iklan

Faktor Klimat dan Persyaratan Lingkungan Tanaman Kopi

Habitat alami dari semua spesies kopi adalah tumbuhan bawah hutan tropis Afrika. Banyak bentuk C. canephora dapat ditemukan di hutan dataran rendah khatulistiwa dari Guinea ke Uganda, sedangkan populasi alami C. arabica dibatasi pada hutan dataran tinggi di Ethiopia barat daya (Berthaud dan Charrier, 1988) pada ketinggian 1600-2800 mdpl. Persyaratan curah hujan bergantung pada sifat retensi tanah, kelembaban atmosfer dan tutupan awan, serta praktik budidaya. Kisaran curah hujan tahunan optimal adalah 1200-1800 mm untuk kopi arabika (Alègre, 1959). Rentang yang serupa tampaknya dibutuhkan untuk robusta, meskipun beradaptasi lebih baik daripada arabika dengan curah hujan intensif melebihi 2000 mm (Coste, 1992). Untuk kedua spesies, musim kering yang berlangsung dua sampai empat bulan, sesuai untuk merangsang pembungaan (Haarer, 1958).

Curah hujan yang melimpah sepanjang tahun seringkali menjadikan hasil panen rendah. Kurangnya periode kering juga berakibat jelek bagi budidaya kopi di daerah tropis dataran rendah (Maestri dan Barros, 1977). Kisaran suhu rata-rata tahunan optimum untuk kopi arabika adalah 18-21 ºC (Alègre, 1959). Di atas 23ºC, dapat mempercepat pematangan buah, sering menyebabkan hilangnya kualitas (Camargo, 1985).

Suhu tinggi saat mekar, terutama jika dikaitkan dengan musim kemarau yang berkepanjangan, dapat menyebabkan bunga gugur (Camargo, 1985). Namun perlu dicatat bahwa kultivar terpilih yang berada di bawah kondisi pengelolaan intensif telah memungkinkan perkebunan kopi arabika menyebar ke wilayah marjinal dengan suhu rata-rata setinggi 24-25ºC, dengan hasil yang memuaskan, seperti di Brazil timur laut (Da Matta dan Ramalho, 2006).

Di sisi lain, di daerah dengan suhu tahunan rata-rata di bawah 17-18ºC, pertumbuhan sebagian besar mengalami depresi. Terjadinya embun beku, meski sporadis, sangat mungkin membatasi keberhasilan ekonomi tanaman (Camargo, 1985). Untuk kedua spesies kopi, suhu rata-rata tahunan optimum berkisar antara 22 sampai 26ºC (Matiello, 1998), atau menurut Willson (1999), dari 24 sampai 30ºC. Robusta jauh lebih mudah beradaptasi dengan suhu yang lebih rendah daripada kopi arabika.

Kelembaban udara memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif pohon kopi. Kopi robusta berhasil tumbuh di bawah kelembaban udara yang tinggi atau di tempat yang lembab, asalkan musim kemarau pendek. Sebaliknya, kopi arabika membutuhkan atmosfer yang kurang lembab, sebanding dengan dataran tinggi Etiopia (Haarer, 1958; Coste, 1992).

Kopi Lanang,Kopi Ekslusif

Akhir-akhir ini sebutan “kopi lanang” seringkali muncul saat memesan kopi di kafe atau saat membeli biji kopi dikota malang.

Banyak orang yang bingung saat dihadapkan dengan nama tersebut, mengingat “lanang” sendiri berarti laki-laki dalam bahasa Indonesia.

“Kalau dilihat dari struktur buah kopi, saat dibuka ada dua beans (biji) karena memang tumbuhan kopi dikotil,” kata Fahreza salah satu barista cafe dijalan MT Haryono malang , Kamis (27/07/2017). Sedangkan pada biji kopi yang disebut lanang, keadaan buahnya berbeda.

Fahreza memberikan contoh bentuk biji lanang yang dibawanya.

“Jadi yang disebut kopi lanang atau kopi jantan itu dalam satu buah hanya ada satu biji kopi. Namun menempel atau dempet, ibaratnya kembar siam,” kata Fahreza.

Karena tumbuh berbeda, biji kopi lanang akhirnya memiliki rasa yang lebih kuat daripada biji kopi biasa.

“Karena biji kopi lanang ini yang harusnya tumbuh dua, justru jadi satu sehingga menyerap lebih banyak dan otomatis rasanya lebih kuat, dianggap cocok untuk laki-laki. Dari segi rasa biji kopi lanang sedikit lebih kental, namun tak signifikan,” kata Fahreza.

Itulah asal usul kopi lanang yang juga disebut peaberry.

Biji kopi lanang ini, menurut Aris, bisa dimanfaatkan dari segi bisnis.

“Ada orang yang natural, tak dipisahkan antara biji kopi biasa dan lanang. Tetapi ada juga orang yang memisahkan. Misalnya ingin kopi sumatera lanang, maka dipilihlah biji kopi lanang itu,” kata Fahreza.

Harga biji kopi lanang akhirnya lebih mahal saat dijual di pasaran.

Menurut Fahreza, memerlukan usaha lebih untuk memisahkan biji dikotil dan monokotil dari buah kopi.

Padahal dalam satu pohon kopi biasanya selalu ada 10-20 persen biji kopi lanang, sehingga dapat dikatakan biji kopi ini sangatlah ekslusif.