iklan

Masih Negara Agraris?

Indonesia dengan wilayah yang begitu luas mulai dari sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi sampai papua dengan kekayaaan sumber daya alam yang melimpah “Gemah ripah loh jinawi”. Sumber daya yang melimpah tidak lantas membuat raktyat indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-seharinya, salah satunya dari sektor pertanian. Sektor pertanian ini mencakup mulai dari bahan pangan, peternakan, hortikultura dan lain-lain. Hal ini sungguh terasa aneh ketika kita punya sumber daya alam yang melipah akan tetapi seperti tidak punya sumber daya alam. Lalu kemanakah sumber daya alam kita yang melimpah tersebut?

Indonesia terkenal sebagai negara agraris dengan sebagian besar masyarakatnya bekerja dibidang pertanian. Akan tetapi ternyata sebagai negara agraris tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakatnya. Indonesia punya lahan yang luas untuk ditanam padi, tapi indonesia juga masih butuh pasokan gabah atau beras dari negara lain. Sehingga kita harus membeli beras yang belum tentu kualitasnya bagus seperti yang ada di negara sendiri.  Berdasarkan data BPS (2017) indonesia  dari tahun 2000-2015 impor beras dari negara Vietnam, Thailand, Tiongkok, India, Pakistan, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, dan Myanmar. Hal ini tentu cukup aneh karena negara seperti singapura mampu mengekspor berasnya untuk Indonesia padahal kalau dari luas lahan tentu kalah jauh dari Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak perguruan ruan tinggi yang banyak melahirkan anak bangsa yang mampu untuk mengembangkan ilmu dalam rangka perbaikan kualitas benih, media tumbuh serta teknologi lainnya. Perguruan tinggi yang ada di Indonesia akademik sebanyak 1.093 , Politeknik sebanyak 256, Sekolah tinggi sebanyak 2.447, Institut sebanyak 174, dan universitas sebanyak 563 (ristekdikti, 2017). Anak bangsa yang dilahirkan dari perguruan tinggi juga mampu bersaing dengan ilmuan dari luar negeri dalam hal pertanian. Akan tetapi mengapa kita masih saja belum mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi untuk swasembada. Masih perlukah perguruan tinggi melahirkan para anak bangsa yang berkualitas?

Selain itu, anak bangsa juga tidak banyak yang mau terjun langsung dan mengamalkan ilmu yang telah mereka dapatkan untuk memajukan “Negara Agraris” ini. Banyak permasalahan yang mungkin menyebabkan anak bangsa ini menjadi malas untuk terjun langsung. Seperti halnya dengan pengalaman beberapa anak bangsa yang lebih memlih pekerjaan dikantoran dengan gaji yang besar. Akan tetapi, tentu ada juga anak bangsa yang mau menerapkan kelimuannya untuk menjadikan pertanian indonesia menjadi “Negara Agraris”. Sehingga “negara agraris” ini tidak hanya menjadi sebuah slogan untuk indonesia.

Potensi-potensi yang dimiliki oleh indonesia seperti lahan yang luas dan anak bangsa yang cerdas tentu merupakan salah satu faktor pendukung untuk dapat menwujudkan menjadi negara agraris yang sebenarnya.

Petani Dalam Paradigma

Petani adalah istilah bagi orang yang sehari-harinya bekerja mengolah lahan pertanian dengan bercocok tanam. Kegiatan bercocok tanam yang dilakukan adalah  menanam berbagai jenis tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.  Dalam mengelolah lahan pertanian mereka menggunakan peralatan-peralatan yang sederhana hingga peralatan yang modern.

Menurut Firth dalam Siregar, petani adalah kelompok sosial yang berbasis pada pertanian. Mata pencaharian mereka diperoleh dengan cara mengolah tanah dan bercocok tanam. Petani yang demikian pada umumnya telah memiliki komunitas yang tetap dan biasanya hidup dalam sebuah komunitas yang dikenal dengan masyarakat desa. Sebagai masyarakat mayoritas yang hidup di pedesaan, petani merupakan masyarakat yang tidak primitif, dan tidak pula modern. Masyarakat petani berada di pertengahan jalan antara suku-bangsa primitive (tribe) dan masyarakat industri. Mereka terbentuk sebagai pola-pola dari suatu infrastuktur masyarakat yang tidak bisa dihapus (Wolf 1985:).

Peran petani dalam pembangunan adalah sebagai penyokong produsen pemenuh kebutuhan pokok masyarakat termasuk petani itu sendiri. Namun dalam menjalankan peran tersebut kerap kali menjadi pihak yang terlemahkan dan selalu berada dalam posisi dilema, terutama berkaitan dengan harga jual hasil produksi. Harga input usahatani yang semakin menjulang menjadikan harga produksi ikut menjulang. Disisi lain konsumen sebagai harapan petani dalam memperoleh pendapatan ikut menjadi terbebani dengan naiknya harga jual hasil produksi petani. Bukan tidak mungkin jika hasil produksi yang diusahakan oleh petani justru menjadi boomerang dan menyebabkan kerugian.

Dalam konteks pembangunan, petani adalah salah satu penyumbang angka produk domestic bruto dalam sector pertanian. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk melindungi serta menumbuhkembangkan sector tersebut. Beberapa program yang dirancang beserta pelaksanaannya, ternyata masih belum cukup untuk benar – benar melindungi secara berkesinambungan. Beberapa konsep pembangunan yang coba diintroduksikan kepada petani dengan melibatkan beberapa pihak seperti sector swasta, pemerintah, akademisi dan pendamping program di lapangan (penyuluh) masih terus menemui hambatan – hambatan yang ternyata telah mengakar dalam permasalahan petani tersebut. Hambatan – hambatan yang ditemui mulai dari kurang tepat sasarannya program, kurangnya kompetensi pendamping hingga masalah sosial yang signifikan seperti kepercayaan sosial antara pihak – pihak yang berkontribusi masih sering terjadi.

Paradigma sentralistik yang menjadikan petani sebagai objek pembangunan pun dirancang. Dengan harapan mampu terkondisikan sesuai dengan arah pembangunan. Dalam perspektif paradigm ini petani dituntut layaknya alat produksi yang harus bertani untuk memenuhi kebutuhan target produksi. Mengacu pada pendapat Chambers (1993) dalam Sadono, dampak yang ditimbulkan dari paradigma konvensional tersebut adalah:

  1. Menurunkan kreativitas petani dan menumbuhkan sikap ketergantungan pada bantuan pemerintah.
  2. Kreativitas dan kearifan lembaga-lembaga lokal tidak berkembang bahkan banyak yang hilang.
  3. Program pembangunan agribisnis menjadi tidak efisien dan efektif karena biaya birokrasi pemerintah yang relatif tinggi.
  4. Program pembangunan sentralistik tidak sesuai dengan kondisi lokal, sehingga komoditi unggulan lokal terdesak pilihan dari atas atau pusat.

Selain dari pendapat chambers tersebut, terdapat pendapat yang menguatkan tentang akar permasalahan bahwa paradigm sentralistik dianggap masih belum mampu mengakomodir kesinambungan kebutuhan (Sustainability Needs) dari petani itu sendiri. Menurut Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan bahwa paradigm sentralistik membangun serta memenuhi kebutuhan saat ini dengan mengurangi ketersediaan kebutuhan untuk masa mendatang. Sehingga, keberlanjutan serta kesinambungan harus menjadi konsep arah pembangunan yang harus dilakukan sebagai penutup kekurangan dari konsep sentralistik.

Pembangunan berkelanjutan menurut Serageldin adalah memastikan bahwa generasi masa depan masih memiliki kesempatan untuk menikmati serta memanfaatkan. Objek yang dimanfaatkan serta dinikmati untuk dibangun adalah meliputi kebutuhan berekonomi, dan keseimbangan lingkungan ekologis. Dalam hal ini, kebutuhan berekonomi sangat erat hubungannya terhadap lingkungan. Lingkungan dalam terhadap kebutuhan manusia berperan sebagai produsen yang menyediakan sumberdaya alam kepada manusia untuk diolah dan memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Sehingga, sumber daya alam menjadi bahan yang diekonomikan oleh manusia. Konsep sustainability menjadi trendsetter sebagai solusi dari kemerosotan lingkungan yang ditandai dengan semakin berkurangnya hasil produksi kebutuhan yang berasal dari sumberdaya alam.

Petani adalah salah mata rantai pertama dalam pengelolaan sumberdaya alam di sector pertanian. Keterbatasan kemampuan akibat ketergantungan introduksi teknologi  menjadikan petani sebagai korban yang berakibat pada kemiskinan yang mereka alami. Sebenarnya solusi sustainability sudah disosialisasikan, namun yang menjadi hambatan terbesar adalah orientasi dari petani yang secara manusiawi ingin bertahan hidup dalam keterbetasan serta keterampilan yang sudah dimiliki turun temurun sejak masa konvensional. Sustainability tidak serta merta langsung meningkatkan hasil produksi dan pendapatan mereka. Sustainability membutuhkan keterampilan baru dalam pengelolaan sumberdaya alam dan alat produksi mereka yang berupa lahan. Keterampilan yang diintroduksikan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk melihat dampak kestabilan pada sumberdaya alam mereka. Waktu yang tidak sedikit tersebut bagi petani merupakan biaya yang besar dan tidak sebanding dengan harapan atau prediksi pendapatan yang mereka dapatkan jika focus pada keterampilan bertanam yang sudah mereka miliki (Pratama 2014)

Berdasarkan kondisi tersebut pada focus keterampilannya petani mencari solusi sustainability berproduksi dan bertahan hidup. Petani harus mampu beradaptasi dengan kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi secara tidak terduga. Secara intuitif, petani akan melakukan beberapa perlakuan khusus melalui strategi – strategi yang dibangun secara mandiri atas spekulasi yang terjadi dalam kegiatan agribisnis. Terutama dalam menjaga kelangsungan keberlanjutan dari petani dalam melakukan aktivitasnya.

Menurut Wolf berdasarkan dalam pengalaman – pengalaman kaum tani yang tidak terlepas dari tekanan kelangsungan eksistensi (kelangsungan usahatani). Secara intuitif, kaum tani dapat berusaha secara selektif menahan dampak dari beberapa tekanan yang berbeda dengan jalan membagi rata dampaknya. Pada pokoknya, sistem seperti itu menghimbau rumah tangga – rumah tangga yang lebih berhasil dalam mengatasi dampak tekanan – tekanan yang menimpa mereka agar membantu rumah tangga – rumah tangga yang tidak berhasil. Jelas bahwa dalam situasi seperti itu keuntungan bagi seorang berarti kerugian bagi orang lain. Begitu juga, dengan membiarkan tekanan – tekanan selektif itu memilih sasarannya sendiri, menambah keberhasilan mereka yang berhasil dan menyisihkan mereka yang gagal.

Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah perilaku intuitif petani tersebut secara langsung menyadarkan petani bahwa sebagai seorang petani, dirinya harus mampu melakukan sesuatu yang menjadikan dirinya menjadi mandiri, mampu berbuat banyak untuk mengantisipasi dan meminimalkan kerugian pada kemungkinan – kemungkinan buruk yang akan terjadi. Proses pemikiran serta perilaku yang dimiliki petani dalam meminimalkan kerugian merupakan sumbangsih mandiri pembangunan yang berarah pada pertumbuhan ekonomi walaupun untuk dirinya sendiri sebagai petani. Berarti secara sadar petani mencoba untuk berekonomi agar menjad     i lebih efektif dan efisien walaupun dalam kognisi serta pengalaman yang terbatas.