iklan

Kontribusi Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat

Potensi pertanian di Jawa Barat tersebar secara merata di seluruh daerah yang meliputi komoditas padi, palawija, dan horticultural. Selain itu, jenis sayurandan buah-buahan di daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Hasil pertanian utama di daerah Jawa Barat merupakan jagung, padi, dan ubi kayu.Daerah penghasil bunga-bungaan di Jawa Barat antara lain, Kabupaten Cianjur, Garut, Kuningan, Bandung, Ciamis, Purwakarta, Bogor, dan Sukabumi.

            Melihat hasil pertanian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil pertanian di Jawa Barat merupakan sector yang bepotensi menjanjikan dalam hal membangun aspek ekonomi bagi wilayah Jawa Barat untuk dikembangkan secara optimal. Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan terutama di daerah, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2018, sektor pertanian dijadikan salah satu jalan untuk mencapai keberhasilan pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat.

            Sinergi antara sektor pertanian, industri dan jasa yang kuat akan membentuk perekonomian yang efisien, dan hal ini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah (Sjafrizal, 2008). Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sector pertanian merupakan sector dominan setelah industri. Jika hasil pertanian pangan, termasuk hasil sayur-sayuran dan buah-buahan ini dapat dibudidayakan melalui teknologi canggih, daerah Jawa Barat dapat berkembang pesat dalam sector pertanian. Apalagi daerah Jawa Barat memiliki banyak SDM yang berkualitas dengan adanya perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, dan Institut Pertanian Bogor. Dengan adanya hal-hal tersebut dapat memacu pembangunan sector pertanian dan sector pertanian dapat berkontribusi secara optimal pada perekonomian di daerah Jawa Barat.

            Melalui pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan secara bertahap. Kemampuan daerah untuk tumbuh tidak terlepas dari peranan sektor-sektor yang ada dalam suatu perekonomian. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2010 yaitu sebesar 13,08% dan terus menurun sampai 11,47 pada tahun 2012. Masuknya sektor pertanian ke dalam tiga besar penopang PDRB di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan   sektor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah (Badan Pusat Statistik, 2012)

Maka dari itu, para Sumber Daya Manusia yang dimiliki diharapkan dapat berkontribusi secara optimal pada pertanian di Jawa Barat. Dengan cara-cara yang dapat membuat petani untung, juga memberikan dampak yang positif bagi lingkungan serta memberikan suatu ekosistem yang baik dan seimbang agar dapat terus berlanjut sampai berpuluh-puluh tahun kedepan. Agar tercipatanya mimpi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.

Cara yang dapat dilakukan sejak dini oleh petani yang tidak terlalu sulit adalah pengurangan pemberian pestisida agar tidak menimbulkan resistensi hama dan resurgensi hama di kemudian hari. Karena pada umunya petani di Indonesia masih ketergantungan pada pestisida kimiawi dalam melakukan pengusiran hama. Padahal pestisida secara tidak langsung memberikan efek yang sangat besar bagi tanaman di kemudian hari. Dan para ahli atau sarjana pertanian nantinya diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam membangun pertanian Indonesia dengan cara memberikan penyukuhan atau sosialisasi pada petani dalam mengolah tanamannya.

            Dengan demikian, pertanian memberikan kontribusi yang sangat efektif pada sector ekonomi di Jawa Barat. Karena Jawa Barat memiliki banyak lahan yang digunakan untuk membudidayakan tanaman pangan, hortikultura, maupun kacang-kacangan. Agar sector pertanian dapat terus bertahan dan berkontribusi di kedepannya, perlu peran aktif para ahli atau sarjana pertanian yang ikut membangun pertanian di Jawa Barat.

            Perlu ada tindakan dari pemerintah berupa kebijakan dalam pengelolaannya untuk mengembangkan sector pertanian ini agar dapat menjadi sektor/sub sektor yang potensial untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat. Sektor  yang  potensial bagi daerahnya diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang besar sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan sektor tersebut. Keadaan posisi sektor di provinsi dapat tercermin dari keadaan sektor/sub sektor di kabupaten/kota. Semoga apa yang diharapkan dalam artikel ini dapat terwujud dengan bebrbagai cara dan pihak pihak yang bersangkutan dapat ikut berpartisipasi demi terselenggaranya atau terwujudnya sector pertanian yang maju dan memberikan dampak yang positif bagi sector pertanian Indonesia yang khususnya berada di daerah Jawa Barat

Oleh: Fathya KS

Abu Vulkanik Gunung Sinabung Membawa Dampak Bagi Pertanian

Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan gunung api. Abu vulkanik terdiri atas partikel berukuran besar sampai halus. Istilah abu vulkanik digunakan untuk material ketika sedang berada di udara.Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda. Bencana satu hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Akan tetapi suatu bencana dapat membawa dampak negatif tetapi ada juga yang membawa dampak positif khususnya di bidang pertanian karena pertanian sangat berpengaruh terhadap suatu negara terdapat 70% pendapatan dan belanja yang berhubungan dengan pertanian yang digunakan sebagai bahan pangan.

Gunung Sinabung terletak di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini 2.460 meter diatas permukaan laut. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600 (Global Volcanism Program, 2008). Debu dan pasir vulkanik yang disemburkan ke langit mulai dari berukuran besar sampai berukuran yang lebih halus. Debu dan pasir vulkanik ini merupakan salah satu batuan induk tanah yang nantinya akan melapuk menjadi bahan induk tanah dan selanjutnya akan mempengaruhi sifat dan ciri tanah yang terbentuk (Fiantis, 2006). Bahan-bahan vulkanis tersebut nantinya akan menjadi bahan induk penyusun tanah (Hardjowigeno, 2007). Pada tahun 2010 Gunung Sinabung mengeluarkan asap, hujan pasir dan abu vulkanis yang sangat tebal. Hingga saat ini gunung sinabung masih dalam zona merah. Hal tersebut menyebabkan masyarakat Kabupaten Karo banyak mengeluh akibat dari abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktivitas aktivitas yang akan dilakukan. Saat itu abu vulkanik menyelimuti permukiman dan lahan pertanian warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketebalan abu vulkanik yang berkisar antara 2 hingga 5 sentimeter membuat tanaman para petani terpapar abu vulkanik.

Tebalnya material abu yang bercampur batu kerikil telah merusak berbagai jenis tanaman hortikultura. Tidak hanya itu banyaknya atap rumah mereka yang jebol akibat dari batu kerikil tersebut. Kondisi ini mengakibatkan para petani terancam gagal panen karena semua tanaman yang terkena abu vulkanik rusak bahkan ada yang mati sehingga membuat para petani gagal panen. Tanaman sayur mayur, buah buahan, kopi dan tembakau yang menjadi sumber penghasilan pasti gagal panen karena timbunan abu vulkanik apalagi pada saat itu Tanah Karo musim kemarau membuat tanaman yang terkena abu akan gosong dan mati. Dalam hal ini, dampak erupsi Gunung Sinabung terhadap kondisi sosial ekonomi petani tidak positif, yang berarti erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi sosial ekonomi petani, baik itu dalam segi pendapatan,pendidikan maupun kesehatan. Begitu juga karena sebagian besar masyarakat Tanah Karo mengharapkan hasil dari bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari hari .

Namun, disamping itu abu vulkanik juga dapat membawa dampak positif yang menguntungkan para petani yaitu karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, mineral tinggi dan sulfur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sehingga baik untuk tanah di wilayah Tanah Karo serta karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, dan mineral tinggi serta dapat memperbaiki struktur tanah dan kandungan hara yang miskin karena intensifikasi pertanian, serta menjernihkan air yang memiliki kualitas rendah. Abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menurunkan tingkat keasaman pada tanah tetapi dalam jangka panjang sangat bagus bagi manusia terutama pada bidang pertanian. Sedangkan dalam jangka panjang, manfaat dari hujan abu vulkanik bagus bagi pertanian. Tentunya setelah melewati proses denormalisasi. Denormalisasi bisa secara alami yang diolah oleh tanah, bisa juga oleh manusia sendiri yang melakukannya. Caranya adalah dengan pemberian dolomit atau pengapuran (CaCo3) yang akan merubah mineral di abu menjadi pupuk yang berguna bagi tanah, banyak terdapat aneka bahan tambang seperti belerang, logam, dan permata yangdapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk mendapatkan hasil.

Pada gambar ini menunjukkan seorang petani yang menyiram tanaman yang terkena abu vulkanik agar meminimalisir terjadinya kematian pada tanaman. Lalu menyemprot dengan obat-obat yang dapat menyegarkan tanaman tersebut dan dapat menghasilkan, hasil yang maksimal.

Oleh: Margaretha Libertyna Br Bukit

Mitigasi dan Adaptasi Sektor Pertanian terhadap Perubahan Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Iklim memiliki unsur-unsur seperti udara, tekanan udara, kelembapan udara, awan, angin, dan hujan. Iklim adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik lahan dalam dunia pertanian. Unsur-unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman antara lain adalah curah hujan, suhu, kelembaban udara, lama masa bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bln), dan ketinggian tempat dari permukaan laut (Djaenudin dkk,, 2003).  Iklim dapat mengalami perubahan-perubahan dengan seiring berjalannya waktu. Perubahan iklim dapat mempengaruhi semua aspek-aspek kehidupan, termasuk juga pada sektor pertanian. Pada perubahan iklim ini dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada sektor pertanian. Banyak sekali dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari perubahan iklim ini. Dampak dari perubahan iklim diantaraya yaitu meningkatnya suhu rata-rata, sering terjadinya bencana alam seperti longsor dan kekeringan, ketahanan pangan terancam, hasil produksi pertanian yang menurun, dan dapat menurunkan kesejahteraan ekonomi petani. Akibat perubahan iklim pada sektor pertanian menurut Kardono (2013) yaitu hilangnya atau rusaknya keanekaragaman dalam lingkungan/hutan tropis, hilangnya tanah subur, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrim seperti puting beliung maupun banjir dan kekeringan, sulit memprediksi kondisi pertanian, meningkatnya bahaya hama dan vektor penyakit, dan distribusi hasil produksi pertanian yang menurun.

Permasalahan iklim ini harus di hadapi dengan segala cara yang harus dilakukan. Untuk memajukan pertanian di Indonesia kita harus mulai mengatasi permasalahan-permasalahan iklim ini terlebih dahulu. Jika faktor iklim tidak mendukung pertumbuhan tanaman maka pertanian di negara kita ini akan mati dan berpengaruh pada aspek-aspek kehidupan lainnya. Seiring terjadinya perubahan iklim, kita juga harus menjaga lingkungan disekitar kita untuk kehidupan kedepannya. Perubahan iklim terjadi dengan sendirinya yaitu faktor alam yang juga disebabkan oleh tingkah laku manusia. Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia salah satunya yaitu pemanasan global karena penyebaran polusi. Perubahan iklim yang disebakan oleh aktivitas manusia membuat dunia membuat suatu badan yang dinamakan  Interngovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Badan ini menangani permasalahan perubahan iklim global di dunia.

Permasalahan perubahan iklim ini dapat dihadapi dengan cara-cara mudah yang dapat dilakukan. Pada sektor pertanian perubahan iklim merupakan tantangan yang sangat besar. Banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi terjadinya perubahan lingkungan ini demi terciptanya pertanian indonesia yang berlanjut. Agar pertumbuhan produksi tanaman tidak menurun kita harus memperhatikan iklim yang sedang terjadi yaitu seperti mengatur pola tanam yang cocok pada kondisi iklim tersebut, memperhatikan kondsi lahan yang cocok untuk menanamkan tanaman yang akan ditanam pada kondisi iklim tersebut, mengatur komoditas-komoditas tanaman yang cocok untuk ditanami pada kondisi lahan  maupun iklim tersebut dan menjaga kelestarian maupun kondisi lahan yang akan digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman tersebut.

Adapun upaya-upaya Mitigasi dan Adaptasi yang dilakukan untuk menghadapi permasalahan perubahan lingkungan pada sektor pertanian. Upaya mengatasi  permasalahan perubahan iklim menurut Sarakusumah (2012) yaitu Adaptasi yang merupakan kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dengan adanya perubahan iklim, Caranya yaitu dengan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengalami manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya. Sedangakan Mitigasi merupakan proses untuk mencegah atau menekan terjadinya perubahan iklim.  Contoh dari adaptasi yaitu melihat kondisi cuaca tiap harinya, menyesuaikan kondisi lahan dan cuaca. Contoh pada upaya mitigasi yaitu membuat sistem pertanian organik tanpa menggunakan bahan kimia dan sistem pertanian terintegasi yaitu mengkombinasi pertanian konvensional dan pertanian organik.

Kesimpulan dari upaya sektor pertanian dalam mengahadapi permasalahan iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kita dapat menghadapi permasalahan-permasalahan iklim tersebut dengan melalukan berbagai cara diatas. Dengan melakukan berbagai cara tersebut kita dapat menciptakan pertanian di Indonesia yang berkelanjutan dengan hasil produksi pertanian yang lebih baik.

oleh: Deemas Afiatan Farras

Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan sebagai Penenang Pikiran di Jakarta

Gambar terkait

Minimnya lahan  di Jakarta sebagai tempat bercocok tanam menjadikan sekelompok warga di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan membuat sebuah kawasan pemukiman berbasis pertanian urban. Apabila kita berkunjung langsung ke tempat ini, maka hal pertama yang akan kita lihat langsung yakni gapura yang bertuliskan “Selamat Datang Di Kampoeng Agrowisata”. Jika kita masuk lebih dalam lagi akan terlihat sejumlah pohon mangga yang hampir ada di setiap rumah warga, baik di pekarangan maupun di pinggir jalan depan rumahnya. Maklum saja, kampung ini memang dijadikan kampung percontohan. Sebagai buktinya, bibit pohon mangga yang ditanam di kampung ini pada mulanya memang hasil sumbangan dari Menteri Pertanian RI kala itu. Sampai saat ini, apabila musim mangga telah tiba, maka semua rumah tidak perlu membeli mangga lagi karena mangga dengan rasa yang manis dapat dikonsumsi sepuas hati.

Walaupun kampung ini ada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, di kawasan ini terdapat banyak sekali pepohonan rindang, mulai dari tanaman hias, tanaman budidaya untuk dipanen hasilnya, hingga tumbuhan yang hidup dengan sendirinya berpadu menjadi penenang pikiran di pagi hari saat berolahraga. Adanya kampung ini bermula dari seorang wanita lansia bernama Ibu Haryo yang mencoba untuk menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di halaman rumahnya. Wanita tersebut menanam mengkudu, ginseng, jambu biji dan lain-lain. Ketika diadakan acara arisan RT di rumah wanita lansia tersebut, banyak dari kawannya yang melihat tanaman budidayanya dan penasaran dengan khasiat dari tanaman-tanaman tersebut. Alhasil banyak kawan Ibu Haryo yang merasakan khasiat dan mencoba untuk membudidayakannya di halaman rumahnya sendiri. Hingga tahun 2007, dapat dipastikan dalam kawasan tersebut sebanyak 1060 kepala keluarga telah memiliki minimal 1 tanaman obat keluarga.

Pada 25 Oktober 2009, Kampoeng Agrowisata telah diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan kala itu yakni H. Syahrul Effendi SH., MM. Hal tersebut dapat terjadi karena Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan telah memenuhi kriteria sebagai Kampung Agrowisata, diantaranya setiap rumah sudah memiliki minimal 1 pohon, terdapat banyak lubang biopori dan juga banyak pula warga yang menanam bunga-bungaan untuk mempercantik pekarangan rumahnya sehingga lingkungan menjadi semakin asri. Bagi warga yang menanam sayuran di pekarangan rumahnya, apabila tanaman sayuran telah siap panen, maka biasanya warga di lingkungan sekitar akan menggunakan sayuran tersebut sebagai pelengkap ruko jajanan di tempat tersebut. Panganan yang disediakan bervariasi, mulai dari pecel lele, ayam goreng, bakso, hingga siomay. Saya sendiri sering ke Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan ini untuk berolahraga jogging. Apabila setelahnya merasa lapar, maka biasanya langsung ke ruko jajanan yang tersedia.

Selain itu, warga di lingkungan ini juga aktif dalam kegiatan sosialnya. Hal itu terlihat dalam setiap minggunya para ibu rumah tangga rutin berolahraga senam pagi demi menjaga kesehatannya, lalu juga ada perkumpulan para pensiunan yang biasanya bermain musik keroncong tiap awal bulan, pengajian rutin tiap malam jumat, santunan anak yatim tiap menjelang Idul Fitri hingga kegiatan pencak silat yang biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja. Ditambah lagi dengan adanya warga yang juga rutin untuk membuat pupuk kompos sendiri dari sampah-sampah organik terutama daun-daun yang berguguran. Sekitar 30 persen warganya bekerja mengolah pupuk kompos untuk dijual ke luar Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk sampah yang non-organik,  juga dapat didaur ulang menjadi berbagai macam kerajinan. Ibu-ibu PKK biasanya membuat sampah plastik, botol, kaleng bekas, koran bekas menjadi barang yang bernilai jual. Biasanya barang hasil kerajinan tersebut tidak dipasarkan keluar kawasan, tetapi hanya dijual di sebuah toko kerajinan yang juga ada di dalam Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan tersebut.

Dengan adanya Kampoeng Wisata Pesanggarahan ini diharapkan para pengunjung bisa mengambil sisi positif dalam budidaya pertanian yakni jika tidak ada lahan untuk bercocok tanam dapat dilakukan di media pot atau dengan metode hidroponik apabila tidak memiliki tanah sama sekali di rumahnya dan juga dapat memotivasi kawasan-kawasan di Jakarta dan sekitarnya untuk turut menghijaukan kembali lahan yang kian tergusur oleh pembangunan infrastuktur dan peningkatan polusi agar tercipta udara yang bersih dan sehat serta bermanfaat.

Oleh : Aksha Febryadi

Pertanian di DKI Jakarta

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota dan kota terbesar di Indonesia. DKI Jakarta memiliki total luas area sebesar 7.659,02 km2 dengan luas daratan 661,52 km2 dan luas perairan 6.997,50 km2. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat hingga tahun 2015, jumlah penduduk di Jakarta mencapai 10.177.924 jiwa. Penduduk paling banyak terdapat di wilayah Jakarta Timur dengan angka 2.843.816 jiwa dan penduduk yang paling sedikit terdapat di Kepulauan Seribu dengan jumlah 23.340 jiwa. Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan perokonomian yang cukup pesat. Penunjang utama perekonomian di Jakarta yaitu oleh sektor perdagangan, jasa, properti, industri kreatif, dan keungan. Tetapi, meski perekonomiannya lebih ditunjang oleh sektor jasa dan industri, bukan berarti sektor pertanian benar-benar lenyap dari ibu kota.

            Pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang dalam memanfaatkan sumber daya hayati untuk dapat menghasilkan bahan pangan, sumber energi, bahan baku industri, dan untuk mengelola lingkungannya. Sektor pertanian di Jakarta menyumbang hingga 0,09% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta pada tahun 2015. Menurut data Badan Pusat Statistika (BPS), dari 1.983,42 triliun pendapatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang didapatkan dari seluruh aktivitas ekonomi sepanjang tahun 2015 di Jakarta, sekitar 1,87 triliun di antaranya disumbangkan oleh sektor pertanian, yang di dalamnya mencakup subsektor tanaman pangan, hortikultural, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, dan jasa pertanian. Sektor pertanian di Jakarta lebih rinci disajikan oleh hasil Sensus Pertanian yang dilakukan oleh BPS pada 2013 atau disingkat ST-2013. Dari ST-2013 didapatkan hasil bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian (petani) di Jakarta mencapai 12.287 petani. Mereka disebut petani karena melakukan kegiatan pertanian untuk usaha atau sebagai sumber penghidupan, bukan hanya sekedar hobi atau sekedar kesenangan belaka. Sebagian besar petani di Jakarta terdapat di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Jumlah petani di ketiga wilayah ini mencapai 9.096 petani atau sekitar 74% dari jumlah total petani di Jakarta. Aktivitas pertanian yang paling banyak dilakukan oleh petani di Jakarta adalah budidaya tanaman hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat), peternakan, dan perikanan. Daerah pinggiran yang berbatasan langsung dengan provinsi lain, yaitu Banten dan Jawa Barat menjadi konsentrasi kawasan pertanian yang berbasis lahan (tanaman bahan makanan, peternakan, dan budidaya ikan air tawar) di Jakarta. Sementara, wilayah pesisir utara Jakarta dan Kepulauan Seribu menjadi konsentrasi kawasan perikanan tangkap dan budidaya ikan air laut.

            Di tengah pesatnya laju pembangunan, serta terus meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan lahan untuk infrastruktur, pemukiman, dan berbagai kegiatan ekonomi di sektor jasa dan industri, sektor pertanian di Jakarta semakin terdesak. Ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Dengan demikian, aktivitas pertanian di Jakarta sebaiknya tetap dipertahankan dan dilestarikan. Hal ini dapat dilakukan dengan, antara lain, meningkatkan nilai ekonominya, melainkan bukan hanya sekedar kegiatan budidaya yang hanya untuk menghasilkan komoditas pangan. Di tengah keterbatasan lahan yang dimiliki Jakarta untuk bertani, kegiatan pertanian di Jakarta diarahkan menjadi kegiatan urban farming (pertanian kota) yang tidak berbasis lahan, tetapi berbasis teknologi, misalnya, aquaculture dan pertanian hidroponik. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan membuat program Gang Hijau.

Program yang merupakan implementasi konsep pertanian perkotaan ini diaplikasikan di ratusan titik di Ibu Kota. Program ini tidak hanya dapat memasok kebutuhan pangan warga Jakarta untuk komoditas tertentu tapi, juga dapat mendorong penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Untuk komoditas pangan, selama ini Jakarta sangat bergantung pada suplai dari daerah lain seperti Provinsi Jawa Barat. Kondisi seperti ini mengakibatkan harga komoditas pangan akan mudah bergejolak ketika suplainya terganggu. Jika konsep pertanian perkotaan diterapkan cukup besar di Ibu Kota, hal ini bisa sedikit mengurangi ketergantungan warga Ibu Kota terhadap suplai pangan dari daerah lain, khususnya produk horikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang dapat dibudidayakan dengan konsep pertanian perkotaan. Harga cabai, misalnya, sangat berubah-ubah dan seringkali meroket ketika suplainya terganggu atau karena banyaknya permintaan pasar pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan dan hari raya lainnya. Hal ini dapat terjadi karena pilihan konsumen Tanah Air yang lebih banyak memilih untuk mengkonsumsi cabai segar daripada cabai yang dikeringkan. Masalah ini sebetulnya bisa diatasi mengingat potensi budidaya cabai dengan konsep pertanian perkotaan cukup besar di Ibu Kota. Selain konsep pertanian perkotaan, aktivitas pertanian di Jakarta bisa dikemas sebagai produk wisata atau biasanya disebut agro wisata. Faktanya, saat ini Jakarta masih memiliki lahan sawah meski hanya sedikit, utamanya terdapat di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Tidak bisa dipungkiri, meskipun setiap hari makan nasi, hamper semua anak-anak di Jakarta tidak pernah menyaksikan secara langsung bagaimana proses budidaya tanaman padi dilakukan di sawah. Pastinya bakal sangat menarik dan menyenangkan bila mereka bisa menyaksikan langsung bahkan melakukan sendiri kegiatan budidaya tanaman padi mulai dari membajak sawah dengan kerbau hingga menanam padi. Selain untuk wisata, kegiatan seperti ini juga bernilai edukasi. Setidaknya mereka tahu dan tidak lupa bahwa nenek moyangnya adalah bangsa petani.

Oleh : Afra Nur Afifah