iklan

Refleksi Program Magister Agribisnis Universitas Brawijaya

Universitas Brawijaya membuka Program Magister Agribisnis

Universitas Brawijaya membuka Program Magister Agribisnis melalui proses pengusulan program studi baru secara online. Penyusunan proposal atau usulan pembukaan program studi ini sudah dimulai sejak tahun 2009 oleh tim penyusun atau pendiri dengan Ketua adalah Prof. Ir. Ratya Anindita, MS., Ph.D, Wakil Ketua adalah Dr. Ir. Suhartini, MP., dan anggota terdiri dari Ir. Agustina Shinta HW , MP., Nur Baladina, SP., MP, Wisynu Ari Gutama, SP., MMA dan Riyanti Isaskar, SP., M.Si.  Pada awalnya Program Studi yang diusulkan adalah MMA (Magister Manajemen Agribisnis) secara off line, namun setelah proses pengusulan secara online maka yang diberikan oleh Dikti adalah S2 Agribisnis yang berada di bawah Fakultas Pertanian, sesuai dengan nomenklatur yang ada di Dikti. Proses penyusunan proposal dan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pengusulan program studi dengan sistem online ini dilakukan oleh tim mulai tahun 2010, melalui proses yang panjang. Akhirnya berhasil mendapatkan ijin operasional dengan SK Mendikbud No. 595/E/O/2014. Dengan keluarnya izin tersebut, maka pengelolaan Program Magister Agribisnis dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Program Studi Magister Agribisnis ini di rancang sesuai yang diusulkan dalam proposal pengusulan mempunyai visi: Menjadi Program Pendidikan S2 Agribisnis yang unggul di tingkat nasional dan internasional yang berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan agribisnis yang berkelanjutan yang berbasis potensi lokal dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program studi ini dirancang dengan membuka 2 minat studi yaitu Manajemen Agribisnis dan Perencanaan Pembangunan Agribisnis. Seperti dituliskan dalam usulan program studi ke Dikti, Program Magister Agribisnis merupakan integrasi semua laboratorium di Jurusan Sosial Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya pada saat itu yaitu Lab. Ekonomi Pertanian, Lab. Manajemen Agribisnis dan Lab. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yang membedakan dengan program studi serupa di universitas lain sesuai yang dituliskan dalam proposal pendirian adalah pembangunan yang berorientasi pada masyarakat lokal (local development) termasuk UMKM.

Pebisnis agri, kini.

Teknologi membuat dunia berubah sangat cepat, semua sektor bisnis terimbas, tak terkecuali bisnis sektor pertanian.  Saya alumni Fakultas Pertanian yang cukup lama menjauh dari bidang studi saya.  Setengah tahun terakhir, saya kembali tersambung dengan para sahabat aktivis sektor pertanian.  Mereka masing-masing sudah memiliki domain bisnis, mulai dari tanam menanam komoditas pertanian, beternak sapi, kambing, domba, lele dan aneka hidupan lain, membuat produk olahan pertanian dan peternakan, memproduksi sarana pertanian, pupuk, obat-obat pertanian dan sejenisnya.  Mereka masing-masing bertumbuh menjadi ahli di bidang usahanya masing-masing.

Saya tidak memiliki pengalaman apapun yang bersentuhan dengan bidang pertanian dan peternakan.  Pengalaman saya bercocok tanam, sebatas masa lalu di lahan praktikum dan beberapa tetumbuhan pot di rumah.  Selepas kuliah, pengalaman saya lebih banyak bersentuhan dengan bisnis ritel, komunitas belajar bisnis, komunitas Usaha Kecil Menengah (UKM), website, ecommerce dan start-up.   Selain dari saya pernah bekerja sebagai wartawan, bekerja di konsultan Public Relations dan Penulis di sebuah organisasi non pemerintah nir laba.

Sehingga, saat saya terhubung dengan teman-teman pelaku bisnis sektor agri, dan aktif berdiskusi di komunitas Incagri.  Saya serupa tamu, yang melihat sektor pertanian dan pelakunya dari luar.  Saya memiliki sudut pandang yang berbeda, dari teman-teman yang berkecimpung di dunia agri.

Ada yang harus diubah – mindset kita.

Teman saya si pegiat peternakan sapi dan pemilik rumah potong, sibuk memikirkan naik turunnya harga daging, produksi susu dan semua hal terkait seluk beluk usaha ternaknya.  Teman lain,  si peternak kambing, sibuk mendampingi para peternak kambing, sambil bingung bagaimana mendapatkan pasar bagi usaha kambingnya.  Katanya, kebutuhan kambing tinggi, tapi harga jual kambing tidak pernah tinggi.  Kesulitan cari pembeli, kambing yang sudah digemukkan dengan susah payah, ditawar dengan harga murah.

Disebelah sana, Teman yang berkebun bunga Krisan, perlu modal untuk memperluas lahan. Sambil masih meraba-raba, kemana arah pemasaran hasil panen krisan-nya kelak, apalagi jika melimpah.  Dijual sebagai bunga potong, harganya murah, mau dipasok ke industri, jumlah panennya belum mencukupi kuota.  Kawan yang lain, menawarkan gagasan berkebun kelapa pandan wangi, konon ini jenis kelapa yang paling enak untuk sajian welcome drink.  Gagasannya menguap di udara, tidak tersambut. Teman lain lagi, menawarkan investasi berkebun sorghum.  Teman pegiat hidroponik, ingin mengembangkan usahanya.  Teman satunya lagi lagi, memproduksi olahan susu, memproduksi bawang goreng dalam kemasan, kopi hijau siap seduh dan lain-lain. Kemana produk akan dipasarkan ?

Sebagian teman lain, berhasil berinovasi menemukan produk-produk sarana pertanian organik.  Penyubur tanah, penyehat tanaman dan pembasmi hama penyakit yang sangat ramah lingkungan.  Tapi terkendala perijinan, perlu uang untuk mengurus ijin edar.  Persis dialami  oleh  teman yang ingin memproduksi sabun dan produk lain dari susu, terhambat perijinan.

Semuanya memiliki potensi, semua sibuk merintis bisnis, dan berjuang mempertahankan nyawa bisnis. Sendiri-sendiri.  Bagaimana mensinergikan semua potensi itu ?  bagaimana saling terhubung dan tumbuh bersama ?  Diluar sana, derap startup dengan beraneka kisah investasi skala triliun membuat tercengang.  Teknologi sedang mendisrupsi semua sektor, juga sektor agri.  Dan para aktivis agri-pun, tergagap-gagap menatap perubahan.

Apapun jenis bisnis yang sedang kita geluti saat ini, tidak bisa dilihat dalam proyeksi linier.  Perilaku pelanggan berubah, pola konsumsi berubah, yang dulunya lapak ramai pembeli, sekarang sepi.  Semakin banyak orang membuat produk, semakin ramai orang berjualan.  Semakin sibuk orang-orang dengan gawai masing-masing, melakukan berbagai aktifitas dan pemenuhan kebutuhan dengan perantara gawai.

Para pebisnis agri lapis baru -yang bergelar sarjana-, harus mau belajar,  bertukar pikiran memperluas jaringan.  Bukan lagi belajar bercocok tanam, bukan lagi belajar pemijahan.  Mereka harus belajar, bagaimana pertanian dijalankan di era teknologi.  Bagaimana pengetahuan dan penguasaan akan data, menjadi penentu penting bagi masa depan bisnisnya.   Bisnis yang kita jalani, produk yang kita buat, tidak lagi bergerak, seperti air mengalir pada sebuah pipa.   Produk yang kita buat, harus berupa produk yang memberi nilai tambah bagi penggunanya.  Produk kita harus berinteraksi dengan penggunanya.  Produk kita berkolaborasi dengan produk lain, membentuk nilai tambah baru.  Ada inovasi, ada pembaruan, ada solusi atas masalah.  Bahkan sebuah masalah, yang dulu belum pernah ada.

Para pebisnis agri, harus membuka diri, mengkoneksikan diri dengan derap perubahan diluar.  Memperkuat nilai diri, dan mengambil posisi dalam ekosistem bisnis.  Memikirkan bisnis yang memiliki potensi untuk bertumbuh multi arah, bukan tunggal. Yang menurut kita tak mungkin hari ini, biasanya karena kita belum tahu, bahwa dibelahan dunia lain, para pelaku agri disana sudah melakukannya.  Pengetahuan sudah lintas batas, kita harus membongkar sekat-sekat pikir.  Berjejaring, belajar dan berupaya menemukan formulasi bagi tumbuhnya ekosistem bisnis agri modern. Teman-teman di komunitas incagri adalah pebisnis agri lapis baru, hanya dengan terus belajar maka kita akan punya tangan dan kaki yang kuat untuk menarik gerbong besar pertanian Indonesia.

Caranya bagaimana? Mari kita pikirkan dan kita temukan cara itu.

Sumber : Ines Handayani (2017)