iklan

Pertanian Organik Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik

Pertanian Organik adalah pertanian dengan sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan – bahan alami yang menghindari atau membatasi penggunaan pupuk kimia, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan. Pertanian organik merupakan kegiatan dalam bercocok tanam yang ramah dengan lingkungan dengan meminimalkan dampak negatif yang terjadi bagi lingkungan sekitar dengan ciri utama dari pertanian organik yaitu dengan menggunakan varietas lokal, pupuk, dan menggunakan pestisida organik. Selain itu, pertanian organik menggunakan cara penanaman secara alami dengan melakukan penekanan terhadap perlindungan di lingkungan dan melestarikan tanah serta menjaga sumber air sehingga tidak tercemar oleh bahan – bahan kimia.

Tujuan utama dari pertanian organik yaitu menyediakan bahan – bahan pertanian yang bebas dari bahaya dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan sehingga kelestarian lingkungan sekitar terjaga. Selain itu, pertanian organik bertujuan untuk melestarikan dan meingkatkan kesehatan organisme dan ekosistem. Pertanian organik hadir sebagai solusi untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi serta bergizi yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan lingkungan yang menghindari pemakaian bahan – bahan kimia yang mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pertanian organik dapat diaplikasikan dengan mengubah sistem pola pertanian yang sudah diterapkan dengan menggunakan bahan – bahan alami yang tidak merusak lingkungan.

Kesadaran masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian menjadikan pertanian organik lebih menarik perhatian baik di tingkat produsen maupun konsumen. Kebanyakan konsumen akan memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, sehingga mendorong meningkatkan permintaan produk organik. Pola hidup masyarakat yang sudah berkembang lebih baik dengan mengedepankan keamanan dan kesehatan menjadi trend baru dan telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus berlabel aman dikonsumsi. Sejauh ini pertanian organik disambut baik oleh banyak kalangan masyarakat, meskipun dengan pemahaman yang berbeda. Oleh karena itu, permintaan konsumen terhadap bahan – bahan pertanian organik menjadi meningkat dengan pesat.

Pertanian organik tidak hanya sebatas meniadakan penggunaan input sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber daya alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup bagi petani. Pertanian organik diyakini mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup bagi petani dikarenakan dengan menggunakan produk pertanian dari bahan organik mengurangi tingkat kerusakan bagi tanaman atau mengurangi hama yang biasanya terdapat pada tanaman selain itu dengan menggunakan bahan organik sehingga tidak merusak mikroorganisme yang membantu proses pertumbuhan tanaman karena dengan menggunakan bahan kimia dapat merusak mikroorganisme yang terdapat di lingkungan. Salah satu contoh yang dapat dillihat dilingkungan sekitar yaitu mengolah limbah dari peternakan menjadi pupuk organik yang aman dan terbebas dari bahan kimia yang berbahaya.

Indonesia merupakan negara dengan mata pencaharian utama adalah bercocok tanam. Sementara itu, dengan lahan pertanian  yang kian sempit dan pola pikir masyarakat yang memandang sebelah mata dengan sektor pertanian. Oleh karena itu, solusi yang sudah ditemukan pada jaman sekarang untuk memajukan pertanian di Indonesia yang ramah lingkungan adalah dengan mengembangkan pertanian organik. Maka dari itu, dengan menggunakan atau membudidayakan tanaman dengan menggunakan pertanian organik akan membawa pertanian dalam jangka waktu yang panjang dan memberikan solusi tanaman pangan yang sehat. Dapat dilihat dari kondisi permintaan produk pertanian organik terus meningkat sehubungan dengan masyarakat yang mulai menyadari akan bahaya makanan non organik maka perlu bagi pemerintah dan semua pihak segera mewujudkan pertanian organik untuk terus memanfaatkan potensi pertanian yang masih cukup besar untuk dikembangkan.

oleh: Arini Ayu Ardianti

Rekayasa Genetika Tomat Pedas seperti Cabai

Tomat merupakan salah satu produk pertanian yang digunakan sebagai bahan pangan. Tanaman tomat dapat tumbuh di daerah tropis maupun sub-tropis. Tomat juga memerlukan suhu yang optimum dalam proses pertumbuhannya, suhunya diantara 20-27ºC. jika temperature berada lebih dari 30ºC atau kurang dari 10ºC maka akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan buah tomat. Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai dari tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organic dan unsur hara, serta drainase air yang baik.

 Tomat memiliki rasa yang menyegarkan dan tentunya memiliki banyak khasiat jika dikonsumsi. Banyaknya kandungan Vitamin C dan Kalium pada tomat tentu saja mampu memberi gizi yang dibutuhkan untuk manusia. Vitamin C berkhasiat untuk daya tahan tubuh dan Kalium berperan penting dalam menjaga cairan dalam tubuh dan juga sebagai pengendali tekanan darah. Tidak heran jika tomat menjadi salah satu produk pertanian yang populer dan banyak dicari masyarakat karena berbagai macam khasiatnya. Namun, apa yang terjadi jika tomat pedas tercipta dan memiliki rasa seperti cabai? Ternyata tomat dapat dimodifikasi secara genetika untuk menghasilkan varietas seperti cabai pedas.

Para peneliti dari Brazil dan Irlandia baru-baru ini berupaya membuat buah tomat memiliki rasa pedas tanpa dipadukan di pabrik. Peneliti tersebut menanamkan capsaicinoid ke dalam tomat, capsaicinoid adalah bahan kimia pedas yang ditemukan dalam cabai, yang tentunya membuat rasa cabai menjadi pedas. Metode yang dilakukan disini adalah metode rekayasa jalur genetika, rekayasa jalur genetik capsaicinoid ke tomat akan membuatnya lebih mudah dan lebih murah untuk menghasilkan senyawa ini, dimana teknik pengaplikasiannya juga menarik.

Karakteristik dari cabai dan tomat saling terkait, menurut para peniliti mereka mampu menggunakan teknik penyuntikan gen terbaru. Tomat menjadi berair dan manis sementara cabai mengembangkan mekanisme pertahanan pedas melalui bahan kimia yang disebut capsaicinoids, sehingga tomat bisa memiliki rasa pedas yang sama seperti cabai dan tentu saja eksperimen ini menarik untuk dibuktikan adanya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Plant Science ini menjelaskan, cabai merupakan tanaman padat karya atau tanaman yang pembudidayaannya menggunakan tenaga manusia dan sulit dibudidayakan, maka sulit untuk menjaga kepedasan buah-buahan secara konsisten. Sebaliknya, tomat adalah tanaman dengan hasil yang cukup tinggi dan dipelajari dengan baik dan juga mudah dibudidayakan. “Anda dapat memproduksi capsaicinoids dengan cara yang lebih hemat biaya,” kata Zsogn, peneliti asal Irlandia. Tomat dan cabai dikembangkan dari nenek moyang yang sama, tapi menyimpang sekitar 19 juta tahun yang lalu dikarenakan banyak faktor.

Para peneliti telah mengetahui gen mana yang akan direkayasa dan di mana gen itu bisa diaplikasikan, serta mereka memiliki alat yang cukup kuat untuk merekayasa genom spesies apa pun. “Secara teori Anda bisa menggunakan gen-gen ini untuk menghasilkan capsaicinoid dalam tomat”, ujar Zsogn. Meskipun alat cukup, Zsogn melanjutkan dirinya tidak memiliki data yang kuat tentang pola ekspresi atau sifat yang muncul apabila capsaicinoid diinfeksikan kedalam buah tomat, sehingga peneliti harus mencoba pendekatan alternatif. Untuk mengaktifkan gen kandidat satu per satu dan melihat apa yang terjadi, senyawa mana yang diproduksi. Zsogn sedang mencoba melakukan pengujian. Untuk saat ini, para ilmuwan memang belum memulai pembuatan tomat pedas untuk dikonsumsi publik dikarenakan tidak adanya data yang kuat tentang pola ekspresi atau sifat yang muncul apabila capsaicinoid diinfeksikan kedalam buah tomat.

Mungkin kita sebagai generasi millenial dan juga anak bangsa pada saat ini mampu menemukan rekayasa genetika yang tepat sekaligus menciptakan tomat pedas seperti cabai ini di masa yang akan datang, karena temuan ini bisa menjadi peluang yang menjanjikan di masa depan. Sebagaimana kita tahu bahwa kearifan lokal masyarakat Indonesia yaitu ‘tak lengkap makan tanpa sambal’ yang artinya masyarakat Indonesia sangat membutuhkan cabai sebagai pelengkap bumbu masakan mereka. Penelitian ini bisa jadi alternatif pengganti cabai di masa yang akan datang, dimana pada saat ini banyak terjadi kasus melambungnya harga cabai di pasaran yang disebabkan oleh banyaknya faktor. Maka ini mungkin bisa menjadi solusi untuk masalah kita bersama di masa yang akan datang, tergantung bagaimana pemanfaatan sumber daya manusia kita untuk meneliti dan menerapkan rekayasa genetik tomat mempunyai rasa pedas seperti cabai.

Oleh: Muhammad Akbar

Bertani dan Beternak Ikan Menjadi Satu dalam Akuaponik

Di zaman modern seperti saat ini, dimana kepadatan penduduk di setiap desa maupun kota semakin meningkat. Dimana kebutuhan akan bahan pangan juga semakin bertambah, tapi lahan untuk pertanian semakin menyempit akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman penduduk. Menyempitnya lahan pertanian perlu diatasi dengan pemanfaatan lahan yang tersedia disekitar rumah seperti halaman depan rumah sebagai lahan pertanian.

Salah satu cara pemanfaatan lahan tersebut adalah dengan menggunakan metode budidaya akuaponik. Akuaponik merupakan salah satu sistem pertanian hidroponik yang digabungkan dengan teknik akuakultur. Tetapi sistem akuaponik sedikit berbeda dengan sistem hidoronik pada umumnya. Yang menjadi pembeda antara kedua sistem ini adalah nutrisi yang digunakan untuk tanaman. Jika pada hidroponik menggunakan nutrisi buatan pabrik (organik atau anorganik), maka pada sistem akuaponik menggunakan kotoran ikan sebagai penggantinya.

Akuaponik sesuai diguanakan sebagai salah satu alternaif pemanfaatan lahan karena pengunaan sistem ini tidak memerlukan lahan yang terlalu luas. Dengan pemanfaatan akuaponik paling tidak dapat memenuhi kebutuhan sayur dalam satu keluarga setiap hari.

Manfaat akuaponik :

Manfaat akuaponik jika dilihat dari segi fungsi untuk keluarga

  • Ketahanan ekonomi dalam rumah tangga
  • Kesehatan keluarga dari segi lingkungan dan asupan gizi terjaga
  • Alat peraga pendidikan keluarga
  • Sebagai hobi atau hiburanyang menguntungkan

Manfaat akuaponik jika dilihat dari hasilnya

  • Tanaman yang dihasilkan merupakan tanaman organik
  • Menghasilkan dua produk sekaligus yaitu sayuran dan ikan
  • Bersifat berkelanjutan dengan perpaduan tanaman dan ikan, dan terjadi siklus nutien

Metode Pembuatan sistem tanam akuaponik

  1. Bahan

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat sistem tanam akauponik antara lain

  • kolam ikan dan bibit ikan, sebagai tempat budidaya ikan
  • pompa air,
  • aerator,
  • pipa pvc ½ inci, sebagai saluran air
  • pipa atau talang air, sebagai tempat atau media meletakkan netpot
  • netpot, sebagai tempat atau media tanam
  1. Cara pembuatan

Berikut adalah cara pembuatan akuaponik.

  • Potong pipa atau talang air sesuai dengan ukuran kolam atau bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanam
  • Talang air di bor dengan diameter 5 cm atau disesuaikan dengan ukuran netpot dan diberi jarak 15-20 cm antar lubang
  • Salah satu ujung pipa diberi lubang ½ inci dan diberi pipa ½ inci sepanjang 30 cm (5 cm didalam talang air dan 25 cm diluar talang air), lem sampai sekiranya tidak ada kebocoran
  • Pada ujung talang air yang lain (bagian atas) diberi lubang sebesar setengah sampa satu inciyang berfungsi sebagai saluran air kolam menuju talang air
  • Tutup ujung kanan dan kiri pipa atau talang air dengan rapat
  • Tempatkan talang air diatas kolam dan pasang pipa dari penghubung pada pompamenuju talang air melaui lubang yang telah dibuat

Cara pembibitan atau penanaman pada akuaponik

  • Siapkan bibit dan masukkan pada tengah netpot
  • Masukkan media tanam agar tanaman tidak roboh
  • Tempatkan netpot ke lubang pada pipa atau talang air
  • Nyalakan pompa air

Sistem kerja dari akuaponik adalah air beserta kotoran ikan dan nutrisi dari kolam ikan akan menalir melewati pipa ½ inci dan akan memenuhi pipa atau talang air. Apabila air dalam pipa atau  talang air sudah benuh maka air akan terbuang menuju kolam lagi.

 

Oleh : Achmad Fajrul Falach

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian Indonesia

Apa itu gambut? Gambut adalah bahan-bahan organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan berkayu, yang terdekomposisi atau terurai tidak sempurna dan menumpuk disuatu tempat. Material gambut memiliki ketebalan tertentu, gambut biasanya terdapat pada rawa diantara 2 sungai dan laut. Gambut bersifat seperti spons yang menyerap dan menyimpan banyak air dalam jumlah banyak, sehingga membuat lahan gambut menjadi sangat basah, dan memiliki kandungan karbon yang tinggi.

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan gambut terluas di dunia, dan 1/3 nya terdapat di Kalimantan. Lahan gambut di Indonesia memiliki peranan penting dalam menjaga iklim dunia karena mampu menyimpan kurang lebih 57 milyar ton karbon. Bentang alam Asia Tenggara terdiri dari pegunungan, dataran rendah, hutan tropis, rawa gambut dan perkebunan. Sebanyak 21,98%  lahan di Kalimantan Tengah adalah ekosistem gambut, tetapi perilaku masyarakat yang membuka perkebunan sawit di lahan gambut menyebabkan rusaknya ekosistem gambut. Untuk membuka perkebunan kelapa sawit, permukaan air di daerah gambut diturunkan lewat drainase dan pada akhirnya tanah gambut menjadi mengering, sensitif terhadap api dan menyebabkan kebakaran hutan. Untuk mendirikan perkebunan, kanal drainase digali untuk mengeluarkan air, jika air dikeluarkan, bahan organik yang didrainase akan dipecah dan dibuang dalam bentuk karbondioksida dan oksigen ke udara, sehingga dapat menyebabkan GRK (Gas Rumah Kaca) yang merubah iklim. Kehilangan air dan tanah karbon menyebabkan penyusutan tanah gambut 3-5 cm per tahun, sehingga bentang alam ekosistem gambut akan sensitif terhadap bencana banjir pada saat musim hujan. Pada saat musim kemarau, oksidasinya akan berlanjut dan permukaan tanah semakin lama, semakin rendah yang menghasilkan banjir berkali-kali dan panjang sesudah hujan. Jika hal tersebut terus terjadi 30-50 tahun kedepan, bentang alam akan begitu banyak turun sampai drainase tidak dapat dilakukan sama sekali dan seluruh daerah akan kebanjiran, tanah akan menjadi gersang dan tidak produktif, lahan akan banyak yang tergenang. Kalimantan akan kehilangan tanah ribuan meter persegi tanah produktifnya, desa-desa dan perkebunan akan  mengalami kebanjiran, masyarakat akan kehilangan pekerjaan dan penghidupan mereka.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi terjadinya bencana ini? Drainase pada lahan gambut harus diberhentikan, bendungan harus dibangun untuk memulihkan permukaan air. Pemanfaatan dan pengolahan sektor pertanian, perkebunan yang benar  juga turut berperan dalam mencegah rusaknya ekosistem gambut. Masih banyak cara lain untuk memanfaatkan lahan gambut agar menghasilkan produk pertanian. Pembukaan dan peluasaan lahan kelapa sawit di daerah gambut dapat dikurangi untuk menjaga ekosistem. Penggunaan berbagai macam spesies tanah rawa gambut harus diperkenalkan pada masyarakat sebagai media tanam dan produk-produk pengolahan tanah lain yang komersial tanpa drainase.

Menteri Pertanian Inonesia mengatakan bahwa kita harus menaklukkan musuh yang tertidur (lahan rawa gambut)sehingga menjadi produk pertanian yang maksimal.Masyarakat Desa Panega Kalimantan Selatan, kini mulai memanfaatkan lahan gambut untuk kegiatan pertanian tanpa merusak ekosistem gambut. Setelah bertahun-tahun sebelumnya masyarakat kesulitan menemukan jalan keluar terkait pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian, dimana lahan gambut mudah terbakar. Masyarakat mulai mencoba untuk menanam pohon karet, dimana pohon karet tidak memerlukan drainase yang terlalu besar. Permasalahan di kebun adalah ketika debit air disekitar perkebunan menurun, akibatnya lahan menjadi mudah terbakar. Lembaga ICCTF ( Indonesia Climate Change Trust Fund ) memberikan penyuluhan dan pendanaan kepada masyarakat untuk melakukan pengolahan gambut yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, yaitu dengan menanam nanas dan tanaman gaharu sebagi tanaman sela pada perkebunan karet. Tanaman gaharu dan nanas digemari masyarakat karena nanas dan gaharu merupakan tanaman yang produktif yang selalu menghasilkan. Penanaman karet dan nanas adalah suatu upaya untuk mengurangi kebakaran dan menurunkan emisi di lahan gambut. Dimana pengelolaan tata air merupakan salah satu komponen penting yang harus diperhatikan, sehingga air tetap konstan pada kedalaman 60cm, karena pada kondisi kedalam air tersebut, emisi yang dikeluarkan tidak terlalu besar, dan tumbuhan karet masih bisa tumbuh dengan bagus. Masyarakat bisa merawat tanaman karet dan mendapatkan penghasilan tambahan dari nanas dan gaharu. Hal ini merupakan suatu langkah maju untuk mengurangi emisi dan kebakaran hutan di lahan gambut dan meningkatkan produk pertanian di lahan rawa gambut.

Selain produk perkebunan, lahan gambut juga dapat dimanfaatkan untuk menanam padi sawah, sehingga dapat meningkatkan produksi beras. Sejumlah wilayah di Kalimantan menyimpan potensi untuk menjadi lumbung padi di masa depan, salah satunya adalah wilayah Kalimantan Tengah. Melihat potensi yang ada Kementrian Pertanian memberikan dana sebesar 200 M pada tahun 2016. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun embung, rehabilitasi lahan sawah, serta menyediakan alat dan mesin pertanian. Di desa Pangkuh Delapan, kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah terbentang kurang lebih 1200 hektare sawah diatas lahan gambut, yang menjadi lokasi produksi padi terbesar di Pulang Pisau. Pengolahan tanah lahan gambut berbeda dengan lahan biasa, karena lahan gambut bersifat asam, sehingga sebelum menanam padi harus dilakukan pengapuran terlebih dahulu agar tanaman keracunan. Tanaman padi diarea gambut hanya dapat ditanami diarea lahan yang memiliki ketebalan dibawah 1m. Tata kelola air pada lahan gambut juga berbeda dengan lahan lainnya. Lahan gambut adalah lahan basah yang kelebihan air, sehingga perlu dilakukan pengendalian drainase yang baik. Kelebihan air pada lahan gambut dibuang dengan cara mebuat saluran disetiap tengah-tengah sawah yang dialirkan ke sungai. Bertani yang bijak di atas lahan gambut harus dilakukan agar tidak merusak ekosistem gambut dan dapat menghasilkan produk pertanian yang maksimal. Manusia sangat berperan dalam menjaga kelestarian gambut di Indonesia.

Oleh : Melia Ningrum

Permasalahan Pertanian Di Daerah Pedesaan

SIDOARJO – Di era modern seperti saat ini semua kegiatan diorientasikan di daerah perkotaan baik dari sektor pendidikan, pemerintahan, maupun sektor-sektor lainnya sehingga memicu masyarakat pedesaan untuk melakukan migrasi dengan dalih merubah nasib. Padahal tidak semudah itu untuk merubah nasib di perkotaan, dibutuhkan kemampuan yang kompeten agar dapat bersaing dengan masyarakat perkotaan yang cenderung lebih maju dalam hal pendidikan dan teknologi.Hal semacam ini membuat orang-orang berpendidikan yang berada di desa  juga berkeinginan untuk bermigrasi ke perkotaan sehingga menyisakan masyarakat pedesaan yang masih berpegang dengan teknik pertanian konvensional. Sehingga berhektar-hektar persawahan tidak dimanfatkan secara optimal oleh petani karena kurangnya edukasi mengenai teknik-teknik pertanian modern yang lebih efektif dan efisien. Hal ini terjadi di Desa Bogempinggir Kec. Balongbendo Kab. Sidoarjo, di desa ini terbentang berhektar-hektar sawah tapi tidak dimanfaatkan secara optimal dan banyak sawah yang terbengkalai karena ketidaksanggupan pemilik mengolah sawah-sawah mereka yang bisa dibilang sangat luas. Padahal jika dimanfaatkan secara optimal dengan teknik yang benar bisa membawa untung yang sangat besar bagi petani di desa tersebut.

Salah satu faktor yang membuat kurang optimalnya pemanfaatan lahan di Desa Bogempinggir yaitu karena kurangnya edukasi tentang teknik-teknik pertanian modern yang dapat menghemat tenaga tapi justru meningkatkan hasil dan kualitas panen. Dari berhektar-hektar sawah yang terdapat di Desa Bogempinggir masih didomiasi oleh tanaman padi dan diolah dengan cara-cara pertanian konvensional misalnya pembajakan sawahnya masih menggunakan alat tradisional bertenaga manusia dan mesin pembajak kecil yang tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama jika salah seorang petani memiliki lahan seluas satu hektar apa lagi jumlah mesin pembajak yang dimiliki petani pedesaan pastilah sangat minim ditambah jumlah tenaga kerja yang juga sangat minim pula.

Selain itu teknik pengairan yang masih diterapkan di desa Bogempinggir yaitu hanya mengandalkan sungai-sungi kecil disekitar persawahan yang dibuatkan jalan agar dapat mengairi sawah atau dengan memompa air dari sungai, mengandalkan air hujan saat musim penghujan dengan cara membuat tadah hujan yang akan digunakan untuk mengairi sawah ketika musim kemarau tiba. Tentu saja pengairan yang seperti itu sangat tidak efektif baik bagi tanaman maupun bagi petani sendiri memerlukan tenaga yang besar tapi hasil panen tidak maksimal. Kurangnya pengetahuan tentang pupuk di Desa Bogempinggir juga menyebabkan petani hanya menggunakan pupuk  urea dan pupuk kandang saja, padahal pupuk urea tidak baik jika digunakan terus menerus pada tanaman. Selain itu pupuk kandang juga tidak menyediakan semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman, pupuk kandang meningkatkan resiko terkontaminasinya tanaman dengan bakteri yang terkandung dalam pupuk karena pupuk kandang merupakan kotoran dari hewan ternak. Perlu menggunakan berbagai jenis pupuk untuk memenuhi kebutuhan zat hara tanah bagi tanman.

Cara pembasmian gulma di Desa Bogempinggir juga bisa dibilang masih sangat tradisional yaitu hanya dicabut sendiri oleh para pemilik sawah dari satu sisi ke sisi yang lain. Tentu saja cara ini sangatlah menguras energi dan tidak efektif bagaimana tidak karena luasnya lahan yang dimiliki para petani, setelah petani mencabuti sisi yang lain dan berpindah ke sisi lainnya gulma-gulma baru akan mulai muncul lagi pada sisi yang sebelumnya telah dicabut gulmanya sehingga nutrisi untuk tanaman akan terbagi tidak terserap oleh tanaman secara maksimal. Petani di Desa Bogempinggir juga tidak begitu mengenal pestisida lagi-lagi karena kurangnya pengetahuan akan pestisida, kalaupun ada pestisida yang diketahui petani formulanya masih sangat sederhana dan dibuat dari bahan-bahan alami oleh para petani sendiri.

Pemanenan padi di Desa Bogempinggir juga masih menggunakan cara yang tradisional yaitu disabit batang-batang padi dari lahan ke lahan lalu dirontokkan dengan mesin perontok yang masih manual menggunakan bantuan beberapa manusia untuk memproses perontokan padi. Sehingga membutuhkan waktu yang lama juga tenaga yang besar, selain itu biji-biji padi juga tidak terlepas sempurna banyak biji padi yang masih menempel di batang padi mengharuskan petani melakukan perontokan dengan cara di pukul-pukul dengan kuat lalu memilah antara biji padi dan daun padi yang kering.

Pandangan anak muda tentang petani yang dianggap rendah drajatnya membuat minat para pemuda untuk mempelajari pertanian sangatlah rendah bahkan bagi pemuda di pedesaan itu sendiri, mereka lebih berkeinginan untuk bekerja sebagai pegawai kantoran yang berdomisili di kota. Padahal jika dilihat peluangnya pertanian sangatlah meyakinkan selama pertanian itu menggunakan ilmu dan teknik yang benar serta mengikuti era modern dengan menggunakan teknologi-teknologi yang dapat diaplikasikan pada pertanian. Seiring berkembangnya zaman pertanian konvensional akan kalah dengan pertanian modern yang lebih unggul dari segala aspek, akhirnya kearifan lokal pedesaan pun akan hilang karena tegerus oleh zaman modern. Perlu adanya kesadaran dari para pemuda dan pemerintah agar kearifan lokal tetap terjaga tanpa tergerus oleh zaman tetapi juga tidak merugikan petani pedesaan yang tentu saja kalah saing dengan petani-petani modern di perkotaan.

Oleh: Novita Febrianti