iklan

Kontribusi Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat

Potensi pertanian di Jawa Barat tersebar secara merata di seluruh daerah yang meliputi komoditas padi, palawija, dan horticultural. Selain itu, jenis sayurandan buah-buahan di daerah Jawa Barat memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Hasil pertanian utama di daerah Jawa Barat merupakan jagung, padi, dan ubi kayu.Daerah penghasil bunga-bungaan di Jawa Barat antara lain, Kabupaten Cianjur, Garut, Kuningan, Bandung, Ciamis, Purwakarta, Bogor, dan Sukabumi.

            Melihat hasil pertanian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil pertanian di Jawa Barat merupakan sector yang bepotensi menjanjikan dalam hal membangun aspek ekonomi bagi wilayah Jawa Barat untuk dikembangkan secara optimal. Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan terutama di daerah, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2018, sektor pertanian dijadikan salah satu jalan untuk mencapai keberhasilan pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat.

            Sinergi antara sektor pertanian, industri dan jasa yang kuat akan membentuk perekonomian yang efisien, dan hal ini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah (Sjafrizal, 2008). Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sector pertanian merupakan sector dominan setelah industri. Jika hasil pertanian pangan, termasuk hasil sayur-sayuran dan buah-buahan ini dapat dibudidayakan melalui teknologi canggih, daerah Jawa Barat dapat berkembang pesat dalam sector pertanian. Apalagi daerah Jawa Barat memiliki banyak SDM yang berkualitas dengan adanya perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, dan Institut Pertanian Bogor. Dengan adanya hal-hal tersebut dapat memacu pembangunan sector pertanian dan sector pertanian dapat berkontribusi secara optimal pada perekonomian di daerah Jawa Barat.

            Melalui pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup tinggi diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan secara bertahap. Kemampuan daerah untuk tumbuh tidak terlepas dari peranan sektor-sektor yang ada dalam suatu perekonomian. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2010 yaitu sebesar 13,08% dan terus menurun sampai 11,47 pada tahun 2012. Masuknya sektor pertanian ke dalam tiga besar penopang PDRB di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan   sektor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah (Badan Pusat Statistik, 2012)

Maka dari itu, para Sumber Daya Manusia yang dimiliki diharapkan dapat berkontribusi secara optimal pada pertanian di Jawa Barat. Dengan cara-cara yang dapat membuat petani untung, juga memberikan dampak yang positif bagi lingkungan serta memberikan suatu ekosistem yang baik dan seimbang agar dapat terus berlanjut sampai berpuluh-puluh tahun kedepan. Agar tercipatanya mimpi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.

Cara yang dapat dilakukan sejak dini oleh petani yang tidak terlalu sulit adalah pengurangan pemberian pestisida agar tidak menimbulkan resistensi hama dan resurgensi hama di kemudian hari. Karena pada umunya petani di Indonesia masih ketergantungan pada pestisida kimiawi dalam melakukan pengusiran hama. Padahal pestisida secara tidak langsung memberikan efek yang sangat besar bagi tanaman di kemudian hari. Dan para ahli atau sarjana pertanian nantinya diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam membangun pertanian Indonesia dengan cara memberikan penyukuhan atau sosialisasi pada petani dalam mengolah tanamannya.

            Dengan demikian, pertanian memberikan kontribusi yang sangat efektif pada sector ekonomi di Jawa Barat. Karena Jawa Barat memiliki banyak lahan yang digunakan untuk membudidayakan tanaman pangan, hortikultura, maupun kacang-kacangan. Agar sector pertanian dapat terus bertahan dan berkontribusi di kedepannya, perlu peran aktif para ahli atau sarjana pertanian yang ikut membangun pertanian di Jawa Barat.

            Perlu ada tindakan dari pemerintah berupa kebijakan dalam pengelolaannya untuk mengembangkan sector pertanian ini agar dapat menjadi sektor/sub sektor yang potensial untuk dikembangkan di Provinsi Jawa Barat. Sektor  yang  potensial bagi daerahnya diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang besar sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan sektor tersebut. Keadaan posisi sektor di provinsi dapat tercermin dari keadaan sektor/sub sektor di kabupaten/kota. Semoga apa yang diharapkan dalam artikel ini dapat terwujud dengan bebrbagai cara dan pihak pihak yang bersangkutan dapat ikut berpartisipasi demi terselenggaranya atau terwujudnya sector pertanian yang maju dan memberikan dampak yang positif bagi sector pertanian Indonesia yang khususnya berada di daerah Jawa Barat

Oleh: Fathya KS

Abu Vulkanik Gunung Sinabung Membawa Dampak Bagi Pertanian

Abu vulkanik adalah bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan gunung api. Abu vulkanik terdiri atas partikel berukuran besar sampai halus. Istilah abu vulkanik digunakan untuk material ketika sedang berada di udara.Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda. Bencana satu hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Akan tetapi suatu bencana dapat membawa dampak negatif tetapi ada juga yang membawa dampak positif khususnya di bidang pertanian karena pertanian sangat berpengaruh terhadap suatu negara terdapat 70% pendapatan dan belanja yang berhubungan dengan pertanian yang digunakan sebagai bahan pangan.

Gunung Sinabung terletak di dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah 03o 10’ LU dan 98o23’ BT dengan puncak tertinggi gunung ini 2.460 meter diatas permukaan laut. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600 (Global Volcanism Program, 2008). Debu dan pasir vulkanik yang disemburkan ke langit mulai dari berukuran besar sampai berukuran yang lebih halus. Debu dan pasir vulkanik ini merupakan salah satu batuan induk tanah yang nantinya akan melapuk menjadi bahan induk tanah dan selanjutnya akan mempengaruhi sifat dan ciri tanah yang terbentuk (Fiantis, 2006). Bahan-bahan vulkanis tersebut nantinya akan menjadi bahan induk penyusun tanah (Hardjowigeno, 2007). Pada tahun 2010 Gunung Sinabung mengeluarkan asap, hujan pasir dan abu vulkanis yang sangat tebal. Hingga saat ini gunung sinabung masih dalam zona merah. Hal tersebut menyebabkan masyarakat Kabupaten Karo banyak mengeluh akibat dari abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktivitas aktivitas yang akan dilakukan. Saat itu abu vulkanik menyelimuti permukiman dan lahan pertanian warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketebalan abu vulkanik yang berkisar antara 2 hingga 5 sentimeter membuat tanaman para petani terpapar abu vulkanik.

Tebalnya material abu yang bercampur batu kerikil telah merusak berbagai jenis tanaman hortikultura. Tidak hanya itu banyaknya atap rumah mereka yang jebol akibat dari batu kerikil tersebut. Kondisi ini mengakibatkan para petani terancam gagal panen karena semua tanaman yang terkena abu vulkanik rusak bahkan ada yang mati sehingga membuat para petani gagal panen. Tanaman sayur mayur, buah buahan, kopi dan tembakau yang menjadi sumber penghasilan pasti gagal panen karena timbunan abu vulkanik apalagi pada saat itu Tanah Karo musim kemarau membuat tanaman yang terkena abu akan gosong dan mati. Dalam hal ini, dampak erupsi Gunung Sinabung terhadap kondisi sosial ekonomi petani tidak positif, yang berarti erupsi Gunung Sinabung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi sosial ekonomi petani, baik itu dalam segi pendapatan,pendidikan maupun kesehatan. Begitu juga karena sebagian besar masyarakat Tanah Karo mengharapkan hasil dari bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari hari .

Namun, disamping itu abu vulkanik juga dapat membawa dampak positif yang menguntungkan para petani yaitu karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, mineral tinggi dan sulfur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sehingga baik untuk tanah di wilayah Tanah Karo serta karena banyak mengandung unsur hara makro, mikro, dan mineral tinggi serta dapat memperbaiki struktur tanah dan kandungan hara yang miskin karena intensifikasi pertanian, serta menjernihkan air yang memiliki kualitas rendah. Abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menurunkan tingkat keasaman pada tanah tetapi dalam jangka panjang sangat bagus bagi manusia terutama pada bidang pertanian. Sedangkan dalam jangka panjang, manfaat dari hujan abu vulkanik bagus bagi pertanian. Tentunya setelah melewati proses denormalisasi. Denormalisasi bisa secara alami yang diolah oleh tanah, bisa juga oleh manusia sendiri yang melakukannya. Caranya adalah dengan pemberian dolomit atau pengapuran (CaCo3) yang akan merubah mineral di abu menjadi pupuk yang berguna bagi tanah, banyak terdapat aneka bahan tambang seperti belerang, logam, dan permata yangdapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk mendapatkan hasil.

Pada gambar ini menunjukkan seorang petani yang menyiram tanaman yang terkena abu vulkanik agar meminimalisir terjadinya kematian pada tanaman. Lalu menyemprot dengan obat-obat yang dapat menyegarkan tanaman tersebut dan dapat menghasilkan, hasil yang maksimal.

Oleh: Margaretha Libertyna Br Bukit

Efektifitas Penggunaan Pupuk Organik dalam Sektor Pertanian

Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar yang ada di dunia. Sebagian besar masayarakat indonesia bermatapencaharian sebagai petani yang tinggal di pedesaan. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam khususnya lahan pertanian yang cukup luas di indonesia secara maksimal, dapat menjadikan negara Indonesia sebagai negara penghasil pangan terbesar di dunia serta menyejahterakan kehidupan para petani. Perkembangan zaman yang terjadi di dunia semakin meluas dan mulai masuk ke dalam budaya masyarakat di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, masyarakat indonesia khususnya petani lebih memilih menggunakan barang-barang pendukung pertanian yang mempunyai nilai efektifitas yang cepat dan praktis. Salah satu contohnya adalah penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian untuk menghasilkan produktifitas hasil pertanian yang besar. Akan tetapi, penggunaan pupuk kimia anorganik dengan skala besar dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan masalah lain pada lingkungan sekitar, contohnya adalah pencemaran tanah dan air akibat residu yang ditinggalkan oleh penggunaan pupuk kimia anorganik. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan kondisi tanah pertanian, salah satunya adalah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menyeimbangkannya dengan menggunakan pupuk organik pada lahan pertanian.

Menurut data dari Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) jumlah konsumsi pupuk kimia anorganik di Indonesia sepanjang tahun 2017 menjadi yang paling besar dalam janga waktu 10 tahun terakhir dengan capaian 5,97 juta ton. Konsumsi pupuk kimia anorganik ini didominasi oleh sektor pertanian dengan jumlah penggunaan pupuk mencapai 4,10 juta ton, kemudian oleh sektor perkebunan sebesar 1,01 juta ton, serta dari sektor industri sebesar 847.000 ton. Jumlah konsumsi pupuk yang tinggi oleh masyarakat indonesia ini disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor musim penghujan yang panjang serta musim kemarau yang pendek dan mendorong para petani untuk terus berproduksi. Akan tetapi, dampak negatif akibat pemakaian pupuk kimia dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan jumlah bahan organik yang ada di dalam tanah menjadi turun, struktur tanah menjadi rusak, dan terjadinya pencemaran lingkungan. Apabila hal ini terus berlanjut akan menyebabkan penurunan kualitas tanah dan berpengaruh pada jumlah hasil pertanian yang semakin lama akan semakin menurun akibat degradasi unsur hara pada lahan pertanian. Untuk melindungi dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian diperlukan kombinasi penggunaan pupuk sintetik dengan pupuk organik yang tepat (Isnaini, 2006).

Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasal dari bagian tubuh tumbuhan yang telah mati, kotoran hewan atau bagian tubuh hewan serta limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang diperkaya bahan mineral atau mikroba dan bermanfaat untuk meningkatkan kandungan unsur hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Kandungan unsur hara yang ada  di dalam pupuk organik dapat membantu memperbaiki sifat–sifat fisik tanah seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan jumlah kation-kation tanah. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan (Roidah, 2013).

Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi unsur hara yang ada pada lahan pertanian. Disamping itu, dengan memberikan pupuk organik dalam jangka panjang mampu meningkatkan kandungan humus di dalam tanah. Dengan adanya humus tersebut air akan banyak terserap dan masuk ke dalam tanah, sehingga kemungkinan untuk terjadinya pengikisan tanah dan unsur hara yang ada di dalam tanah sangat kecil. Pupuk organik juga memiliki fungsi kimia yang penting seperti penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan hara mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi meskipun dalam jumlah yang kecil, meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, dan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan (Benny, 2010).

Pupuk organik yang ramah lingkungan mempunyai banyak dampak positif pada lingkungan disamping untuk membantu meningkatkan jumlah produksi pertanian. Untuk itu, penggunaan pupuk organik oleh petani harus terus ditingkatkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Penggunaan produk pertanian yang ramah lingkungan juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, yaitu terhindar dari kemungkinan residu pupuk kimia anorganik yang mengendap di dalam bahan makanan. Banyaknya dampak positif dari penggunaan pupuk organik yang diaplikasikan bersama pupuk kimia anorganik dapat membantu mempercepat pemenuhan unsur hara tanaman. Hal ini akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah produktivitas hasil pertanian. Apabila tanaman mendapatkan jumlah unsur hara yang kompleks maka jumlah serta kualitas hasil pertanian akan semakin besar. Hal ini akan meningkatkan jumlah pendapatan petani serta akan berdampak pula terhadap kenaikan devisa negara akibat hasil ekspor hasil pertanian ke negara-negara maju. Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia nilai ekspor Indonesia pada Januari-November 2018 mencapai US$ 165,81 miliar atau meningkat 7,69 persen dibanding pada periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$150,15 miliar atau meningkat 7,47 persen debanding tahun 2017. Peningkatan nilai ekspor Indonesia ini digunakan untuk membangun sarana dan prasarana yang ada di Indonesia agar nyaman untuk digunakan masyarakat serta untuk menjamin masa depan para penerus bangsa Indonesia.

Jenis-jenis pupuk organik yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan pemakaian pupuk kimia anorganik pada lahan pertanian adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran atau bagian tubuh hewan, pupuk kompos yang berasal dari proses dekomposisi atau pembusukan bagian tubuh tanaman oleh bakteri dan mikroorganisme dan pupuk hijau yang berasal dari bagian tanaman yang langsung digunakan apabila jumlah pupuk organik lain sedikit dan tanah membutuhkan asupan unsur hara dari luar. Selain memberikan dampak positif bagi petani dan lingkungan, penggunaan pupuk organik pada lahan pertanian ini juga akan berpengaruh pada pendapatan produsen pupuk organik yang akan terus meningkat seiring dengan banyaknya permintaan pupuk organik untuk lahan pertanian (Roidah, 2013).

Oleh: Erik Wahyuni

Mitigasi dan Adaptasi Sektor Pertanian terhadap Perubahan Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Iklim memiliki unsur-unsur seperti udara, tekanan udara, kelembapan udara, awan, angin, dan hujan. Iklim adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik lahan dalam dunia pertanian. Unsur-unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman antara lain adalah curah hujan, suhu, kelembaban udara, lama masa bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bln), dan ketinggian tempat dari permukaan laut (Djaenudin dkk,, 2003).  Iklim dapat mengalami perubahan-perubahan dengan seiring berjalannya waktu. Perubahan iklim dapat mempengaruhi semua aspek-aspek kehidupan, termasuk juga pada sektor pertanian. Pada perubahan iklim ini dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada sektor pertanian. Banyak sekali dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari perubahan iklim ini. Dampak dari perubahan iklim diantaraya yaitu meningkatnya suhu rata-rata, sering terjadinya bencana alam seperti longsor dan kekeringan, ketahanan pangan terancam, hasil produksi pertanian yang menurun, dan dapat menurunkan kesejahteraan ekonomi petani. Akibat perubahan iklim pada sektor pertanian menurut Kardono (2013) yaitu hilangnya atau rusaknya keanekaragaman dalam lingkungan/hutan tropis, hilangnya tanah subur, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrim seperti puting beliung maupun banjir dan kekeringan, sulit memprediksi kondisi pertanian, meningkatnya bahaya hama dan vektor penyakit, dan distribusi hasil produksi pertanian yang menurun.

Permasalahan iklim ini harus di hadapi dengan segala cara yang harus dilakukan. Untuk memajukan pertanian di Indonesia kita harus mulai mengatasi permasalahan-permasalahan iklim ini terlebih dahulu. Jika faktor iklim tidak mendukung pertumbuhan tanaman maka pertanian di negara kita ini akan mati dan berpengaruh pada aspek-aspek kehidupan lainnya. Seiring terjadinya perubahan iklim, kita juga harus menjaga lingkungan disekitar kita untuk kehidupan kedepannya. Perubahan iklim terjadi dengan sendirinya yaitu faktor alam yang juga disebabkan oleh tingkah laku manusia. Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia salah satunya yaitu pemanasan global karena penyebaran polusi. Perubahan iklim yang disebakan oleh aktivitas manusia membuat dunia membuat suatu badan yang dinamakan  Interngovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Badan ini menangani permasalahan perubahan iklim global di dunia.

Permasalahan perubahan iklim ini dapat dihadapi dengan cara-cara mudah yang dapat dilakukan. Pada sektor pertanian perubahan iklim merupakan tantangan yang sangat besar. Banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi terjadinya perubahan lingkungan ini demi terciptanya pertanian indonesia yang berlanjut. Agar pertumbuhan produksi tanaman tidak menurun kita harus memperhatikan iklim yang sedang terjadi yaitu seperti mengatur pola tanam yang cocok pada kondisi iklim tersebut, memperhatikan kondsi lahan yang cocok untuk menanamkan tanaman yang akan ditanam pada kondisi iklim tersebut, mengatur komoditas-komoditas tanaman yang cocok untuk ditanami pada kondisi lahan  maupun iklim tersebut dan menjaga kelestarian maupun kondisi lahan yang akan digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman tersebut.

Adapun upaya-upaya Mitigasi dan Adaptasi yang dilakukan untuk menghadapi permasalahan perubahan lingkungan pada sektor pertanian. Upaya mengatasi  permasalahan perubahan iklim menurut Sarakusumah (2012) yaitu Adaptasi yang merupakan kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dengan adanya perubahan iklim, Caranya yaitu dengan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengalami manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya. Sedangakan Mitigasi merupakan proses untuk mencegah atau menekan terjadinya perubahan iklim.  Contoh dari adaptasi yaitu melihat kondisi cuaca tiap harinya, menyesuaikan kondisi lahan dan cuaca. Contoh pada upaya mitigasi yaitu membuat sistem pertanian organik tanpa menggunakan bahan kimia dan sistem pertanian terintegasi yaitu mengkombinasi pertanian konvensional dan pertanian organik.

Kesimpulan dari upaya sektor pertanian dalam mengahadapi permasalahan iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kita dapat menghadapi permasalahan-permasalahan iklim tersebut dengan melalukan berbagai cara diatas. Dengan melakukan berbagai cara tersebut kita dapat menciptakan pertanian di Indonesia yang berkelanjutan dengan hasil produksi pertanian yang lebih baik.

oleh: Deemas Afiatan Farras

Potensi Buah Sawo sebagai Buah Tropik

Buah merupakan salah satu makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat karena dapat memberikan dampak yang bersifat positif bagi kesehatan tubuh. Menurut Murray (2018) yang menyatakan bahwa buah merupakan produksi spontan yang terjadi secara alami dari suatu tanaman yang muncul kedalam bentuk yang terlihat dari kehidupan serta getahnya yang tersembunyi.

Di wilayah Indonesia yang masuk kedalam wilayah tropis yang dilewati garis khatulistiwa membuat keragaman hayati khususnya buah menjadi beragam diantaranya ialah buah tropik.Buah tropik merupakan buah-buahan yang tumbuh serta berkembang di wilayah tropis.

Buah sawo memiliki nama latin Manilkara zapota. Buah sawo menurut berasal dari hutan yang berada dalam kawasan Amerika Tengah dan di negara Meksiko. Terdapat beberapa macam spesies dari buah sawo yang menurut Ambarwati (2007) diantara lain ialah sawo sejati, sawo karat dan lain sebagainya.  Buah sawo memiliki ciri ciri antara lain ialah bentuk buahnya yang dapat berupa bentuk lonjong, bulat, maupun oval serta batang buah yang umumnya besar dan kuat  serta mempunyai daun yang mengkilap. Buah sawo memiliki potensi yang cukup baik untuk lebih dieksploitasi dalam hal pembudidayaannya guna menunjang ekonomi . Sebanding dengan  itu menurut Rozika et al (2013) bahwa buah sawo apabila dikembangkan sangat menjanjikan. Selain itu terdapat beberapa manfaat bagi kesehatan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai obat.

Terdapat berbagai macam kandungan dari buah sawo maupun bagian tubuh dari tumbuhan sawo yang memiliki berbagai macam khasiat. Diantara hal tersebut berdasarkan penelitian dari Mufti et al (2017) bahwa pada daun sawo telah ditemukan beberapa zat yaitu tanin, saponin, flavonoid. Zat-zat tersebut mempunyai beberapa manfaat yaitu:  senyawa saponin yang dapat dimanfaatkan sebagai penghambat perkembangan dari suatu bakteri dikarenakn saponin dapat menghambat terjadinya suatu proses sintesa protein dari suatu bakteri,  tanin yang mempunyai kemampuan untuk dapat melisiskan bagian dari bakteri yaitu pada bagian dinding sel serta senyawa flavonoid yang dapat memberikan pengaruh terhadap terhambatnya suatu proses dari sintesis DNA serta proses metabolisme energi yang berperan peting bagi bakteri. Selain itu, diketahui bahwa masyarakat telah memanfaatkan bagian dari tumbuhan sawo yang berupa daun, kulit serta buah yang masih muda   yang digunakan secara tradisional sebagai  obat anti diare. Seperti diketahui bahwa diare merupakan penyakit yang mengganggu saluran pencernaan dan dapat menular. Menurut Ragil et al(2017) bahwa penyebab dari diare dapat berupa virus yang diantara lain adalah Rotavirus,Escherichia coli,Shigell sp, serta parasit Entamoeba hystoliticia. Diketahui bahwa pula dari Mufti et al(2017) bahwa senyawa tanin dapat berdampak pada bakteri Escherichia coli dikarenakan dapat mengambat laju bakteri bahkan dapat mematikan bakteri tersebut. Selain hal tersebut, buah sawo memiliki rasa yang manis dikarenakan menurut bahwa terdapat kandungan gula yang terdapat didalam buah sawo yang berupa gula glukosa dan fruktosa yang termasuk ke dalam tingkat yang tinggi yaitu dengan presentase masing masing 4,2% untuk glukosa dan 3,8% untuk fruktosa.

Didalam mempertahankan tanaman sawo sehingga terciptanya tanaman yang baru dapat dilakukan usaha budidaya sawo. Pembudidayaan sawo dapat dilakukan dengan cara menanam melalui hasil cangkok.Menurut  Ambarwati (2007) bahwa cangkok merupakan suatu usaha dengan tujuan untuk memperbanyak tanaman dengan cara melukai cabang tanaman dengan dilanjutkan dengan menutupnya dengan menggunakan media cangkok sehingga akan tumbuh akar dari bagian tersebut.

Diantara banyak sentra sawo yang berada di Indonesia terdapat salah satu sentra sawo yang berada di Desa Bangowan, Kecamatan Jiken Kabupaten Blora di provinsi Jawa Tengah. Buah sawo yang berada didaerah tersebut merupakan jenis buah sawo kecik dan berjumlah sekitar 800 pohon yang telah menghasilhan proses pembuahan. Keunggulan dari buah sawo di Desa Bangowan adalah buah sawo tersebut telah mendapatkan sertifikat organik yang diperoleh dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman yang berlaku sampai tahun 2018. Buah sawo desa Bangowan telah meraih prestasi  didalam Soropadan Agro Expo sehingga membuat para petani mendapat suatu penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah pada tahun 2015 sebagai Pelestari Sumber Daya Genetik tingkat Jawa Tengah.

oleh: Anggik Karuniawan