iklan

Penentuan Waktu dalam Bertani

Pengelolaan lahan sawah menjadi lahan yang dapat menghasilkan padi yang banyak adalah harapan dari semua petani. Para petani melakukan pengelolaan lahan sesuai dengan pengalaman yang mereka alami atau mereka dapatkan dari melihat cara orang tuanya bertani. Pengelolaan lahan sawah berdasarkan dari cara orang tuanya ini diturunkan secara turun temurun oleh keluarganya. Secara tidak langsung petani mempunyai cara tersendiri dalam pengelolaan lahan sawahnya.

Di berbagai daerah di indonesia para petani melakukan pengelolaan lahan sawah sesuai dengan karakter lahan yang ada. Pengelolaan lahan sawah yang dilakukan oleh masing-masing daerah ini dapat dikatakan sebagai pengelolaan lahan sawah dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Menurut Sukayat, Supyandi, dan Esperanza (2013), berdasarkan hasil penelitian Febrianthy (2013) ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh para petani mulai dari persiapan penanaman (Mitembeyan), penanaman, pemeliharaan, panen, penanganan dan pengolahan, pemasaran dan kelembagaan.

Persiapan penanaman yang dilakukan yaitu dimulai dengan penentuan hari tanam yang masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan cara kaidah pranata mangsa. Wiriadiwangsa (2005) dan Fidiyani, Kamal (2012) menyatakan ada 12 mangsa yang ditetapkan oleh masyarakat untuk menentukan waktu menanam dilihat dari tanda-tanda alam (tabel 1). Penentuan waktu tanam merupakan salah satu bagian penting dalam pertanian, karena melakukan penanaman yang sesuai dapat menghindari terjadinya gagal panen.

Tabel 1. Pranata Mangsa dalam penanaman padi

Mangsa

Wiriadiwangsa (2005) Fidiyani, Kamal (2012)
Indikatator Tafsir Bintang petunjuk mangsa periode

indikator

1 Setyo Murcasaka embanan Dedaunan gugur Sapi gumarang Kahiji 22/23 Juni – 2/3 Agustus Musim tanam palawija.
2 Bantala rengka Permukaan tanah retak Tagih Kadua 2/3 Agustus -25/26 Agustus Musim kapok bertunas tanam

palawija kedua.

3 Suta manut ing bapa Tanaman yang menjalar tumbuh (ubi jalar) dan mengikut penegaknya (lanjaran) Lumbung Katilu 25/26 Agustus -18/19 September Musim ubi-ubian bertunas, panen palawija
4 Waspa kemembeng jroning kalbu Sumber air banyak yang kering Jaran dawuk Kaopat 18/19 September -13/14 Oktober Musim sumur kering, kapuk berbuah, tanam pisang.
5 Pancuran emas sumawur ing jagad Mulai musim hujan Banyak angrem Kalima 13/14 Oktober – 9/10 November Musim turun hujan, pohon asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda.
6 Rasa mulyo kesucian Pohon buah-buahan berbuah Gorong mayit Kagenep 9/10 November – 22/23 Desember Musim buah-buahan mulai tua, mulai menggarap sawah
7 Wisa kentar ing maruta Munculnya banyak penyakit Bima sakti Katujuh 22/23 Desember – 3/4 Pebruari Musim banjir, badai, longsor, mulai tandur
8 Anjrah jroning kayun Periode kawin beberapa macam hewan Wulunjar ngirim Kadalapan 2/3 Februari – 1/2 maret Musim padi beristirahat, banyak ulat, banyak penyakit.
9 Wedaring wancana mulya Gareng (tonggret) berbunyi Wuluh Kasalapan 1/2 Maret – 26/27 Mare Musim padi berbunga, turaes (sebangsa serangga) ramai berbunyi
10 Gedhing minep jroning kalbu Beberapa macam ternak bunting Waluku Kasapuluh 26/27 Maret -19/20 April. Musim padi berisi tapi masih hijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering.
11 Sotya sinarwedi Tulur burung menetas dan induknya menyuapi anaknya (ngloloh) Lumbung Kasabelas 19/20 April – 12/13 Mei Masih ada waktu untuk palawija, burung-burung menyuapi anaknya.
12 Tirta sah saking sasana Orang sukar berkeringat Tagih Kaduabelas 12/13 April- 22/23 Juni Musim menumpuk jerami, tanda-tanda udara dingin di pagi hari

 

Di beberapa daerah di indonesia petani dahulu mengunakan tanda-tanda alam untuk menentukan kapan masuk musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau ditandai dengan buah asam yang mulai berbunga, jambu burung mulai berbunga, rasau yang ada di pinggir sungai juga mulai berbunga, munculnya burung bangau, burung tuntung kerbau, burung sabaruk, burung sesulit dan ikan banyak ditemukan dimuara sungai. Musim hujan ditandai dengan ikan mulai bertelur, ujung akar menjadi putih (baputih) dan buah asam menjadi merah (hadiwijoyo, 2016).

Hasil wawancara dengan petani yang ada di kabupaten mojokerto, saat ini musim kemarau atau musim hujan sulit untuk diprediksi. Para petani saat ini banyak mengeluhkan sangat sulit sekali menentukan musim untuk bertani. Hadiwijoyo (2016) menyatakan  bahwa Saat ini masyarakat adat Dayak Ngaju sering merasa kesulitan dalam menentukan waktu pembakaran yang tepat untuk penyiapan lahan untuk menanam pasi akibat terjadinya perubahan iklim.

Kejadian ini harusnya menjadi perhatian kita semua, karena kearifan lokal masyarakat dalam menentukan musim tanam sudah tidak bisa dipergunakan kembali. Saanyat peran para peneliti atau akademisi fokus untuk membantu bersama-sama masyarakat menemukan solusinya. Sehingga penelitian yang dilakukan bermanfaat untuk masyarakat bukan hanya bermanfaat untuk para pengusaha. Mari kita belajar kearifan lokal dalam pengelolaan lahan sawah dan perbaiki yang saat ini sudah tidak relevan, sehingga kearifan lokal tersebut dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.