iklan

Kebutuhan Air Dibalik Perambahan Hutan di Taman Suaka Alam Mangolo

(Studi Kasus Penurunan Debit Aliran Air Permukaan di Kelurahan Sakuli, Sulawesi Tenggara)

Kondisi Georafis dan Sosial Ekonomi

Kelurahan Sakuli terletak di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, Sebelah barat Kelurahan Sakuli berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Mowewe, Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Samaturu, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kolaka. Secara geografis 70% wilayah Kelurahan Sakuli adalah Perbukitan yang memepunyai kelerengan antara 10% – 40%. Kelurahan Sakuli berpotongan dengan DAS (Daerah Aliran Sungai) Sakuli di Sebelah barat dan berbatasan dengan Taman Suaka Alam Mangolo yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.

Data BPS Tahun 2016 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kelurahan Sakuli 2.413 jiwa, Laki-laki sebanyak 1.134 jiwa dan perempuan sebanyak 2.413 Jiwa, suku yang bermukim di wilayah ini 80% suku  Tolaki, dan 20% campuran Bugis, Makasar dan Jawa. Sebagaian besar penduduk berprofesi sebagai petani Cengkeh, Kakau dan lada.

Jumlah komoditas perkebunan yang di dapat dari hasil kajian dasar (base line study) kegiatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat MCA Indonesia, dari data pemilik kebun sebanyak 212 Kepala Keluarga. Berdsarkan hasil kajian tersebut cengkeh merupakan komoditas unggulan terbesar di susul oleh komoditas kakao dan lada. Harga cengkeh mencapai 100 sampai 130 ribu per kilogram pada tahun 2017. Cengkeh merupakan salah satu komoditi favorit masyarakat Kelurahan Sakuli.  Berdasarkan informasi masyarakat bahwa perpohon cengkeh menghasilkan 10- 15 kg per tahun, sehingga dapat di simpulkan bahwa pendapatan petani cengkeh yang berada di kelurahan sakuli mencapai  Rp. 11,692,200,000.00 pertahun. Komoditas Kakao atau coklat menghasilkan 15 kg coklat kering per tahun, dengan harga mencapai Rp 35.000.00 per kilogram per tahun menghasilkan  Rp.  1,548,225,000.00 per tahun, sedangkan komuditas lada sebanyak dengan harga Rp. 100.000.00 per kilogram menghasilkan 2 kg per tahun, sehinga dihasilkan pendapatan Kelurahan Sakuli dari komoditas lada sebanyak  Rp. 240,200,000.00 per tahun.

Kebutuhan Akan Lahan

Potensi ekonomi yang sangat besar dari komditas cengkeh, kakao dan lada di Kelurahan sakuli mendorong masyarakat dari luar untuk tinggal di Kelurahan Sakuli dan membuka lahan yang akan di jadikan perkebunan di kawasan hutan. Kebutuhan akan lahan dan perkebunan dalam upaya mencapai kebutuhan ekonomi mengakibatkan masayarakat mulai merabah hutan. Perambahan ini mengakibatkan peningkatan laju deforestasi sehingga mengakbiatkan penurnan kulaitas lingkungan dan berkurangnya debit air.

Data foto udara Landsat 8, 23 Januari 2016 (USGS)

Peta di atas menunjukkan gambar pengolahan foto udara Landsat 8 tanggal 23 Januari 2016, menggunakan normal bend yang di overly oleh peta fungsi hutan. Terlihat bahwa hutan produksi di sekitar Kelurahan Sakuli sudah sudah terkonfersi menjadi perkebunan masyarakat, dan saat ini mulai memasuki wilayah TWA (Taman Wisata Alam) Mangolo. Berdasarkan fungsinya bahwa TWA (Taman Wisata Alam) Poluloa, ditetapkan sebagai area yang melindungi flora fauna endemic, selain itu hutan sebagai salah satu penyimpan air tanah dan air permukaan yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam kebutuhan perkebunana dan kebuthan masyarakat sehari-hari

Penurunan Kualitas Lingkungan dan Stock Air

Banyak kajian yang menyatakan bahwa salah satu fungsi hutan sebagai tempat penyimpanan air, dan mengurangi polusi dari pencemaran udara selain sebagai tempat perlindungan flora dan fauna endemic .Penurunan kualitas lingkungan dan berkurangnya stock air diakibatkan perambahan hutan di Kelurahan sakuli telah terjadi, bahwa masyarakat Sakuli kekurangan air untuk melakukan perawatan tanaman perkebunannya.


Di Kelurahan Sakuli ada beberapa masyarakat yang memanfaatkan mata air di dalam hutan untuk memenuhi kebutuhan perkebunanya. Perambahan hutan mengakibatkan sumber-sumber air yang di jadikan sebagai suplay air masyarakat menjadi berkurang, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan air tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan air masayarakat di Kelurhan Sakuli, mencari sumber air alternative, yang ditemukan di wilayah TWA (Taman Wisata Alam Mangolo).

Gambar Jalur Alternatif Suply Air Dari Kawasan TWA Mangolo Ke Kebun Masyarakat.

Sumber air alternatife yang di temukan oleh masyarakat berada di tengah kawasan TWA (Taman Wisata Alam) Mangolo.  Untuk melakukan suplay air dari kawasan TWA Mangolo membutuhkan jarak 4617.8 meter dengan jarak datar dan debit aliran permukaan mencapai 1 Liter per detik, perlu dibuat rancangan detail atau Detail engineering Design untuk memastikan jarak yang ada. Namun demikian sumber air yang berada di kawasan TWA (Taman Wisata Alam) Mangolo memerlukan izin dari BKSDA untuk melakukan pengambilan air, sehingga terjadi kerjasama antara masyarakat dengan BKSDA terkait penjagaan terhadap perambahan hutan dimana mengacu pada Permenhut P.64 Tahun 2013 tentang pemanfaatan air dan energi air di suwakamarga satwa, taman nasional, dan taman wisata alam.

Kajian Dasar Kebutuhan Air Tanaman.

Kebutuhan air tanaman yang di suplay dari Taman Wisata Alam (TWA) Poluloa, dapat dilakukan dengan pendekatan tingkat populasi tanaman yang ada di Kelurahan Sakuil Dari Total populasi tanaman yang ada di kelurahan sakuli sebeanyak 31.024 pohon. Apabila kebutuhan tanaman perkebunan sebanyak 0,5 liter per pohon maka dibutuhkan tempat penampungan air sebanyak 15.512 Liter atau 15,512 M3>.  Hasil surve yang dilakukan di kawasan TWA (Taman Wisata Alam) di Kelurahan sakuli didapatkan debit aliran permukan sebesar 1 Liter per detik, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kebutuhan tanaman sebanyak 4,308 Jam.  Beda tinggi yang berada di tempat alternative menuju lahan masyarakat sebear 200 meter sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan pengambilan air di titik tersebut.

Kesimpulan.

Hasil survei yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa berkurangnya debit aliran permukaan yang telah di lakukan penarikan air untuk kebutuhan masyarakat berkurang. Penurunan debit aliran permukaan di lokasi pengambilan air masyarakat kelurahan sakuli di sebabkan karena perambahan hutan yang cukup tinggi. Sehingga perlu di lakukan sumber air alternative di kawasan TWA Mangolo. Penarikan pipa di kawasan TWA Mangolo harus mengacu pada Permen Hut P.64 Tahun 2013 tentang pemanfaatan air dan energi air di Suakamarga Satwa, Taman Nasional dan Taman Wisata Alam.

M. Fachrudin