iklan

“Kopi Agroforestry”

Kebutuhan kopi semakin tahun semakin meningkat, berdasarkan data Asosiasi Eksportir dan Industri kopi Indonesia (AEIKI) tahun 2010  kebutuhan kopi di indonesia 190.000 ton menjadi 300.000 ton pada tahun 2016. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsumsi kopi di masyarakat sebesar 5-6%. Berdasarkan artikel yang ditulis Klara Virencia (2016) pemerintah indonesia masih impor kopi sebesar 4% per tahun. Kebutuhan kopi yang meningkat harus diringi dengan produksi kopi. Agar mencapai jumlah produksi yang dinginkan ada beberapa cara yang penting untuk dilakukan yaitu dengan cara memperbaiki kualitas bibit kopi yang ditanam dan menambah alokasi lahan untuk penanaman kopi.

Kualitas bibit kopi dapat ditingkatkan yaitu dengan cara rekayasa genetik seperti yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Indonesia Coffe and Cocoa Research Institute). Indonesia Coffe and Cocoa Research Institute (ICCRI) mampu menghasilkan bibit yang tahan terhadap penyakit, mampu beradaptasi di lahan yang kurang subur dan produksi tinggi. Akan tetapi peningkatan kualitas bibit saja tidak cukup untuk meningkatkan produksi kopi. Salah satu faktor penting untuk menambah kuantitas kopi yaitu dengan cara menambah lahan untuk ditanam kopi.

Perluasan lahan untuk kebun kopi merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan kopi tersebut, akan tetapi terkadang sulit juga untuk menambah areal perkebunan kopi. Salah satu cara mungkin yang dapat dilakukan adalah menanam kopi di bawah tegakan yang sudah ada yaitu “Kopi Agroforestry”. Sistem agroforestry sistem pengunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu yang tumbuh bersamaan atau bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai produk dan jasa (services) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen tanaman (ICRAF, 2003).

Kopi agroforestry sangat cocok untuk dikembangkan di lahan yang sudah ada saat ini. Saat ini pemerintah mempunyai lahan yang cukup sesuai yaitu lahan Perum Perhutani. Di lahan perum perhutani kita dapat menanam kopi di bawah tegakan tanaman pokoknya. Selain itu, di lahan masyarakat juga dapat dilakukan penanaman “Kopi Agroforestry”.  Saat ini  masyarakat masih melakukan penanaman kopi secara monokultur. Pengembangan “Kopi Agroforestry” dapat menghasilkan kualitas dan kuantitas kopi. Selain itu ada juga kemungkinan membuat rasa kopi menjadi berbeda sesuai dengan jenis pohon yang menjadi naungannya. Beberapa contoh tanaman yang cocok untuk di tanam sebagai tanaman pelindung antara lain  pohon gamal (Gliricidia sepium), lamtoro (Leucaena leucocephala) dan dadap (Erythrina spp). Pohon-pohon tersebut dapat membuat tanah yang ada di dalam tegakan menjadi lebih subur karena akar dari pohon dapat nenambat nitrogen, dan dapat menjadi pupuk alami dari daun yang terdekomposisi.

Kopi agroforestry dimungkinkan mempunyai rasa yan berbeda dari jenis kopi yang ditanam secara konvensional (monokultur). Hal ini disebabkan oleh beragamnya jenis tanam penanung yang digunakan oleh petani. Adanya interaksi antara tanaman kopi dengan tanaman penaung dimungkinkan akan mempengaruhi dari rasa ataupun kandungan yang ada di dalam kopi tersebut.

Tanaman Kopi Multistrata

Praktek budidaya kopi multistrata (mixed/ shaded coffee atau agroforestri kopi) yang dipercaya dapat memenuhi kepentingan ekonomi dan ekologi pada saat yang sama, baru menjadi wacana sejak dua dasa warsa belakangan ini. Padahal budidaya kopi multistrata sudah lama dipraktekkan oleh para petani kopi tradisional di berbagai belahan dunia (Budidarsono et al. 2000). Kebun kopi yang dirancang dengan pola agroforestri menggunakan sejumlah spesies tanaman penaung diharapkan mampu menjaga keberlanjutan usahatani kopi oleh makin kondusifnya kondisi lingkungan kebun. Pola tanam tersebut juga penting untuk mengantisipasi isue eko-label dan meningkatnya green consumerism (Prawoto, 2008)

Konsep pola agroforestri pada dasarnya secara perlahan mampu menekan emisi karbon dan efek rumah kaca karena kopi dan tanaman penaung merupakan carbon sink yang baik. Kebijakan beberapa produsen kopi di Amerika Tengah yang mengikuti kesepakatan Kyoto mengenai carbon sequestration, memperoleh bonus dari CO2 yang dapat diserapnya setelah merubah pola tanam kopi monokultur menjadi pola agroforestri (Vaas et al., 2002).

Keberadaan tanaman penaung khususnya dari famili Leguminosae, meningkatkan kesuburan tanah (bahan organik dan siklus hara), dan lebih menjamin keberlanjutan usahatani kopi. Pada lingkungan yang kurang optimum, tanaman penaung berfungsi menurunkan penyinaran matahari yang berlebih dan menyangga suhu udara dan kelembaban relatif yang dapat berpengaruh negatif terhadap fisiologis tanaman kopi. Tanaman penaung memegang peranan penting bagi pekebun kopi di Amerika Tengah oleh dampaknya terhadap sumber daya lingkungan seperti konservasi biodiversitas, konservasi tanah dan kualitas air, serta sebagai preservasi karbon (Vaast et al., 2008).

Minat pekebun kopi menggunakan tanaman penaung akhir-akhir ini meningkat disebabkan oleh harga kopi dunia berfluktuasi dan kecenderungan meningkatnya green consumerism. Di Kostarika, 88% pekebun mengusahakan lebih banyak spesies di dalam kebun kopi, khususnya spesies tanaman buah (Albertin et al., 2004).