iklan

Sinergi kampus kampung seperti apa???

Kampung lingkar kampus menjadi obrolan menarik di Crossroad Conference Culture Studies ke-12 di Shanghai Cina. Kampung lingkar kampus menjadi bahasan informal menarik bagi para akademisi peserta Crossroad Conference Culture Studies di Shanghai University. Tema ini kami gulirkan dalam obrolan santai di sela-sela coffee break pada acara yang kebanyakan diikuti oleh para profesor dan doktor dari berbagai kampus di seluruh dunia yang memiliki konsentrasi pada kajian culture studies.

Salah satunya Stuart Poyntz, PhD, Associate Profesor dari School of Communication, University Drive Burnaby BC Canada, ia mengapresiasi sangat positif tema kampung lingkar kampus yang kami gulirkan secara informal ini. Dalam obrolan lain yang terpisah, Profesor Samir Dayal, guru besar Universitas Bentley Amerika pada bidang English and Media Studies, juga menangkap isu kampung lingkar kampus ini sebagai salah satu tema penting yang seharusnya bisa dibahas lebih dalam di meja konferensi.

Kampung lingkar kampus menjadi sebuah tema menarik, bagaimana integrasi kampus beserta kampung sekitar sebagai sebuah ekosistem yang bukan hanya berbentuk interaksi transaksional dalam konteks ekonomi semata. Tetapi lebih dari itu, bagaimana kampus dapat menularkan impact secara intelektual kepada ruang-ruang sosial di kampung sekitar kampus. Dalam benerapa kali obrolan informal di luar forum konferensi ini, dari bahan diskusi tentang kampung lingkar kampus yang dihembuskan tim Jaringan Kampung Nusantara ini cukup membuat tercengang para pengajar dan periset yang telah menggeluti dunia cultural studies ini selama bertahun-tahun.

Bagi mereka, ini adalah ide yg tidak pernah terpikir sebelumnya, karena kampus selama ini hanya berfikir makro dan jauh, sehingga seringkali justru kurang peka terhadap tempat yang terdekat dengan kampus. Kampus harus “bangun” dan memberikan sebuah impact sosial pada kampung sekitar kampus, lebih utama adalah bagaimana memberi sinergi investasi keilmuan, terutama pada generasi muda sekitar kampus, sehingga menambah kapabilitas berfikir untuk menjadikan ruang kampungnya menjadi makin bermartabat.

Dari obrolan yang hangat bersama Stuart Poyntz, PhD, setelah coffee break yang dilanjut makan malam di sebuah hotel berbintang di Shanghai yang difasilitasi panitia konferensi, timbul ide bagaimana membuat semacam forum penggiat kampung lingkar kampus di kampus-kampus dari seluruh dunia. Sehingga gagasan ini dapaf menjadi sebuah movement yang positif, bagaimana kampus mempunyai kontribusi nyata dalam pembangunan pola pikir manusia.

Dalam obrolan terpisah bersama Profesor Samir Dayal, salah satu gagasan implementasi yang kami usulkan adalah bagaimana para pemuda lingkar kampus perlu mendapat dukungan pendidikan seperti beasiswa untuk belajar di kampus yang terdekat dari kampungnya, sehingga terbangun sinergi secara psikis dan kedekatan emosional. Beasiswa dengan persyaratan bagaimana untuk mendapatkan beasiswa tersebut, para pemuda kampung lingkar kampus wajib untuk berkontribusi aktif dalam kegiatan kampung, membuat sesuatu yang kreatif dengan output produktif, dimana ilmu yang didapat dari kampus wajib diterapkan di kampungnya.

Profesor asal India yang kini tinggal di Amerika itu mengapresiasi gagasan tersebut, ia juga menyampaikan pengalaman pribadinya di India saat masih muda dan miskin. Ia melihat dan merasakan bagaimana perguruan tinggi bagai sebuah kerajaan dengan menara indah yang menjulang, yang lebih fokus terhadap tema-tema besar dunia yang lebih terlihat dari ujung atas menara, sementara di bumi, di tempat menara tersebut dibangun malah terlupakan. Menurutnya, ide sederhana yang digulirkan secara informal oleh pegiat-pegiat Japung Nusantara ini sangat realistis. Perguruan tinggi perlu “dibangunkan”, gagasan ini perlu ditularkan ke seluruh dunia, secara perlahan tetapi pasti, agar terjadi sinergi dan harmoni yang nyata antara dunia pendidikan tinggi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Oleh : Redy Eko Prastyo

Bertani di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang merupakan lahan yang sangat kritis dan hampir tidak mungkin dapat untuk dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Akan tetapi berbeda dengan cara pandang bapak Sujana kosim. Lahan yang dimanfaatkan oleh pak sujana adalah lahan kritis bekas tambang pasir tampomas. Disinilah pak sujana dan rekan-rekannya melakukan aktifitas sebagai petani. Ketika musim kemarau kering, tandus dan panas sekali, sehingga perlu semangat, kerja keras, strategi dan juga mental petarung untuk bisa merubah lahan seperti ini menjadi lahan produktif kembali. Pertama kali yang dilakukan untuk menyuburkan tanah kami memanfaatkan pupuk kandang,sisa makanan ternak juga air kencing ternak. Kami yang pada awalnya menjadi bahan tertawaan ejekan juga fitnah karena mau bertani di lahan tandus seperti ini, lama kelamaan malah menjadi idola dan mulai banyak yang mendukung dan mengikuti,bukan hanya daerah sekitar malah banyak yang datang silaturrahmi dari sabang sampai merauke bahkan beberapa orang dari luar negeri. Setelah dilakukan penambahan bahan-bahan organik dari pupuk kandang yang berasal dari ternak sendiri dilakukan penanaman pohon perintis(pakan ternak) setelah itu baru menanam pohon lain (buah-buahan dll). Komoditas yang dipilih adalah komoditas yang tahan cuaca, nilai ekonomis tinggi, dan cepat panen.

Sistem pertanian berkelanjutan yang diterapkan oleh pak Sujana adalah kolaborasi antara tanaman dan ternak, sehingga lahan yang tadinya kritis dan tandus bisa berubah menjadi produktif kembali. Sistem pertanian sepreti ini dapat disebut sebagai sistem agrosilvopastura. Sistem  agrosilvopastura  adalah pengombinasian  komponen  berkayu  (kehutanan)  dengan  pertanian  (semusim)  dan  sekaligus peternakan/binatang  pada  unit  manajemen  lahan  yang  sama (Ma’ruf, 2017). Menurut Hairiah (2013) agroforestry merupakan pertanian masa depan yang mempunyai manfaat secara ekologi, ekonomi dan sosial.

Lahan kritis dulunya dikuasai oleh pengusaha akan tetap pak sujana dan rekan-rekan terus berjuang yang awalnya hanya 100 “tumbak” akhirnya setiap tahunnya terus bertambah. Sedikit demi lahan yang dulunya dikuasai oleh pengusaha beralih kepemilikan menjadi milik petani. Pengambil alihan lahan dengan cara dibeli, jadi kami sebagai pengurus kelompok meminjam uang ke bank kemudian di kredit kan kepada masyarakat (khususnya anggota kelompok tani dan juga masyarakat sekitar).

Setelah lahan menjadi subur dan dapat ditanami dengan tanaman, serta ternak berkembang dengan baik timbul masalah baru. Masalah yang timbul adalah susu kambing etawah (murni atau olahan) yang dihasilkan tidak bisa dijual, jangankan membeli susu kambang etawah dikasih saja orang-orang tidak ada yang mau. Akan tetapi pak sujana dan rekan-rakan tidak lansung putus asa akhirnya mereka melakukan cara bagaimana supaya masyarakat suka dengan produk yang mereka hasilkan. Strategi yang dilakukan pertama kali adalah berani promosi (bagi2 produk secara gratis,sebar brosur) selanjutnya promosi lewat medsos. Promosi yang dilakukan supaya susu kambing laku promosi dengan cara sebagai obat dan kita harus berani promosi gratis,jaga kualitas,kontinuitas produk, berapapun harga kalo memang bagus pasti akan dibutuhkan dan dicari banyak orang Kini masyarakat sudah banyak yang sadar dan mengerti akan pentingnya menjaga kesehatan sehingga sering kali malah kami yang kekurangan produksi. Banyak sekali peluang usaha tani di lahan kritis ini seperti halnya buah naga organik yang kami produksi sangat diminati pasar lokal sampai internasional (ekspor) yang karena keterbatasan produksi tidak dapat terpenuhi.

Sumber : KULWA Pendaringan

Pemanfaatan Lahan sebagai Pertanian terintegrasi

Sociopreneurship

Menjadi orang yang bermanfaat untuk orang dan lingkungan sekitar bisa dengan berbagai macam cara salah satu menjadi Sociopreneurship. Sociopreneurship adalah seseorang yang mengetahui dan mau mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan kewirausahaannya untuk mengatur, membuat, dan mengelola suatu usaha guna melakukan serta membawa perubahan sosial, terutama di bidang kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan. Berikut ini adalah salah satu contoh seorang Sociopreneurship beliau adalah Kang Puji Hatmoko dan merupakan founder KangPuj Farm, berikut cerita singkat Kang Puji Hatmoko

KangPuj Farm hadir untuk membujuk masyarakat Kabupaten Bandung khususnya daerah Rancaekek dan Ciparay untuk mengembangkan potensi daerah mereka. Kang Puji memulai dengan membuat lahan percontohan pertanian KangPuj Farm. Adanya lahan percontohan ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa lahan yang tidak produktif mampu menghasilkan hal-hal yang menguntungkan. Inovasi yang diterapkan dan disampaikan dengan membuat pertanian perkotaan terpadu antara perikanan, pertanian, dan peternakan. Langkah kang Puji tersebut ternyata meraih banyak keuntungan dan bahkan menjadi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan, berbagai penghargaan, prestasi dan kisah manis telah didapatkan oleh kang Puji.

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan Kang Puji, permasalahan di Kabupaten Bandung seperti Rancaekek, Majalaya dan Ciparay adalah hampir sebagian besar masyarakatnya menjadi buruh pabrik. Padahal areal tesebut mempunyai potensi lahan yang yang cukup luas berupa kolam tidak terpakai sampai tanah kosong yang tidak mampu ditangani dengan baik. Melihat potensi ini Kang Puji berpikir untuk menuangkan ide kreatifnya untuk membangun daerah tersebut. Karena saat ini justru orang-orang di perkotaan  sibuk mencari lahan untuk menuangkan ide kreatifnya dalam membangun perekonomian tetapi di beberapa wilayah kabupaten sendiri terjadi hal sebaliknya dimana banyaknya lahan tetapi tidak diberdayakan secara maksimal.

Pertanian terintegrasi

KangPuj Farm mengajak masyarakat dalam mengembangkan potensi daerahnya dimulai dari membuat lahan percontohan agar masyarakat dapat melihat secara langsung dan nyata bahwa dari lahan yang tidak produktif ternyata dapat menjadi produktif. Inovasi yang diaplikasikan adalah membuat sebuah farm dengan konsep sistem pertanian terintegrasi antara perikanan, perkebunan dan peternakan. Konsep pertanian terintegrasi ini adalah konsep yang tidak bergantung pada satu komoditas, karena mengintegrasikan tiga sektor yang ada berupa perikanan, perkebunan dan peternakan.

Komoditas perikanan yang dipakai adalah ikan lele sebagai percontohannya. Komoditas ikan lele dipilih karena mudah dibudidayakan dan dapat memberikan hasil yang tinggi dengan lahan seadanya (Tebar, Padat dan Tinggi). Ikan lele akan menghasilkan limbah yang digunakan sebagai nutrisi untuk perkebunan. Komoditas lele dipilih karena pemerintah telah berhasil meningkatkan tingkat konsumsi ikan nasional sejak tahun 2015. Hal ini menunjukkan Kementerian Kelautan dan Perikanan serius untuk mendorong konsumsi ikan nasional agar meningkat. Namun, di wilayah perkotaan umumnya akan sulit untuk mendapatkan ikan dengan harga murah dan kandungan gizi yang tinggi, terutama untuk produksi ikan air laut dan payau. Hal itu disebabkan oleh jauhnya jarak antara tempat produksi dan pusat kota. Budidaya ikan air tawar di kawasan perkotaan pun tidak mudah karena keterbatasan lahan. Oleh karena itu, agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi ikan di wilayah perkotaan dengan kondisi lahan yang terbatas, harus digunakan metode dan jenis budidaya ikan yang produktif serta efisien maka dari itu komoditas ikan lele dipilih. Ikan lele dapat dibudidaya dengan metode tebar, padat dan tinggi dimana 1 m3 volume air dapat diisi 1000 ekor lele. Selain itu, berdasarkan data dari Departemen Kesehatan ikan lele memiliki kandungan gizi per 100 gram sebanyak 84 kalori, protein 14,8 gram, lemak 2,3 gram dan zat besi 0,3 mg. Kandungan gizi tersebut, ikan lele sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian masyarakat sesuai Permenkes No. 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Masyarakat Indonesia. Namun, mayoritas perspektif masyarakat terhadap ikan lele cenderung kurang baik disebabkan oleh cara budidayanya yang dikenal jorok serta tidak higienis, isu penyebab kanker, konsumsi untuk masyarakat kelas menengah-bawah, dan sebagainya. Padahal sangat disayangkan sekali, ikan lele dengan kandungan gizi yang baik, nilainya menjadi berkurang karena perspektif proses produksi yang tidak terjamin. Oleh karena itu, KangPuj Farm hadir untuk memperbaiki perspektif tersebut.

Komoditas peternakan yang dipilih lalat hitam (Black Soldier Fly), karena lalat tersebut dapat menguraikan sampah organik dan dapat dijadikan pakan alternatif untuk ikan sehingga dapat menekan pengeluaran pakan. Sehingga dari lahan yang dibentuk nanti bukan hanya membudidayakan saja melainkan juga untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian, perkebunan, dan peternakan dengan kualitas terjamin dan akan memiliki harga yang stabil. Namun untuk komoditas lalat hitam saat ini masih dalam pengembangan.

Produk yang dihasilkan KangPuj Farm saat ini adalah ikan lele dan kangkung dalam kondisi bersih dan siap olah. Produk tersebut terjamin kualitasnya karena proses produksinya yang baik. KangPuj Farm memiliki  pelayanan pre order dan delivery sampai ke rumah pelanggan. Hal ini menjadi sebuah nilai tambah dan kelebihan dari produk KangPuj Farm. Pengembangan selanjutnya adalah produksi lele olahan berupa abon dan keripik. Komoditi sayuran hidroponik pun akan ditambah dengan jenis yang lain seperti sawi, selada, bayam, dan sebagainya.

Sumber: KULWA Pendaringan

Yang Muda Yang Kaya Dengan Bertani Hortikultura

Petani milyader
Pakde Gun Soetopo adalah seorang entrepeneur senior yang kerap dijuluki sebagai petani milyarder. Pakde gun mempunyai nama lengkap M. Gunung Soetopo yang lahir pada 10 januari 1958 di Sragen. Pakde Gun memliki usaha dengan nama Sabila Farm dan dengan harapan bisa menjadi produsen hortikultura terbesar di Asia bahkan di dunia. Pria kelahiran Sragen ini menetap di Pakem, Yogyakarta dan membuka lahan pertanian yang diberi nama Sabila Farm di Jalan Kaliurang Desa Pakembinangun. Luas area budi daya berbagai komoditas termasuk tanaman unggulannya buah naga 6,5 hektare. Pakde Gun fokus pada budidaya buah naga karena lebih ekonomis yaitu sejak muncul putik atau calon buah hanya perlu menunggu 30 hari untuk dipanen. Alasan kedua, semua tipe tanah bisa dijadikan lahan budi daya buah tersebut
Saat ini, Sabila Farm telah berkembang menjadi suatu tempat agrowisata, tempat belanja buah-buah tropis, dan juga sebagai tempat pelatihan seputar pertanian. Sebagai tempat agrowisata, Sabila farm menawarkan perjalanan menyusuri kebun dengan beragam buah-buah eksotis, udara yang sejuk, serta pemandangan Gunung Merapi yang megah. Menariknya lagi, Anda juga bisa menikmati buah yang telah memasak dengan memetiknya langsung dari pohonnya. Selain itu ada juga layanan tour desa wisata dan aktivitas outdor semisal outbond dan permainan kerjasama tim. Berdasarkan pengalamannya pakde Gun ingin menunjukkan bahwa bertani adalah pekerjaan yang mulia, terhormat, dan bisa menyejahterakan sesama.
Bertani Hortikultura
Bertanian Hortikultura bisa menjadi kaya dibandingkan dengan bertanian tanaman pangan karena untuk tanaman pangan perlu lahan yang luas untuk mendapatkan penghasilan yang cukup dan Harga Tanaman Pangan diatur oleh HET Pemerintah. Akan tetapi untuk tanaman Tanaman Hortikultura harganya tidak diatur-atur dan mekanisme pasar serta teknologi budidaya yang bisa kita mainkan dalam arti Kualitas dan Kontinuitasnya. Pertanian hortikultura meliputi sayuran, buah, tanaman hias, biofarmaka atau empon2, dan perbenihannya. Komponen-komponen inilah yang merupakan sumber rejeki di negeri tropika Indonesia dan harus kita dulang. Pakde gun sudah mulai bertani sejak 1985 dan semua komoditas hortikultura tersebut sudah dilakukan dan sampai pada akhirnya beliau tertarik dengan buah-buahan dan menggunakan tema UD.Sabila Farm , yaitu bertani buah-buahan yang berkhasit dan bertani di Lahan Marginal/miskin. Bertani yang mempunyai tema yang jelas itu membuat usahanya tidak terombang ambing isu ataupun hoax.
Menanam dilahan cadas
Pakde gun melakukan budidaya buah naga di Yogyakarta ini mulai 2005 di lahan cadas. Karena keusilan beliau tersebut sekarang telah membuat UD Sabila Farm terus survive dan bisa bertani dilahan marginal Lainnya antara lain lahan cadas, lahan karst, lahan berbatu gamping, lahan bekas deposal tambang batubara, lahan gambut dan lain-lain.
Personal Branding
Harga buah yang ada di Sabila Farm itu lumayan bagus alias tinggi dibanding Supermarket. Hal ini disebabkan karena kekurangan produksi dan pasar masih menganga/terbuka. Sementara, banyak produksi buah di petani yang tidak laku dan harga jual juga murah bahkan banyak yang ketipu tengkulak. Hal ini sering terjadi karena pada umumnya Petani itu tidak punya “Personal Branding”. Misalnya tidak jelas alamat dan usahanya, kualitas produskinya tidak standard apalagi untuk memnuhi permintaan secara terus menerus (kontinu), Apalagi ada kejahatan leher menggkerok alias Black collar dimana maunya menipu Petani saja. semua kendala yang menghambt Petani untuk bisa menjadi kaya raya dan bahagia tersebut , maka munculah ide Sabila Farm untuk menjadi role model pembangunan hortikultura yang berkemanuaan dan berwibawa.
Hortikultura Tropika
Hortikultura Indonesia atau Tropika sangat diminati di Eropa dan Amerika serta negera-negara SubTropis lainnya. Hal ini dikarenakan buah-buahan tropika itu lebih eksotis, Lebih ada citarasa dan ada sensasinya. Berdasarkan pengalaman pakde Gun yang sering pameran di luar negeri, contohnya di Mese Berlin German dimana setiap awal Februari , Petani-petani produsen Buah sedunia berkumpul dan saling tukar menukar infomasi baik buidaya maupun pasar. Hal ini sangat jauh berbeda seperti di Indonesia yang kadang masih rahasia-rahasiaan.
Peluang Hortikultura di Nusantara ini sangat besar sekali, bisa mencapai 600 T. sayangnya, banyak yang tersia-siakan karena faktor belum adanya tehnologi dan jeleknya trasnportasi serta packing yang belum menjadi kebiasaan Petani. Bila “sampah” ini bisa di kurangi, Maka Hortikutlura Indonesia bisa merajai Asia. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor produk hortikultura buah dan sayuran dengan nominal mencapai 21 triliun rupiah. Sementara itu, omzet dari bertani buah dan sayuran setahun mencapai angka 187 triliun rupiah. Dengan fakta semacam ini, maka dapat kita simpulkan bahwa peluang di sektor pertanian buah dan sayuran masih sangat luas. Kesempatan yang ada juga masih terserak di banyak lini dan tempat. Untuk memulai usaha di sektor pertanian, kita sepatutnya memiliki tema usaha. Hal ini menjadi sangat penting agar apapun pilihan yang sudah tidak kita tetapkan tak terombang-ambing oleh berbagai isu yang tidak bertanggung jawab seperti hoax.

Sumber : KULWA Pendaringan

Budidaya Jamur Tiram

Deskripsi Jamur Tiram

Nama jamur tiram (Pleurotus sp.) diberikan karena bentuk tudung jamur ini yang agak membulat, lonjong dan melengkung menyerupai cangkang tiram. Ukuran diameternya mencapai 3-15 cm. Warna jamur tiram, ada bermacam-macam, tetapi yang umum dibudidayakan adalah jamur tiram putih (Pleurotus florida).

Jamur tiram memiliki inti plasma dan spora yang berbentuk sel-sel lepas atau bersambungan membentuk hifa dan miselium. Hifa membentuk jaringan yang disebut dengan miselium dan miselium menyusun jalinan–jalinan semu menjadi tubuh buah (fruiting body). Pada titik-titik pertemuan miselium akan terbentuk bintik kecil yang disebut pin head atau calon tubuh buah jamur.

Nilai Gizi Jamur Tiram

Selain rasanya yang lezat, jamur tiram juga mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand beberapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain itu, kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, anti-tumor, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta mampu menanggulangi kekurangan gizi (malnutrisi).

Bila dihitung dari berat kering jamur tiram, kandungan proteinnya adalah 19 – 35 % sementara gandum hanya 7,3 %, kedelai  13,2 %, dan susu sapi 25,2 %. Jamur tiram juga mengandung 9 asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu Lisin, Metionun, Triotofan, Threonin, Valisin, Leusin, Isoleusin, Histidin dan Fenilanin. Kandungan lemak jamur tiram sebagian besar merupakan asam lemak tak jenuh. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok Vitamin B, Vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi Vitamin D dengan bantuan sinar matahari.

 Syarat Tumbuh

Tempat tumbuh jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organik yang ada didalamnya. Pembudidayaan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk gergaji yang digunakan sebaiknya berasal dari kayu yang tidak bergetah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan miselium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain (kontaminan).

Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan lain berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik dan masih baru. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung sebagai sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur (Calsium carbonat) sebagai sumber mineral dan pengatur pH.

Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % atau sesuai dengan kapasitas lapang. Sebaiknya air yang digunakan dalam proses pencampuran media adalah air yang bersih.

Tingkat keasaman (pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan miselium jamur akan terhambat, bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 – 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat).

 Suhu udara

Pada budidaya jamur tiram suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 – 28 0C dengan kelembaban 60 – 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 – 22 0C dengan kelembaban 70-90 0C.

 Cahaya
Pertumbuhan miselium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar, sebaiknya selama masa pertumbuhan miselium (masa inkubasi), baglog ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya, maka badan buah tidak dapat tumbuh. Oleh karena itu pada masa penumbuhan badan buah, kumbung jamur perlu di atur sedemikian rupa sehingga intensitas sinar matahari yang masuk berkisar antara 60 – 70%.Proses Budidaya Jamur

Budi daya jamur tiram terdiri dari beberpa tahap yang harus dilalui, antara lain :

1. Pencampuran Media

Media yang digunakan terdiri dari; serbuk kayu, bekatul, kapur, tepung jagung dan air. Serbuk kayu berguna sebagai sumber selulose bagi pertumbuhan jamur tiram, sedangkan bekatul adalah sumber vitamin B kompleks yang dibutuhkan dalam pertumbuhan jamur tiram. Langkah awal pembuatan media adalah pengayakan serbuk gergaji. Pengayakan dilakukan dengan alat pengayak biasa berdiameter 0,5 x 0,5 cm yang dilakukan oleh 2 orang. Kemudian, serbuk gergaji dicampur dengan bekatul, kapur, tepung jagung secara merata. Adapun komposisi serbuk kayu : bekatul : gipsum (kapur) : tepung jagung adalah 7 : 1 : 1 : 0,5 (gambar 1). Media yang telah tercampur, kemudian disiram air sampai agak lembab dan di aduk rata. Media yang telah disiram air, lalu ditutup dengan menggunakan terpal (plastik) selama 1 hari dengan tujuan dekomposisi.

Gambar 1. Pencampuran Media Baglog

2.Pembuatan dan Pengemasan Baglog

Pembuatan log dilakukan setelah medianya siap. Ciri media jamur yang baik antara lain: menggumpal saat dikepal dan air tidak menetes.  Media dimasukkan ke dalam kantung plastik PP yang tahan panas berukuran 2 kg. Pada saat proses pemasukan ke dalam plastik, media ditekan agar agak padat. Selain menggunakan tangan, pemadatan media dapat dibantu dengan alat berupa kayu. Kepadatan media berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan miselium. Setelah itu, ujung plastik di beri cincin sebagai jalan keluar badan buah jamur dan di tutup dengan kertas, kapas atau plastik (gambar 2).

Gambar 2. Pengemasan Media Baglog

3. Sterilisasi Media

          Sterilisasi media dilakukan setelah proses pembuatan baglog selesai. Sterilisasi ini bertujuan untuk mematangkan media dan membunuh mikroorganisme lain (selain bibit jamur tiram) agar tidak terjadi kontaminasi. Adapun alat-alat yang digunakan untuk menyeterilkan media terdiri dari drum berkapasitas 200 liter atau ruangan (kamar) dengan kapasitas 1000 log, kompor dan termometer (gambar 3). Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu: minyak tanah, air bersih dan media log itu sendiri. Setelah semua log dimasukkan dalam ruangan sterilisasi, kemudian ruangan ditutup rapat agar steaming (penguapan) berjalan efektif. Pengukusan (penguapan) dilakukan selama 4-5 jam dengan suhu berkisar antara 90-110 oC. Kisaran suhu 90-110 oC menyebabkan mikroorganisme yang terbawa media log menjadi mati. Kenaikan suhu diukur dengan termometer. Sebelum dikeluarkan dari tempat sterilisasi, biasanya log dibiarkan selama 24 jam (overnight) agar media sudah dingin pada saat di keluarkan.

Gambar 3. Alat Sterilisasi Media Baglog

4. Inokulasi Bibit Jamur

Sebelum dilakukan inokulasi bibit jamur, terlebih dahulu disiapkan media log yang akan diinokulasi, bibit jamur, alat penyemprot, alkhohol, bunsen, dan lain sebagainya (gambar 4). Proses inokulasi bibit jamur ke dalam media Log dilakukan pada suatu ruangan khusus yang steril.

Gambar 4. Proses Inokulasi Bibit Jamur Tiram ke Baglog

    Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan pada seluruh bagian ruangan, alat dan bahan yang digunakan selama proses inokulasi berlangsung. Langkah pertama, ambil bibit jamur pada media botol dengan pinset atau stik inokulasi, lalu dimasukkan dalam log yang kemudian tutup kembali cincin baglog dengan kertas atau kapas. Selama proses inokulasi sebaiknya dilakukan dekat dengan bunsen agar tetap steril.

5. Inkubasi

Inkubasi merupakan waktu yang dibutuhkan mulai inokulasi hingga jamur siap ditumbuhkan. Inkubasi dilakukan setelah inokulasi Log Media selesai. Baglog dipindahkan ke ruang inkubasi untuk menumbuhkan miselium jamur, suhu yang diharapkan 22 – 28 0C.

6. Penumbuhan Badan Buah

Setelah miselium memenuhi seluruh permukaan baglog. Kemudian baglog dipindahkan ke ruang produksi (kumbung jamur) dengan membuka tutup cincin log dan diletakkan dengan posisi horizontal dan berselang-seling tiap barisnya (Gambar 5).

Gambar 5. Kumbung Jamur Tiram (kiri) dan Tahapan Perkembangan Badan Buah Jamur Tiram (kanan)

 Selama  penumbuhan badan buah dibutuhkan penyemprotan dengan air bersih secara teratur pada lantai dan Log Media untuk menjaga suhu mikro di sekitar baglog jamur, namun diusahakan agar air tidak sampai masuk ke dalam baglog agar tidak mengganggu proses pembentukan pin head dan menghindari kebusukan. Pemanenan sebaiknya di lakukan pada pagi hari untuk mempertahakan kesegarannya dan mempermudah pemasaran

7. Pemanenan

Kegiatan (cara dan waktu) pemanenan ikut menentukan kualitas jamur tiram putih yang di panen. Panen di lakukan setelah pertumbuhan jamur tiram putih mencapai tingkat yang optimal yakni cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan ini biasanya di lakukan 3 hari setelah tumbuh calon badan buah jamur (pin head). Pada saat itu, ukuran jamur tiram putih sudah cukup besar dengan diameter rata-rata 5-10 cm. Pemanenan perlu dilakukan dengan mencabut keseluruhan rumpun hingga akar-akarnya untuk menghindari adanya akar atau batang jamur yang tertinggal pada saat pemanenan.

8. Sortasi dan Penyimpanan

Sortasi merupakan pemisahan hasil panen ke dalam kategori-kategori yang berbeda berdasarkan karakter fisiknya seperti ukuran, bentuk, dan warna. Biasanya jamur tiram yang berwarna kuning (kualitas rendah) tidak perlu di buang, sedangkan jamur yang kondisinya baik atau segar bisa langsung di packing untuk kemudian di pasarkan. Biasanya jamur tiram yang sudah di panen dapat disimpan lemari es.

Oleh : Fery Abdul Choliq