iklan

Potensi Pengelolaan Bersama Kebun Kelapa Sawit

Gambaran Umum Pengusahaan Sawit

Sawit sudah sangat sering sekali diperdengarkan di berita-berita, di makalah, ataupun di media social. Baik dari kalangan yang suka berinvestasi sawit, ataupun yang memandang sawit dari sisi negatif yaitu dampaknya terhadap lingkungan. Sebelumnya salam kenal saya Endro Prastowo, alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang angkatan 1995. Saat ini bekerja di salah satu perusahaan kepala sawit yang ada di Indonesia sebagai HRAM Sumatera.

Ditengah harga CPO yang tidak stabil bisnis kebun kelapa sawit masih menarik bagi para “pekebun” baik perorangan maupun korporasi. Kendala yang saat ini dihadapi untuk memulai bisnis kelapa sawit adalah harga perolehan lahan yang sudah tinggi, belum ditambah biaya pembangunan kebun sampai dengan tanaman menghasilkan (TM). Kebun kelapa sawit yang dikelola secara perorangan akan efisien jika luasannya minimal 5 Ha dengan development cost sekitar 35-45 jt/ha. Harga perolehan lahan sekitar 15-25 jt/ha. BEP akan tercapai 5-7 tahun setelah tanaman menghasilkan/panen. Biaya yang cukup tinggi membuat timbulnya peluang membuka kebun kelapa sawit dengan model pengelolaan bersama, artinya setiap orang yang ikut dalam pengelolaan bersama bisa mempunyai kepemilikan sesuai data masing-masing. peningkatkan efisiensi biaya rawat kebun dan menambah produk selain sawit dapat dilakukan dengan banyak model antara lain model integrasi sawit-sapi.

Status Lahan

Pengelolaan lahan sawit harus hati-hati dalam pemilihan lahan sehingga status lahan yang dikelola tersebut jelas dan tidak rawan konflik. Di salah satu daerah di Kampar, banyak lahan negara yang dikelola Kepala desa diperjualbelikan dengan harga murah tapi masih belum jelas statusnya. Sehingga lahan tersebut rawan terjadinya konflik kepemilikan. Saat ini lahan yang relatif aman untuk dikembangkan sawit adalah di Kalimantan. Akan tetapi tetap saja kita harus hati-hati dalam membeli lahan untuk dijadikan perkebunan sawit. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, dengan bermodalkan percaya saja tidak disertai dengan “hitam diatas putih” ternyata areal tersebut adalah kawasan hutan milik negara. Kawasan hutan tersebut terkadang adalah hutan konservasi yang seharusnya tidak boleh untuk dilakukan penanaman sawit. Agar lahan yang kita beli atau lahan akan ditanami sawit aman dari sengketa lahan ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Ambil titik koordinat di lahan yang akan kita buka menjadi sawit lalu di cek menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan cara overlay titik koordinat dengan SK dari kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Kawasan Hutan. Pastikan lahan yang akan ditanam tidak masuk dalam Hutan Poduksi, Hutan Konservasi, dan Hutan Lindung.
  2. Lahan yang ada diluar jawa jarang ditemukan lahan yang bersertifikat. Rata-rata masyarakat hanya memiliki dokumen SPFT (Surat Penguasaan Fisik Tanah)/ Surat keterangan Tanah (SKT) yg dikeluarkan desa. Agar lebih aman lakukan pengecekanan sertifikat di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Budidaya sawit

Lahan sawit dapat ditanami 130 -143 pohon sawit per hektar. Sistem yang biasa dikembangkan dalam perkebenunan sawit antara lain Sistem plasma (pengelolaan Oleh perusahaan), kebun pribadi dan juga pengelolaan bersama. Sawit termasuk jenis tanaman yang sangat adaptif di berbagai jenis lahan. Lahan yang paling ideal adalah tanah mineral dengan topografi yang datar. Selain itu, saat ini masih banyak perkebunan kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut. Lahan gambut merupakan lahan yang subur semu artinya tanaman sawit juga masih perlu perawatan yang intensif. Akan tetapi perusahaan atau perkebunan kepala sawit saat ini dilarang untuk menanam sawit di areal gambut. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada semua perusahaan untuk mengoverlay lahannya dengan Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru (PIPPIB). Budidaya sawit di lahan gambut harus memperhatiakan water manajemen jika areal gambut tergenang temporer/permanen. Tanaman sawit yang ada di lahan gambut berpotensi untuk menjadi roboh.

Gambaran umum sawit di era perdagangan dunia

Di India baru saja menaikkkan bea masuk minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya menjadi 15%, dari sebelumnya 7,5%. Selain itu, pajak impor produk sawit olahan juga meningkat menjadi 17,5% dan 25% dari sebelumnya 12,5% serta 15%. Sementara di kawasan lain seperti Eropa dan Amerika Serikat, komoditas sawit juga telah diserang dengan berbagai kampanye hitam hingga tuduhan dumping.

Enggar mengatakan, kenaikan bea masuk sawit di India perlu disikapi hati-hati. “Bagaimana India memproteksi dirinya dengan menaikkan tarif (bea masuk CPO) 100%. Saya harus hati-hati, surplus kita besar,” kata Enggar. Nilai perdagangan Indonesia dengan India sepanjang Januari-Mei 2017 sebesar US$ 7,68 miliar. Angka itu naik dari periode yang sama tahun lalu yakni US$ 4,82 miliar. Pada lima bulan pertama tahun ini, ekspor Indonesia ke India sebesar US$ 5,95 miliar, dan impornya US$ 1,73 miliar.

Sementara itu, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia semester pertama 2017 masih tumbuh positif. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, volume ekpsor minyak sawit (CPO dan turunannya termasuk oleochemical dan biodiesel) tercatat mencapai 16,6 juta ton atau naik 25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Gapki juga mencatat volume ekspor minyak sawit Indonesia ke India pada semester pertama 2017 mencapai 3,8 juta ton. Angka itu tumbuh 43% dari 2,6 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. “Kami berharap kenaikan bea masuk ke India bisa dibatalkan agar harga sawit tetap bersaing dengan minyak nabati lain,” kata Direktur Eksekutif Gapki, Fadhil Hasan.