iklan

Pengembangan Umbi Porang Sebagai Produk Pangan Alternatif

Indonesia menghadapi masalah serius terkait produksi pangan nasional. Berdasarkan data BPS , saat ini alih fungsi lahan di tanah air mencapai luasan 110 ribu ha. Pengurangan itu terlihat dari perbandingan luas bahan baku tahun 2002 yang masih mencapai 7.748.840 ha dan tahun 2011 yang tinggal 6.758.840 ha. Apabila tidak ada penambahan lahan pertanian tanaman pangan , khususnya padi, maka jumlah panen tidak akan meningkat. Sedangkan jumlah penduduk naik 1,4% jumlah penduduk tahun 2010 baru mencapai 237 juta jiwa dan 341 juta jiwa  pada tahun 2011. Tak heran, jika sebelum tahun 2030 Indonesia akan kekurangan pangan. Karena terkonversinya lahan pertanian menjadi perumahan dan alih fungsinya lainnya, menyebabkan luas panen per kapita Indonesia dua kali lipat lebih kecil dari Vietnam dan tiga kali lipat dibanding Thailand (Nunung, 2011). Disamping itu terdapat kenyataan bahwa, kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, selain adanya masyarakat yang semula mengkonsumsi non beras ke beras. Dengan demikian untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternative. Salah satu yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah porang. Porang (Amorphophallus oncophyllus) merupakan tanaman lokal yang dikembangkan di Indonesia yang masuk dalam family Araceae dan merupakan tumbuhan semak (herba) yang berumbi di dalam tanah dan menghasilkan karbohidrat.  Tanaman porang tumbuh berupa semak dengan tinggi 100-150 cm, berbatang halus, tangkai dan daunnya berwarna hijau tua bergaris-garis dengan bercak putih.  Tanaman porang merupakan tanaman lorong diantara tanaman tahunan, sehingga lebih menyukai lingkungan dengan tingkat naungan tinggi dan kelembaban cukup. Umbi Porang merupakan salah satu kekayaan alam yang tidak banyak dikenal dan digunakan sebagai bahan pangan lokal yang banyak tumbuh di lahan hutan di Jawa Timur. Menurut BPS (2012) potensi porang dalam bentuk umbi yang dihasilkan oleh hutan di Jawa Timur baru sekitar 2.129.919,5 kg.  Umbi basah dengan luasan 7.006 ha dan rendemen 20% maka produksi chip masih sekitar 600 kg- 1000 ton chip. Sedang kebutuhan industri sedemikian besar . Oleh sebab itu perluasan tanaman porang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri sekitar 3.400 ton chip.  Potensi  porang di hutan Jatim masih sekitar 2000 ha versi LMDH. Porang ditanam oleh petani masyarakat desa hutan secara tumpang sari dengan pohon jati sebagai tanaman pokok.  Para petani tersebut tergabung dalam badan hukum yang disebut Lembaga Masyarakat Hutan Desa (LMDH) atau masyarakat pengelola sumber daya hutan (MPSDH), pengembangan tanaman porang di Jatim dilakukan di 13 kesatuan pengelolaan hutan (KPH).

Manfaat Tanaman Porang

Porang merupakan jenis tanaman umbi yang mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Selain mudah didapatkan, tanaman ini juga mampu menghasilkan karbohidrat dan tingkatan panen tinggi. Umbinya besar mencapai 5 kg, cita rasanya netral sehingga mudah dipadu padankan dengan beragam bahan sebagai bahan baku kue tradisional dan modern. Sayangnya umbi ini semakin tidak diminati dan bahkan mulai langka. Padahal porang sangat potensial sebagai bahan pangan sumber karbohidrat. Porang dapat digunakan sebagai bahan lem, agar-agar, mi, tahu, kosmetik dan roti.Tepung porang dapat dipakai sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk menekan peningkatkan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional hipoglikemik dan hipokolesterolemik. Tanaman Porang sebagai serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Di Filipina umbi porang sering ditepungkan mengganti kedudukan terigu dan biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan roti. Di Jepang, umbi-umbian sekerabat porang telah banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, misalnya bahan pembuatan mi instan. Hampi sama dengan tepung terigu, umbi porang memiliki kandungan glukomanan yang memiliki fungsi sebagai pengenyal, pembentuk tekstur dan pengental makanan. Umbi porang masih dijual dalam bentuk chips (irisan kering dan tipis dari umbi porang) ke Jepang sebagai bahan utama dari produk tepung konjac. Glukomanan adalah polisakarida dalam famili mannan. Glukomanan terdiri dari monomer β-1,4 α-mannose dan α-glukosa. Glukomanan yang terkandung dalam umbi iles – iles dan porang mempunyai sifat yaitu dapat memperkuat gel, memperbaiki tekstur, mengentalkan, dan lain sebagainya (M.Alonso Sande,dkk  2008). Saat ini, umbi porang belum dimanfaatkan oleh industri di Indonesia atau masyarakat secara luas sebagai bahan tambahan atau fungsional produk makanan. Hal ini disebabkan masyarakat belum dapat mengolah umbi porang tersebut menjadi bahan pangan yang praktis untuk dimakan. Begitu juga pada industri makanan di Indonesia. Sebaliknya industri yang memanfaatkan glukomanan sebagai bahan baku atau bahan tambahan justru mengimpor tepung glukomanan (konjac flour) dari Jepang.  Mempertimbangkan kondisi tersebut, penggunaan tepung glukomanan dari umbi porang sebagai bahan baku utama produk mie rendah kalori yang merupakan salah satu produk pangan alternatif dinilai sangat potensial sebagai solusi dalam melepaskan ketergantungan Indonesia akan gandum dan tepung terigu impor secara perlahan dalam produksi mie. Di Indonesia tanaman Porang dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya disebut acung atau acoan oray (Sunda), Kajrong (Nganjuk) dll. Banyak jenis tanaman yang sangat mirip dengan Porang yaitu diantaranya: Suweg, Iles-iles dan Walur.

Pengembangan Porang di Perum Perhutani

Karena banyaknya manfaat yang dikandung, Perhutani selaku pengelola hutan bekerjasama dengan para petani desa di sekitar hutan untuk mengembangkan sela-sela tegakan pohon jati yang ditujukan untuk budidaya porang. Disamping itu hutan jati yang dikelola Perhutani dipanen dalam jangka waktu yang lama yaitu lebih dari 15 tahun. Dengan demikian pengembangkan tanaman sela “Porang” diantara tegakan kayu karena ada simbiose yang saling menguntungkan bagi tanaman. Di Jawa pengembangan porang telah dimulai di Jawa Timur seperti di Madiun, Nganjuk, Jember, Kediri Ngawi dll dan telah dilaksanakan di dalam kawasan hutan perumahan Perhutani Unit II Jawa Timur seluas 1605,3 ha, yang meliputi beberapa wilayah KPH sebagai berikut: Jember seluas 121,3 ha,  Nganjuk seluas  759,8 ha, Padangan seluas 3,9 ha, Saradan seluas 615,0 ha, Bojonegoro seluas 35,3 ha, dan Madiun 70,0  ha (Anonymous, 2012).

Dari ke enam  kabupaten penghasil porang diatas, yang cukup besar menghasilkan porang adalah Bojonegoro dan Saradan. Hasil informasi dari  produksi di Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Saradan, Kabupaten Madiun pada tahun 2013 mencapai 925.368,5 kg dan menyerap tenaga kerja 2.365 orang. Budidaya tersebut tersebar di tiga wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) yaitu BKPH Pajaran, BKPH Kedungbrubus, dan BKPH Tulung dengan total luas lahan mencapai 1.015,5 Ha (Alfiyani, 2013).     Sejak tahun 2001, di Desa Klangon mulai dirintis pelaksanaan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) dan tahun 2005 penandatanganan perjanjian kerjasama PHBM dilaksanakan antara Perhutani KPH Saradan dengan LMDH Pandan di hadapan Notaris. Sejak saat itu, objek kerjasamanya meliputi seluruh aspek kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan, mulai dari perencanaan, persemaian, tanaman, pemeliharaan, keamanan, produksi dan pemasaran hasil hutan, serta kegiatan agribisnis antara lain penanaman Porang, Jagung dan Empon-empon. Menurut Dr Niniek Fajar P Meng (2013), sebagian besar penduduk di Saradan adalah petani Porang. Akan tetapi, mereka tidak bisa meningkatkan nilai jual porang tersebut. ”Petani lebih suka menjual  Porang hasil panen kepada tengkulak,” Apabila dijual kepada tengkulak hanya dihargai Rp 2.000 per kilogram. Padahal apabila diolah menjadi chip harganya bisa sampai Rp 30.000 per kilogram. ”Tanaman Porang tersebut mempunyai senyawa Glukomanan, sehingga apabila dioalah menjadi tepung harganya bisa mencapai Rp 300 ribu-500 ribu per kilogram,” tuturnya. Akan tetapi, Porang tersebut lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah ke Jepang, China, Korea, dan Taiwan daripada diolah terlebih dahulu.

Disamping itu,  Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur pada tanggal 23 April 2014  di Hotel Arya Malang telah memfasilitasi pembinaan kepada 50 orang petani porang di Kabupaten Malang melalui program APP (Anti Proverty Program) ta. 2014 melalui sosialisasi kebijakan pengembangan usaha porang dan pelatihan budidayanya yang ditindak lanjuti dengan kunjungan ke industri pengolahan porang di Kediri.

Menurut Bambang (2013), pengembangan tanaman porang ke depan sangat menjanjikan. Meskipun, ia mengakui membudidayakan porang membutuhkan investasi awal yang tinggi. Namun porang berbiaya rendah pasca panen di tahun ketiga. “Porang hanya ditanam sekali namun bisa diproduksi terus menurus. Investasi awal cukup mahal, karena perlu tanah yang agak gembur. Butuh Rp 15,4 juta per ha di tahun pertama, tahun kedua butuh Rp 6,29 juta, dan tahun ketiga Rp 10,07 juta,” paparnya. Disamping itu Budidaya porang dikembangkan oleh Perum Perhutani (Persero) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah seluas 1.200 haktare (ha) akan menggunakan sistem bagi hasil dengan petani. Untuk persentasenya minimal 50:50. Persentase bagi hasil tersebut atas pertimbangan biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Porang rencananya akan ditanam di bawah tegakan. Bagi hasil diterapkan minimal 50:50, karena Perhutani juga butuh untuk balik modal.

Sebagai informasi bahwa porang adalah jenis umbi-umbian yang di Kab. Malang ternyata dapat hidup baik dibawah tegakan hutan (tidak banyak membutuhkan sinar matahari) terutama dibawah tegakan jati dengan kondisi tanah yang liat atau berkapur. Saat ini telah dikembangkan pada 10 desa di Kab. Malang dimana porang tersebut umumnya dijual basah ke Blitar, Kediri, dll yang informasinya diekspor untuk berbagai jenis produk (obat-obatan, kosmetik, dll) yang saat ini permintaannya cenderung meningkat.

Pengembangan Tanaman Porang Sebagai Sumber Pangan Alternatif

Sebagai upaya pengembangan tanaman porang sebagai sumber pangan alternatif telah banyak dilakukan penelitian – penelitian. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman porang selama ini melalui 2 metode yaitu secara vegetatif menggunakan umbi batang, bagian umbi batang, umbi daun, dan bagian umbi.  Sedangkan secara generatif melalui biji.  Waktu yang diperlukan untuk menjadikan bibit siap panen butuh waktu cukup lama antara 4-6 bulan (Sumarwoto, 2005; Ambarwati dkk, 2000), Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan adanya alternatif perbanyakan lain yang memungkinkan tanaman porang dikembangkan dalam waktu lebih singkat. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan teknik in vitro karena memungkinkan menghasilkan dalam jumlah besar. Hasil penelitian Dwi Suheriyanto et al. (2012) bahwa tanaman porang unggul dihasilkan dari kultur jaringan dengan menggunakan MS yang ditambah hormon BAP 1,5 mg/liter untuk meningkatkan jumlah tunas, tinggi kuncup daun dan jumlah anak daun.  Untuk peningkatan kualitas umbi porang juga terdapat hasil penelitian Dwi harjoko et al., 2011 yang menyimpulkan bahwa  tanaman porang di daerah Hutan Bromo Karanganyar, Jumantono, Saradan dan Nganjuk mempunyai bentuk habitus, daun, batang, akar dan warna umbi yang sama, kemudian diketahui pula bahwa kandungan glukomanan dan pati umbi porang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik tanah (N total, K tertukar, C organik, bahan organik, pH dan C/N rasio), iklim mikro dan tehnik budidaya. (4) Kandungan glukomanan dan pati tertinggi terdapat pada umbi porang dari Saradan, sedangkan terendah dari daerah Hutan Bromo Karanganyar. Ditambahkan pula oleh hasil penelitian Serafinah et al (2010) bahwa dari 5 lokasi Agroforestry yaitu Desa Klangon Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun, Desa Klino Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro, Desa Bendoasri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk dan Desa Kalirejo Keacamatan Kalipare Kabupaten Malang diperoleh kandungan oksalat tertinggi berasal dari desa Klino Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro,sedangkan terendah berasal dari desa Bendoasri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Sedangkan variabel iklim yang memiliki korelasi positif dengan kandungan oksalat umbi porang adalah indikator suhu dan curah hujan, variabel vegetasi mempunyai korelasi positif dengan kandungan oksalat adalah indikator persentase penutupan gulma.

Oleh: Evy Latifah