iklan

Kawasan Hidrologi Gambut , Kawasan Perdesaan (Gambut) dan Desa Peduli Gambut

Setelah berdiskusi dan berbagi gagasan pada lokakarya kawasan perdesaan gambut di 6 provinsi, 17 kabupaten dan 1 kota (plus 1 provinsi dan 1 kabupaten yang tidak sempat menghadiri) pada akhirnya tulisan pada status ini ingin menjawab secara reflektif ada apa denganKesatuan Hidrologi Gambut (KHG), kenapa kawasan perdesaan, dan bagaimana posisi desa dan masyarakatnya.

(Mungkin) Bagi para insinyur, ilmuwan, peneliti atau lembaga setengah riset dan setengah konsultan sudah sangat familiar dengan pendekatan landscape/bentang alam seperti KHG. Terlebih pendekatan yg dinilai sangat komprehensif, menjawab beragam persoalan dgn menghitung parameter biofisik, ekologi dan sosial dapat dilukis dalam sebuah peta hamparan kaya garis minim cerita dan rasa. Namun untuk kasus kawasan hutan atas dasar fungsi dan kesamaan biofisik yang terkontrol tanpa terpotong oleh otoritas administratif mungkin ini relevan.

Sementara sebelum lahir undang-undangn (UU) Desa, pendekatan bentang alam (fungsional) dan administratif sudah termuat dalam UU Tata Ruang. Terjemahan yang paling sering ditemukan adalah kawasan agropolitan dengan ornamen-ornamen penghias seperti stasiun agrobisnis yang ditentukan oleh parameter ekonomi ruang, aksesbilitas dan pola arus barang dan jasa. Intinya, seperti kemauan atau tuntutan para perancang ruang menemukan mana pusat pertumbuhan (main land) mana wilayah satelite (hinter land). Lagi-lagi ini mengasyikkan bagi penggemar pengolah data matriks, tapi sangat membantu mengarahkan program pembangunan yang integtatif sesuai fokus, kesamaan karakter dan seterusnya. hal yang terpenting para pemegang otoritas administratif tahu siapa melakukan apa, dan program pembangunan apa yang harus dilaksanakan.

Hakikatnya ekosistem gambut adalah hamparan dengan ciri ekologi (bukan ekologi ala disiplin biologi semata) khas dan serupa dan hadirnya UU Desa dimana desa memiliki otoritas yang sebelumnya hilang atau dihilangkan, kawasan perdesaan gambut menjadi relevan sebagai salah satu cara melindungi dan memanfaatkan ekosistem gambut yang mempertemukan inisiasi atas dan bahwah dalam kesatuan ekologis. Akan tetapi kawasan perdesaan gambut adalah ujung dari kebijakan atau kemasan (dengan segala teknik dan tahapan membentuk kawasan perdesaan).

Ditingkat desa, kawasan perdesaan gambut adalah program, tapi ruh nya adalah kerjasama antar desa (sambil mengaminkan cara pandang Ditejn Pembangunan Kawasan Perdesaan (PKP) Kemendesa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT). Sukurlah kerjasama antar desa sebelum UU Desa sudah digaungkan oleh kawan-kawan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) melalui Badan Kerjasama antar Desa. Jauh sebelum itu, Pak Sajogyo (dan dilanjutkan oleh para murid nya), berkeyakinan perlunya penguatan institusi kecamatan. Otonomi tingkat 3 adalah kecamatan. Namun sejak ada UU Desa, Bumdes antar desa mjd lebih operasional.

Kawasan perdesaan gambut ruhnya adalah kerjasama antar desa yg tdk melulu diikat oleh kesamaan ekologi, produk unggulan tapi adalah kesamaan identitas sebagai masyarakat gambut. Salah satu yg terngiang-ngiang saat ini, hasil dari muter di lokakarya kawasan perdesaan gambut, masyarakat Desa Peduli Gambut (DPG )Batola akan berbicara yang sama ketika membahas purun. Purun, gambut dan perempuan adalah kesatuan ekologis sejati bagi masyarakat DPG di Batola. Didalamnya ada sejarah, indentitas, inovasi teknologi singkatnya budaya tinggi. Begitu juga DPG di Barsel, rotan adalah pengikat identitas budaya, sosial dan ekonomi. Gambut terbakar menyebabkan masyarakat makin jauh dari rotan dengan kata lain, masyarakat semakin menjauh dari identitasnya. Semoga kerjasama antar desa gambut dalam suasana kawasan perdesaan gambut selain #pulihkangambut tapi juga #pulihkankemanusian masyarakat gambut (identitas, budaya, politik, martabat dan ekonomi).

Oleh :Muhammad Yusuf (Tenaga Ahli Kedeputian 3 BRG)

Ashwagandha Sebagai Obat Kanker

Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jemal et. al (2011) kanker merupakan salah penyebab utama kematian di negara industri dan penyebab kedua kematian di negara berkembang. Setiap tahunnya kasus kanker di seluruh dunia sebesar 12,7 juta dengan angka kematian 7,6 juta (Al-Dimassi, 2014). Kanker adalah sel-sel jaringan tubuh yang tumbuh tidak normal sehingga terjadi mutasi dan perubahan struktur biokimia (Wijaya dan Muchtaridi, 2017).

Saat ini biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan proses penyembuhan penyakit kanker tergolong sangat mahal. Beberapa kejadian di indonesia masyarakat atau pasien yang terkena panyakit kanker harus melakukan operasi dengan biaya yang sangat mahal. Biaya yang sangat mahal tentunya tidak semua pasien dapat membayarnya untuk melakukan operasi atau pengobatan. Sehingga perlu ada alternatif lain yang dapat digunakan untuk mengobati kanker dengan biaya yang murah.

Pengobatan kanker yang relatif murah dan terjangkau, salah satunya dengan menggunakan bahan alami yang mudah didapat. Obat alami yang dapat digunakan sebagai obat kanker adalah ashwagandha. Ashwagandha merupakan tanaman semak atau gingseng india yang umunya digunakan di ayurveda dan sudah di gunakan di india sejak 5000 tahun lalu  yang dikenal dengan “herbal untuk awet muda dan memperpanjang usia”.

Penelitian Ashwagandha sudah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti, salah satunya penelitian widodo et. al (2007). Penelitian yang dilakukan menggunakan menggunakan tikus sebagai bahan percobaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tikus yang sudah diinjeksi dengan ekstrak daun Ashwagandha pada hari ke-20 tumornya hilang. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun Ashwagandha sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tumor pada tubuh tikus.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Ashwagandha dapat digunakan sebagai salah satu obat alami dan murah. Pengembangan atau budidaya Ashwagandha saat ini masih sangat kurang, sehingga bisa menjadi sebuah peluang untuk dijadikan sebagai budidaya tanaman obat-obatan. Sebagai negara yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati, indonesia harusnya dapat menjadi sebagai sentra tanaman obat.

Manfaat dan Keunggulan Pupuk Organik Cair

Tren penggunaan pupuk organik cair berkembang cepat pada era kekinian. Para petani, ibu rumah tangga, tak jarang terlihat anak sekolah mulai menyukai pemanfaatan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik cair mulai menjadi tren ketika dampak pemanfaatan pupuk kimia yang dapat menyebabkan berbagai kendala, khususnya kendala terhadap masalah kerusakan lingkungan dan kesehatan, mulai dari rusaknya rantai makanan, degradasi lahan, kesehatan manusia, hingga ketergantungan petani terhadap pupuk murah di pasaran. Hal tersebut diatas membuat pupuk organik cair mulai menjadi alternatif solusi dewasa ini ditengah-tengah kompetisi global, khususnya diantara berbagai macam jenis pupuk.

Terdapat banyak sekali pupuk organik yang digunakan oleh para petani di lahan. Pupuk organik secara teoritis dibedakan berdasarkan bentuk serta bahan penyusunnya. Berdasarkan dari aspek bentuk, terdapat pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Adapun berdasarkan dari bahan penyusunnya terdapat pupuk hijau, pupuk kandang dan pupuk kompos. Pada tulisan ini, posisi pupuk organik cair terdapat dalam macam/jenis pupuk adalah terletak pada segi bentuk.

Pada prinsipnya pupuk organik cair memiliki fungsi tidak berbeda dengan pupuk lainnya (pupuk kompos atau pupuk kandang dan jenis pupuk organik lainnya). Pupuk cair organik dapat bersumber dari bahan baku  kotoran ternak dan atau atau sisa-sisa tanaman yang kemudian dilakukan proses pemilahan dan pengomposan melalui keterlibatan mikro-organisme.

Adapun pupuk organik cair menurut jenisnya terdapat dua jenis pupuk cair yang dapat diproduk skala kecil (rumah tangga), yaitu melalui metode pelarutan dan pupuk cair dari hasil fermentasi. Kandungan nutrisi yang terkandung dari keduanya tidaklah jauh berbeda namun proses pembuatannya yang berbeda. Penggunaan daripada pupuk organik cair memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan yang dapat membedakan dengan jenis pupuk lainnya.

Pada dasarnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa kandungan pada pupuk organik cair cocok digunakan pada berbagai macam karakteristik tanah. Pupuk organik cair memungkinkan tanah dan tanaman dapat menyerap nutrisi (yang terdapat pada tanah) dengan lebih cepat dan mudah. Keunggulan pupuk organik cair lain0lainnya yaitu mengandung berbagai mineral, serta zat-zat esensial yang dibutuhkan tanah dan tanaman, dan hormon pertumbuhan tanaman yang keseluruhnya juga tidak menyebabkan kerusakan atau degradasi kualitas lingkungan, malah justru membudidayakan sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Oleh : Aulia Nur Mustaqiman

Nikmatinya kopi “Bulan Madu”

Nikmatnya Kopi Bulan Madu Racikan Alumni Bata-Bata Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbaik dunia. Kopi ini tumbuh di atas 1000 dpl di kawasan lereng Gunung Ijen, Raung dan Argopuro. Kopi yang tumbuh di sekitar lereng Gunung Ijen dan Raung ini juga telah diproses secara organik oleh petani dengan menggunakan pola tanam dan perawatan sesuai standar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia.

Kopi ini memiliki cita rasa khas yakni beraroma coklat dengan rasa manis dan pedas jika dikecap lama – lama. Selain itu kadar keasaman juga pas dan tak berbahaya untuk lambung. Cita rasa yang khas inilah yang juga mengantarkan kopi Bondowoso memperoleh sertifikat indikasi geografis dengan nama “Java Ijien Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Kini  kopi Bondowoso juga telah di ekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika.

Peluang bisnis ini kemudian ditangkap oleh Muhlis Adi Rangkul, alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang kini tinggal di Perumahan Taman Mutiara, Blok AA-15, Pejaten Bondowoso.

Bondowoso dideklarasikan sebagai sebagai “Republik Kopi” pada Mei 2016 kemarin oleh Drs. H. Amin Said Husni Bupati Bondowoso, yang juga Presiden Republik Kopi. “Jadi sejak Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi, saya kemudian membuka usaha kopi. Saya menjualnya dalam bentuk bubuk kopi murni. Namun demikian, kopi Bulan Madu ini hanya khusus untuk oleh oleh. Saya tidak buka cafe,” ujar Muhlis.

Menurut Muhlis, saat ini ia masih belum memiliki alat yang memadai untuk memproduksi sendiri. Sehingga ia kemudian bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani kopi di Kecamatan Sumber Wringin dan Kecamatan Pakem. Kelompok petani kopi ini merupakan binaan DInas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Bondowoso. Mereka mengolah kopi mulai dari menanam hingga memetik sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).

“Jadi saya membeli bubuk kopi murni dari para petani yang sudah bekerja secara professional itu. Lalu saya mengemas kopi bubuk murni itu dengan kemasan yang menarik. Adapun harga per bungkus adalah Rp. 50.000 dengan berat bersih 200 gram,” terangnya. Kopi-kopi yang sudah ia kemas itu, lanjut Muhlis kemudian ia jual ke sejumlah daerah semisal Jember, Situbondo, Banyuwangi, Malang, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Dalam setiap harinya, rata-rata ia mampu menjual antara 5-10 bungkus. “Biasanya kopi bulan madu itu dijadikan oleh-oleh. Selain itu juga untuk konsumsi pribadi dan juga keluarga,” terangnya. Menurut dia, kopi bulan madu tidak berbahaya di lambung. “Salah satu cara efektif untuk mengetahui kopi itu baik untuk pencernaan adalah melalui bau kencing. Kalau kita minum kopi kemudian ketika buang air kecil kita berbau kopi, itu biasanya tidak baik untuk pencernaan.

Namun jika tidak bau, maka itu dapat diartikan baik untuk pencernaan,” katanya. Untuk menghasilkan rasa yang lebih baik, cara penyeduhan kopi bulan madu adalah dengan cara memasukkan 10 gram bubuk kopi murni kopi bulan madu ke dalam gelas atau cangkir. Kemudian air dimasak hingga mendidih dan diamkan beberapa saat. Setelah itu masukkan air ke dalam gelas atau cangkir perlahan-lahan. Selanjutnya seduh ke kiri, bukan kekanan agar aromanya naik ke atas. Baru kemudian dimasukkan gula sesuai selera.