iklan

Pertanian Masyarakat Dayak Ngaju

Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara tradisional. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut yang masih tradisional atau kearifan lokal disebut sistem handel. Pengelolaan lahan gambut dengan kearifan lokal handel sudah sejak dulu diterapkan oleh masyarakat. Sistem handel yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara berkelompok di satu hamparan lahan yang luas ± 20 ha pada satu sungai kecil.

Berdasarkan hal tersebut ada beberapa aturan adat yang diterapkan dalam melakukan sistem handel sebagai berikut:

  1. Struktur organisasi handel, yaitu ketua, wakil ketua, bendahara, kepala padang dan anggota.
  2. Dilakukan secara bergotong royong
  3. Semua kegiatan harus dilakukan dengan cara barunding dalam menentukan semua kegiatan.
  4. Penyiapan lahan dengan pembakaran harus dengan terkendali yaitu dengan membuat sekat bakar berupa parit atau membersihkan kayu, rumput dan dedaunan sekeliling lahan selebar 3-6 meter.
  5. Pemberian hukuman jipen jika terjadi pelanggaran aturan adat.

Sistem handel yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara berkelompok di satu hamparan lahan yang luas pada satu sungai kecil. Satu hamparan lahan yang luas diketuai oleh ketua handel. Ketua handel dibantu oleh wakil ketua handel, bendahara, dan kepala padang. Ketua handel adalah orang yang bertugas memimpin dari satu hamparan lahan tersebut. Wakil ketua handel membantu ketua handel. Bendahara handel berfungsi sebagai orang yang menyimpan uang dalam kegiatan penyiapan lahan. Kepala padang berfungsi sebagai orang yang mengatur dalam pembagian lahan dan yang bertanggungjawab jika terjadi perselisihan antar anggota.

Satu handel atau satu hamparan luas pada sungai kecil tersebut dibagi menjadi beberapa lahan yang akan dikelola oleh masing-masing anggota. Luas lahan masing-masing anggota berkisar antara 0.5 ̶ 2 Ha. Luas atau tidaknya lahan yang akan digarap bergantung pada kesanggupan anggota tersebut dalam mengelola lahan tersebut. Berladang dilakukan secara bergotong royong mulai dari persiapan dalam pemilihan ladang sampai dengan pemanenan.

Masyarakat Dayak Ngaju melakukan barunding dalam menentukan semua kegiatan. Barunding merupakan musyawarah yang dilakukan oleh semua anggota handel. Sebelum kegiatan penebasan dan penebangan seluruh anggota barunding untuk menentukan waktunya. Tahapan dalam pengelolaan lahan gambut yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju adalah sebagai berikut: 1) pemilihan tempat yang akan dijadikan ladang, 2) ritual adat, 3) penebasan dan penebangan, 4) pembakaran, 5) penanaman, 6) pemanenan. Semua kegiatan dalam pengelolaan lahan gambut mulai dari pemilihan tempat lahan sampai dengan pemanenan hasil diatur menggunakan sistem handel.

Pada zaman dahulu masyarakat adat Dayak Ngaju memilih lahan yang cocok untuk dijadikan ladang berdasarkan dua faktor yaitu jenis tumbuhan yang ada di lahan tersebut dan jenis tanah (kondisi tanah). Ciri-ciri lahan yang cocok dijadikan untuk ladang adalah banyak tumbuh tanaman mahang (Macanga sp), dahamen (Calamus manna), hanau, suli, sempur (Dillenia sp.), kalakai (Stenochalaena palustris), pawah, kayu kambasirak (Ilex cymosa), kalanduyung. Jenis tanah yang dipilih oleh masyarakat adat Dayak Ngaju untuk dijadikan lahan pertanian untuk tanaman padi gunung adalah tanah tinggi. Tanah tinggi yang dimaksud oleh masyarakat adalah tanah yang tidak tergenang oleh air. Menurut masyarakat tanah geleget atau tanah yang tergenang air (gambut) tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian untuk menanam padi gunung.

Jenis lahan yang akan dijadikan ladang oleh masyarakat yaitu lahan yang masih berupa hutan dan lahan yang sudah pernah dibuka untuk dijadikan ladang. Jenis lahan sangat penting untuk dilaporkan atau diberitahukan pada saat rapat atau koordinasi supaya dapat menentukan jadwal yang tepat dalam melakukan penyiapan lahan. Pembukaan hutan yang akan dijadikan lahan untuk bertani disebut mahimba. Pembukaan lahan bekas pertanian tahun sebelumnya yang akan dijadikan lahan untuk bertani disebut bahu rambung.

Pemilihan lahan bahu rambung yang sesuai untuk dijadikan lahan jika lahan tersebut ditumbuhi oleh banyak vegetasi dan tingginya minimal 2 meter. Lahan bahu rambung akan digarap untuk tanaman padi, jika lahan masih sedikit ditumbuhi rumput dan rumput tersebut masih dapat dikendalikan. Pada saat ini masyarakat masih tetap memilih lahan yang akan dijadikan ladang dengan cara melihat jenis tanaman yang ada di lahan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, masyarakat masih melakukan pemilihan lahan yang dijadikan untuk ladang dengan cara melihat jenis tumbuhan yang tumbuh di lahan atau melihat kepadatan jenis pohon atau vegetasi lainnya.

Pemilihan lahan yang akan dijadikan lahan oleh masyarakat dilakukan dengan melihat kondisi tegakan atau jenis tumbuhan yang tumbuh di lahan tersebut sebelum dilakukan pembukaan lahan. Lahan yang bagus untuk dijadikan ladang adalah lahan yang ada pepohonannya (sebelah kiri). Lahan tersebut sudah ditinggalkan atau dibiarkan selama lima tahun. sedangkan lahan tersebut tidak cocok untuk dijadikan ladang adalah ladang yang vegetasinya tidak rapat dan banyak tumbuh rumput (pawah) dan alang-alang dan sulit untuk dikendalikan. Masyarakat tidak memilih lahan tersebut karena hasil yang didapatkan akan kurang bagus jika tetap membakar lahan yang banyak pawah dan ilalang karena pupuk yang berasal dari tutupan lahan (vegetasi) sangat sedikit. Jenis vegetasi yang terdapat dilahan yang akan dijadikan ladang yaitu mahang (Macaranga sp), sempur (Dillenia sp.), pawah, kayu basirak, galam (Melaleuca leucadendron), mahambung, tumih (Combretocarpus rotundatus Miq), kalawit, dahamen (Calamus manna), hanau, suli, kalakai (Stenochalaena palustris), pawah, kayu kambasirak (Ilex cymosa), kalanduyung.

E Hadiwijoyo