iklan

Manfaat dan Keunggulan Pupuk Organik Cair

Tren penggunaan pupuk organik cair berkembang cepat pada era kekinian. Para petani, ibu rumah tangga, tak jarang terlihat anak sekolah mulai menyukai pemanfaatan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik cair mulai menjadi tren ketika dampak pemanfaatan pupuk kimia yang dapat menyebabkan berbagai kendala, khususnya kendala terhadap masalah kerusakan lingkungan dan kesehatan, mulai dari rusaknya rantai makanan, degradasi lahan, kesehatan manusia, hingga ketergantungan petani terhadap pupuk murah di pasaran. Hal tersebut diatas membuat pupuk organik cair mulai menjadi alternatif solusi dewasa ini ditengah-tengah kompetisi global, khususnya diantara berbagai macam jenis pupuk.

Terdapat banyak sekali pupuk organik yang digunakan oleh para petani di lahan. Pupuk organik secara teoritis dibedakan berdasarkan bentuk serta bahan penyusunnya. Berdasarkan dari aspek bentuk, terdapat pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Adapun berdasarkan dari bahan penyusunnya terdapat pupuk hijau, pupuk kandang dan pupuk kompos. Pada tulisan ini, posisi pupuk organik cair terdapat dalam macam/jenis pupuk adalah terletak pada segi bentuk.

Pada prinsipnya pupuk organik cair memiliki fungsi tidak berbeda dengan pupuk lainnya (pupuk kompos atau pupuk kandang dan jenis pupuk organik lainnya). Pupuk cair organik dapat bersumber dari bahan baku  kotoran ternak dan atau atau sisa-sisa tanaman yang kemudian dilakukan proses pemilahan dan pengomposan melalui keterlibatan mikro-organisme.

Adapun pupuk organik cair menurut jenisnya terdapat dua jenis pupuk cair yang dapat diproduk skala kecil (rumah tangga), yaitu melalui metode pelarutan dan pupuk cair dari hasil fermentasi. Kandungan nutrisi yang terkandung dari keduanya tidaklah jauh berbeda namun proses pembuatannya yang berbeda. Penggunaan daripada pupuk organik cair memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan yang dapat membedakan dengan jenis pupuk lainnya.

Pada dasarnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa kandungan pada pupuk organik cair cocok digunakan pada berbagai macam karakteristik tanah. Pupuk organik cair memungkinkan tanah dan tanaman dapat menyerap nutrisi (yang terdapat pada tanah) dengan lebih cepat dan mudah. Keunggulan pupuk organik cair lain0lainnya yaitu mengandung berbagai mineral, serta zat-zat esensial yang dibutuhkan tanah dan tanaman, dan hormon pertumbuhan tanaman yang keseluruhnya juga tidak menyebabkan kerusakan atau degradasi kualitas lingkungan, malah justru membudidayakan sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Oleh : Aulia Nur Mustaqiman

Manfaat Tumbuhan Merambat (Akar Tuba)

Pestisida nabati ternyata banyak berada di sekitar kita, salah satunya yaitu akar tuba. Akar tuba berdasarkan Klasifikasinya termasuk kedalam  divisi : Spermatophyta, Sub divisi : Angiospermae, kelas : Dicotyledonae, bangsa : Fabales, suku : Fabaceae, marga : Derris, jenis : Derris elliptica (Wallich) Benth). Secara umum dikenal dengan nama tuba, akan tetapi dibeberapa daerah dikenal sebagai Tuba laut di  Pantai Timur Sumatra , Areuy ki tonggeret, Tuwa aweuy, Tuwa awewe di sunda Sunda dan Gadel, Ketower, Toweran di Jawa.  Nama inggris tuba yaitu derris atau tuba root.

Ciri-ciri :

Akar tuba merupakan tumbuhan merambat yang membelit dengan tinggi 15 meter. Batangnya sebesar jari-jari tangan, tetapi ulet tidak dapat diputuskan. Rantingnya tua berwarna coklat, dengan lentisel yang berbentuk jerawat. Dahan berwarna merah gelap. Bunga zygomorf, agak perigin, relatif besar dan dengan penampilan yang khas. Tandan bunga dengan sumbu yang berambut rapat, tangkai dan anak tangkai 12-26 panjangnya, bunga tiga-tiga pada ujung cabang samping. Daun kelopak biasanya 5, sebagian bersatu menjadi tabung. Tumbuhan ini mempunyai akar tunggang.

Penyebaran :

Derris ditemukan tumbuh secara liar mulai dari India sampai ke Irian Jaya, sedangkan di Afrika dan Amerika tropis telah dibudidayakan. Di Indonesia, derris terdapat hampir di seluruh wilayah nusantara

Habitat :

Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1500 m dpl. Derris tumbuh terpencar-pencar di tempat yang tidak begitu kering, di tepi hutan, di pinggir sungai atau dalam hutan belukar yang masih liar.

Kandungan kimia :

Bahan kimia yang terkandung dalam dalam derris adalah rotenon, deguelin, elliptone dan toxicarol

Manfaat :

Bagian tanaman yang digunakan adalah akar. Akar tuba dapat digunakan moluskisida, insektisida, akarisida, nematisida dan racun ikan. Rotenon merupakan racun berspektrum luas. Selain itu dapat digunakan Sebagai racun perut dan kontak, menyebabkan serangga untuk berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkena rotenon. Manfaat lain dari akar tuba adalah untuk racun ikan dan racun anak panah.

Akar tuba juga dapat digunakan sebagai pestisida nabati yaitu untuk menyerang ulat pemakan daun, kutudaun, kutukebul, keong mas, dan tungau. Pembuatan larutan pestisidanya sangat lah mudah yaitu hancurkan akar tuba setelah itu rendam dalam 20 liter air selama 3 hari. Kemudian saring dan tambahkan sabun/deterjen setelah itu aduk rata. Cara penggunaannya juga cukup mudah yaitu Semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang pada pagi atau sore hari.

Sumber : Prima Tani Balitsa (2008)

Ajeran Sebagai Pestisida Nabati

Ajeran merupakan jenis tanaman yang termasuk kedalam Divisi : Spermatophyta, Sub Divisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Bangsa : Asterales, Suku : Asteraceae, Warga : Bidens, Jenis : Bidens pilosa L. Ajeran memiliki beberapa sinonom dalam penamaannya yaitu Bidens sundaica Blume, Bidens leucorrhiza (Lour.) DC. Nama daerahnya antara lain Hareuga (Sunda), Jaringan, Ketut (Jawa) sedangkan nama Inggrisnya adalah Spanish needle.

Ajeran termasuk tumbuhan liar dan banyak ditemui di pinggir jalan. Kadang-kadang ditanam di halaman sebagai tanaman hias. Tumbuhan ini tingginya dapat mencapai 150 cm. Batang berbentuk segi empat, warna hijau. Daun bertiga-tiga, masing – masing berbentuk bulat telur, pinggir bergerigi. Bunga bertangkai panjang, mahkota bunga berwarna putih dengan putik berwarna kuning.

Ajeran merupakan jenis asing dan bukan asli dari indonesia. Ajeran berasal dari dari Amerika Selatan menyebar ke Afrika dan Asia. Ajeran merupakan tanaman liar, dan sering dianggap sebagai gulma pada ladang sayuran. Bagian tanaman yang digunakan adalah biji dan seluruh bagian tanaman yang berada di atas tanah (herba). Bahan kimia yang terkandung dalam ajeran adalah flavonoid, terpen, fenilpropanoid, lemak dan benzenoid.

Ajeran dapat digunakan sebagai insektisida nabati yang dapat kita peroleh dengan mudah dan ada disekitar kita. Selain itu ajeran mempunyai khasiat lainsebagai obat demam, pencernaan tidak baik, rematik (nyeri persendian), selesma, usus buntu dan wasir.

Ekstrak biji Ajeran dapat digunakan sebagai insektisida untuk Kutudaun, ulat tanah dan tungau. Cara membuat insektisida alami ini yaitu dengan Masukkan biji ajeran ke dalam panci tambahkan air, didihkan selama 5 menit setelah itu di saring. Bahan tambahan yang diperlukan untuk membuatnya adalah sabun/diterjen secukupnya. Penggunaannya cukup mudah yaitu dengan cara menambahkan air sebanyak satu liter dan sabun setelah itu diaduk sampai rata, lalu  Semprotkan ke seluruh bagian tanaman atau siram ke tanah di sekitar tanaman. Larutan ajeran ini sangat baik untuk digunakan sebagai pestisida nabati karena aman untuk organisme yang berguna.

Sumber : Prima Tani Balitsa (2008)

Petunjuk Umum Penggunaan Pestisida Nabati

Secara umum penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, mulai dari teknik penyediaan bahan baku sampai produksi masih terbatas. Cara sederhana pemanfaatan pestisida nabati yang umum dilakukan oleh petani di Indonesia dan di negara berkembang lainnya adalah penyemprotan cairan hasil perasan tumbuhan (ekstraksi menggunakan air), pengolahan sederhana, penempatan langsung atau penyebaran bagian tumbuhan di tempat – tempat tertentu pada lahan pertanaman, pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan aktif pestisida), penggunaan serbuk tumbuhan untuk pengendalian hama di penyimpanan, dan pembuatan pestisida nabati dengan cara fermentasi.

Proses pembuatan pestisida nabati

Bagian tanaman seperti daun, bunga, biji dan akar bisa digunakan untuk pengendalian OPT dalam bentuk bubuk (bahan dikeringkan kemudian digiling atau ditumbuk) dan larutan hasil ekstraksi.

Proses ekstraksi sederhana dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu

  1. Ekstraksi bahan segar dengan air :
  2. Pengumpulan bahan/penyortiran
  3. Pencucian
  4. Penghancuran
  • diblender
  • ditumbuk
  1. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)
  2. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi
  3. Larutan hasil ekstraksi siap pakai
  4. Ekstraksi bahan kering dengan air :
  5. Pengumpulan bahan/penyortiran
  6. Pengeringan
  • daun dikeringanginkan
  • biji/bagian yang lebih tebal dijemur di bawah sinar matahari
  1. Pencucian
  2. Penghancuran
  3. digiling atau ditumbuk
  4. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)
  5. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi
  6. Larutan hasil ekstraksi siap pakai
  7. Ekstraksi dengan pelarut alkohol :
  8. Proses seperti di tersebut atas
  9. Ethanol diuapkan

Pembuatan pestisida nabati skala kecil secara sederhana bisa dilakukan oleh petani biayanya lebih murah dan memberikan nilai lebih dalam menekan biaya produksi usahatani.

Petunjuk pembuatan dan aplikasi pestisida yang berasal dari ekstrak tanaman:

  1. Pilih tanaman/bagian tanaman yang yang sehat (bebas dari serangan OPT)
  2. Apabila bahan pestisida akan disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama, pastikan bahwa bagian tanaman yang akan digunakan tersebut benar-benar kering dan disimpat pada tempat yang mempunyai ventilasi. Jangan disimpan dalam tempat yang terbuat dari plastik. Apabila bahan pestisida tersebut akan digunakan pastikan bahan tersebut tidak berjamur
  3. Untuk membuat ekstrak tanaman, gunakan peralatan khusus. Bersihkan peralatan tersebut setelah digunakan
  4. Pada saat pembuatan dan aplikasi ekstrak tanaman, usahakan jangan kontak secara langsung dengan ekstrak tanaman tersebut
  5. Simpanlah sediaan pestisida nabati di tempat khusus, tidak terjangkau oleh anak – anak dan
  6. Bila akan menggunakan biji tanaman, pastikan bahwa biji tersebut benar – benar kering
  7. Sebelum ekstrak tanaman digunakan dalam skala luas, buat percobaan dahulu pada skala yang lebih kecil
  8. Gunakan pakaian pelindung diri pada saat aplikasi pestisida nabati
  9. Jangan menyemprot berlawanan dengan arah angin dan saat angin kencang
  10. Jangan menyemprot ketika turun hujan
  11. Basuh tangan setelah aplikasi pestisida nabati
  12. Cucilah pakaian kerja setelah menggunakan pestisida nabati

Sumber : Prima Tani Balitsa (2008)