iklan

Sorgum sebagai Tanaman Pangan Alternatif Pengganti Padi

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia, dimana makanan pokok dari masyarakatnya adalah nasi. Tak heran jika penduduk di Indonesia kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani dan Indonesiapun di kenal sebagai negara agraris yang mampu meproduksi beras dalam jumlah yang sangat besar. Akan tetapi setiap tahunnya Indonesia selalu mengimpor beras untuk kebutuhan stok pangan dan memasok beras-beras tersebut ke daerah yang kekurangan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor beras dari Thailand periode Januari hingga Oktober 2018 sebanyak 780 ton dengan nilai US$ 377,75. Diperlukan bahan pangan alternatif untuk meminimalisir Indonesia dalam mengimpor beras dari negara lain. Salah satu bahan pangan yang dapat dijadikan alternatif selain jagung, singkong, dan kedelai adalah sorgum. Sorgum merupakan jenis gandum atau serealia yang dapat hidup di wilayah tropis maupun sub tropis di bagian Pasifik tenggara maupun Australia. Sorgum memiliki karakteristik yang tahan terhadap kekeringan dan toleran terhadap genangan air serta relatif tahan dengan gangguan hama maupun penyakit. Sorgum memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di wilayah Indonesia karena memiliki daerah adaptasi yang luas.

Masyarakat Jawa mengenal tanaman sorgum ini dengan sebutan jagung cakul karena memang jika dilihat secara fisik tanaman ini hampir menyerupai jagung. Sorgum sendiri memiliki tinggi rata-rata 2,5 meter hingga 4 meter. Daun sorgum berbentuk lurus sejajar layaknya daun jagung maupun tebu, bijinya berbentuk bulat dan mengkerucut pada bagian ujungnya yang berdiameter sekitar 2mm. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya sehingga dapat berpotensi sebagai sumber bahan baku gula layaknya tebu.

Beberapa penelitian mengenai sorgum, menyebutkan bahwa kandungan protein yang ada di dalam sorgum sangat tinggi daripada sumber pangan lain seperti singkong, jagung, maupun beras. Tepung biji sorgum juga tak kalah kandungan karbohidratnya jika dibandingkan dengan tepung serealia lainnya. Biji sorgum memiliki tiga kandungan karbohidrat yaitu pati, serat dan gula terlarut yang terdiri dari glukosa, sukrosa, maltosa, dan fruktosa. Sorgum juga memiliki keunggulan mineral seperti Ca, P, Fe dan B1 jika dibandinkan dengan beras. Kandungan pati dan protein pada sorgum hampir setara dengan kandungan pati dan protein pada jagung. Perbedaan yang membuat tepung sorgum kurang diminati adalah tidak adanya kandungan gluten layaknya pada tepung terigu, diman gluten ini memberikan efek elastisitas pada adonan mie maupun roti.

Meskipun sudah diketahui kandungan nutrisi sorgum yang tinggi namun saat ini sorgum belum dapat dimanfaatkan secara optimal dikarenakan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan karena nilai jualnya yang belum potensial sebagaimana layaknya jagung, gandum, dan beras. Kendala lainnya datang dari fasilitas sepeti mesin untuk memecah biji sorgum yang sulit untuk dikupas sehingga diperlukan perbaikan teknologi pendukung. Potensi dari bagian sorgum lainnya seperti daun, akar, dan tangkai hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun kompos padahal nira dari sorgum memiliki keunggulan jika dibandingkan nira tebu. Nira merupakan cairan manis yang diperoleh dari batang suatu tanaman. Nira pada sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gula dan bioetanol, jadi hampir semua bagian dari tanaman sorgum dapat dimanfaatkan.

Budidaya sorgum sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, bahkan di lahan marginal pun sorgum dapat tumbuh dengan normal dan produktivitasnya tinggi. Lahan marginal yang dimaksudkan adalah lahan yang kekurangan air, lahan masam, maupun lahan yang memiliki kandungan garam tinggi. Sorgum bisa menjadi sumber pangan alternatif dibandingkan beras dan jagung pada sistem pertanian lahan kering karena kebutuhan air bagi sorgum tak sebanyak padi dan jagung. Selain itu sorgum juga dapat dipanen dua hingga tiga kali dalam sekali tanam. Teknik budidaya sorgum sendiri dimulai dari pengolahan tanah dimana sebelum ditanami, tanah harus dibajak terlebih dahulu kemudian digaru dan diratakan. Tanah tersebut juga harus bersih dari gulma karena pada saat fase pertumbuhan awal sorgum kurang mapu bersaing dengan gulma. Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman, dimana penanaman tersebut dengan membuat lubang dari tugal dengan diberi jarak tanam sekitar 75×25 cm atau 75×20 cm dan masing-masing lubang diberi 2 hingga 3 benih tanaman sorgum.

Diperlukam pula perawatan untuk tanaman sorgum seperti pemupukan dengan tepat, baik tepat dosis, tepat cara, maupun tepat waktu. Adapun penyiangan juga diperlukan mengingat pada fase awal pertumbuhan tanaman sorgum kurang mampu bersaing dengan gulma yang ada. Perawatan dari hama penyakitnya juga harus dilakukan, penyakit yang menyerang sorgum salah satunya adalah bercak pada daun dengan hama utamanya adalah ulat daun. Kemudian tahap terakhir adalah tahap panen dan pasca panen, pada tahap panen hanya perlu memangkas bagian tangkai sekitar 15 cm di bawah bagian biji, setelah itu biji sorgum dikeringkan. Setelah dikira cukup kering, biji sorgum dirontokkan dan disimpan di tempat yang memiliki tingkat kelembaban yang rendah dengan keadaan biji yang kering, besih dan utuh atau tidak pecah. Setelah itu biji sorgum dapat diolah salah satunya adalah dijadian tepung sorgum yang kandungannya tak kalah dengan makanan pokok lainnya.

oleh: Wiji RU

Penerapan Sistem Vertical Garden

Indonesia merupakan negara dengan pendudukyang banyak. Semakin banyak penduduk, maka lahan yang dibutuhkan untuk tempat tinggal juga semakin meningkat. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara agraris, yang berarti sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Maka, lahan yang dibutuhkan untuk sektor pertanian juga harus luas. 

Permasalahan yang sedang dihadapi negara ini adalah berkurangnya lahan pertanian yang digunakan untuk kawasan industri, perumahan warga, dan jalan tol. Alih fungsi lahan ini menyebabkan beberapa dampak negatif untuk sektor pertanian. Berkurangnya lahan untuk pertanian dapat mengurangi produksi pertanian dan menyebabkan pemerintah harus impor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Alih fungsi lahan juga menyebabkan berkurangnya tumbuhan hijau sehingga asupan oksigen bagi makhluk hidup juga berkurang.

Dengan berkurangnya lahan yang dialih fungsikan, maka lapangan pekerjaan bagi petani juga menjadi berkurang. Lahan yang seharusnya luas, sekarang menjadi berkurang akibat dialih fungsikan. Petani yang awalnya menggarap lahan yang luas, sekarang hanya menggarap lahan yang tidak seberapa luasnya. Hal ini berdampak pada penghasilan petani dan hasil produksi pertanian. Dengan berkurangnya tingkat produksi, maka pemerintah melakukan kegiatan impor. Kegiatan impor ini tidak mungkin hanya dalam jumlah sedikit ataupun dengan harga yang murah. Pengeluaran negara akan berkurang sangat banyak untuk melakukan impor hasil pertanian dari luar negeri.

Upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah yaitu membuat undang – undang tentang peralihan fungsi lahan secara illegal. Sedangkan upaya yang bisa dilakukan oleh petani dan masyarakat yaitu penerapan sistem vertical garden di halaman rumah mereka ataupun di lahan yang mereka miliki.Vertical garden merupakan sistem penanaman tanaman yang biasanya ditanam secara horizontal di lahan yang luas, sekarang menjadi ditanam secara verticaldi lahan yang tidak terlalu luas. Jadi, masyarakat bisa menanam tanamn di tembok halaman rumah mereka dan tidak memerlukan lahan yang besar dan luas.

Dengan teknologi yang sudah berkembang, sistem ini bisa digabungkan dengan sistem teknologi yang sudah maju. Contohnya, apabila pemilik rumah merupakan pekerja yang sibuk dan jarang mempunyai waktu untuk menyiram dan memumpuk tanaman, maka bisa dilakukan penyiraman dan pemumukan secara otomatis. Sistem otomatis ini dapat dilakukan dengan menggunakan pipa yang disambungkan keseluruh tanaman yang ada untuk menyalurkan air dan pupuk sebagai  nutrisi tanaman. Penanaman dapat dilakukan di dalam pot ataupun di botol bekas yang disusun rapi untuk mengurangi pencemaran akibat botol yang tidak bisa terurai oleh bakteri.

Tanaman yang cocok untuk ditanam di sistem penanaman secara vertikal ini adalah tanaman hias ataupun tanaman holtikultur yang bentuknya tidak terlalu besar. Jadi, petani bisa menanam tanaman yang menghasilkan di halaman rumah mereka. Masyarakat umum juga bisa menerapkan sistem vertical garden untuk menanam tanaman hias di halaman mereka. Dengan begitu, maka tingkat polusi akan berkurang karena banyaknya tanaman yang ditanam di halaman rumah masyarakat. Petani yang memiliki lahan yang tidak begitu luas, bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari.

oleh: Rani BI

Indonesia Krisis Regenerasi Petani Ketahanan Pangan Dipertaruhkan

Bertani dan cerita tentang swasembada pangan sangat erat kaitannya dengan  kemakmuran di tanah nusantara. Indonesia swasembada pangan tahun 2045 satu abad setelah merdeka menjadi cita-cita kementerian pertanian Indonesia. Target dari kementerian Indonesia adalah menjadikan negara Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Rencana ini disusun dengan program swasembada 8 komoditas utama pangan yaitu beras, bawang merah, cabai, jagung, kedelai, gula, daging sapi, dan bawang putih. Arti dari lumbung pangan dunia disini tidak hanya tentang Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, namun diharapkan Indonesia  juga bisa mengekspor kebutuhan pangan ke negara lain. Dengan terwujudnya cita-cita menteri pertanian Indonesia maka dapat dipastikan ketahanan pangan di Indonesia akan sangat bagus.

Berbicara soal ketahanan pangan disebutkan bahwa ketahanan pangan merupakan soal hidup dan matinya bangsa. Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan suatu negara tersebut dapat mengakses, membeli dan mendapatkannya dengan harga terjangkau. Manusia sejatinya selalu membutuhkan pangan demi kelansungan hidupnya. Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Di antara kebutuhan yang lainnya, pangan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup seseorang dapat terjamin. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dulu hingga sekarang masih terkenal dengan mata pencaharian penduduknya sebagia petani atau bercocok tanam. Luas lahan pertanian pun tidak diragukan lagi. Namun, dewasa ini Indonesia justru menghadapi masalah serius dalam situasi pangan di mana yang menjadi kebutuhan pokok semua orang.

Generasi petani di Indonesia saat ini semakin berkurang. Rata-rata petani di Indonesia berumur 60 tahun keatas, yang mana usia ini merupakan usia yang tidak produktif lagi. Petani di Indonesia yang berumur rata-rata 40 tahun keatas juga memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, hal ini menjadikan pengetahuan petani tentang pertanian tidak berkembang. Petani yang memiliki latar pendidikan yang rendah biasanya hanya memiliki pengetahuan tentang pertanian secara turun temurun. Pasalnya pengetahuan tentang pertanian pada zaman dahulu dengan zaman sekarang tentunya berbeda, kerana masalah pertanian yang terjadi saat ini tidak sama dengan masalah pertanian pada masa lampau. Permasalahan ini menjadikan petani tidak mengerti cara bercocok tanam yang benar, mereka hanya mengandalkan pengetahuan yang di dapatkannya secara turun temurun tanpa mengetahui masalah apa yang terjadi pada lahan mereka. Akibatnya hasil produksi pertanian tidak optimal dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Tidak pahamnya petani tentang masalah yang dihadapinya sehingga menyebabkan hasil produksi nya tidak maksimal bahkan bisa mencapai kerugian menyebabkan penghasilan petani selalu rendah. Penghasilan yang rendah membuat kehidupan para petani tidak sejahtera.

Stigma masyarakat selama ini yang menganggap kehidupan petani tidak sejahtera membuat profesi petani menjadi tidak diminati bagi banyak orang khususnya generasi muda. Kerja petani yang panas-panasan, tidak berseragam menjadikan pandangan masyarakat menganggap remeh pada profesi petani, padahal pangan yang kita konsumsi sehari-hari merupakan jerih payah dari para petani. Generasi muda saat ini ingin bekerja yang mudah, berpenampilan rapi, dan disegani banyak orang. Banyak mahasiswa lulusan pertanian, bahkan mahasiswa lulusan dari institute pertanian tidak mau terjun langsung dalam pertanian, mereka kebanyakan memilih bekerja di kantor, bank, dan lain-lain.

Kenyataannya, Indonesia merupakan negara yang potensial dalam sektor pertanian. Lahan di Indonesia meruapakan lahan yang potensial sebagai lahan pertanian. Orang yang memiliki pengetahuan yang lebih soal pertanian seharusnya bisa terjun langsung ke pertanian dan sukses menjadi petani, karena mereka dapat menerapkan kaidah pertanian yang benar. Kaidah pertanian yang dilakukan dengan benar dan dengan lahan yang potensial bukan tidak mungkin menjadi petani merupakan profesi yang menjajikan. Maka dari itu, dengan banyaknya generasi petani yang produktif dan memiliki keahlian yang mumpuni dapat dipastikan kedepannya Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangan nya sendiri bahkan mengekspor sebagian hasil pertanian, serta cita –cita Indonesia pada tahun 2045 yaitu menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia akan terwujud.

Kontribusi Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat

Potensi pertanian di Jawa Barat tersebar secara merata di seluruh daerah yang meliputi komoditas padi, palawija, dan horticultural. Selain itu, jenis sayurandan buah-buahan di daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Hasil pertanian utama di daerah Jawa Barat merupakan jagung, padi, dan ubi kayu.Daerah penghasil bunga-bungaan di Jawa Barat antara lain, Kabupaten Cianjur, Garut, Kuningan, Bandung, Ciamis, Purwakarta, Bogor, dan Sukabumi.

            Melihat hasil pertanian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil pertanian di Jawa Barat merupakan sector yang bepotensi menjanjikan dalam hal membangun aspek ekonomi bagi wilayah Jawa Barat untuk dikembangkan secara optimal. Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan terutama di daerah, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2018, sektor pertanian dijadikan salah satu jalan untuk mencapai keberhasilan pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat.

            Sinergi antara sektor pertanian, industri dan jasa yang kuat akan membentuk perekonomian yang efisien, dan hal ini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah (Sjafrizal, 2008). Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sector pertanian merupakan sector dominan setelah industri. Jika hasil pertanian pangan, termasuk hasil sayur-sayuran dan buah-buahan ini dapat dibudidayakan melalui teknologi canggih, daerah Jawa Barat dapat berkembang pesat dalam sector pertanian. Apalagi daerah Jawa Barat memiliki banyak SDM yang berkualitas dengan adanya perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, dan Institut Pertanian Bogor. Dengan adanya hal-hal tersebut dapat memacu pembangunan sector pertanian dan sector pertanian dapat berkontribusi secara optimal pada perekonomian di daerah Jawa Barat.

            Melalui pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan secara bertahap. Kemampuan daerah untuk tumbuh tidak terlepas dari peranan sektor-sektor yang ada dalam suatu perekonomian. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2010 yaitu sebesar 13,08% dan terus menurun sampai 11,47 pada tahun 2012. Masuknya sektor pertanian ke dalam tiga besar penopang PDRB di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan   sektor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah (Badan Pusat Statistik, 2012)

Maka dari itu, para Sumber Daya Manusia yang dimiliki diharapkan dapat berkontribusi secara optimal pada pertanian di Jawa Barat. Dengan cara-cara yang dapat membuat petani untung, juga memberikan dampak yang positif bagi lingkungan serta memberikan suatu ekosistem yang baik dan seimbang agar dapat terus berlanjut sampai berpuluh-puluh tahun kedepan. Agar tercipatanya mimpi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.

Cara yang dapat dilakukan sejak dini oleh petani yang tidak terlalu sulit adalah pengurangan pemberian pestisida agar tidak menimbulkan resistensi hama dan resurgensi hama di kemudian hari. Karena pada umunya petani di Indonesia masih ketergantungan pada pestisida kimiawi dalam melakukan pengusiran hama. Padahal pestisida secara tidak langsung memberikan efek yang sangat besar bagi tanaman di kemudian hari. Dan para ahli atau sarjana pertanian nantinya diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam membangun pertanian Indonesia dengan cara memberikan penyukuhan atau sosialisasi pada petani dalam mengolah tanamannya.

            Dengan demikian, pertanian memberikan kontribusi yang sangat efektif pada sector ekonomi di Jawa Barat. Karena Jawa Barat memiliki banyak lahan yang digunakan untuk membudidayakan tanaman pangan, hortikultura, maupun kacang-kacangan. Agar sector pertanian dapat terus bertahan dan berkontribusi di kedepannya, perlu peran aktif para ahli atau sarjana pertanian yang ikut membangun pertanian di Jawa Barat.

            Perlu ada tindakan dari pemerintah berupa kebijakan dalam pengelolaannya untuk mengembangkan sector pertanian ini agar dapat menjadi sektor/sub sektor yang potensial untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat. Sektor  yang  potensial bagi daerahnya diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang besar sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan sektor tersebut. Keadaan posisi sektor di provinsi dapat tercermin dari keadaan sektor/sub sektor di kabupaten/kota. Semoga apa yang diharapkan dalam artikel ini dapat terwujud dengan bebrbagai cara dan pihak pihak yang bersangkutan dapat ikut berpartisipasi demi terselenggaranya atau terwujudnya sector pertanian yang maju dan memberikan dampak yang positif bagi sector pertanian Indonesia yang khususnya berada di daerah Jawa Barat

Oleh: Fathya KS

Abu Vulkanik Gunung Sinabung Membawa Dampak Bagi Pertanian

Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan gunung api. Abu vulkanik terdiri atas partikel berukuran besar sampai halus. Istilah abu vulkanik digunakan untuk material ketika sedang berada di udara.Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda. Bencana satu hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Akan tetapi suatu bencana dapat membawa dampak negatif tetapi ada juga yang membawa dampak positif khususnya di bidang pertanian karena pertanian sangat berpengaruh terhadap suatu negara terdapat 70% pendapatan dan belanja yang berhubungan dengan pertanian yang digunakan sebagai bahan pangan.

Gunung Sinabung terletak di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini 2.460 meter diatas permukaan laut. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600 (Global Volcanism Program, 2008). Debu dan pasir vulkanik yang disemburkan ke langit mulai dari berukuran besar sampai berukuran yang lebih halus. Debu dan pasir vulkanik ini merupakan salah satu batuan induk tanah yang nantinya akan melapuk menjadi bahan induk tanah dan selanjutnya akan mempengaruhi sifat dan ciri tanah yang terbentuk (Fiantis, 2006). Bahan-bahan vulkanis tersebut nantinya akan menjadi bahan induk penyusun tanah (Hardjowigeno, 2007). Pada tahun 2010 Gunung Sinabung mengeluarkan asap, hujan pasir dan abu vulkanis yang sangat tebal. Hingga saat ini gunung sinabung masih dalam zona merah. Hal tersebut menyebabkan masyarakat Kabupaten Karo banyak mengeluh akibat dari abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktivitas aktivitas yang akan dilakukan. Saat itu abu vulkanik menyelimuti permukiman dan lahan pertanian warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketebalan abu vulkanik yang berkisar antara 2 hingga 5 sentimeter membuat tanaman para petani terpapar abu vulkanik.

Tebalnya material abu yang bercampur batu kerikil telah merusak berbagai jenis tanaman hortikultura. Tidak hanya itu banyaknya atap rumah mereka yang jebol akibat dari batu kerikil tersebut. Kondisi ini mengakibatkan para petani terancam gagal panen karena semua tanaman yang terkena abu vulkanik rusak bahkan ada yang mati sehingga membuat para petani gagal panen. Tanaman sayur mayur, buah buahan, kopi dan tembakau yang menjadi sumber penghasilan pasti gagal panen karena timbunan abu vulkanik apalagi pada saat itu Tanah Karo musim kemarau membuat tanaman yang terkena abu akan gosong dan mati. Dalam hal ini, dampak erupsi Gunung Sinabung terhadap kondisi sosial ekonomi petani tidak positif, yang berarti erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi sosial ekonomi petani, baik itu dalam segi pendapatan,pendidikan maupun kesehatan. Begitu juga karena sebagian besar masyarakat Tanah Karo mengharapkan hasil dari bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari hari .

Namun, disamping itu abu vulkanik juga dapat membawa dampak positif yang menguntungkan para petani yaitu karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, mineral tinggi dan sulfur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sehingga baik untuk tanah di wilayah Tanah Karo serta karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, dan mineral tinggi serta dapat memperbaiki struktur tanah dan kandungan hara yang miskin karena intensifikasi pertanian, serta menjernihkan air yang memiliki kualitas rendah. Abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menurunkan tingkat keasaman pada tanah tetapi dalam jangka panjang sangat bagus bagi manusia terutama pada bidang pertanian. Sedangkan dalam jangka panjang, manfaat dari hujan abu vulkanik bagus bagi pertanian. Tentunya setelah melewati proses denormalisasi. Denormalisasi bisa secara alami yang diolah oleh tanah, bisa juga oleh manusia sendiri yang melakukannya. Caranya adalah dengan pemberian dolomit atau pengapuran (CaCo3) yang akan merubah mineral di abu menjadi pupuk yang berguna bagi tanah, banyak terdapat aneka bahan tambang seperti belerang, logam, dan permata yangdapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk mendapatkan hasil.

Pada gambar ini menunjukkan seorang petani yang menyiram tanaman yang terkena abu vulkanik agar meminimalisir terjadinya kematian pada tanaman. Lalu menyemprot dengan obat-obat yang dapat menyegarkan tanaman tersebut dan dapat menghasilkan, hasil yang maksimal.

Oleh: Margaretha Libertyna Br Bukit