iklan

Bioekonomi Perikanan

Potensi sumberdaya Indonesia yang lengkap, memberikan peluang yang besar bagi para anak bangsa untuk mengelolanya atau menciptakan lapangan kerja guna meningkatkan perekonomian karena setiap pengelolaan ataupun penggunaan sumberdaya dapat diukur nilai ekonominya. Suatu sumberdaya dapat meningkatkan perekonomian apabila sumberdaya tersebut dapat ditinjau dari segi ekonominya Secara garis besar sumberdaya alam dapat dibagi menurut sifatnya menjadi tiga bagian, yaitu: sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources), sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources) dan sumberdaya alam yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat diperbaharui dengan tidak dapat diperbaharui.

Penggolongan lain sumberdaya alam yaitu dapat dilihat dari sudut penguasaan (property righ). Sumberdaya alam yang tidak dimiliki oleh perorangan (private property resources) dan sumberdaya milik umum (common property resources). Sumberdaya milik umum memiliki kecenderungan untuk segera habis atau punah karena adanya tragedi dari pemilikan secara bersama itu (tragedy of the common). Apabila seseorang tidak mengambil sumberdaya itu, maka orang lain yang akan mengambilnya sehingga daripada sumberdaya itu habis diambil oleh orang lain, maka setiap orang cenderung untuk segera mengambil saja dan hal ini jelas akan mempercepat deplesi. Pengertian deplesi disini adalah suatu cara pengambilan sumberdaya alam secara besar-besaran, yang biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan mentah.

keilmuan bioekonomi pada saat ini semakin pesat. Bioekonomi diterapkan dalam kajian pengelolaan sumberdaya hayati dengan memasukkan filosofi dan konsep ekonomi untuk optimalisasi benefit. Bidang perikanan termasuk bidang yang paling banyak menggunakan ilmu bioekonomi. Kompleksitas sumberdaya perikanan menyebabkan perlunya pengembangan model yang diperlukan sebagai pendekatan dalam pembuatan kebijakan, termasuk dengan menggunakan pendekatan bioekonomi.

Bioekonomi perikanan berasal dari tiga kata, yaitu biologi, ekonomi dan perikanan. Biologi atau biology berasal dari kata “bio” yang berarti kehidupan, dan kata “logos” yang dapat diartikan sebagai ilmu. Oleh karena itu, biologi secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu mengenai kehidupan mahkluk hayati, termasuk sumberdaya ikan. Sedangkan ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang langka dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya.

Istilah bioekonomi pada awalnya diperkenalkan oleh TI Baranoff, seorang teoretikus biologi laut asal Rusia, yang menamakan karya ilmiahnya dengan istilah bionomics atau bioeconomics meskipun dalam karya tersebut tidak banyak disinggung tentang faktor-faktor ekonomi. Selanjutnya Scott Gordon merupakan pionir dalam pengembangan bioekonomi. Scott Gordon adalah seorang ahli ekonomi dari Kanada. Gordon yang pertama kali menggunakan pendekatan ekonomi untuk menganalisis pengelolaan sumberdaya ikan yang optimal. Gordon menggunakan basis biologi yang diperkenalkan oleh Schaefer, yaitu konsep maximum sustainable yield atau MSY. Selanjutnya, istilah bioekonomi secara intensif dipergunakan oleh Collin Clark dan Gordon Munro.

Bioekonomi perikanan merupakan ilmu yang bersifat multi disiplin ilmu. Dalam bioekonomi, model dasarnya menggunakan teori dan konsep biologi yang selanjutnya dipadukan dengan konsep ekonomi. Pemakaian konsep ekonomi dimaksudkan untuk optimalisasi pemanfaatan sumberdaya hayati berdasarkan tinjauan ekonomi. Sedangkan bioekonomi perikanan merupakan aplikasi konsep bioekonomi pada bidang perikanan.

Konsep bioekonomi perikanan dikembangkan karena adanya kekhawatiran terjadinya the tragedy of the common atau tragedi kebersamaan pada sumberdaya perikanan. Apabila suatu sumberdaya menjadi ”milik bersama” atau tidak jelas kepemilikannya, dimana setiap pihak secara bebas dapat mengaksesnya, maka eksploitasi terhadap sumberdaya tersebut dikhawatirkan akan terlalu berlebihan.

Sumberdaya perikanan memang dikenal sebagai sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources). Namun, harus diingat bahwa daya pemulihan sumberdaya perikanan memiliki keterbatasan. Apabila pemanfaatan sumberdaya perikanan melebihi kemampuan daya pulih sumberdaya (regenerasi stok), maka stok sumberdaya ikan akan mengalami penurunan menuju kepunahan sumberdaya. Oleh karena itu, dikembangkan pendekatan maximum sustainable yield (MSY) atau tingkat tangkapan yang lestari. Pada level MSY, maka pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak mengganggu kelestarian sumberdaya, dimana jumlah ikan yang dipanen atau ditangkap pada batasan surplus produksi.

Kritik terhadap pendekatan MSY diantaranya karena belum memperhitungkan nilai ekonomi. Meskipun pendekatan MSY menghasilkan hasil tangkapan yang optimal dan lestari, namun oleh para ekonom dinilai masih belum optimal secara ekonomi. Oleh karena itu, pada perkembangannya ilmuwan dari biologi dan ekonomi banyak mengembangkan konsep bioekonomi dengan tujuan untuk mengupayakan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang optimal secara ekonomi dengan tetap memperhitungkan faktor kelestarian sumberdaya perikanan.

Oleh : Dona Wahyuning Laily

Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal

Pengembangan ekonomi lokal pada dasarnya adalah anti thesis terhadap pendekatan pembangunan nasional yang terkesan mengesampingkan keunggulan-keunggulan lokal dan kurang partisipatif. Lokalitas menjadi entry point, karena dianggap memiliki efek lebih besar dalam menyerap tenaga kerja sekaligus memberi nilai tambah lebih banyak dibandingkan dengan pembangunan korporasi internasional atau investasi dari luar.

Namun demikian, beberapa ahli masih menyangsikan dengan memberikan berbagai argumen (Bartik, 1991). Pertama, karena wilayah terlalu kecil, maka efek pertumbuhan bisa jadi kurang dirasakan apalagi hanya level kaupaten atau bahkan kecamatan. Kasus di Indonesia, malah bebeberapa banyak fokus ke desa dengan skala ekonomi yang tentunya jauh lebih kecil. Ahli pembangunan ekonomi menyangsikan model pembangunan ini karena dianggap lebih boros dalam operasional daripada kebijakan makro nasional.

        Kedua, meskipun kebijakan pembangunan ekonomi local berpeluang untuk melahirkan lapangan pekerjaan baru, kedatangan tenaga kerja dari luar tetap saja mengembalikan kesetimbangan sehingga masyarakat lokal tetap tidak bisa meninkmati. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi lokal kurang berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal dilihat dari konteks peningkatan pendapatan dari ketersediaan lapangan kerja. Kasus kontrak tenaga kerja dari luar yang terjadi di usaha hortikultura dataran tinggi di Batu dan Kawasan Bromo menunjukkan jika bahwa pasokan tenaga kerja kontrak merupakan substitusi tenaga kerja lokal, sehingga merekatidak mendapatkan peningkatan upah (Purnomo, 2013).

        Ketiga, meskipun satu wilayah mungkin mengalami peningkatan lapangan kerja tetapi secara nasional kondisinya tidak banyak berubah. Hal ini karena peningkatan tenaga kerja satu tempat pada dasarnya menambah pengangguran ditempat lain. Di bawah kondisi migrasi tenaga kerja yang intens, pembangunan ekonomi lokaltidak mampu memberikan dampak positif signifikan, sehingga pembangunan ekonomi lokal tidak dianjurkan sebagai satu-satunya strategi pembangunan.

Tetapi, dalam prakteknya pembangunan ekonomi lokal ternyata tidak hanya terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Kasus Indonesia, pengembangan ekonomi lokal menguat seiring penguatan otonomi daerah sehingga ada muatan politik didalamnya. Oleh karena itu, pendekatan pengembangan ekonomi local semata dari sisi penguatan ekonomi tentunya kurang relevan terutama untuk kasus-kasus negara sedang berkembang. Kebijakan pembangunan ekonomi lokal merupakan usaha-usaha