iklan

Efektifitas Penggunaan Pupuk Organik dalam Sektor Pertanian

Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar yang ada di dunia. Sebagian besar masayarakat indonesia bermatapencaharian sebagai petani yang tinggal di pedesaan. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam khususnya lahan pertanian yang cukup luas di indonesia secara maksimal, dapat menjadikan negara Indonesia sebagai negara penghasil pangan terbesar di dunia serta menyejahterakan kehidupan para petani. Perkembangan zaman yang terjadi di dunia semakin meluas dan mulai masuk ke dalam budaya masyarakat di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, masyarakat indonesia khususnya petani lebih memilih menggunakan barang-barang pendukung pertanian yang mempunyai nilai efektifitas yang cepat dan praktis. Salah satu contohnya adalah penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian untuk menghasilkan produktifitas hasil pertanian yang besar. Akan tetapi, penggunaan pupuk kimia anorganik dengan skala besar dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan masalah lain pada lingkungan sekitar, contohnya adalah pencemaran tanah dan air akibat residu yang ditinggalkan oleh penggunaan pupuk kimia anorganik. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan kondisi tanah pertanian, salah satunya adalah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menyeimbangkannya dengan menggunakan pupuk organik pada lahan pertanian.

Menurut data dari Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) jumlah konsumsi pupuk kimia anorganik di Indonesia sepanjang tahun 2017 menjadi yang paling besar dalam janga waktu 10 tahun terakhir dengan capaian 5,97 juta ton. Konsumsi pupuk kimia anorganik ini didominasi oleh sektor pertanian dengan jumlah penggunaan pupuk mencapai 4,10 juta ton, kemudian oleh sektor perkebunan sebesar 1,01 juta ton, serta dari sektor industri sebesar 847.000 ton. Jumlah konsumsi pupuk yang tinggi oleh masyarakat indonesia ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor musim penghujan yang panjang serta musim kemarau yang pendek dan mendorong para petani untuk terus berproduksi. Akan tetapi, dampak negatif akibat pemakaian pupuk kimia dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan jumlah bahan organik yang ada di dalam tanah menjadi turun, struktur tanah menjadi rusak, dan terjadinya pencemaran lingkungan. Apabila hal ini terus berlanjut akan menyebabkan penurunan kualitas tanah dan berpengaruh pada jumlah hasil pertanian yang semakin lama akan semakin menurun akibat degradasi unsur hara pada lahan pertanian. Untuk melindungi dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian diperlukan kombinasi penggunaan pupuk sintetik dengan pupuk organik yang tepat (Isnaini, 2006).

Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasal dari bagian tubuh tumbuhan yang telah mati, kotoran hewan atau bagian tubuh hewan serta limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang diperkaya bahan mineral atau mikroba dan bermanfaat untuk meningkatkan kandungan unsur hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Kandungan unsur hara yang ada  di dalam pupuk organik dapat membantu memperbaiki sifat–sifat fisik tanah seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan jumlah kation-kation tanah. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan (Roidah, 2013).

Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi unsur hara yang ada pada lahan pertanian. Disamping itu, dengan memberikan pupuk organik dalam jangka panjang mampu meningkatkan kandungan humus di dalam tanah. Dengan adanya humus tersebut air akan banyak terserap dan masuk ke dalam tanah, sehingga kemungkinan untuk terjadinya pengikisan tanah dan unsur hara yang ada di dalam tanah sangat kecil. Pupuk organik juga memiliki fungsi kimia yang penting seperti penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan hara mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi meskipun dalam jumlah yang kecil, meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, dan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan (Benny, 2010).

Pupuk organik yang ramah lingkungan mempunyai banyak dampak positif pada lingkungan disamping untuk membantu meningkatkan jumlah produksi pertanian. Untuk itu, penggunaan pupuk organik oleh petani harus terus ditingkatkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Penggunaan produk pertanian yang ramah lingkungan juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, yaitu terhindar dari kemungkinan residu pupuk kimia anorganik yang mengendap di dalam bahan makanan. Banyaknya dampak positif dari penggunaan pupuk organik yang diaplikasikan bersama pupuk kimia anorganik dapat membantu mempercepat pemenuhan unsur hara tanaman. Hal ini akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah produktivitas hasil pertanian. Apabila tanaman mendapatkan jumlah unsur hara yang kompleks maka jumlah serta kualitas hasil pertanian akan semakin besar. Hal ini akan meningkatkan jumlah pendapatan petani serta akan berdampak pula terhadap kenaikan devisa negara akibat hasil ekspor hasil pertanian ke negara-negara maju. Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia nilai ekspor Indonesia pada Januari-November 2018 mencapai US$ 165,81 miliar atau meningkat 7,69 persen dibanding pada periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$150,15 miliar atau meningkat 7,47 persen debanding tahun 2017. Peningkatan nilai ekspor Indonesia ini digunakan untuk membangun sarana dan prasarana yang ada di Indonesia agar nyaman untuk digunakan masyarakat serta untuk menjamin masa depan para penerus bangsa Indonesia.

Jenis-jenis pupuk organik yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan pemakaian pupuk kimia anorganik pada lahan pertanian adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran atau bagian tubuh hewan, pupuk kompos yang berasal dari proses dekomposisi atau pembusukan bagian tubuh tanaman oleh bakteri dan mikroorganisme dan pupuk hijau yang berasal dari bagian tanaman yang langsung digunakan apabila jumlah pupuk organik lain sedikit dan tanah membutuhkan asupan unsur hara dari luar. Selain memberikan dampak positif bagi petani dan lingkungan, penggunaan pupuk organik pada lahan pertanian ini juga akan berpengaruh pada pendapatan produsen pupuk organik yang akan terus meningkat seiring dengan banyaknya permintaan pupuk organik untuk lahan pertanian (Roidah, 2013).

Oleh: Erik Wahyuni

Dampak Pemupukan terhadap pertanian berkelanjutan

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambah an penduduk serta pertumbuhan sektor industri telah mendorong munculnya system pertanian modern dengan ciri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terhadap pupuk anorganik. Kondisi ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah.  Usaha pertanian dengan mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan berlanjut hingga ke masa sekarang serta banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.  Penggunaan input kimiawi dengan dosis tinggi tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia ke dalam tubuh manusia dan lingkungan.

Sejak zaman purba sampai saat ini, pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan struktur dan  agregat  tanah  yang mantap dan berkaitan erat dengan kemampuan tanah mengikat air, infiltrasi air, mengurangi resiko terhadap ancaman erosi, meningkatkan kapasitas pertukaran ion dan sebagai pengatur suhu tanah yang semuanya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman ( Kononova, 1999).

Pertanian Berkelanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung” dapat pula “ kemampuan untuk bertahan dan menjaga tidak merosot”.  Dalam  kontek  pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR), 1988 dalam  Reijntjes  C  (2002) menyatakan bahwa Pertanian Berkelanjuta  adalah  pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Namun demikian, banyak orang yang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut ( Soetanto, 2006) :

  1. mantap secara ekologis, yang berarti mampu mempertahankan kualitas sumber daya alam dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan,
  2. bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti dapat mengembalikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan serta meningkatkan penghasilan,
  3. manusiawi, yang berarti menghargai semua bentuk kehidupan, dan
  4. luwes, yang mana para petani mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Sugito. Y, (2003) menyatakan bahwa yang perlu diperhatikan dalam penerapan pertanian berkelanjutan antara lain:

  1. Mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil panen.
  2. Mengurangi tingkat   kerusakan  lahan  sebagai akibat pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
  3. Mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami, misalnya mengusahakan terjadinya siklus bahan organik dan unsur hara.
  4. Dapat meningkatkan daya pegang tanah
  5. Mengurangi penggunaan  input  dari  luar  yang bersifat kimiawi, salah satunya adalah mensubstitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik.
  6. Memberdayakan petani   untuk   meningkat-kan rasa percaya diri atas keberhasilan usaha taninya
  7. Meningkatkan efisiensi  proses  produksi  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan.

Teknik budidaya kimiawi seperti yang dicanangkan pada Revolusi Hijau dapat meningkatkan produksi pada waktu pendek,  namun untuk jangka panjang dapat menurunkan kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah, sehingga akan menambah jumlah lahan kritis dan marginal di Indonesia. Selain itu juga akan berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma/ dampak negatif juga akan tampak pada timbulnya hama resisten, berkembangnya organisme parasit, meningkatnya ancaman bagi organisme predator, ikan, burung bahkan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Pengaruh racun tidak hanya terbatas pada daerah pemakaian, tetapi dapat menjadi makin luas melalui komponen rantai makan, seperti air minum, sayuran, buah-buahan dan produk lain yang terkontaminasi. (Zulkarnain,2009).  Introduksi varietas unggul padi yang responsif pada pemupukan, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi andalan program Bimas. Di satu sisi, Revolusi Hijau terbukti mampu meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi menyebabkan permasalahan lingkungan sebagai dampak dari aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif, antara lain kecenderungan penggunaan input yang tinggi, terutama pupuk dan pestisida, karena mencemari sumber daya lahan, air dan lingkungan. Sekitar air yang mengairi sebagian sawah di Jawa mengandung 54 mg/l nitrat atau 20% lebih tinggi dari batas toleransi yaitu 45 mg/l (Las et al,2006).

Pupuk   anorganik   dapat   dibedakan   menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara saja, misalnya pupuk urea yang mengandung unsur N, pupuk TSP yang mengandung unsur P dan pupuk KCl yang didominasi oleh unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya N+K, N+P,P+K, N+P+K dan sebagainya. Sedangkan pupuk lengkap adalah pupuk  yang mengandung unsur  hara  makro  dan mikro. Pemberian pupuk anorganik  ke  media tanam sangat digemari petani, hal ini disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki pupuk anorganik antara lain

  1. pemberiannya dapat terukur dengan tepat,
  2. kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat dan dalam waktu yang cepat,
  3. kadar unsur yang dikandungnya   tinggi,   sehingga   dengan pemberian    yang sedikit dapat memenuhi kebutuhan tanaman,
  4. banyak diperjual bellikan sehingga mudah didapat,
  5. proses pengangkutan ke lahan lebih mudah karena jumlah yang diangkut lebih sedikit
  6. tanaman memberikan respon yang sangat tinggi terhadap pem-berian pupuk anorganik.

Selain kelebihan yang dimilikinya, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan, yaitu :

  1. selain unsur hara makro, pupuk anorganik sangat sedikit atau hampir tidak mengandung unsur hara mikro,
  2. pemberian pupuk  anorganik  melalui akar harus diimbangi dengan penggunaan pupuk daun yang mengan-dung unsur hara mikro,
  3. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat merusak tanah,
  4. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian tanaman
  5. dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, salinisasi, tercemar logam berat dan tercemar senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah.

Kerusakan srtuktur tanah ini dapat  terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurang nya biodiversitas organisme tanah, dan biasanya terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain ( fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebab-kan pemasaman tanah dan menurunnya populasi cacing secara drastis.

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.  Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.  Penggunaan pupuk yang berlebihan, cenderung tidak efektif dan banyak mengeluarkan biaya. Selain itu untuk zat hara yang tidak diserap tanaman akan terbawa oleh air tanah dan terbuang ke sistem perairan misal ke selokan, sungai, waduk atau danau. Zat hara ini justru akan dimanfaatkan oleh gulma di selokan dan sungai seperti rumput liar, gulma, tanaman air seperti kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Akibatnya sistem perairan akan tertutup dengan tanaman liar ini dan produksi perikanan mungkin terganggu, keseimbangan ekosistem perairan juga akan terganggu.

Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia. Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Oleh : Evy Latifah

 

Penerapan SST (Starter Solution Technology) untuk Mengatasi Masalah Pupuk Berlebih pada Tanaman Cabai

Jawa Timur merupakan propinsi yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi sayuran Indonesia dengan nilai kontribusi 12.05%.Beberapa sayuran dengan kontribusi nasional tinggi dari Jawa Timur adalah bawang merah (28%), cabe (18.6%), kubis (11.7%) dan bawang daun (11.3%). Sentra produksi sayuran di Jawa Timur berada di wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Malang, Sumenep, Pasuruan, Probolinggo dan sebagainya.Kabupaten Kediri dan Blitar merupakan dua kabupaten yang merupakan sentra produksi sayuran utamanya untuk cabe besar, cabe rawit, tomat dan bawang daun (Sekdirjen Hortikultura, 2010).

Pertanian Cabai di Kediri dan Blitar

Sebagaimana kita ketahui bahwa sentra cabe di Jawa Timur adalah  Kediri, Banyuwangi, Jember dan Blitar. Sehingga perlu kita telusuri penyebab rendahnya produktivitas cabai terutama di Kediri dan Blitar. Kondisi tanah  merupakan sumber  daya produktif yang  utama, hasil penelitian Mariyono et al., (2010)  menyatakan bahwa masalah yang berkaitan dengan kondisi tanah di Kediri dan Blitar adalah keasaman tanah. Di Blitar, masalah lain adalah kesuburan tanah yang  rendah karena rendahnya tingkat bahan organik dan penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Jenis tanah adalah lempung, kecuali tanah sisi timur di Blitar, yang liat. Kondisi drainase yang baik dalam tanah liat. Tingkat keasaman di kedua daerah dilaporkan dengan pH 4-5. Kesuburan tanah di Kediri cukup tinggi, sedangkan di Blitar adalah rendah.

Tabel 1. Masalah yang berkaitan dengan Tanah di Kediri dan Blitar


Permasalahan

Salah satu permasalahan yang terjadi di kedua lokasi adalah kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan. Pelaksanaan Pemupukan yang tidak benar menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.  Hal ini menyebabkan produksi cabe berkurang. Dan  perlu suatu teknologi yang diterapkan untuk mengatasi ketidaksuburan dan ketidak efisienan penggunaan pupuk di lahan.

Pembahasan

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut perlu percobaan pemupukan NPK di ke dua lokasi kemudian menganalisa korelasi antara pemupukan dan kurva hasil panen, merekomendasikan pemupukan untuk tanaman tersebut, menentukan tingkat kesuburan tanah dan melaksanakan pemupukan berdasarkan kesuburan tanah. SST (Starter Solution Technology) atau Uji larutan pupuk merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Sayuran Dunia dan telah didiseminasikan ke Thailand, Indonesia, China, India dan Taiwan. SST merupakan teknologi inovasi untuk mengurangi pupuk dan secara bersamaan meningkatkan produktivitas pemupukan. Tujuan aplikasi adalah untuk mencukupi kebutuhan hara pada tanaman muda sebelum sistem akarnya mapan. Tentunya SST ini sangat berpengaruh untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada umur muda (Maryono, 2013). Penggunaan SST memiliki banyak keuntungan antara lain : Pertumbuhan tanaman (cabe) semusim sangat pendek antara 3 – 4 bulan termasuk tanaman cabai, periode pertumbuhan yang pendek mengakibatkan sering kali pemberian pupuk untuk pertumbuhan tanaman menjadi tidak efesien. meningkatkan pertumbuhan awal tanaman muda, mengurangi kebutuhan pupuk, meningkatkan jumlah bunga, meningkatkan unsur hara tersedia untuk tanaman dari pupuk organik, mengurangi pencemaran/polusi tanaman, dan meningkatkan hasil Pertumbuhan awal yang baik akan menjadikan tanaman sehat dan terangsang untuk meningkatkan pertumbuhan yang lebih baik pada fase-fase selanjutnya,  lebih tahan terhadap perubahan iklim maupun serangan hama/penyakit (Chin Hua Ma et al., 2015).

Menurut (Chin Hua Ma, 2015) yang menghidupkan tanah adalah bahan-bahan mineral tanah liat yang membawa muatan negatif, menarik kation bermuatan positif (NH4+,K+,Ca+, Mg2+, dll)serta menolak anion bermuatan negatif (NO3, H2PO4,SO42,etc), sedangkan bahan organik membawa muatan negatif dan sebagian bermuatan positif, dimana muatan positif pada tanah liat lebih besar. Sedangkan jika pupuk yang diberikan ke dalam tanah dalam bentuk padat maka setelah ion nutrien diserap partikel tanah, sisa nutrien di dalam larutan tanah baru tersedia untuk tanaman, akar tanaman menyerap ion nutrien dari larutan tanah yang dapat disentuh, pada waktu nutrien di dalam tanah habis, sebagian nutrien yang terikat di permukaan partikel tanah akan mengisi kembali nutrien dalam larutan tanah.

Disamping itu pupuk yang diberikan dalam larutan tanah lebih mudah tersedia dibandingkan dengan pemberian pupuk dalam bentuk padat, menurut  Salysbury dan Cleon (1995) bahwa akar yang terus tumbuh ke daerah baru dengan membentuk lebih banyak akar cabang atau pencari makanan. Bila air lebih jauh tersedia dalam tanah maka akar akan tumbuh jauh ke bawah permukaan tanah. Pada keadaan lembab (hampir kapasitas lapang) difusi menuju akar tentu cepat, tetapi pada keadaan kering sampai mendekati titik layu permanen, difusi air dan ion terlarut bisa menurun 1000 kali, sehingga tumbuhan akan sulit mendapatkan air dan ion mineral karena kemampuan akar menerobos tanah dan difusi air serta ion menuju akar terbatas.

Metode Penerapan :

  • Bisa dengan cara manual dengan menggunakan gelas/plastik
  • Injeksi dengan mesin sprayer
  • Manual dengan sprayer portable

Waktu penerapan SST :

  • Pada waktu pemindahan tanaman (akar belum dapat mengakses nutrien)
  • Pada waktu akar terluka (setelah bencana hujan lebat/penyakit)
  • Pada waktu pembentukan buah / fase produktif.

Hasil penelitian Ahsol et al, .2012. Bahwa tanaman cabai yang diberi perlakuan SST dengan 4 perlakuan antara lain : (T1) perlakuan kontrol ( perlakuan petani), (T 2) perlakuan SST dan keseimbangan pemupukan (rata-rata petani), (T 3) perlakuan SSt dengan keseimbangan (medium) dan (T 4) perlakuan SST dengan keseimbangan (rendah) diperoleh hasil :

Tabel 2. Komponen Hasil

Tabel 3. Komponen Hasil


Dimana dari ke 4 perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata, dengan demikian pengurangan pupuk tidak mengurangi hasil produksi cabe.

Pada dasarnya SST dapat diartikan teknologi pemacu pertumbuhan dengan menerapkan 3 faktor penentu keberhasilan pemupukan yakni :

  • TEPAT DOSIS : pupuk yang diberikan cukup untuk menjadikan tanaman tumbuh secara maksimum
  • TEPAT CARA : bahwa cara pemberian yang tepat menjadikan akar tanaman dapat langsung menyerap unsur hara yang diberikan
  • TEPAT WAKTU bermakna waktu pemberian harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi tanaman

Pertumbuhan awal tanaman dengan penerapan teknologi SST cukup baik walau hanya satu atau dua kali pemberian

Kesimpulan :

  1. Kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.
  2. Teknology SST (Starter Solution Technology) secara nyata mampu membuktikan mengurangi kebutuhan pupuk tanaman , lebih efiensi dalam memanfaatkan pupuk, hasilnya cukup bagus dan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia.

Oleh : Evy Latifah

Manfaat dan Keunggulan Pupuk Organik Cair

Tren penggunaan pupuk organik cair berkembang cepat pada era kekinian. Para petani, ibu rumah tangga, tak jarang terlihat anak sekolah mulai menyukai pemanfaatan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik cair mulai menjadi tren ketika dampak pemanfaatan pupuk kimia yang dapat menyebabkan berbagai kendala, khususnya kendala terhadap masalah kerusakan lingkungan dan kesehatan, mulai dari rusaknya rantai makanan, degradasi lahan, kesehatan manusia, hingga ketergantungan petani terhadap pupuk murah di pasaran. Hal tersebut diatas membuat pupuk organik cair mulai menjadi alternatif solusi dewasa ini ditengah-tengah kompetisi global, khususnya diantara berbagai macam jenis pupuk.

Terdapat banyak sekali pupuk organik yang digunakan oleh para petani di lahan. Pupuk organik secara teoritis dibedakan berdasarkan bentuk serta bahan penyusunnya. Berdasarkan dari aspek bentuk, terdapat pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Adapun berdasarkan dari bahan penyusunnya terdapat pupuk hijau, pupuk kandang dan pupuk kompos. Pada tulisan ini, posisi pupuk organik cair terdapat dalam macam/jenis pupuk adalah terletak pada segi bentuk.

Pada prinsipnya pupuk organik cair memiliki fungsi tidak berbeda dengan pupuk lainnya (pupuk kompos atau pupuk kandang dan jenis pupuk organik lainnya). Pupuk cair organik dapat bersumber dari bahan baku  kotoran ternak dan atau atau sisa-sisa tanaman yang kemudian dilakukan proses pemilahan dan pengomposan melalui keterlibatan mikro-organisme.

Adapun pupuk organik cair menurut jenisnya terdapat dua jenis pupuk cair yang dapat diproduk skala kecil (rumah tangga), yaitu melalui metode pelarutan dan pupuk cair dari hasil fermentasi. Kandungan nutrisi yang terkandung dari keduanya tidaklah jauh berbeda namun proses pembuatannya yang berbeda. Penggunaan daripada pupuk organik cair memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan yang dapat membedakan dengan jenis pupuk lainnya.

Pada dasarnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa kandungan pada pupuk organik cair cocok digunakan pada berbagai macam karakteristik tanah. Pupuk organik cair memungkinkan tanah dan tanaman dapat menyerap nutrisi (yang terdapat pada tanah) dengan lebih cepat dan mudah. Keunggulan pupuk organik cair lain0lainnya yaitu mengandung berbagai mineral, serta zat-zat esensial yang dibutuhkan tanah dan tanaman, dan hormon pertumbuhan tanaman yang keseluruhnya juga tidak menyebabkan kerusakan atau degradasi kualitas lingkungan, malah justru membudidayakan sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Oleh : Aulia Nur Mustaqiman