iklan

Nikmatinya kopi “Bulan Madu”

Nikmatnya Kopi Bulan Madu Racikan Alumni Bata-Bata Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbaik dunia. Kopi ini tumbuh di atas 1000 dpl di kawasan lereng Gunung Ijen, Raung dan Argopuro. Kopi yang tumbuh di sekitar lereng Gunung Ijen dan Raung ini juga telah diproses secara organik oleh petani dengan menggunakan pola tanam dan perawatan sesuai standar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia.

Kopi ini memiliki cita rasa khas yakni beraroma coklat dengan rasa manis dan pedas jika dikecap lama – lama. Selain itu kadar keasaman juga pas dan tak berbahaya untuk lambung. Cita rasa yang khas inilah yang juga mengantarkan kopi Bondowoso memperoleh sertifikat indikasi geografis dengan nama “Java Ijien Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Kini  kopi Bondowoso juga telah di ekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika.

Peluang bisnis ini kemudian ditangkap oleh Muhlis Adi Rangkul, alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang kini tinggal di Perumahan Taman Mutiara, Blok AA-15, Pejaten Bondowoso.

Bondowoso dideklarasikan sebagai sebagai “Republik Kopi” pada Mei 2016 kemarin oleh Drs. H. Amin Said Husni Bupati Bondowoso, yang juga Presiden Republik Kopi. “Jadi sejak Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi, saya kemudian membuka usaha kopi. Saya menjualnya dalam bentuk bubuk kopi murni. Namun demikian, kopi Bulan Madu ini hanya khusus untuk oleh oleh. Saya tidak buka cafe,” ujar Muhlis.

Menurut Muhlis, saat ini ia masih belum memiliki alat yang memadai untuk memproduksi sendiri. Sehingga ia kemudian bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani kopi di Kecamatan Sumber Wringin dan Kecamatan Pakem. Kelompok petani kopi ini merupakan binaan DInas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Bondowoso. Mereka mengolah kopi mulai dari menanam hingga memetik sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).

“Jadi saya membeli bubuk kopi murni dari para petani yang sudah bekerja secara professional itu. Lalu saya mengemas kopi bubuk murni itu dengan kemasan yang menarik. Adapun harga per bungkus adalah Rp. 50.000 dengan berat bersih 200 gram,” terangnya. Kopi-kopi yang sudah ia kemas itu, lanjut Muhlis kemudian ia jual ke sejumlah daerah semisal Jember, Situbondo, Banyuwangi, Malang, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Dalam setiap harinya, rata-rata ia mampu menjual antara 5-10 bungkus. “Biasanya kopi bulan madu itu dijadikan oleh-oleh. Selain itu juga untuk konsumsi pribadi dan juga keluarga,” terangnya. Menurut dia, kopi bulan madu tidak berbahaya di lambung. “Salah satu cara efektif untuk mengetahui kopi itu baik untuk pencernaan adalah melalui bau kencing. Kalau kita minum kopi kemudian ketika buang air kecil kita berbau kopi, itu biasanya tidak baik untuk pencernaan.

Namun jika tidak bau, maka itu dapat diartikan baik untuk pencernaan,” katanya. Untuk menghasilkan rasa yang lebih baik, cara penyeduhan kopi bulan madu adalah dengan cara memasukkan 10 gram bubuk kopi murni kopi bulan madu ke dalam gelas atau cangkir. Kemudian air dimasak hingga mendidih dan diamkan beberapa saat. Setelah itu masukkan air ke dalam gelas atau cangkir perlahan-lahan. Selanjutnya seduh ke kiri, bukan kekanan agar aromanya naik ke atas. Baru kemudian dimasukkan gula sesuai selera.

Kopi Bulan Madu

Bodowoso dideklarasikan sebagai kabupaten Republik kopi. Menurut bupati Bodowoso merupakan salah satu penghasil kopi terbaik dunia. Kopi Bondowoso, merupakan salah satu kopi Nusantara yang telah mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis “Java Ijen Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM. Kopi yang dijadikan icon kopi Arabika. Pak mukhlis sebagai salah satu warga bondowoso ingin ikut andil untuk mempromosikan Bodowoso sebagai Republik kopi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pak mukhlis adalah membuat satu produk kopi dengan merek “Kopi Bulan Madu”. Kopi bulan madu dihasilkan dari ijen, rawu, argopuro. Kopi yang berasal dari Ijen dan rawu merupakan kopi terbaik di Bondowoso. Menurut pak mukhlis “Kopi Bulan Madu” mempunyai rasa yang lebih asam dan  ada seperti rasa coklatya. “Kopi Bulan Madu” semakin lama di kecap rasanya akan terasa seperti ada rasa pedas. Berdasarkan hasil Skor cup test dengan metode penyangraian menengah (medium roast) berkisar antara 80, 27-84, 88 menempatkan kopi Bondowoso masuk dalam jajaran kopi specialty menurut standar Specialty Coffee Asosiation of America dengan cita rasa spesifik sweetness (manis) dan spicy (pedas).

Kopi bulan madu diolah dengan tangan terampil oleh kelompok tani. Jumlah kelompok tani yang mengelola kopi sebanyak 43 kelompok tani yang di bina oleh Puslit koka Jember dan diawasi bank Indonesia yang memberikan​ bantuan. Berikut ini adalah standar operasional procedure (SOP) Pengolahan kopi yang dilakukan oleh kelompok tani mulai dari berbunga hingga siap seduh. Beberapa proses memang membutuhkan waktu dan tenaga. Setelah buah ranum kemudian dilakukan petik merah, hal ini dilakukan agar kopi yang dihasilkan adalah kopi yang terbaik. Setelah itu, buah kopi tersebut dibawa ke Unit Pengolahan Hasil (UPH) di Bondowoso tepatnya di Kecamatan Sumber Wrigin ada lebih dari 40 UPH yang menaungi sekitar 2000 lebih petani kopi.

Di UPH buah yang sudah dipetik disortasi kembali agar buah kopi yang masih hijau atau belum matang tidak ikut diproses. Kemudian dilakukan perendaman buah kopi di dalam air atau yang biasa disebut  proses perambangam. Proses perambangam dilakukan untuk memisahkan antara biji kopi yang bagus dan tidak. Biji kopi yang bagus adalah biji kopi yang tenggelam. Kemudian biji kopi yang lolos seleksi akan dikupas menggunakan mesin pulper.

Proses tidak hanya dilakukan dengan memilih biji kopi yang tenggelam akan dilakukan lagi sortasi setelah pulper. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memastikan tidak ada kulit kopi yang ikut terfermentasi. Kopi – kopi ini kemudian difermentasi dengan durasi selama 36 jam di dalam karung. Setelah mencapai 36 jam, kopi akan dijemur di bawah sinar matahari. Lamanya penjemuran tergantung cuaca berkisar antara 10-15 hari hingga mencapai kadar air yang pas yakni 11%.

Setelah itu kopi kemudian akan dikupas menggunakan huller untuk memisahkan horn skin (HS) dengan biji kopi (green bean). Kopi yang akan diekspor biasanya dijual dalambentuk HS kering. Untuk produk hikir, petani akan kembali mensortasi green bean yang ada untuk kemudian dijual atau diproses menjadi roasted bean ( biji sangrai) atau ground coffee (biji bubuk). Level roasting yang kerap dipakai petani adalah light to medium atau medium. SOP pengelolaan kopi yang dilakukan oleh kelompok tani harus sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan. Apabila ada kelompoktani yang melanggar maka kelompok tani tersebut akan dikeluarkan dari kelompok tani yang dibina oleh Puslit Koka Jember.

Begitu lah jenis kopi dan SOP bahan baku yang digunakan oleh pak mukhlis untuk membuat “Kopi Bulan Madu”.  Saat ini kopi dijual dalam bentuk bubuk dan merupakan salah satu oleh khas Bondowoso. Varian kopi bulan madu adalah sebagai berikut (1) biasa (kopi Arabika asalan tanpa disortir) dengan harga 25.000/100g , spesial (kopi yang disortir) dengan harga 40.000/100g, blue (ada proses fermentasi) dengan harga 65.000/100g. Salah satu yang menarik dari kopi bulan madu menurut pak mukhlis adalah ketika kita meminum kopi ini nikmatnya seperti orang lagi berbulan madu. Kopi yang nikmat seperti ini lah yang membuat orang akan menjadi ketagihan dan ingin terus meminumnya. Satu cangkir kopi bulan madu rasanya sama seperti 10 cangkir kopi biasa saking nikmatnya tutur pak mukhlis.

 

 

Nikmat Warna

Hijau?

Bukan itu putih pucat

 

Merah pun begitu!

Lalu kenapa disebut hijau

padahal akhirnya putih pucat

 

Tempayan coklat lalu menghitamkan

Asap putih dari yang hitam

 

Aromanya yang rindu

Warnanya syahdu

Rasanya?

Sudah dulu nikmati…

 

Katanya…

Asa dan darah yang hidupi warnanya

Keringat pasrah pada aromanya

Rasanya?

Sudah dulu nikmati

 

Rasa layang yang diseduh

Penat dan peluh pun ikut luruh

Rasanya?

Ah…Rinduku hanya pada putih pucat

Sebelum coklat dan hitam jadi aromanya

Biarkan saja dulu

Biarkan hitam kembali hijau memerah.

 

H-rly

NGOPI

Minuman yang berasal dari biji afrika ini, memang memiliki sejarah panjang dalam masyarakat kita. Tak hanya, menikmati, sajian, aroma dan rasanya, tetapi bersosialisasi melalui media “ngopi” menjadi titik balik dalam budaya kita. “Ngopi” memang menjadi istilah bagi sebagian masyarakat sebagai kegiatan bersosialisasi di suatu tempat yang pada umumnya tempat tersebut menyediakan minuman kopi . alih = alih memesan kopi, apapun yang dipesan menjadi sajian, yang terpenting adalah berkumpul untuk ngobrol bersama dalam suasana santai.

Khamdani (2014) dalam tulisannya ikut mengamini bahwa kegiatan “ngopi” sebagai kegiatan melepas penat dari rutinitas dan juga kegiatan ngopi juga sebagai bentuk komunikasi efektif untuk berdialog, diskusi, wawacara, observasi penelitian, warung kopi tempat apresiasi suatu pendapat umum masyarakat yang dilontarkan kehidupan sehari-hari dan bahkan juga menjadi media diskusi, dialog masyarakat Indonesia. Ngopi bukan sekedar nongkrong, bengong, ngobrol sana-sini melainkan juga sebagai tempat bertemunya warga berbagai lintas budaya,berbagai macam latar belakang yang dimiliki oleh masyarakat. Warung kopi memiliki sebuah riset penelitian cukup besar, manfaatnya banyak, dan bisa dibuat kajian halnya kategori dalam ilmu komunikasi. ilmu sosiologi, bahkan strategi kajian marketing bisnis.

Disisi lain, kegiatan ngopi juga berhubungan dengan gaya hidup yang didasarkan pada waktu dan uang, para penikmat kopi memiliki kecenderungan sebagai gaya hidup konsumen yang menghabiskan waktu mereka dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Jadi, bisa dikatakan bahwa kelompok yang menurut veblen dimasukkan dalam leisure class (klas perilaku konsumen yang menghabiskan waktu dan uang untuk kepuasan tertentu) ini menjadikan gaya hidup merupakan bagian dari diri mereka. Bertujuan untuk meningkatkan status sosial, entah itu mereka dengan sadar atau tidak sadar dan berlomba-lomba dalam memanfaatkan barang yang dinilai bernilai tinggi di masa sekarang ini. tak heran jika siapapun dan dengan budget berapapun mampu menikmati kopi.

Berdasarkan gaya hidup dan tradisi ngopi inilah para pengusaha warung kopi membangun segmentasi pasar dalam menumbuhkan usahanya. demand driven yang besar menjadikan potensi usaha warung kopi sangatlah menjanjikan. walaupun terbagi dalam segmentasi pendapatan, warung kopi masih memiliki pelanggan setia. Starbuck, Excelso, kedai kopi nusantara, kedai kopi sederhana, dan produsen kopi instan menjadi contoh bahwa “ngopi” mampu memenuhi semua segmentasi.

 

H-rly

Motif dibalik Malang Seribu Warkop

Tidak dapat dipungkiri saat ini kota malang menjadi kota yang dibanjiri dengan warkop, setiap sudut kota pasti akan ditemui tempat- tempat yang menjajakan minuman kopi dari kopi saset hingga kopi racikan, fenomena ini  lebih menarik lagi melihat pada umumnya penikmat kopi adalah orang orang dewasa namun dikota ini rata-rata yang menjadi konsumen kopi adalah para mahasiswa ataupun pelajar sekokah dikota malang.

informasi dari salah seorang penikmat kopi, bahwa kegandrungan mahasiswa dengan kopi dikarenakan beberapa motif yaitu ada mahasiswa yang berlatar belakang aktifis, sudah tentu akan lebih sering meluangkan waktunya berada di warkop hal ini karena setiap kali ada acara rapat atau sekedar mencari inspirasi pasti yang menemaninya adalah secangkir kopi, kemudian ada tipe mahasiswa pengangguran ya benar sekali yaitu mahasiswa yang menempuh semester akhir dan belum selesai persoalan skripsi hanya seharian menghabiskan waktu dengan secangkir kopi dan bergurau sesama temannya,atau sekali-kali bermain gedjed tanpa ada tujuannya, terakhir tipe mahasiswa akademik dicirikan dengan ngopi dan membuka laptop tanpa berbicara sedikitpun.

keseluruhannya memiliki presepsi bahwa dengan kopi inspirasi muncul dan mencairkan suasana narasumber juga menjelaskan berjam-jam dapat duduk dengan santai atau rapat hanya dengan kopi, ketika telah habis secangkir dengan segera akan pesan lagi, hingga apa yang dibicarakan tercapai dan terulang lagi pada esok harinya , dikatakan candu ia mengatakan tidak tapi lebih tepatnya mengatakan bahwa dibalik kopi disitu ada kepentingan yang dibawa, ketika selesai kepentingan kita maka berakhir pula kita berada diwarung kopi tersebut. Inilah motif yang menjadikan malang semakin padat akan hadirnya nuansa kopi di setiap waktu.