iklan

Kontribusi Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat

Potensi pertanian di Jawa Barat tersebar secara merata di seluruh daerah yang meliputi komoditas padi, palawija, dan horticultural. Selain itu, jenis sayurandan buah-buahan di daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Hasil pertanian utama di daerah Jawa Barat merupakan jagung, padi, dan ubi kayu.Daerah penghasil bunga-bungaan di Jawa Barat antara lain, Kabupaten Cianjur, Garut, Kuningan, Bandung, Ciamis, Purwakarta, Bogor, dan Sukabumi.

            Melihat hasil pertanian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil pertanian di Jawa Barat merupakan sector yang bepotensi menjanjikan dalam hal membangun aspek ekonomi bagi wilayah Jawa Barat untuk dikembangkan secara optimal. Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan terutama di daerah, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2018, sektor pertanian dijadikan salah satu jalan untuk mencapai keberhasilan pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat.

            Sinergi antara sektor pertanian, industri dan jasa yang kuat akan membentuk perekonomian yang efisien, dan hal ini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah (Sjafrizal, 2008). Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sector pertanian merupakan sector dominan setelah industri. Jika hasil pertanian pangan, termasuk hasil sayur-sayuran dan buah-buahan ini dapat dibudidayakan melalui teknologi canggih, daerah Jawa Barat dapat berkembang pesat dalam sector pertanian. Apalagi daerah Jawa Barat memiliki banyak SDM yang berkualitas dengan adanya perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, dan Institut Pertanian Bogor. Dengan adanya hal-hal tersebut dapat memacu pembangunan sector pertanian dan sector pertanian dapat berkontribusi secara optimal pada perekonomian di daerah Jawa Barat.

            Melalui pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan secara bertahap. Kemampuan daerah untuk tumbuh tidak terlepas dari peranan sektor-sektor yang ada dalam suatu perekonomian. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2010 yaitu sebesar 13,08% dan terus menurun sampai 11,47 pada tahun 2012. Masuknya sektor pertanian ke dalam tiga besar penopang PDRB di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan   sektor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah (Badan Pusat Statistik, 2012)

Maka dari itu, para Sumber Daya Manusia yang dimiliki diharapkan dapat berkontribusi secara optimal pada pertanian di Jawa Barat. Dengan cara-cara yang dapat membuat petani untung, juga memberikan dampak yang positif bagi lingkungan serta memberikan suatu ekosistem yang baik dan seimbang agar dapat terus berlanjut sampai berpuluh-puluh tahun kedepan. Agar tercipatanya mimpi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.

Cara yang dapat dilakukan sejak dini oleh petani yang tidak terlalu sulit adalah pengurangan pemberian pestisida agar tidak menimbulkan resistensi hama dan resurgensi hama di kemudian hari. Karena pada umunya petani di Indonesia masih ketergantungan pada pestisida kimiawi dalam melakukan pengusiran hama. Padahal pestisida secara tidak langsung memberikan efek yang sangat besar bagi tanaman di kemudian hari. Dan para ahli atau sarjana pertanian nantinya diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam membangun pertanian Indonesia dengan cara memberikan penyukuhan atau sosialisasi pada petani dalam mengolah tanamannya.

            Dengan demikian, pertanian memberikan kontribusi yang sangat efektif pada sector ekonomi di Jawa Barat. Karena Jawa Barat memiliki banyak lahan yang digunakan untuk membudidayakan tanaman pangan, hortikultura, maupun kacang-kacangan. Agar sector pertanian dapat terus bertahan dan berkontribusi di kedepannya, perlu peran aktif para ahli atau sarjana pertanian yang ikut membangun pertanian di Jawa Barat.

            Perlu ada tindakan dari pemerintah berupa kebijakan dalam pengelolaannya untuk mengembangkan sector pertanian ini agar dapat menjadi sektor/sub sektor yang potensial untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat. Sektor  yang  potensial bagi daerahnya diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang besar sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan sektor tersebut. Keadaan posisi sektor di provinsi dapat tercermin dari keadaan sektor/sub sektor di kabupaten/kota. Semoga apa yang diharapkan dalam artikel ini dapat terwujud dengan bebrbagai cara dan pihak pihak yang bersangkutan dapat ikut berpartisipasi demi terselenggaranya atau terwujudnya sector pertanian yang maju dan memberikan dampak yang positif bagi sector pertanian Indonesia yang khususnya berada di daerah Jawa Barat

Oleh: Fathya KS

Budidaya Jamur Tiram

Deskripsi Jamur Tiram

Nama jamur tiram (Pleurotus sp.) diberikan karena bentuk tudung jamur ini yang agak membulat, lonjong dan melengkung menyerupai cangkang tiram. Ukuran diameternya mencapai 3-15 cm. Warna jamur tiram, ada bermacam-macam, tetapi yang umum dibudidayakan adalah jamur tiram putih (Pleurotus florida).

Jamur tiram memiliki inti plasma dan spora yang berbentuk sel-sel lepas atau bersambungan membentuk hifa dan miselium. Hifa membentuk jaringan yang disebut dengan miselium dan miselium menyusun jalinan–jalinan semu menjadi tubuh buah (fruiting body). Pada titik-titik pertemuan miselium akan terbentuk bintik kecil yang disebut pin head atau calon tubuh buah jamur.

Nilai Gizi Jamur Tiram

Selain rasanya yang lezat, jamur tiram juga mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand beberapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain itu, kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, anti-tumor, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta mampu menanggulangi kekurangan gizi (malnutrisi).

Bila dihitung dari berat kering jamur tiram, kandungan proteinnya adalah 19 – 35 % sementara gandum hanya 7,3 %, kedelai  13,2 %, dan susu sapi 25,2 %. Jamur tiram juga mengandung 9 asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu Lisin, Metionun, Triotofan, Threonin, Valisin, Leusin, Isoleusin, Histidin dan Fenilanin. Kandungan lemak jamur tiram sebagian besar merupakan asam lemak tak jenuh. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok Vitamin B, Vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi Vitamin D dengan bantuan sinar matahari.

 Syarat Tumbuh

Tempat tumbuh jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organik yang ada didalamnya. Pembudidayaan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk gergaji yang digunakan sebaiknya berasal dari kayu yang tidak bergetah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan miselium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain (kontaminan).

Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan lain berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik dan masih baru. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung sebagai sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur (Calsium carbonat) sebagai sumber mineral dan pengatur pH.

Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % atau sesuai dengan kapasitas lapang. Sebaiknya air yang digunakan dalam proses pencampuran media adalah air yang bersih.

Tingkat keasaman (pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan miselium jamur akan terhambat, bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 – 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat).

 Suhu udara

Pada budidaya jamur tiram suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 – 28 0C dengan kelembaban 60 – 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 – 22 0C dengan kelembaban 70-90 0C.

 Cahaya
Pertumbuhan miselium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar, sebaiknya selama masa pertumbuhan miselium (masa inkubasi), baglog ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya, maka badan buah tidak dapat tumbuh. Oleh karena itu pada masa penumbuhan badan buah, kumbung jamur perlu di atur sedemikian rupa sehingga intensitas sinar matahari yang masuk berkisar antara 60 – 70%.Proses Budidaya Jamur

Budi daya jamur tiram terdiri dari beberpa tahap yang harus dilalui, antara lain :

1. Pencampuran Media

Media yang digunakan terdiri dari; serbuk kayu, bekatul, kapur, tepung jagung dan air. Serbuk kayu berguna sebagai sumber selulose bagi pertumbuhan jamur tiram, sedangkan bekatul adalah sumber vitamin B kompleks yang dibutuhkan dalam pertumbuhan jamur tiram. Langkah awal pembuatan media adalah pengayakan serbuk gergaji. Pengayakan dilakukan dengan alat pengayak biasa berdiameter 0,5 x 0,5 cm yang dilakukan oleh 2 orang. Kemudian, serbuk gergaji dicampur dengan bekatul, kapur, tepung jagung secara merata. Adapun komposisi serbuk kayu : bekatul : gipsum (kapur) : tepung jagung adalah 7 : 1 : 1 : 0,5 (gambar 1). Media yang telah tercampur, kemudian disiram air sampai agak lembab dan di aduk rata. Media yang telah disiram air, lalu ditutup dengan menggunakan terpal (plastik) selama 1 hari dengan tujuan dekomposisi.

Gambar 1. Pencampuran Media Baglog

2.Pembuatan dan Pengemasan Baglog

Pembuatan log dilakukan setelah medianya siap. Ciri media jamur yang baik antara lain: menggumpal saat dikepal dan air tidak menetes.  Media dimasukkan ke dalam kantung plastik PP yang tahan panas berukuran 2 kg. Pada saat proses pemasukan ke dalam plastik, media ditekan agar agak padat. Selain menggunakan tangan, pemadatan media dapat dibantu dengan alat berupa kayu. Kepadatan media berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan miselium. Setelah itu, ujung plastik di beri cincin sebagai jalan keluar badan buah jamur dan di tutup dengan kertas, kapas atau plastik (gambar 2).

Gambar 2. Pengemasan Media Baglog

3. Sterilisasi Media

          Sterilisasi media dilakukan setelah proses pembuatan baglog selesai. Sterilisasi ini bertujuan untuk mematangkan media dan membunuh mikroorganisme lain (selain bibit jamur tiram) agar tidak terjadi kontaminasi. Adapun alat-alat yang digunakan untuk menyeterilkan media terdiri dari drum berkapasitas 200 liter atau ruangan (kamar) dengan kapasitas 1000 log, kompor dan termometer (gambar 3). Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu: minyak tanah, air bersih dan media log itu sendiri. Setelah semua log dimasukkan dalam ruangan sterilisasi, kemudian ruangan ditutup rapat agar steaming (penguapan) berjalan efektif. Pengukusan (penguapan) dilakukan selama 4-5 jam dengan suhu berkisar antara 90-110 oC. Kisaran suhu 90-110 oC menyebabkan mikroorganisme yang terbawa media log menjadi mati. Kenaikan suhu diukur dengan termometer. Sebelum dikeluarkan dari tempat sterilisasi, biasanya log dibiarkan selama 24 jam (overnight) agar media sudah dingin pada saat di keluarkan.

Gambar 3. Alat Sterilisasi Media Baglog

4. Inokulasi Bibit Jamur

Sebelum dilakukan inokulasi bibit jamur, terlebih dahulu disiapkan media log yang akan diinokulasi, bibit jamur, alat penyemprot, alkhohol, bunsen, dan lain sebagainya (gambar 4). Proses inokulasi bibit jamur ke dalam media Log dilakukan pada suatu ruangan khusus yang steril.

Gambar 4. Proses Inokulasi Bibit Jamur Tiram ke Baglog

    Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan pada seluruh bagian ruangan, alat dan bahan yang digunakan selama proses inokulasi berlangsung. Langkah pertama, ambil bibit jamur pada media botol dengan pinset atau stik inokulasi, lalu dimasukkan dalam log yang kemudian tutup kembali cincin baglog dengan kertas atau kapas. Selama proses inokulasi sebaiknya dilakukan dekat dengan bunsen agar tetap steril.

5. Inkubasi

Inkubasi merupakan waktu yang dibutuhkan mulai inokulasi hingga jamur siap ditumbuhkan. Inkubasi dilakukan setelah inokulasi Log Media selesai. Baglog dipindahkan ke ruang inkubasi untuk menumbuhkan miselium jamur, suhu yang diharapkan 22 – 28 0C.

6. Penumbuhan Badan Buah

Setelah miselium memenuhi seluruh permukaan baglog. Kemudian baglog dipindahkan ke ruang produksi (kumbung jamur) dengan membuka tutup cincin log dan diletakkan dengan posisi horizontal dan berselang-seling tiap barisnya (Gambar 5).

Gambar 5. Kumbung Jamur Tiram (kiri) dan Tahapan Perkembangan Badan Buah Jamur Tiram (kanan)

 Selama  penumbuhan badan buah dibutuhkan penyemprotan dengan air bersih secara teratur pada lantai dan Log Media untuk menjaga suhu mikro di sekitar baglog jamur, namun diusahakan agar air tidak sampai masuk ke dalam baglog agar tidak mengganggu proses pembentukan pin head dan menghindari kebusukan. Pemanenan sebaiknya di lakukan pada pagi hari untuk mempertahakan kesegarannya dan mempermudah pemasaran

7. Pemanenan

Kegiatan (cara dan waktu) pemanenan ikut menentukan kualitas jamur tiram putih yang di panen. Panen di lakukan setelah pertumbuhan jamur tiram putih mencapai tingkat yang optimal yakni cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan ini biasanya di lakukan 3 hari setelah tumbuh calon badan buah jamur (pin head). Pada saat itu, ukuran jamur tiram putih sudah cukup besar dengan diameter rata-rata 5-10 cm. Pemanenan perlu dilakukan dengan mencabut keseluruhan rumpun hingga akar-akarnya untuk menghindari adanya akar atau batang jamur yang tertinggal pada saat pemanenan.

8. Sortasi dan Penyimpanan

Sortasi merupakan pemisahan hasil panen ke dalam kategori-kategori yang berbeda berdasarkan karakter fisiknya seperti ukuran, bentuk, dan warna. Biasanya jamur tiram yang berwarna kuning (kualitas rendah) tidak perlu di buang, sedangkan jamur yang kondisinya baik atau segar bisa langsung di packing untuk kemudian di pasarkan. Biasanya jamur tiram yang sudah di panen dapat disimpan lemari es.

Oleh : Fery Abdul Choliq

Penerapan SST (Starter Solution Technology) untuk Mengatasi Masalah Pupuk Berlebih pada Tanaman Cabai

Jawa Timur merupakan propinsi yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi sayuran Indonesia dengan nilai kontribusi 12.05%.Beberapa sayuran dengan kontribusi nasional tinggi dari Jawa Timur adalah bawang merah (28%), cabe (18.6%), kubis (11.7%) dan bawang daun (11.3%). Sentra produksi sayuran di Jawa Timur berada di wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Malang, Sumenep, Pasuruan, Probolinggo dan sebagainya.Kabupaten Kediri dan Blitar merupakan dua kabupaten yang merupakan sentra produksi sayuran utamanya untuk cabe besar, cabe rawit, tomat dan bawang daun (Sekdirjen Hortikultura, 2010).

Pertanian Cabai di Kediri dan Blitar

Sebagaimana kita ketahui bahwa sentra cabe di Jawa Timur adalah  Kediri, Banyuwangi, Jember dan Blitar. Sehingga perlu kita telusuri penyebab rendahnya produktivitas cabai terutama di Kediri dan Blitar. Kondisi tanah  merupakan sumber  daya produktif yang  utama, hasil penelitian Mariyono et al., (2010)  menyatakan bahwa masalah yang berkaitan dengan kondisi tanah di Kediri dan Blitar adalah keasaman tanah. Di Blitar, masalah lain adalah kesuburan tanah yang  rendah karena rendahnya tingkat bahan organik dan penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Jenis tanah adalah lempung, kecuali tanah sisi timur di Blitar, yang liat. Kondisi drainase yang baik dalam tanah liat. Tingkat keasaman di kedua daerah dilaporkan dengan pH 4-5. Kesuburan tanah di Kediri cukup tinggi, sedangkan di Blitar adalah rendah.

Tabel 1. Masalah yang berkaitan dengan Tanah di Kediri dan Blitar


Permasalahan

Salah satu permasalahan yang terjadi di kedua lokasi adalah kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan. Pelaksanaan Pemupukan yang tidak benar menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.  Hal ini menyebabkan produksi cabe berkurang. Dan  perlu suatu teknologi yang diterapkan untuk mengatasi ketidaksuburan dan ketidak efisienan penggunaan pupuk di lahan.

Pembahasan

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut perlu percobaan pemupukan NPK di ke dua lokasi kemudian menganalisa korelasi antara pemupukan dan kurva hasil panen, merekomendasikan pemupukan untuk tanaman tersebut, menentukan tingkat kesuburan tanah dan melaksanakan pemupukan berdasarkan kesuburan tanah. SST (Starter Solution Technology) atau Uji larutan pupuk merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Sayuran Dunia dan telah didiseminasikan ke Thailand, Indonesia, China, India dan Taiwan. SST merupakan teknologi inovasi untuk mengurangi pupuk dan secara bersamaan meningkatkan produktivitas pemupukan. Tujuan aplikasi adalah untuk mencukupi kebutuhan hara pada tanaman muda sebelum sistem akarnya mapan. Tentunya SST ini sangat berpengaruh untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada umur muda (Maryono, 2013). Penggunaan SST memiliki banyak keuntungan antara lain : Pertumbuhan tanaman (cabe) semusim sangat pendek antara 3 – 4 bulan termasuk tanaman cabai, periode pertumbuhan yang pendek mengakibatkan sering kali pemberian pupuk untuk pertumbuhan tanaman menjadi tidak efesien. meningkatkan pertumbuhan awal tanaman muda, mengurangi kebutuhan pupuk, meningkatkan jumlah bunga, meningkatkan unsur hara tersedia untuk tanaman dari pupuk organik, mengurangi pencemaran/polusi tanaman, dan meningkatkan hasil Pertumbuhan awal yang baik akan menjadikan tanaman sehat dan terangsang untuk meningkatkan pertumbuhan yang lebih baik pada fase-fase selanjutnya,  lebih tahan terhadap perubahan iklim maupun serangan hama/penyakit (Chin Hua Ma et al., 2015).

Menurut (Chin Hua Ma, 2015) yang menghidupkan tanah adalah bahan-bahan mineral tanah liat yang membawa muatan negatif, menarik kation bermuatan positif (NH4+,K+,Ca+, Mg2+, dll)serta menolak anion bermuatan negatif (NO3, H2PO4,SO42,etc), sedangkan bahan organik membawa muatan negatif dan sebagian bermuatan positif, dimana muatan positif pada tanah liat lebih besar. Sedangkan jika pupuk yang diberikan ke dalam tanah dalam bentuk padat maka setelah ion nutrien diserap partikel tanah, sisa nutrien di dalam larutan tanah baru tersedia untuk tanaman, akar tanaman menyerap ion nutrien dari larutan tanah yang dapat disentuh, pada waktu nutrien di dalam tanah habis, sebagian nutrien yang terikat di permukaan partikel tanah akan mengisi kembali nutrien dalam larutan tanah.

Disamping itu pupuk yang diberikan dalam larutan tanah lebih mudah tersedia dibandingkan dengan pemberian pupuk dalam bentuk padat, menurut  Salysbury dan Cleon (1995) bahwa akar yang terus tumbuh ke daerah baru dengan membentuk lebih banyak akar cabang atau pencari makanan. Bila air lebih jauh tersedia dalam tanah maka akar akan tumbuh jauh ke bawah permukaan tanah. Pada keadaan lembab (hampir kapasitas lapang) difusi menuju akar tentu cepat, tetapi pada keadaan kering sampai mendekati titik layu permanen, difusi air dan ion terlarut bisa menurun 1000 kali, sehingga tumbuhan akan sulit mendapatkan air dan ion mineral karena kemampuan akar menerobos tanah dan difusi air serta ion menuju akar terbatas.

Metode Penerapan :

  • Bisa dengan cara manual dengan menggunakan gelas/plastik
  • Injeksi dengan mesin sprayer
  • Manual dengan sprayer portable

Waktu penerapan SST :

  • Pada waktu pemindahan tanaman (akar belum dapat mengakses nutrien)
  • Pada waktu akar terluka (setelah bencana hujan lebat/penyakit)
  • Pada waktu pembentukan buah / fase produktif.

Hasil penelitian Ahsol et al, .2012. Bahwa tanaman cabai yang diberi perlakuan SST dengan 4 perlakuan antara lain : (T1) perlakuan kontrol ( perlakuan petani), (T 2) perlakuan SST dan keseimbangan pemupukan (rata-rata petani), (T 3) perlakuan SSt dengan keseimbangan (medium) dan (T 4) perlakuan SST dengan keseimbangan (rendah) diperoleh hasil :

Tabel 2. Komponen Hasil

Tabel 3. Komponen Hasil


Dimana dari ke 4 perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata, dengan demikian pengurangan pupuk tidak mengurangi hasil produksi cabe.

Pada dasarnya SST dapat diartikan teknologi pemacu pertumbuhan dengan menerapkan 3 faktor penentu keberhasilan pemupukan yakni :

  • TEPAT DOSIS : pupuk yang diberikan cukup untuk menjadikan tanaman tumbuh secara maksimum
  • TEPAT CARA : bahwa cara pemberian yang tepat menjadikan akar tanaman dapat langsung menyerap unsur hara yang diberikan
  • TEPAT WAKTU bermakna waktu pemberian harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi tanaman

Pertumbuhan awal tanaman dengan penerapan teknologi SST cukup baik walau hanya satu atau dua kali pemberian

Kesimpulan :

  1. Kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.
  2. Teknology SST (Starter Solution Technology) secara nyata mampu membuktikan mengurangi kebutuhan pupuk tanaman , lebih efiensi dalam memanfaatkan pupuk, hasilnya cukup bagus dan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia.

Oleh : Evy Latifah

Pertanian di Desaku “Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri”

Kondisi Umum

Kondisi Pertanian di desa palem kecamatan pare kabupaten kediri memiliki tanah subur bekas letusan Gunung Kelud  dan mempunyai ketinggian 125 mdpl. Lahan ini cocok untuk ditanami tanaman jagung, padi, bawang merah, cabai, terong dan lain-lain.  Suhu udara 23̊ C – 31̊ C sangat cocok untuk kegiatan bercocok tanaman dan peternakan. Penduduk di desa desa palem banyak bekerja sebagai petani, namun ada pula yang menjadi peternak seperti peternak sapi, peternak ayam dan budidaya lele.

kegiatan pertanian ditunjang dengan adanya irigasi sebagai sumber pengairan, namun pada saat musim kemarau terjadi saluran irigasi tidak berjalan dengan baik sehingga petani susah mencari air karena kekeringan. Masalah pengairan tersebut biasanya masyarakat menggunakan bantuan pompa  air untuk mengairi sawahnya. Akan tetapi harga pompa air cukup mahal yaitu sebesar Rp. 4.000.000,-

Komoditas

Salah satu komoditas paling terkenal di Pare yaitu jagung, dengan seluas lahan 1 Ha bisa menghasilkan 7-10 ton. Biasanya hasil panen ini dijual oleh petani kepada pengepul, penjual pakan ternak, dan ke pabrik marning. Jagung biasanya dijual ke pengepul dengan harga sebesar Rp 3.000 – 6.000/ Kg. Selain jagung, Padi merupakan komoditas kedua setelah jagung, sebagian besar petani menanam padi untuk dijual kepada pengepul dengan harga berkisar Rp 4.500/Kg. Selain dibidang pertanian, masyarakat di desa palem banyak juga yang menjadi peternak. Peternak paling sedikit memiliki 3-4 ekor sapi yang dirawat sendiri oleh pemiliknya. Namun adapula peternak yang meiliki 20 ekor sapi yang dipelihara oleh orang lain atau sistem bagi hasil dengan. Sapinya dijual kepada blantik dengan harga sesuai dengan kondisi sapi tersebut, ada yang besar adapula yang kecil, masing – masing memiliki harga yang berbeda.

Masalah pertanian

Jagung sebagai komoditas unggulan di kecamatan pare dihadapkan dengan masalah hama yang dapat mempengaruhi produksi. Hama yang menyerang tanaman jagung adalah wereng jagung dan bulai. Jagung yang terserang hama wereng mempunyai gejala seperti terdapat bercak garis bewarna kuning panjang sampai dengan pelepah daun pada tanaman jagung sehingga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Hama wereng dapat ditangulangi dengan cara menyemprotkan pestisida pada bawah daun atau dimana tempat hama wereng jagung bersarang. Sedangkan gejala pada bulai sudah mulai terserang pada umur 0 – 3 minggu dengan fase daun tanaman jagung menguning, meruncing dan kaku, pada umur 3- 5 minggu. Gejala yang ditimbulkan akibat serangan bulai adalah daun tanaman jagung yang baru membuka menguning, pertumbuhan lambat, tongkol hanya berbiji sedikit, dan bentuk tongkol pada tanaman jagung tidak berbentuk normal. pada umur lebih 5 minggu  tanaman jagung memasuki fase klorosis, dimana tanaman tidak membahayakan namun mengurangi sekitar 30% produksi. Masyarakat di desa palem biasanya menanggulangi bulai dengan cara mencabut tanaman jagung yang terkena bulai lalu di bakar, namun ada juga yang di jadikan sebagai pakan ternak sapi.

Tanaman padi juga mempunyai hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Adapun serangan pada padi busuk leher malai atau blas leher dengan gejala bercak berbentuk belah ketupat sehingga dapat menyebabkan tangkai pada tanaman membusuk dan patah, serangan pada padi busuk leher malai dapat di cegah dengan penyemprotan pestisida pada waktu umur 8 minggu atau sebelum tumbuh malai pada tanaman padi, setelah tumbuh malai pestisida di semprot kembali. Selain blas leher juga terdapat wereng padi, wereng padi ditandai dengan gejala daun dan tangkai pada tanaman padi tetap bewarna hijau, namun di kelilingi ratusan nimpa dan wereng dewasa, tahap selanjutnya tanaman mengering yang masih membentuk bercak – bercak yang semakin lama menyatu dan berubah menjadi warna coklat. Adapun cara penanggulannya dengan cara penyemprotan pestisida pada hama wereng yang menyerang tanaman padi.

Oleh : Bara Fakhruddin

Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal

Pengembangan ekonomi lokal pada dasarnya adalah anti thesis terhadap pendekatan pembangunan nasional yang terkesan mengesampingkan keunggulan-keunggulan lokal dan kurang partisipatif. Lokalitas menjadi entry point, karena dianggap memiliki efek lebih besar dalam menyerap tenaga kerja sekaligus memberi nilai tambah lebih banyak dibandingkan dengan pembangunan korporasi internasional atau investasi dari luar.

Namun demikian, beberapa ahli masih menyangsikan dengan memberikan berbagai argumen (Bartik, 1991). Pertama, karena wilayah terlalu kecil, maka efek pertumbuhan bisa jadi kurang dirasakan apalagi hanya level kaupaten atau bahkan kecamatan. Kasus di Indonesia, malah bebeberapa banyak fokus ke desa dengan skala ekonomi yang tentunya jauh lebih kecil. Ahli pembangunan ekonomi menyangsikan model pembangunan ini karena dianggap lebih boros dalam operasional daripada kebijakan makro nasional.

        Kedua, meskipun kebijakan pembangunan ekonomi local berpeluang untuk melahirkan lapangan pekerjaan baru, kedatangan tenaga kerja dari luar tetap saja mengembalikan kesetimbangan sehingga masyarakat lokal tetap tidak bisa meninkmati. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi lokal kurang berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal dilihat dari konteks peningkatan pendapatan dari ketersediaan lapangan kerja. Kasus kontrak tenaga kerja dari luar yang terjadi di usaha hortikultura dataran tinggi di Batu dan Kawasan Bromo menunjukkan jika bahwa pasokan tenaga kerja kontrak merupakan substitusi tenaga kerja lokal, sehingga merekatidak mendapatkan peningkatan upah (Purnomo, 2013).

        Ketiga, meskipun satu wilayah mungkin mengalami peningkatan lapangan kerja tetapi secara nasional kondisinya tidak banyak berubah. Hal ini karena peningkatan tenaga kerja satu tempat pada dasarnya menambah pengangguran ditempat lain. Di bawah kondisi migrasi tenaga kerja yang intens, pembangunan ekonomi lokaltidak mampu memberikan dampak positif signifikan, sehingga pembangunan ekonomi lokal tidak dianjurkan sebagai satu-satunya strategi pembangunan.

Tetapi, dalam prakteknya pembangunan ekonomi lokal ternyata tidak hanya terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Kasus Indonesia, pengembangan ekonomi lokal menguat seiring penguatan otonomi daerah sehingga ada muatan politik didalamnya. Oleh karena itu, pendekatan pengembangan ekonomi local semata dari sisi penguatan ekonomi tentunya kurang relevan terutama untuk kasus-kasus negara sedang berkembang. Kebijakan pembangunan ekonomi lokal merupakan usaha-usaha