iklan

Pengelolaan lahan sawah di Kabupaten Mojokerto

Sawah merupakan salah satu tempat untuk masyarakat indonesia mencari nafkah. Sebagian besar masyarakat indonesia bekerja sebagai petani. Petani sangat berjasa untuk orang banyak karena berkat petani semua warga yang ada di Indonesia bisa makan nasi dalam kebutuhan sehari-harinya. Karena sudah menjadi kebiasaan orang indonesia ketika belum makan nasi belum “makan“. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masyarakat biasanya dalam satu lahan tersebut tetap ditanami padi atau tanaman palawija. Pada pertengahan bulan juni saya berkunjung ke salah satu kabupaten di jawa timur yaitu mojokerto.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 kabupaten mojokerto mampu menghasilkan 314.599,90 ton padi dengan luas lahan 51.335 ha. Rata-rata produksi padi di kabupaten mojokerto 6,13 ha/ton. Produksi padi di kabupaten mojokerto sama dengan rata-rata produksi padi nasional rata-rata 6 ton/ha (Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, 2015). Pengelolaan lahan sawah sudah dilakukan dengan optimal oleh masyarakat yang ada di kabupaten mojokerto. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang ada di kabupaten mojokerto, pengelolaan lahan sawah yaitu dalam satu tahun masyarakat mampu menanam sebanyak 3 kali. Selain itu, masyarakat juga biasanya menanam tanaman palawija setelah panen padi sebanyak 2 kali. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masyarakat kabupaten mojokerto tergantung dengan cuaca pada musim tersebut.

Masyarakat di kabupaten mojokerto akan menanam padi sebanyak 3 kali jika kondisi cuaca mendukung. Hal ini kaitannya dengan ketersedian air untuk tanaman padi. Sebagian besar masyarakat di mojokerto lahan sawahnya masih berupa sawah tadah hujan. Ketika datang musim kemarau maka sawah masyarakat menjadi kekeringan dan menjadi gagal panen. Berdasarkan pengamatan cuaca pada musim tersebut masyarakat akan menanam tanaman palawija seperti tanaman jagung, kacang hijau dan terkadang juga menanam tembakau.

Salah satu pengelolaan lahan sawah yang menarik menurut penulis adalah penanaman kacang hijau di desa kalipuro di kabupaten mojokerto. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat masyarakat akan menanam kacang hijau jika kondisi cuaca atau musim kemarau. Pada musim ini masyarakat akan melakukan penanaman kacang hijau dimulai dari penyiapan lahan dengan cara membakar hasil jerami. Menurut masyarakat penyiapan lahan dengan membakar jerami terlebih dahulu tersebut bisa membuat tanaman kacang hijau menjadi lebih subur. Penyiapan lahan dengan pembakaran dilakukan karena lebih praktis dan efektif, selain itu juga dianggap murah, mudah, cepat dan dapat menyuburkan tanah (Syaufina 2008; Syaifullah & Sodikin 2014).