iklan

Pengembangan Umbi Porang Sebagai Produk Pangan Alternatif

Indonesia menghadapi masalah serius terkait produksi pangan nasional. Berdasarkan data BPS , saat ini alih fungsi lahan di tanah air mencapai luasan 110 ribu ha. Pengurangan itu terlihat dari perbandingan luas bahan baku tahun 2002 yang masih mencapai 7.748.840 ha dan tahun 2011 yang tinggal 6.758.840 ha. Apabila tidak ada penambahan lahan pertanian tanaman pangan , khususnya padi, maka jumlah panen tidak akan meningkat. Sedangkan jumlah penduduk naik 1,4% jumlah penduduk tahun 2010 baru mencapai 237 juta jiwa dan 341 juta jiwa  pada tahun 2011. Tak heran, jika sebelum tahun 2030 Indonesia akan kekurangan pangan. Karena terkonversinya lahan pertanian menjadi perumahan dan alih fungsinya lainnya, menyebabkan luas panen per kapita Indonesia dua kali lipat lebih kecil dari Vietnam dan tiga kali lipat dibanding Thailand (Nunung, 2011). Disamping itu terdapat kenyataan bahwa, kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, selain adanya masyarakat yang semula mengkonsumsi non beras ke beras. Dengan demikian untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternative. Salah satu yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah porang. Porang (Amorphophallus oncophyllus) merupakan tanaman lokal yang dikembangkan di Indonesia yang masuk dalam family Araceae dan merupakan tumbuhan semak (herba) yang berumbi di dalam tanah dan menghasilkan karbohidrat.  Tanaman porang tumbuh berupa semak dengan tinggi 100-150 cm, berbatang halus, tangkai dan daunnya berwarna hijau tua bergaris-garis dengan bercak putih.  Tanaman porang merupakan tanaman lorong diantara tanaman tahunan, sehingga lebih menyukai lingkungan dengan tingkat naungan tinggi dan kelembaban cukup. Umbi Porang merupakan salah satu kekayaan alam yang tidak banyak dikenal dan digunakan sebagai bahan pangan lokal yang banyak tumbuh di lahan hutan di Jawa Timur. Menurut BPS (2012) potensi porang dalam bentuk umbi yang dihasilkan oleh hutan di Jawa Timur baru sekitar 2.129.919,5 kg.  Umbi basah dengan luasan 7.006 ha dan rendemen 20% maka produksi chip masih sekitar 600 kg- 1000 ton chip. Sedang kebutuhan industri sedemikian besar . Oleh sebab itu perluasan tanaman porang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri sekitar 3.400 ton chip.  Potensi  porang di hutan Jatim masih sekitar 2000 ha versi LMDH. Porang ditanam oleh petani masyarakat desa hutan secara tumpang sari dengan pohon jati sebagai tanaman pokok.  Para petani tersebut tergabung dalam badan hukum yang disebut Lembaga Masyarakat Hutan Desa (LMDH) atau masyarakat pengelola sumber daya hutan (MPSDH), pengembangan tanaman porang di Jatim dilakukan di 13 kesatuan pengelolaan hutan (KPH).

Manfaat Tanaman Porang

Porang merupakan jenis tanaman umbi yang mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Selain mudah didapatkan, tanaman ini juga mampu menghasilkan karbohidrat dan tingkatan panen tinggi. Umbinya besar mencapai 5 kg, cita rasanya netral sehingga mudah dipadu padankan dengan beragam bahan sebagai bahan baku kue tradisional dan modern. Sayangnya umbi ini semakin tidak diminati dan bahkan mulai langka. Padahal porang sangat potensial sebagai bahan pangan sumber karbohidrat. Porang dapat digunakan sebagai bahan lem, agar-agar, mi, tahu, kosmetik dan roti.Tepung porang dapat dipakai sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk menekan peningkatkan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional hipoglikemik dan hipokolesterolemik. Tanaman Porang sebagai serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Di Filipina umbi porang sering ditepungkan mengganti kedudukan terigu dan biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan roti. Di Jepang, umbi-umbian sekerabat porang telah banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, misalnya bahan pembuatan mi instan. Hampi sama dengan tepung terigu, umbi porang memiliki kandungan glukomanan yang memiliki fungsi sebagai pengenyal, pembentuk tekstur dan pengental makanan. Umbi porang masih dijual dalam bentuk chips (irisan kering dan tipis dari umbi porang) ke Jepang sebagai bahan utama dari produk tepung konjac. Glukomanan adalah polisakarida dalam famili mannan. Glukomanan terdiri dari monomer β-1,4 α-mannose dan α-glukosa. Glukomanan yang terkandung dalam umbi iles – iles dan porang mempunyai sifat yaitu dapat memperkuat gel, memperbaiki tekstur, mengentalkan, dan lain sebagainya (M.Alonso Sande,dkk  2008). Saat ini, umbi porang belum dimanfaatkan oleh industri di Indonesia atau masyarakat secara luas sebagai bahan tambahan atau fungsional produk makanan. Hal ini disebabkan masyarakat belum dapat mengolah umbi porang tersebut menjadi bahan pangan yang praktis untuk dimakan. Begitu juga pada industri makanan di Indonesia. Sebaliknya industri yang memanfaatkan glukomanan sebagai bahan baku atau bahan tambahan justru mengimpor tepung glukomanan (konjac flour) dari Jepang.  Mempertimbangkan kondisi tersebut, penggunaan tepung glukomanan dari umbi porang sebagai bahan baku utama produk mie rendah kalori yang merupakan salah satu produk pangan alternatif dinilai sangat potensial sebagai solusi dalam melepaskan ketergantungan Indonesia akan gandum dan tepung terigu impor secara perlahan dalam produksi mie. Di Indonesia tanaman Porang dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya disebut acung atau acoan oray (Sunda), Kajrong (Nganjuk) dll. Banyak jenis tanaman yang sangat mirip dengan Porang yaitu diantaranya: Suweg, Iles-iles dan Walur.

Pengembangan Porang di Perum Perhutani

Karena banyaknya manfaat yang dikandung, Perhutani selaku pengelola hutan bekerjasama dengan para petani desa di sekitar hutan untuk mengembangkan sela-sela tegakan pohon jati yang ditujukan untuk budidaya porang. Disamping itu hutan jati yang dikelola Perhutani dipanen dalam jangka waktu yang lama yaitu lebih dari 15 tahun. Dengan demikian pengembangkan tanaman sela “Porang” diantara tegakan kayu karena ada simbiose yang saling menguntungkan bagi tanaman. Di Jawa pengembangan porang telah dimulai di Jawa Timur seperti di Madiun, Nganjuk, Jember, Kediri Ngawi dll dan telah dilaksanakan di dalam kawasan hutan perumahan Perhutani Unit II Jawa Timur seluas 1605,3 ha, yang meliputi beberapa wilayah KPH sebagai berikut: Jember seluas 121,3 ha,  Nganjuk seluas  759,8 ha, Padangan seluas 3,9 ha, Saradan seluas 615,0 ha, Bojonegoro seluas 35,3 ha, dan Madiun 70,0  ha (Anonymous, 2012).

Dari ke enam  kabupaten penghasil porang diatas, yang cukup besar menghasilkan porang adalah Bojonegoro dan Saradan. Hasil informasi dari  produksi di Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Saradan, Kabupaten Madiun pada tahun 2013 mencapai 925.368,5 kg dan menyerap tenaga kerja 2.365 orang. Budidaya tersebut tersebar di tiga wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) yaitu BKPH Pajaran, BKPH Kedungbrubus, dan BKPH Tulung dengan total luas lahan mencapai 1.015,5 Ha (Alfiyani, 2013).     Sejak tahun 2001, di Desa Klangon mulai dirintis pelaksanaan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) dan tahun 2005 penandatanganan perjanjian kerjasama PHBM dilaksanakan antara Perhutani KPH Saradan dengan LMDH Pandan di hadapan Notaris. Sejak saat itu, objek kerjasamanya meliputi seluruh aspek kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan, mulai dari perencanaan, persemaian, tanaman, pemeliharaan, keamanan, produksi dan pemasaran hasil hutan, serta kegiatan agribisnis antara lain penanaman Porang, Jagung dan Empon-empon. Menurut Dr Niniek Fajar P Meng (2013), sebagian besar penduduk di Saradan adalah petani Porang. Akan tetapi, mereka tidak bisa meningkatkan nilai jual porang tersebut. ”Petani lebih suka menjual  Porang hasil panen kepada tengkulak,” Apabila dijual kepada tengkulak hanya dihargai Rp 2.000 per kilogram. Padahal apabila diolah menjadi chip harganya bisa sampai Rp 30.000 per kilogram. ”Tanaman Porang tersebut mempunyai senyawa Glukomanan, sehingga apabila dioalah menjadi tepung harganya bisa mencapai Rp 300 ribu-500 ribu per kilogram,” tuturnya. Akan tetapi, Porang tersebut lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah ke Jepang, China, Korea, dan Taiwan daripada diolah terlebih dahulu.

Disamping itu,  Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur pada tanggal 23 April 2014  di Hotel Arya Malang telah memfasilitasi pembinaan kepada 50 orang petani porang di Kabupaten Malang melalui program APP (Anti Proverty Program) ta. 2014 melalui sosialisasi kebijakan pengembangan usaha porang dan pelatihan budidayanya yang ditindak lanjuti dengan kunjungan ke industri pengolahan porang di Kediri.

Menurut Bambang (2013), pengembangan tanaman porang ke depan sangat menjanjikan. Meskipun, ia mengakui membudidayakan porang membutuhkan investasi awal yang tinggi. Namun porang berbiaya rendah pasca panen di tahun ketiga. “Porang hanya ditanam sekali namun bisa diproduksi terus menurus. Investasi awal cukup mahal, karena perlu tanah yang agak gembur. Butuh Rp 15,4 juta per ha di tahun pertama, tahun kedua butuh Rp 6,29 juta, dan tahun ketiga Rp 10,07 juta,” paparnya. Disamping itu Budidaya porang dikembangkan oleh Perum Perhutani (Persero) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah seluas 1.200 haktare (ha) akan menggunakan sistem bagi hasil dengan petani. Untuk persentasenya minimal 50:50. Persentase bagi hasil tersebut atas pertimbangan biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Porang rencananya akan ditanam di bawah tegakan. Bagi hasil diterapkan minimal 50:50, karena Perhutani juga butuh untuk balik modal.

Sebagai informasi bahwa porang adalah jenis umbi-umbian yang di Kab. Malang ternyata dapat hidup baik dibawah tegakan hutan (tidak banyak membutuhkan sinar matahari) terutama dibawah tegakan jati dengan kondisi tanah yang liat atau berkapur. Saat ini telah dikembangkan pada 10 desa di Kab. Malang dimana porang tersebut umumnya dijual basah ke Blitar, Kediri, dll yang informasinya diekspor untuk berbagai jenis produk (obat-obatan, kosmetik, dll) yang saat ini permintaannya cenderung meningkat.

Pengembangan Tanaman Porang Sebagai Sumber Pangan Alternatif

Sebagai upaya pengembangan tanaman porang sebagai sumber pangan alternatif telah banyak dilakukan penelitian – penelitian. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman porang selama ini melalui 2 metode yaitu secara vegetatif menggunakan umbi batang, bagian umbi batang, umbi daun, dan bagian umbi.  Sedangkan secara generatif melalui biji.  Waktu yang diperlukan untuk menjadikan bibit siap panen butuh waktu cukup lama antara 4-6 bulan (Sumarwoto, 2005; Ambarwati dkk, 2000), Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan adanya alternatif perbanyakan lain yang memungkinkan tanaman porang dikembangkan dalam waktu lebih singkat. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan teknik in vitro karena memungkinkan menghasilkan dalam jumlah besar. Hasil penelitian Dwi Suheriyanto et al. (2012) bahwa tanaman porang unggul dihasilkan dari kultur jaringan dengan menggunakan MS yang ditambah hormon BAP 1,5 mg/liter untuk meningkatkan jumlah tunas, tinggi kuncup daun dan jumlah anak daun.  Untuk peningkatan kualitas umbi porang juga terdapat hasil penelitian Dwi harjoko et al., 2011 yang menyimpulkan bahwa  tanaman porang di daerah Hutan Bromo Karanganyar, Jumantono, Saradan dan Nganjuk mempunyai bentuk habitus, daun, batang, akar dan warna umbi yang sama, kemudian diketahui pula bahwa kandungan glukomanan dan pati umbi porang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik tanah (N total, K tertukar, C organik, bahan organik, pH dan C/N rasio), iklim mikro dan tehnik budidaya. (4) Kandungan glukomanan dan pati tertinggi terdapat pada umbi porang dari Saradan, sedangkan terendah dari daerah Hutan Bromo Karanganyar. Ditambahkan pula oleh hasil penelitian Serafinah et al (2010) bahwa dari 5 lokasi Agroforestry yaitu Desa Klangon Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun, Desa Klino Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro, Desa Bendoasri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk dan Desa Kalirejo Keacamatan Kalipare Kabupaten Malang diperoleh kandungan oksalat tertinggi berasal dari desa Klino Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro,sedangkan terendah berasal dari desa Bendoasri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Sedangkan variabel iklim yang memiliki korelasi positif dengan kandungan oksalat umbi porang adalah indikator suhu dan curah hujan, variabel vegetasi mempunyai korelasi positif dengan kandungan oksalat adalah indikator persentase penutupan gulma.

Oleh: Evy Latifah

Ketahanan Pangan Nasional: Potensi dan Tantangannya

Secara umum, kebanyakan masyarakat menganggap bahwa permasalahan utama dalam mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia saat ini terkait dengan adanya fakta bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Sementara itu, kapasitas produksi pangan nasional pertumbuhannya melambat bahkan stagnan disebabkan oleh adanya degradasi sumber daya lahan, kerusakan infrastruktur irigasi, serta kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan air.

Pada karya tulis ini dikaji beberapa aspek yang menurut opini penulis hal tersebut merupakan faktor-faktor yang cukup mampu memengaruhi pencapaian ketahanan pangan di Indonesia.

  1. Sisi Penyediaan Pasokan

Ketidakseimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional tersebut mengakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya penyediaan pangan nasional yang berasal dari impor. Dari sisi penyediaan pasokan, paling tidak ada lima hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, kendala sumber daya alam. Kompetisi pemanfaatan lahan termasuk perairan dan air akan semakin tajam karena adanya sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan penduduk dalam persentase dan jumlah yang besar. Pada saat ini angka konversi lahan pertanian yang sering dikemukakan kepada publik oleh para pejabat atau akademisi berkisar antara 60.000 ha sampai 100.000 ha per tahun. Kualitas lahan dan air juga makin terdegradasi karena dampak penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus digunakan dalam kurun waktu panjang dan limbah industri yang merembes ke lahan pertanian. Selain itu, prasarana pertanian yang sudah ada juga sebagian rusak. Sebagai contoh, menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (2013) sekitar 36 persen atau 2,6 juta ha dari total 7,2 juta ha jaringan irigasi rusak. Kondisi ini saja sudah akan menurunkan kapasitas produksi pangan nasional, karena produksi pangan Indonesia masih berbasis lahan (land base).

Kedua, dampak perubahan iklim global. Dalam tiga tahun terakhir ini, kejadian iklim ekstrem di Indonesia terasa lebih nyata. Masyarakat mengalami kejadian fenomena iklim ekstrem yang frekuensinya makin sering. Pola dan intensitas curah hujan yang berbeda dari sebelumnya, kenaikan temperatur udara, banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi, dan intensitas serangan hama serta penyakit yang semakin tinggi, merupakan beberapa gejala perubahan iklim yang dapat berdampak pada penurunan produktivitas tanaman pangan. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dalam proses usahatani pangan seperti penyesuaian waktu tanam, pola tanam, penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap cekaman iklim, dan pengelolaan air secara efisien. Para peneliti di International Rice Research Institute (IRRI) dengan menggunakan data rentang waktu tahun 1979 sampai 2003 menyimpulkan rata-rata tahunan temperature maksimum dan minimum telah meningkat masing-masing sebesar 0,35 dan 1,23 derajat Celsius. Lebih lanjut para peneliti tersebut berpendapat produktivitas padi dapat menurun 10 persen untuk setiap kenaikan 1 derajat Celcius temperatur minimum di malam hari di musim tanam pada musim kering (Peng et al., 2004). Penelitian pada tanaman padi di Sulawesi Utara menyimpulkan hal serupa, kenaikan suhu udara 1 derajat Celsius dan curah hujan 5 persen, dapat menurunkan produksi padi sekitar 7,7 persen (Hosang et al., 2012). Sementara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2011) telah melakukan review komprehensif mengenai dampak negative perubahan iklim terhadap produksi berbagai komoditas pertanian melalui beberapa variable, seperti perubahan pola curah hujan, suhu udara, dan kenaikan muka air laut. Hasil review juga menyimpulkan perubahan iklim global mempunyai dampak negatif terhadap produktivitas berbagai tanaman pangan.

Ketiga, pertanian Indonesia dicirikan atau didominasi oleh usahatani skala kecil. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013 dari BPS, jumlah rumah tangga petani sebanyak 26,14 juta dengan rata-rata penguasaan lahan 0,98 ha dan sekitar 56 persen atau 14, 6 juta rumah tangga rata-rata mengusahakan lahan di bawah 0,5 ha. Sementara itu, rata-rata pengusahaan lahan petani padi sawah kurang dari 0,2 ha (Direktorat Pangan dan Pertanian, Bappenas, 2013). Petani kecil ini dihadapkan pada persoalan klasik yang belum berhasil diatasi dengan baik, seperti keterbatasan akses terhadap pasar, permodalan, informasi, dan teknologi (Suswono, 2013). Bila tidak ada rekayasa sosial untuk mengatasi permasalahan tersebut, akan sangat berat bagi Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan.

Keempat, adanya ketidakseimbangan produksi pangan antarwilayah. Hampir untuk semua komoditas, proporsi produksi pangan di Jawa lebih dari 50 persen dari produksi pangan nasional. Ketidakseimbangan ini akan meningkatkan permasalahan upaya pemerataan pangan dan ongkos distribusi pangan, sehingga mempersulit penyediaan pangan secara spasial merata ke seluruh daerah di Indonesia. Bila tidak dilakukan pembangunan infrastuktur dan sistem logistik pangan antarwilayah, akan sulit untuk mengatasi ketidakseimbangan produksi antarwilayah.

Kelima, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan pangan masih cukup tinggi. Kehilangan pangan (food losses) karena ketidaktepatan penanganan pangan mulai dari saat panen sampai dengan pengolahan dan berlanjut pada pemasaran, dipercayai masih sekitar 10 persen sampai 20 persen, bergantung pada komoditas, musim, dan teknologi yang digunakan. Sementara itu, pemborosan pangan (food waste) yang terjadi mulai dari pasar konsumen akhir sampai dibawa dan disimpan di rumah, lalu disajikan di meja makan namun tidak dimakan, diperkirakan mencapai lebih dari 30 persen. FAO melaporkan sepertiga dari bagian pangan yang dapat dikonsumsi terbuang percuma atau diboroskan (FAO, 2011b). Demikian juga permasalahan pemborosan pangan di Indonesia cukup besar, seperti banyaknya makanan yang terbuang di restoran, resepsi pernikahan, atau acara rapat/pertemuan, bahan pangan yang terbuang sebelum dimasak, dan makanan yang sudah disajikan di meja makan di rumah namun tidak termakan seluruhnya. Walaupun sudah lama disadari adanya kehilangan hasil pangan pada saat penanganan dan distribusinya, namun belum ada program pemerintah yang berhasil mengatasinya secara tuntas. Sementara itu, untuk mengatasi persoalan pemborosan pangan diperlukan pemahaman dan kesadaran akan besarnya nilai ekonomi yang dibuang percuma dari para pelaku pada sistem distribusi dan pemasaran, anggota rumah tangga, maupun aparat pemerintah.

  1.  Sisi Pemenuhan Kebutuhan

Ada empat tantangan yang dihadapi dari sisi kebutuhan dan pemanfaatan pangan, yaitu terkait dengan peningkatan pendapatan per kapita, peningkatan penduduk dan dinamika karakteristik demografis, perubahan selera karena akses terhadap informasi atau promosi pangan global yang sangat tinggi, dan persaingan pemanfaatan bahan pangan. Penjabaran lebih lanjut dari tantangantantangan dari sisi kebutuhan dan pemanfaatan pangan disajikan berikut ini.

Pertama, adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi beserta dinamika karakteristik demografisnya, di antaranya urbanisasi dan peningkatan proporsi wanita masuk pasar tenaga kerja. Kuantitas atau jumlah kebutuhan pangan setiap tahun akan meningkat selaras dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yaitu 1,35 persen per tahun. Karena jumlah penduduk yang besar (tahun 2014 sebesar 252 juta jiwa), maka tambahan permintaan pangan per tahun juga akan sangat besar. Urbanisasi yang merupakan salah satu dinamika kependudukan masih akan terus berlanjut dengan alasan dorongan keluar (push factor) dari sektor pertanian, karena sektor ini tidak dapat menampung angkatan kerja baru atau tidak dapat memenuhi harapan terkait upah yang diterima atau kondisi kerja yang dinilai tidak nyaman. Selain urbanisasi, perubahan beberapa daerah yang sebelumnyaberciri desa bertransformasi menjadi tempat  yang mempunyai karakter kota kecil atau kotasedang akan terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan otonomi daerah. Kedua faktor ini akan mempercepat peningkatan penduduk kota atau daerah berciri kota. Pada saat ini penduduk kota sebesar 49,5 persen dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 60 persen pada tahun 2025. Hal ini akan membawa konsekuensi proporsi pola permintaan pangan berciri preferensi penduduk kota menjadi lebih besar. Pola permintaan tersebut pada umumnya akan lebih beragam, lebih memperhatikan kualitas dan keamanan pangan, serta proporsi pengeluaran makanan untuk makanan jadi dan makan di luar rumah yang lebih besar. Partisipasi angkatan kerja wanita juga meningkat. Menurut data BPS, pada tahun 2010 sebesar 36,4 persen total angkatan kerja adalah wanita. Dari total wanita yang bekerja, sekitar 57,6 persen bekerja di luar sektor pertanian. Dalam 10 tahun ke depan diperkirakan akan semakin besar lagi proporsi wanita yang bekerja. Hal ini akan memperkuat peningkatan permintaan untuk makanan jadi. baik yang dimakan di luar rumah maupun di dalam rumah.

Kedua, pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir cukup tinggi rata-rata di atas 5 persen per tahun. Dalam 10 tahun mendatang. sasaran pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut akan terus dipertahankan karena memang negeri ini perlu mengejar ketertinggalan pembangunan ekonomi dari negara-negara yang sudah maju. Pertumbuhan ekonomi tinggi berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita atau daya beli masyarakat, walaupun sebarannya tidak merata ke setiap individu. Situasi ini akan meningkatkan permintaan pangan dari sisi kualitas, keragaman, mutu, dan keamanannya. Salah satu upaya untuk menanganinya dan sekaligus memanfaatkan peluang bisnis pangan olahan adalah melalui penguasaan dan penerapan teknologi pangan agar dapat merespon perubahan permintaan pangan, sehingga mampu menyediakan pangan sesuai dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen dengan baik.

Ketiga, pada saat ini sedang berlangsung perubahan selera konsumsi pangan yang mulai meninggalkan pangan lokal dan makanan tradisional. Pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh sumber daya pangan di sekitarnya, daya beli masyarakat, pengetahuan tentang pangan dan gizi, dan selera konsumen. Perubahan selera pangan pada saat ini dibentuk dan dipengaruhi secara kuat oleh perkembangan pesat teknologi informasi media yang dimanfaatkan oleh media promosi/periklanan, termasuk pengiklan yang menjajakan makanan dan minuman yang mencitrakan produknya berlabel tren masa kini, keren, dan global. Imanto (2012) lebih jauh menilai iklan televisi cenderung menawarkan produk yang mencerminkan budaya konsumerisme dan gaya hidup konsumtif.

Dengan semakin tersebarnya jaringan televisi sampai ke pelosok negeri dengan isi iklan pangan bersifat persuasif untuk menarik minat dan selera pemirsa, yang menawarkan pangan bercitra keren dan global, maka pola konsumsi pangan masyarakat secara perlahan akan bergeser ke arah itu. Makanan berciri global yang disediakan di restoran, konsumsi makanan cepat saji, dan makan di luar rumah akan semakin diminati. Sebaliknya, makanan yang berlabel atau diidentikkan dengan makanan tradisional atau lokal secara perlahan akan ditinggalkan konsumen. Tren ini akan makin berakselerasi dalam 10 tahun ke depan. Pemanfaatan teknologi pangan, teknologi informasi, dan kampanye gerakan cinta pangan lokal Nusantara diharapkan dapat mengimbangi tantangan perubahan selera pangan akibat iklan makanan tersebut.

Keempat, persaingan permintaan atas komoditas pangan untuk konsumsi manusia (food), pakan ternak (feed), bahan baku energy bio (biofuel), dan bahan baku industri nonpangan akan terus berlangsung dan semakin ketat dalam 10 tahun ke depan. Persaingan permintaan ini diturunkan dari peningkatan permintaan untuk produk ternak, semakin tingginya harga energi berbahan baku fosil, dan peningkatan permintaan produk industry yang memanfaatkan bahan pangan dalam proses produksinya. Permasalahan ini harus dapat diantisipasi secara arif melalui peningkatan produksi komoditas pangan yang tinggi dan pelibatan industri pangan.

Sumber : Ahmad Abyan Aushaf

 

Pangan dan Gizi untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan

Pangan dan Gizi untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan Konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dapat memenuhi kecukupan gizi individu untuk tumbuh dan berkembang. Gizi pada ibu hamil sangat berpengaruh pada perkembangan otakjanin, sejak dari minggu ke empat pembuahan sampai lahir dan sampai anak berusia 2 tahun. Sejumlah penelitian telah menunjukkan peran penting zat gizi tidak saja pada pertumbuhan fisik tubuh tetapi juga dalam pertumbuhan otak, perkembangan perilaku, motorik, dan kecerdasan (Jalal, 2009).

Martorell pada tahun 1996 telah menyimpulkan kekurangan gizi pada masa kehamilan dan anak usia dini menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, dan gangguan perkembangan kognitif. Selain itu, akibat kekurangan gizi dapat berdampak pada perubahan perilaku sosial, berkurangnya perhatian dan kemampuan belajar sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar. Penelitian lain juga menyimpulkan bahwa intervensi gizi hanya akan efektif jika dilakukan selama kehamilan dan 2-3 tahun pertama kehidupan anak. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2015 secara konsisten menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori dan protein anak balita masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Akibat dari keadaan tersebut, anak balita perempuan dan anak balita laki laki Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek daripada standar rujukan WHO 2005, bahkan pada kelompok usia 5-19 tahun kondisi ini lebih buruk karena anak perempuan pada kelompok ini tingginya 13,6 cm di bawah standar dan anak laki-laki 10,4 cm di bawah standar WHO.

Kelompok ibu pendek juga terbukti melahirkan 46,7 persen bayi pendek. Karena itu jelas masalah gizi intergenerasi ini harus mendapat perhatian serius karena telah terbukti akan mempengaruhi kualitas bangsa. Anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk (underweight) berdasarkan pengukuran berat badan terhadap umur (BB/ U) dan pendek atau sangat pendek (stunting) berdasarkan pengukuran tinggi badan terhadap umur (TB/U) yang sangat rendah dibanding standar WHO mempunyai resiko kehilangan tingkat kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) sebesar 10-15 poin.

Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling sesuai untuk bayi karena mengandung zatzat gizi yang diperlukan oleh bayi untuk tumbuh dan berkembang. Pentingnya memberikan ASI secara eksklusif pada bayi baru lahir sampai usia 6 bulan dan terus memberikan ASI sampai anak berusia 24 bulan telah memiliki bukti yang kuat. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif menunjukkan perkembangan sosial dan kognitif yang lebih baik dari bayi yang diberi susu formula (Michael S. dan Kramer, et al, 2003).

Efek jangka panjang dari pemberian ASI pada anak dan kesehatan mental remaja telah diteliti secara cohort pada 2900 ibu hamil yang diteliti selama 14 tahun di Australia. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2009 ini menyimpulkan bahwa pemberian ASI yang singkat (kurang dari 6 bulan) menjadi prediktor dari berbagai masalah kesehatan mental yang akan muncul pada masa anak dan remaja, seperti autis, kenakalan remaja, agitasi, dan lain sebagainya (Wendy H. Oddy, et al, 2009). Bahkan IQ anak yang diberi ASI ditemukan 13 poin lebih baik daripada bayi yang tidak diberikan ASI.

Kekurangan yodium pada saat janin yang berlanjut dengan gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. Anemia kurang zat besi pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan menderita kurang zat besi, dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak, sehingga secara konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak.

Di Indonesia, telah lama di bukti kan bahwa kejadian anemia pada anak berhubungan dengan berkurangnya prestasi kognitif sehingga berakibat rendahnya pencapaian tingkat pendidikan pada anak sekolah (Soemantri, AG et al. 1989). Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) disertai dengan anemia, selain dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak, juga dapat mengakibatkan penurunan kecerdasan sampai 12 poin. Selain itu BBLR meningkatkan resiko pada usia dewasa menderita diabetes mellitus, penyakit jantung dan pembuluh darah, kegemukan (obesity), kanker, dan stroke (James et al, 2000).

Keadaan gizi yang buruk sewaktu janin di dalam kandungan dan setelah dilahirkan, mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perkembangan otaknya. Pada saat janin dalam kandungan sampai bayi dilahirkan, 66 persen dari jumlah sel otak dan 25 persen dari berat otak dewasa telah tercapai. Sisanya akan ditentukan oleh keadaan gizi setelah lahir. Pertumbuhan otak yang sangat cepat terjadi pada minggu ke 15-20 dan minggu ke 30 masa kehami lan, serta bulan ke 18 setelah kelahiran. Penelitian pada BBLR menunjukkan penurunan berat otak besar 12 persen dan otak kecil 30 persen, juga mengalami penurunan jumlah sel otak besar 5 persen dan otak kecil 31 persen. Pengukuran tingkat kecerdasan pada anak umur tujuh tahun yang sebelumnya pernah menderita kurang energi protein (KEP) berat memiliki rata-rata IQ sebesar 102, KEP ringan adalah 106 dan anak yang bergizi baik adalah 112. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan gizi pada masa lalu dapat mempengaruhi kecerdasan di masa yang akan datang.