iklan

Ingat Ayam, Ingat Gading Farm

“Gading Farm” nama ini diambil oleh sang Owner ADE Ahmad Rifai dari nama tempat pertama kali memulai usaha peternakan ayam broiler. Usaha ini dimulai pada tahun 2003 dengan memelihara ayam broiler sebanyak 500 ekor. Selama 3 tahun  populasi semakin bertmabah dan pada tahun 2006 populasi ayam sudah  mencapai 60.000 ekor.

Kendala mulai muncul seiring dengan makin ekpansifnya perusahan besar masuk ke lini on farm. Mereka bisa mengontrol harga pasar dengan memainkan stok ayam hidup. Harga bisa dimainkan sesuai dengan banyak-sedikitnya stok  mereka. Secara permodalan perusahaan lebih besar dalam menggelontorkan untuk program kemitraan.

Melihat kondisi seperti ini mau tidak mau harus kompromi, kandang kandang yang  dimiliki Mas Ade mulai dikerjasamakan (inti plasma) dengan perusahan besar. Semua kebutuhan sapronak disediakan termasuk harga jual live bird mereka tentukan. Sebagai peternak nyaris tidak punya kuasa apapun terhadap pengembangan usaha.

Dibalik kegagahan dan keperkasaan perusahaan besar, ternyata mereka juga punya kelemahan dalam hal penjualan ayam hidup. Sehingga ini menjadi peluang untuk masuk di lini penjualan dan rumah potong ayam. Awal 2007 ‘’Gading Farm’’ mulai ikut bermain di wilayah penjualan dan rumah potong ayam.

Berbekal sisa uang tabungan dengan memanfaatkan gudang bekas pakan Mas Ade merubah menjadi (RPA) rumah potong ayam sederhana dan menjual hasilnya ke pasar tradisional.

Dari RPA yang sederhana, saat ini ‘’Gading Farm’’ sudah memiliki 3 RPA di wilayah Bogor. RPA Lewiliang Bogor Barat, RPA Tanah Baru Kota Bogor lokasinya disamping Golf Bogor Raya dan RPA Bojong Gede wilayah pemasaran Depok Cibinong dan sebagian Jakarta Selatan.

Untuk penjualan harian rata rata  7000-10.000 ekor atau sekitar 15-20 ton ayam hidup. Semua ayam tersebut dipasok dari daerah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Bandar Lampung. Harapan dari Owner semoga kedepan bisa menghasilkan Daging Ayam kemasan bumbu yang siap goring. Karena pasarnya sangat menjanjikan baik di sector rumah makan, stok pasar modern maupun asrama pendidikan.

Peluang Bibit Ayam Lokal

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.

Peternakan ayam saat ini mengalami perkembangan yang sangat tinggi khususnya ayam pedaging. Selain ayam broiler, ayam kampung menjadi primadona bagi konsumen daging ayam karena memiliki cita rasa enak dan kandungan lemak lebih sedikit dari pada ayam ras (bloiler). Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa usaha peternakan ayam kampung sangat prospektif dilihat dari pasar dalam negeri. Ayam kampung memiliki produktifitas yang lebih rendah dibanding ayam broiler karena pertumbuhan lama (alami).

Ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari untuk bisa dipanen, sedangkan ayam kampung secara alami membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk bisa dipanen dengan bobot 1,3-1,6 kg. Hal tersebut tidak membuat permintaan akan daging ayam kampung menurun. Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi, terlihat dari pertumbuhan populasi dan permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (Bakrie et al.,2003).

Peningkatan produksi ayam kampung dari tahun ke tahun cukup pesat, dimana pada tahun 2005 – 2010 terjadi peningkatan sebanyak 4,5 % dan pada tahun 2010 – 2015 konsumsi ayam kampung dari 1,49 juta ton meningkat menjadi 1,52 juta ton (Aman, 2015).

Berbeda dengan bibit ayam ras pedaging (broiler) maupun petelur (layer) yang bibitnya masih tergantung pada impor (Great Grand Parent).  Menghasilkan bibit ayam lokal adalah peluang usaha yang masih terbuka luas karena masih jarang yang berusaha secara serius seperti halnya dengan pada ayam ras. Pengembangan usaha Ayam lokal mudah diterapkan oleh petani kecil karena ini mempunyai ketahanan terhadap iklim tropik dan tahan penyakit, serta dapat dikembangkan pada lahan pekarangan terbatas secara semi intensif. Banyak kelompok peternak yang ingin membudidayakan ayam lokal namun kesulitan dalam mendapatkan DOC yang berkualitas dan memilki produktifitas tinggi.

Permintaan yang tinggi terhadap ayam lokal  tidak mampu diimbangi oleh perbanyakan (pembibitan) sehingga sering terjadi pembeli memperoleh ayam lokal yang sudah tidak murni, karena konsumen umumnya tidak mengetahui karakteristik ayam  murni. Di samping merugikan konsumen, kondisi ini dikhawatirkan telah menguras keberadaan populasi yang dapat berakibat pada kepunahan (Natamijaya,2005). Kebutuhan daging ayam kampung ini belum disikapi oleh peternak pembibit, karena usaha penetasan yang ditekuni sudah memberikan keuntungan dan usaha pembibitan membutuhkan pencatatan yang rumit.