iklan

Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan sebagai Penenang Pikiran di Jakarta

Gambar terkait

Minimnya lahan  di Jakarta sebagai tempat bercocok tanam menjadikan sekelompok warga di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan membuat sebuah kawasan pemukiman berbasis pertanian urban. Apabila kita berkunjung langsung ke tempat ini, maka hal pertama yang akan kita lihat langsung yakni gapura yang bertuliskan “Selamat Datang Di Kampoeng Agrowisata”. Jika kita masuk lebih dalam lagi akan terlihat sejumlah pohon mangga yang hampir ada di setiap rumah warga, baik di pekarangan maupun di pinggir jalan depan rumahnya. Maklum saja, kampung ini memang dijadikan kampung percontohan. Sebagai buktinya, bibit pohon mangga yang ditanam di kampung ini pada mulanya memang hasil sumbangan dari Menteri Pertanian RI kala itu. Sampai saat ini, apabila musim mangga telah tiba, maka semua rumah tidak perlu membeli mangga lagi karena mangga dengan rasa yang manis dapat dikonsumsi sepuas hati.

Walaupun kampung ini ada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, di kawasan ini terdapat banyak sekali pepohonan rindang, mulai dari tanaman hias, tanaman budidaya untuk dipanen hasilnya, hingga tumbuhan yang hidup dengan sendirinya berpadu menjadi penenang pikiran di pagi hari saat berolahraga. Adanya kampung ini bermula dari seorang wanita lansia bernama Ibu Haryo yang mencoba untuk menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di halaman rumahnya. Wanita tersebut menanam mengkudu, ginseng, jambu biji dan lain-lain. Ketika diadakan acara arisan RT di rumah wanita lansia tersebut, banyak dari kawannya yang melihat tanaman budidayanya dan penasaran dengan khasiat dari tanaman-tanaman tersebut. Alhasil banyak kawan Ibu Haryo yang merasakan khasiat dan mencoba untuk membudidayakannya di halaman rumahnya sendiri. Hingga tahun 2007, dapat dipastikan dalam kawasan tersebut sebanyak 1060 kepala keluarga telah memiliki minimal 1 tanaman obat keluarga.

Pada 25 Oktober 2009, Kampoeng Agrowisata telah diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan kala itu yakni H. Syahrul Effendi SH., MM. Hal tersebut dapat terjadi karena Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan telah memenuhi kriteria sebagai Kampung Agrowisata, diantaranya setiap rumah sudah memiliki minimal 1 pohon, terdapat banyak lubang biopori dan juga banyak pula warga yang menanam bunga-bungaan untuk mempercantik pekarangan rumahnya sehingga lingkungan menjadi semakin asri. Bagi warga yang menanam sayuran di pekarangan rumahnya, apabila tanaman sayuran telah siap panen, maka biasanya warga di lingkungan sekitar akan menggunakan sayuran tersebut sebagai pelengkap ruko jajanan di tempat tersebut. Panganan yang disediakan bervariasi, mulai dari pecel lele, ayam goreng, bakso, hingga siomay. Saya sendiri sering ke Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan ini untuk berolahraga jogging. Apabila setelahnya merasa lapar, maka biasanya langsung ke ruko jajanan yang tersedia.

Selain itu, warga di lingkungan ini juga aktif dalam kegiatan sosialnya. Hal itu terlihat dalam setiap minggunya para ibu rumah tangga rutin berolahraga senam pagi demi menjaga kesehatannya, lalu juga ada perkumpulan para pensiunan yang biasanya bermain musik keroncong tiap awal bulan, pengajian rutin tiap malam jumat, santunan anak yatim tiap menjelang Idul Fitri hingga kegiatan pencak silat yang biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja. Ditambah lagi dengan adanya warga yang juga rutin untuk membuat pupuk kompos sendiri dari sampah-sampah organik terutama daun-daun yang berguguran. Sekitar 30 persen warganya bekerja mengolah pupuk kompos untuk dijual ke luar Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk sampah yang non-organik,  juga dapat didaur ulang menjadi berbagai macam kerajinan. Ibu-ibu PKK biasanya membuat sampah plastik, botol, kaleng bekas, koran bekas menjadi barang yang bernilai jual. Biasanya barang hasil kerajinan tersebut tidak dipasarkan keluar kawasan, tetapi hanya dijual di sebuah toko kerajinan yang juga ada di dalam Kampoeng Agrowisata Pesanggrahan tersebut.

Dengan adanya Kampoeng Wisata Pesanggarahan ini diharapkan para pengunjung bisa mengambil sisi positif dalam budidaya pertanian yakni jika tidak ada lahan untuk bercocok tanam dapat dilakukan di media pot atau dengan metode hidroponik apabila tidak memiliki tanah sama sekali di rumahnya dan juga dapat memotivasi kawasan-kawasan di Jakarta dan sekitarnya untuk turut menghijaukan kembali lahan yang kian tergusur oleh pembangunan infrastuktur dan peningkatan polusi agar tercipta udara yang bersih dan sehat serta bermanfaat.

Oleh : Aksha Febryadi

Pertanian di DKI Jakarta

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota dan kota terbesar di Indonesia. DKI Jakarta memiliki total luas area sebesar 7.659,02 km2 dengan luas daratan 661,52 km2 dan luas perairan 6.997,50 km2. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat hingga tahun 2015, jumlah penduduk di Jakarta mencapai 10.177.924 jiwa. Penduduk paling banyak terdapat di wilayah Jakarta Timur dengan angka 2.843.816 jiwa dan penduduk yang paling sedikit terdapat di Kepulauan Seribu dengan jumlah 23.340 jiwa. Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan perokonomian yang cukup pesat. Penunjang utama perekonomian di Jakarta yaitu oleh sektor perdagangan, jasa, properti, industri kreatif, dan keungan. Tetapi, meski perekonomiannya lebih ditunjang oleh sektor jasa dan industri, bukan berarti sektor pertanian benar-benar lenyap dari ibu kota.

            Pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang dalam memanfaatkan sumber daya hayati untuk dapat menghasilkan bahan pangan, sumber energi, bahan baku industri, dan untuk mengelola lingkungannya. Sektor pertanian di Jakarta menyumbang hingga 0,09% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta pada tahun 2015. Menurut data Badan Pusat Statistika (BPS), dari 1.983,42 triliun pendapatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang didapatkan dari seluruh aktivitas ekonomi sepanjang tahun 2015 di Jakarta, sekitar 1,87 triliun di antaranya disumbangkan oleh sektor pertanian, yang di dalamnya mencakup subsektor tanaman pangan, hortikultural, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, dan jasa pertanian. Sektor pertanian di Jakarta lebih rinci disajikan oleh hasil Sensus Pertanian yang dilakukan oleh BPS pada 2013 atau disingkat ST-2013. Dari ST-2013 didapatkan hasil bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian (petani) di Jakarta mencapai 12.287 petani. Mereka disebut petani karena melakukan kegiatan pertanian untuk usaha atau sebagai sumber penghidupan, bukan hanya sekedar hobi atau sekedar kesenangan belaka. Sebagian besar petani di Jakarta terdapat di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Jumlah petani di ketiga wilayah ini mencapai 9.096 petani atau sekitar 74% dari jumlah total petani di Jakarta. Aktivitas pertanian yang paling banyak dilakukan oleh petani di Jakarta adalah budidaya tanaman hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat), peternakan, dan perikanan. Daerah pinggiran yang berbatasan langsung dengan provinsi lain, yaitu Banten dan Jawa Barat menjadi konsentrasi kawasan pertanian yang berbasis lahan (tanaman bahan makanan, peternakan, dan budidaya ikan air tawar) di Jakarta. Sementara, wilayah pesisir utara Jakarta dan Kepulauan Seribu menjadi konsentrasi kawasan perikanan tangkap dan budidaya ikan air laut.

            Di tengah pesatnya laju pembangunan, serta terus meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan lahan untuk infrastruktur, pemukiman, dan berbagai kegiatan ekonomi di sektor jasa dan industri, sektor pertanian di Jakarta semakin terdesak. Ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Dengan demikian, aktivitas pertanian di Jakarta sebaiknya tetap dipertahankan dan dilestarikan. Hal ini dapat dilakukan dengan, antara lain, meningkatkan nilai ekonominya, melainkan bukan hanya sekedar kegiatan budidaya yang hanya untuk menghasilkan komoditas pangan. Di tengah keterbatasan lahan yang dimiliki Jakarta untuk bertani, kegiatan pertanian di Jakarta diarahkan menjadi kegiatan urban farming (pertanian kota) yang tidak berbasis lahan, tetapi berbasis teknologi, misalnya, aquaculture dan pertanian hidroponik. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan membuat program Gang Hijau.

Program yang merupakan implementasi konsep pertanian perkotaan ini diaplikasikan di ratusan titik di Ibu Kota. Program ini tidak hanya dapat memasok kebutuhan pangan warga Jakarta untuk komoditas tertentu tapi, juga dapat mendorong penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Untuk komoditas pangan, selama ini Jakarta sangat bergantung pada suplai dari daerah lain seperti Provinsi Jawa Barat. Kondisi seperti ini mengakibatkan harga komoditas pangan akan mudah bergejolak ketika suplainya terganggu. Jika konsep pertanian perkotaan diterapkan cukup besar di Ibu Kota, hal ini bisa sedikit mengurangi ketergantungan warga Ibu Kota terhadap suplai pangan dari daerah lain, khususnya produk horikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang dapat dibudidayakan dengan konsep pertanian perkotaan. Harga cabai, misalnya, sangat berubah-ubah dan seringkali meroket ketika suplainya terganggu atau karena banyaknya permintaan pasar pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan dan hari raya lainnya. Hal ini dapat terjadi karena pilihan konsumen Tanah Air yang lebih banyak memilih untuk mengkonsumsi cabai segar daripada cabai yang dikeringkan. Masalah ini sebetulnya bisa diatasi mengingat potensi budidaya cabai dengan konsep pertanian perkotaan cukup besar di Ibu Kota. Selain konsep pertanian perkotaan, aktivitas pertanian di Jakarta bisa dikemas sebagai produk wisata atau biasanya disebut agro wisata. Faktanya, saat ini Jakarta masih memiliki lahan sawah meski hanya sedikit, utamanya terdapat di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Tidak bisa dipungkiri, meskipun setiap hari makan nasi, hamper semua anak-anak di Jakarta tidak pernah menyaksikan secara langsung bagaimana proses budidaya tanaman padi dilakukan di sawah. Pastinya bakal sangat menarik dan menyenangkan bila mereka bisa menyaksikan langsung bahkan melakukan sendiri kegiatan budidaya tanaman padi mulai dari membajak sawah dengan kerbau hingga menanam padi. Selain untuk wisata, kegiatan seperti ini juga bernilai edukasi. Setidaknya mereka tahu dan tidak lupa bahwa nenek moyangnya adalah bangsa petani.

Oleh : Afra Nur Afifah