sawah, membangun waduk dan sistem irigasi. Selain itu, dampak konversi lahan sawah adalah menurunnya kesempatan kerja dalam bidang pertanian dan degradasi lingkungan. Pencegahan konversi lahan sawah dapat dilakukan hanya bersifat pengendalian yang bertitik tolak dari faktor-faktor penyebab terjadinya konversi lahan sawah, yaitu faktor ekonomi, sosial, dan perangkat hukum.

Perlindungan lahan pertanian agar tidak dikonversi sudah dilakukan dengan cara adanya undang-undang 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Pasal 18 menjelaskan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan dengan penetapan:

  • Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
  • Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di dalam dan di luar Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan; dan
  • Lahan Cadangan Pertanian  Pangan Berkelanjutan di dalam dan di luar Kawasan Pertanian PanganBerkelanjutan.

Pengendalian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah  melalui pemberian:

  1. Insentif;
  2. Disinsentif;
  3. Mekanisme perizinan;
  4. Proteksi; dan
  5. Penyuluhan.

Insentif yang dapat diberikan kepada petani berupa keringanan Pajak Bumi dan Bangunan, Pengembangan  infrastruktur pertanian, pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan varietas unggul, kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi, penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian, jaminan  penerbitan sertifikat bidang tanah pertanian pangan melalui pendaftaran tanah secara sporadik dansistematik; dan/atau penghargaan bagi petani berprestasi tinggi.

Apabila tidak dilakukan perlindungan terhadap lahan sawah dengan bertambahnya jumlah manusia maka kebutuhan akan hunian (rumah) dan kebutuhan lainnya dimungkinkan semua sawah akan berubah menjadi beton. Dengan demikian kita juga mungkin akan terpaksa “menanam padi di atas beton” untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pertanian di Desaku “Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri”

Kondisi Umum

Kondisi Pertanian di desa palem kecamatan pare kabupaten kediri memiliki tanah subur bekas letusan Gunung Kelud  dan mempunyai ketinggian 125 mdpl. Lahan ini cocok untuk ditanami tanaman jagung, padi, bawang merah, cabai, terong dan lain-lain.  Suhu udara 23̊ C – 31̊ C sangat cocok untuk kegiatan bercocok tanaman dan peternakan. Penduduk di desa desa palem banyak bekerja sebagai petani, namun ada pula yang menjadi peternak seperti peternak sapi, peternak ayam dan budidaya lele.

kegiatan pertanian ditunjang dengan adanya irigasi sebagai sumber pengairan, namun pada saat musim kemarau terjadi saluran irigasi tidak berjalan dengan baik sehingga petani susah mencari air karena kekeringan. Masalah pengairan tersebut biasanya masyarakat menggunakan bantuan pompa  air untuk mengairi sawahnya. Akan tetapi harga pompa air cukup mahal yaitu sebesar Rp. 4.000.000,-

Komoditas

Salah satu komoditas paling terkenal di Pare yaitu jagung, dengan seluas lahan 1 Ha bisa menghasilkan 7-10 ton. Biasanya hasil panen ini dijual oleh petani kepada pengepul, penjual pakan ternak, dan ke pabrik marning. Jagung biasanya dijual ke pengepul dengan harga sebesar Rp 3.000 – 6.000/ Kg. Selain jagung, Padi merupakan komoditas kedua setelah jagung, sebagian besar petani menanam padi untuk dijual kepada pengepul dengan harga berkisar Rp 4.500/Kg. Selain dibidang pertanian, masyarakat di desa palem banyak juga yang menjadi peternak. Peternak paling sedikit memiliki 3-4 ekor sapi yang dirawat sendiri oleh pemiliknya. Namun adapula peternak yang meiliki 20 ekor sapi yang dipelihara oleh orang lain atau sistem bagi hasil dengan. Sapinya dijual kepada blantik dengan harga sesuai dengan kondisi sapi tersebut, ada yang besar adapula yang kecil, masing – masing memiliki harga yang berbeda.

Masalah pertanian

Jagung sebagai komoditas unggulan di kecamatan pare dihadapkan dengan masalah hama yang dapat mempengaruhi produksi. Hama yang menyerang tanaman jagung adalah wereng jagung dan bulai. Jagung yang terserang hama wereng mempunyai gejala seperti terdapat bercak garis bewarna kuning panjang sampai dengan pelepah daun pada tanaman jagung sehingga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Hama wereng dapat ditangulangi dengan cara menyemprotkan pestisida pada bawah daun atau dimana tempat hama wereng jagung bersarang. Sedangkan gejala pada bulai sudah mulai terserang pada umur 0 – 3 minggu dengan fase daun tanaman jagung menguning, meruncing dan kaku, pada umur 3- 5 minggu. Gejala yang ditimbulkan akibat serangan bulai adalah daun tanaman jagung yang baru membuka menguning, pertumbuhan lambat, tongkol hanya berbiji sedikit, dan bentuk tongkol pada tanaman jagung tidak berbentuk normal. pada umur lebih 5 minggu  tanaman jagung memasuki fase klorosis, dimana tanaman tidak membahayakan namun mengurangi sekitar 30% produksi. Masyarakat di desa palem biasanya menanggulangi bulai dengan cara mencabut tanaman jagung yang terkena bulai lalu di bakar, namun ada juga yang di jadikan sebagai pakan ternak sapi.

Tanaman padi juga mempunyai hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Adapun serangan pada padi busuk leher malai atau blas leher dengan gejala bercak berbentuk belah ketupat sehingga dapat menyebabkan tangkai pada tanaman membusuk dan patah, serangan pada padi busuk leher malai dapat di cegah dengan penyemprotan pestisida pada waktu umur 8 minggu atau sebelum tumbuh malai pada tanaman padi, setelah tumbuh malai pestisida di semprot kembali. Selain blas leher juga terdapat wereng padi, wereng padi ditandai dengan gejala daun dan tangkai pada tanaman padi tetap bewarna hijau, namun di kelilingi ratusan nimpa dan wereng dewasa, tahap selanjutnya tanaman mengering yang masih membentuk bercak – bercak yang semakin lama menyatu dan berubah menjadi warna coklat. Adapun cara penanggulannya dengan cara penyemprotan pestisida pada hama wereng yang menyerang tanaman padi.

Oleh : Bara Fakhruddin

Penentuan Waktu dalam Bertani

Pengelolaan lahan sawah menjadi lahan yang dapat menghasilkan padi yang banyak adalah harapan dari semua petani. Para petani melakukan pengelolaan lahan sesuai dengan pengalaman yang mereka alami atau mereka dapatkan dari melihat cara orang tuanya bertani. Pengelolaan lahan sawah berdasarkan dari cara orang tuanya ini diturunkan secara turun temurun oleh keluarganya. Secara tidak langsung petani mempunyai cara tersendiri dalam pengelolaan lahan sawahnya.

Di berbagai daerah di indonesia para petani melakukan pengelolaan lahan sawah sesuai dengan karakter lahan yang ada. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masing-masing daerah ini dapat dikatakan sebagai pengelolaan lahan sawah dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Menurut Sukayat, Supyandi, dan Esperanza (2013), berdasarkan hasil penelitian Febrianthy (2013) ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh para petani mulai dari persiapan penanaman (Mitembeyan), penanaman, pemeliharaan, panen, penanganan dan pengolahan, pemasaran dan kelembagaan.

Persiapan penanaman yang dilakukan yaitu dimulai dengan penentuan hari tanam yang masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan cara kaidah pranata mangsa. Wiriadiwangsa (2005) dan Fidiyani, Kamal (2012) menyatakan ada 12 mangsa yang ditetapkan oleh masyarakat untuk menentukan waktu menanam dilihat dari tanda-tanda alam (tabel 1). Penentuan waktu tanam merupakan salah satu bagian penting dalam pertanian, karena melakukan penanaman yang sesuai dapat menghindari terjadinya gagal panen.

Tabel 1. Pranata Mangsa dalam penanaman padi

Mangsa

Wiriadiwangsa (2005) Fidiyani, Kamal (2012)
Indikatator Tafsir Bintang petunjuk mangsa periode

indikator

1 Setyo Murcasaka embanan Dedaunan gugur Sapi gumarang Kahiji 22/23 Juni – 2/3 Agustus Musim tanam palawija.
2 Bantala rengka Permukaan tanah retak Tagih Kadua 2/3 Agustus -25/26 Agustus Musim kapok bertunas tanam

palawija kedua.

3 Suta manut ing bapa Tanaman yang menjalar tumbuh (ubi jalar) dan mengikut penegaknya (lanjaran) Lumbung Katilu 25/26 Agustus -18/19 September Musim ubi-ubian bertunas, panen palawija
4 Waspa kemembeng jroning kalbu Sumber air banyak yang kering Jaran dawuk Kaopat 18/19 September -13/14 Oktober Musim sumur kering, kapuk berbuah, tanam pisang.
5 Pancuran emas sumawur ing jagad Mulai musim hujan Banyak angrem Kalima 13/14 Oktober – 9/10 November Musim turun hujan, pohon asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda.
6 Rasa mulyo kesucian Pohon buah-buahan berbuah Gorong mayit Kagenep 9/10 November – 22/23 Desember Musim buah-buahan mulai tua, mulai menggarap sawah
7 Wisa kentar ing maruta Munculnya banyak penyakit Bima sakti Katujuh 22/23 Desember – 3/4 Pebruari Musim banjir, badai, longsor, mulai tandur
8 Anjrah jroning kayun Periode kawin beberapa macam hewan Wulunjar ngirim Kadalapan 2/3 Februari – 1/2 maret Musim padi beristirahat, banyak ulat, banyak penyakit.
9 Wedaring wancana mulya Gareng (tonggret) berbunyi Wuluh Kasalapan 1/2 Maret – 26/27 Mare Musim padi berbunga, turaes (sebangsa serangga) ramai berbunyi
10 Gedhing minep jroning kalbu Beberapa macam ternak bunting Waluku Kasapuluh 26/27 Maret -19/20 April. Musim padi berisi tapi masih hijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering.
11 Sotya sinarwedi Tulur burung menetas dan induknya menyuapi anaknya (ngloloh) Lumbung Kasabelas 19/20 April – 12/13 Mei Masih ada waktu untuk palawija, burung-burung menyuapi anaknya.
12 Tirta sah saking sasana Orang sukar berkeringat Tagih Kaduabelas 12/13 April- 22/23 Juni Musim menumpuk jerami, tanda-tanda udara dingin di pagi hari

 

Di beberapa daerah di indonesia petani dahulu mengunakan tanda-tanda alam untuk menentukan kapan masuk musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau ditandai dengan buah asam yang mulai berbunga, jambu burung mulai berbunga, rasau yang ada di pinggir sungai juga mulai berbunga, munculnya burung bangau, burung tuntung kerbau, burung sabaruk, burung sesulit dan ikan banyak ditemukan dimuara sungai. Musim hujan ditandai dengan ikan mulai bertelur, ujung akar menjadi putih (baputih) dan buah asam menjadi merah (hadiwijoyo, 2016).

Hasil wawancara dengan petani yang ada di kabupaten mojokerto, saat ini musim kemarau atau musim hujan sulit untuk diprediksi. Para petani saat ini banyak mengeluhkan sangat sulit sekali menentukan musim untuk bertani. Hadiwijoyo (2016) menyatakan  bahwa Saat ini masyarakat adat Dayak Ngaju sering merasa kesulitan dalam menentukan waktu pembakaran yang tepat untuk penyiapan lahan untuk menanam pasi akibat terjadinya perubahan iklim.

Kejadian ini harusnya menjadi perhatian kita semua, karena kearifan lokal masyarakat dalam menentukan musim tanam sudah tidak bisa dipergunakan kembali. Saanyat peran para peneliti atau akademisi fokus untuk membantu bersama-sama masyarakat menemukan solusinya. Sehingga penelitian yang dilakukan bermanfaat untuk masyarakat bukan hanya bermanfaat untuk para pengusaha. Mari kita belajar kearifan lokal dalam pengelolaan lahan sawah dan perbaiki yang saat ini sudah tidak relevan, sehingga kearifan lokal tersebut dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

Pengelolaan lahan sawah di Kabupaten Mojokerto

Sawah merupakan salah satu tempat untuk masyarakat indonesia mencari nafkah. Sebagian besar masyarakat indonesia bekerja sebagai petani. Petani sangat berjasa untuk orang banyak karena berkat petani semua warga yang ada di Indonesia bisa makan nasi dalam kebutuhan sehari-harinya. Karena sudah menjadi kebiasaan orang indonesia ketika belum makan nasi belum “makan“. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masyarakat biasanya dalam satu lahan tersebut tetap ditanami padi atau tanaman palawija. Pada pertengahan bulan juni saya berkunjung ke salah satu kabupaten di jawa timur yaitu mojokerto.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 kabupaten mojokerto mampu menghasilkan 314.599,90 ton padi dengan luas lahan 51.335 ha. Rata-rata produksi padi di kabupaten mojokerto 6,13 ha/ton. Produksi padi di kabupaten mojokerto sama dengan rata-rata produksi padi nasional rata-rata 6 ton/ha (Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, 2015). Pengelolaan lahan sawah sudah dilakukan dengan optimal oleh masyarakat yang ada di kabupaten mojokerto. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang ada di kabupaten mojokerto, pengelolaan lahan sawah yaitu dalam satu tahun masyarakat mampu menanam sebanyak 3 kali. Selain itu, masyarakat juga biasanya menanam tanaman palawija setelah panen padi sebanyak 2 kali. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masyarakat kabupaten mojokerto tergantung dengan cuaca pada musim tersebut.

Masyarakat di kabupaten mojokerto akan menanam padi sebanyak 3 kali jika kondisi cuaca mendukung. Hal ini kaitannya dengan ketersedian air untuk tanaman padi. Sebagian besar masyarakat di mojokerto lahan sawahnya masih berupa sawah tadah hujan. Ketika datang musim kemarau maka sawah masyarakat menjadi kekeringan dan menjadi gagal panen. Berdasarkan pengamatan cuaca pada musim tersebut masyarakat akan menanam tanaman palawija seperti tanaman jagung, kacang hijau dan terkadang juga menanam tembakau.

Salah satu pengelolaan lahan sawah yang menarik menurut penulis adalah penanaman kacang hijau di desa kalipuro di kabupaten mojokerto. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat masyarakat akan menanam kacang hijau jika kondisi cuaca atau musim kemarau. Pada musim ini masyarakat akan melakukan penanaman kacang hijau dimulai dari penyiapan lahan dengan cara membakar hasil jerami. Menurut masyarakat penyiapan lahan dengan membakar jerami terlebih dahulu tersebut bisa membuat tanaman kacang hijau menjadi lebih subur. Penyiapan lahan dengan pembakaran dilakukan karena lebih praktis dan efektif, selain itu juga dianggap murah, mudah, cepat dan dapat menyuburkan tanah (Syaufina 2008; Syaifullah & Sodikin 2014).