iklan

Refleksi Program Magister Agribisnis Universitas Brawijaya

Universitas Brawijaya membuka Program Magister Agribisnis

Universitas Brawijaya membuka Program Magister Agribisnis melalui proses pengusulan program studi baru secara online. Penyusunan proposal atau usulan pembukaan program studi ini sudah dimulai sejak tahun 2009 oleh tim penyusun atau pendiri dengan Ketua adalah Prof. Ir. Ratya Anindita, MS., Ph.D, Wakil Ketua adalah Dr. Ir. Suhartini, MP., dan anggota terdiri dari Ir. Agustina Shinta HW , MP., Nur Baladina, SP., MP, Wisynu Ari Gutama, SP., MMA dan Riyanti Isaskar, SP., M.Si.  Pada awalnya Program Studi yang diusulkan adalah MMA (Magister Manajemen Agribisnis) secara off line, namun setelah proses pengusulan secara online maka yang diberikan oleh Dikti adalah S2 Agribisnis yang berada di bawah Fakultas Pertanian, sesuai dengan nomenklatur yang ada di Dikti. Proses penyusunan proposal dan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pengusulan program studi dengan sistem online ini dilakukan oleh tim mulai tahun 2010, melalui proses yang panjang. Akhirnya berhasil mendapatkan ijin operasional dengan SK Mendikbud No. 595/E/O/2014. Dengan keluarnya izin tersebut, maka pengelolaan Program Magister Agribisnis dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Program Studi Magister Agribisnis ini di rancang sesuai yang diusulkan dalam proposal pengusulan mempunyai visi: Menjadi Program Pendidikan S2 Agribisnis yang unggul di tingkat nasional dan internasional yang berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan agribisnis yang berkelanjutan yang berbasis potensi lokal dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program studi ini dirancang dengan membuka 2 minat studi yaitu Manajemen Agribisnis dan Perencanaan Pembangunan Agribisnis. Seperti dituliskan dalam usulan program studi ke Dikti, Program Magister Agribisnis merupakan integrasi semua laboratorium di Jurusan Sosial Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya pada saat itu yaitu Lab. Ekonomi Pertanian, Lab. Manajemen Agribisnis dan Lab. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yang membedakan dengan program studi serupa di universitas lain sesuai yang dituliskan dalam proposal pendirian adalah pembangunan yang berorientasi pada masyarakat lokal (local development) termasuk UMKM.

Nikmatinya kopi “Bulan Madu”

Nikmatnya Kopi Bulan Madu Racikan Alumni Bata-Bata Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbaik dunia. Kopi ini tumbuh di atas 1000 dpl di kawasan lereng Gunung Ijen, Raung dan Argopuro. Kopi yang tumbuh di sekitar lereng Gunung Ijen dan Raung ini juga telah diproses secara organik oleh petani dengan menggunakan pola tanam dan perawatan sesuai standar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia.

Kopi ini memiliki cita rasa khas yakni beraroma coklat dengan rasa manis dan pedas jika dikecap lama – lama. Selain itu kadar keasaman juga pas dan tak berbahaya untuk lambung. Cita rasa yang khas inilah yang juga mengantarkan kopi Bondowoso memperoleh sertifikat indikasi geografis dengan nama “Java Ijien Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Kini  kopi Bondowoso juga telah di ekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika.

Peluang bisnis ini kemudian ditangkap oleh Muhlis Adi Rangkul, alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang kini tinggal di Perumahan Taman Mutiara, Blok AA-15, Pejaten Bondowoso.

Bondowoso dideklarasikan sebagai sebagai “Republik Kopi” pada Mei 2016 kemarin oleh Drs. H. Amin Said Husni Bupati Bondowoso, yang juga Presiden Republik Kopi. “Jadi sejak Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi, saya kemudian membuka usaha kopi. Saya menjualnya dalam bentuk bubuk kopi murni. Namun demikian, kopi Bulan Madu ini hanya khusus untuk oleh oleh. Saya tidak buka cafe,” ujar Muhlis.

Menurut Muhlis, saat ini ia masih belum memiliki alat yang memadai untuk memproduksi sendiri. Sehingga ia kemudian bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani kopi di Kecamatan Sumber Wringin dan Kecamatan Pakem. Kelompok petani kopi ini merupakan binaan DInas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Bondowoso. Mereka mengolah kopi mulai dari menanam hingga memetik sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).

“Jadi saya membeli bubuk kopi murni dari para petani yang sudah bekerja secara professional itu. Lalu saya mengemas kopi bubuk murni itu dengan kemasan yang menarik. Adapun harga per bungkus adalah Rp. 50.000 dengan berat bersih 200 gram,” terangnya. Kopi-kopi yang sudah ia kemas itu, lanjut Muhlis kemudian ia jual ke sejumlah daerah semisal Jember, Situbondo, Banyuwangi, Malang, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Dalam setiap harinya, rata-rata ia mampu menjual antara 5-10 bungkus. “Biasanya kopi bulan madu itu dijadikan oleh-oleh. Selain itu juga untuk konsumsi pribadi dan juga keluarga,” terangnya. Menurut dia, kopi bulan madu tidak berbahaya di lambung. “Salah satu cara efektif untuk mengetahui kopi itu baik untuk pencernaan adalah melalui bau kencing. Kalau kita minum kopi kemudian ketika buang air kecil kita berbau kopi, itu biasanya tidak baik untuk pencernaan.

Namun jika tidak bau, maka itu dapat diartikan baik untuk pencernaan,” katanya. Untuk menghasilkan rasa yang lebih baik, cara penyeduhan kopi bulan madu adalah dengan cara memasukkan 10 gram bubuk kopi murni kopi bulan madu ke dalam gelas atau cangkir. Kemudian air dimasak hingga mendidih dan diamkan beberapa saat. Setelah itu masukkan air ke dalam gelas atau cangkir perlahan-lahan. Selanjutnya seduh ke kiri, bukan kekanan agar aromanya naik ke atas. Baru kemudian dimasukkan gula sesuai selera.

Ketahanan Pangan Nasional: Potensi dan Tantangannya

Secara umum, kebanyakan masyarakat menganggap bahwa permasalahan utama dalam mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia saat ini terkait dengan adanya fakta bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Sementara itu, kapasitas produksi pangan nasional pertumbuhannya melambat bahkan stagnan disebabkan oleh adanya degradasi sumber daya lahan, kerusakan infrastruktur irigasi, serta kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan air.

Pada karya tulis ini dikaji beberapa aspek yang menurut opini penulis hal tersebut merupakan faktor-faktor yang cukup mampu memengaruhi pencapaian ketahanan pangan di Indonesia.

  1. Sisi Penyediaan Pasokan

Ketidakseimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional tersebut mengakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya penyediaan pangan nasional yang berasal dari impor. Dari sisi penyediaan pasokan, paling tidak ada lima hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, kendala sumber daya alam. Kompetisi pemanfaatan lahan termasuk perairan dan air akan semakin tajam karena adanya sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan penduduk dalam persentase dan jumlah yang besar. Pada saat ini angka konversi lahan pertanian yang sering dikemukakan kepada publik oleh para pejabat atau akademisi berkisar antara 60.000 ha sampai 100.000 ha per tahun. Kualitas lahan dan air juga makin terdegradasi karena dampak penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus digunakan dalam kurun waktu panjang dan limbah industri yang merembes ke lahan pertanian. Selain itu, prasarana pertanian yang sudah ada juga sebagian rusak. Sebagai contoh, menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (2013) sekitar 36 persen atau 2,6 juta ha dari total 7,2 juta ha jaringan irigasi rusak. Kondisi ini saja sudah akan menurunkan kapasitas produksi pangan nasional, karena produksi pangan Indonesia masih berbasis lahan (land base).

Kedua, dampak perubahan iklim global. Dalam tiga tahun terakhir ini, kejadian iklim ekstrem di Indonesia terasa lebih nyata. Masyarakat mengalami kejadian fenomena iklim ekstrem yang frekuensinya makin sering. Pola dan intensitas curah hujan yang berbeda dari sebelumnya, kenaikan temperatur udara, banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi, dan intensitas serangan hama serta penyakit yang semakin tinggi, merupakan beberapa gejala perubahan iklim yang dapat berdampak pada penurunan produktivitas tanaman pangan. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dalam proses usahatani pangan seperti penyesuaian waktu tanam, pola tanam, penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap cekaman iklim, dan pengelolaan air secara efisien. Para peneliti di International Rice Research Institute (IRRI) dengan menggunakan data rentang waktu tahun 1979 sampai 2003 menyimpulkan rata-rata tahunan temperature maksimum dan minimum telah meningkat masing-masing sebesar 0,35 dan 1,23 derajat Celsius. Lebih lanjut para peneliti tersebut berpendapat produktivitas padi dapat menurun 10 persen untuk setiap kenaikan 1 derajat Celcius temperatur minimum di malam hari di musim tanam pada musim kering (Peng et al., 2004). Penelitian pada tanaman padi di Sulawesi Utara menyimpulkan hal serupa, kenaikan suhu udara 1 derajat Celsius dan curah hujan 5 persen, dapat menurunkan produksi padi sekitar 7,7 persen (Hosang et al., 2012). Sementara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2011) telah melakukan review komprehensif mengenai dampak negative perubahan iklim terhadap produksi berbagai komoditas pertanian melalui beberapa variable, seperti perubahan pola curah hujan, suhu udara, dan kenaikan muka air laut. Hasil review juga menyimpulkan perubahan iklim global mempunyai dampak negatif terhadap produktivitas berbagai tanaman pangan.

Ketiga, pertanian Indonesia dicirikan atau didominasi oleh usahatani skala kecil. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013 dari BPS, jumlah rumah tangga petani sebanyak 26,14 juta dengan rata-rata penguasaan lahan 0,98 ha dan sekitar 56 persen atau 14, 6 juta rumah tangga rata-rata mengusahakan lahan di bawah 0,5 ha. Sementara itu, rata-rata pengusahaan lahan petani padi sawah kurang dari 0,2 ha (Direktorat Pangan dan Pertanian, Bappenas, 2013). Petani kecil ini dihadapkan pada persoalan klasik yang belum berhasil diatasi dengan baik, seperti keterbatasan akses terhadap pasar, permodalan, informasi, dan teknologi (Suswono, 2013). Bila tidak ada rekayasa sosial untuk mengatasi permasalahan tersebut, akan sangat berat bagi Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan.

Keempat, adanya ketidakseimbangan produksi pangan antarwilayah. Hampir untuk semua komoditas, proporsi produksi pangan di Jawa lebih dari 50 persen dari produksi pangan nasional. Ketidakseimbangan ini akan meningkatkan permasalahan upaya pemerataan pangan dan ongkos distribusi pangan, sehingga mempersulit penyediaan pangan secara spasial merata ke seluruh daerah di Indonesia. Bila tidak dilakukan pembangunan infrastuktur dan sistem logistik pangan antarwilayah, akan sulit untuk mengatasi ketidakseimbangan produksi antarwilayah.

Kelima, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan pangan masih cukup tinggi. Kehilangan pangan (food losses) karena ketidaktepatan penanganan pangan mulai dari saat panen sampai dengan pengolahan dan berlanjut pada pemasaran, dipercayai masih sekitar 10 persen sampai 20 persen, bergantung pada komoditas, musim, dan teknologi yang digunakan. Sementara itu, pemborosan pangan (food waste) yang terjadi mulai dari pasar konsumen akhir sampai dibawa dan disimpan di rumah, lalu disajikan di meja makan namun tidak dimakan, diperkirakan mencapai lebih dari 30 persen. FAO melaporkan sepertiga dari bagian pangan yang dapat dikonsumsi terbuang percuma atau diboroskan (FAO, 2011b). Demikian juga permasalahan pemborosan pangan di Indonesia cukup besar, seperti banyaknya makanan yang terbuang di restoran, resepsi pernikahan, atau acara rapat/pertemuan, bahan pangan yang terbuang sebelum dimasak, dan makanan yang sudah disajikan di meja makan di rumah namun tidak termakan seluruhnya. Walaupun sudah lama disadari adanya kehilangan hasil pangan pada saat penanganan dan distribusinya, namun belum ada program pemerintah yang berhasil mengatasinya secara tuntas. Sementara itu, untuk mengatasi persoalan pemborosan pangan diperlukan pemahaman dan kesadaran akan besarnya nilai ekonomi yang dibuang percuma dari para pelaku pada sistem distribusi dan pemasaran, anggota rumah tangga, maupun aparat pemerintah.

  1.  Sisi Pemenuhan Kebutuhan

Ada empat tantangan yang dihadapi dari sisi kebutuhan dan pemanfaatan pangan, yaitu terkait dengan peningkatan pendapatan per kapita, peningkatan penduduk dan dinamika karakteristik demografis, perubahan selera karena akses terhadap informasi atau promosi pangan global yang sangat tinggi, dan persaingan pemanfaatan bahan pangan. Penjabaran lebih lanjut dari tantangantantangan dari sisi kebutuhan dan pemanfaatan pangan disajikan berikut ini.

Pertama, adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi beserta dinamika karakteristik demografisnya, di antaranya urbanisasi dan peningkatan proporsi wanita masuk pasar tenaga kerja. Kuantitas atau jumlah kebutuhan pangan setiap tahun akan meningkat selaras dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yaitu 1,35 persen per tahun. Karena jumlah penduduk yang besar (tahun 2014 sebesar 252 juta jiwa), maka tambahan permintaan pangan per tahun juga akan sangat besar. Urbanisasi yang merupakan salah satu dinamika kependudukan masih akan terus berlanjut dengan alasan dorongan keluar (push factor) dari sektor pertanian, karena sektor ini tidak dapat menampung angkatan kerja baru atau tidak dapat memenuhi harapan terkait upah yang diterima atau kondisi kerja yang dinilai tidak nyaman. Selain urbanisasi, perubahan beberapa daerah yang sebelumnyaberciri desa bertransformasi menjadi tempat  yang mempunyai karakter kota kecil atau kotasedang akan terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan otonomi daerah. Kedua faktor ini akan mempercepat peningkatan penduduk kota atau daerah berciri kota. Pada saat ini penduduk kota sebesar 49,5 persen dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 60 persen pada tahun 2025. Hal ini akan membawa konsekuensi proporsi pola permintaan pangan berciri preferensi penduduk kota menjadi lebih besar. Pola permintaan tersebut pada umumnya akan lebih beragam, lebih memperhatikan kualitas dan keamanan pangan, serta proporsi pengeluaran makanan untuk makanan jadi dan makan di luar rumah yang lebih besar. Partisipasi angkatan kerja wanita juga meningkat. Menurut data BPS, pada tahun 2010 sebesar 36,4 persen total angkatan kerja adalah wanita. Dari total wanita yang bekerja, sekitar 57,6 persen bekerja di luar sektor pertanian. Dalam 10 tahun ke depan diperkirakan akan semakin besar lagi proporsi wanita yang bekerja. Hal ini akan memperkuat peningkatan permintaan untuk makanan jadi. baik yang dimakan di luar rumah maupun di dalam rumah.

Kedua, pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir cukup tinggi rata-rata di atas 5 persen per tahun. Dalam 10 tahun mendatang. sasaran pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut akan terus dipertahankan karena memang negeri ini perlu mengejar ketertinggalan pembangunan ekonomi dari negara-negara yang sudah maju. Pertumbuhan ekonomi tinggi berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita atau daya beli masyarakat, walaupun sebarannya tidak merata ke setiap individu. Situasi ini akan meningkatkan permintaan pangan dari sisi kualitas, keragaman, mutu, dan keamanannya. Salah satu upaya untuk menanganinya dan sekaligus memanfaatkan peluang bisnis pangan olahan adalah melalui penguasaan dan penerapan teknologi pangan agar dapat merespon perubahan permintaan pangan, sehingga mampu menyediakan pangan sesuai dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen dengan baik.

Ketiga, pada saat ini sedang berlangsung perubahan selera konsumsi pangan yang mulai meninggalkan pangan lokal dan makanan tradisional. Pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh sumber daya pangan di sekitarnya, daya beli masyarakat, pengetahuan tentang pangan dan gizi, dan selera konsumen. Perubahan selera pangan pada saat ini dibentuk dan dipengaruhi secara kuat oleh perkembangan pesat teknologi informasi media yang dimanfaatkan oleh media promosi/periklanan, termasuk pengiklan yang menjajakan makanan dan minuman yang mencitrakan produknya berlabel tren masa kini, keren, dan global. Imanto (2012) lebih jauh menilai iklan televisi cenderung menawarkan produk yang mencerminkan budaya konsumerisme dan gaya hidup konsumtif.

Dengan semakin tersebarnya jaringan televisi sampai ke pelosok negeri dengan isi iklan pangan bersifat persuasif untuk menarik minat dan selera pemirsa, yang menawarkan pangan bercitra keren dan global, maka pola konsumsi pangan masyarakat secara perlahan akan bergeser ke arah itu. Makanan berciri global yang disediakan di restoran, konsumsi makanan cepat saji, dan makan di luar rumah akan semakin diminati. Sebaliknya, makanan yang berlabel atau diidentikkan dengan makanan tradisional atau lokal secara perlahan akan ditinggalkan konsumen. Tren ini akan makin berakselerasi dalam 10 tahun ke depan. Pemanfaatan teknologi pangan, teknologi informasi, dan kampanye gerakan cinta pangan lokal Nusantara diharapkan dapat mengimbangi tantangan perubahan selera pangan akibat iklan makanan tersebut.

Keempat, persaingan permintaan atas komoditas pangan untuk konsumsi manusia (food), pakan ternak (feed), bahan baku energy bio (biofuel), dan bahan baku industri nonpangan akan terus berlangsung dan semakin ketat dalam 10 tahun ke depan. Persaingan permintaan ini diturunkan dari peningkatan permintaan untuk produk ternak, semakin tingginya harga energi berbahan baku fosil, dan peningkatan permintaan produk industry yang memanfaatkan bahan pangan dalam proses produksinya. Permasalahan ini harus dapat diantisipasi secara arif melalui peningkatan produksi komoditas pangan yang tinggi dan pelibatan industri pangan.

Sumber : Ahmad Abyan Aushaf

 

MASYARAKAT EKSTASI DAN DEKONTRUKSI IDENTITAS

Modernisasi dan pembangunan khususnya pembangunan pertanian pada beberapa dekade belakangan ini telah membawa masyarakat petani kedalam berbagai sisi realitas baru kehidupan seperti : kesuksesan, kesempurnaan penampilan, identitas diri, hasrat dan cita-cita, orientasi nilai, moralitas, dll. Kehadiran realitas baru tersebut di atas akan berimplikasi pada hilangnya realitas-realitas masa lalu termasuk kearifan-kearifan masa lalu yang ada di baliknya, yang justru mungkin lebih berharga bagi pembangunan yang berorientasi pada azas-azas humanistik, seperti: rasa kebersamaan, rasa keindahan, spirit spiritualitas, spirit moralitas, dan spirit komunitas.

Jejak-jejak perubahan realitas petani yang dibingkai dengan label petani tradisional (lengkap beserta nilai dan struktur yang ada didalamnya), kini berganti dengan realitas petani yang dicitrakan sebagai petani modern. Sebagai contoh, kehadiran alat mesin traktor, trasplanter, combine harvester menjadi realitas baru dalam realitas petani modern menggantikan realitas buruh tani, peternak sapi dan kerbau bahkan realitas tersebut menggantikan ternak sapi dan kerbau sebagai bagian dari suatu ekosistem. Bunyi aungan sapi dan kerbau yang begitu ramai bersahutan di sawah-sawah petani ketika musim pengolahan tanah tiba, kini berganti dengan deru suara mesin traktor lengkap dengan kepulan asapnya. Begitu juga iring-iringan ibu-ibu buruh tani ketika musim panen dan musim tandur tiba,  berganti dengan parade mesin combine harvester dengan deru mesin dan kepulan asapnya.

Modernisasi dan industrialisasi pertanian ternyata tidak hanya sebatas berdampak pada perubahan alat dan cara usaha tani yang lebih efisien, akan tetapi ada indikasi telah mendorong terjadinya restrukturisasi dan reorientasi nilai dalam kehidupan petani itu sendiri. Seiring kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat, telah muncul gejala-gejala lenyapnya kedalaman makna (deepness), kedangkalan bahasa, lenyapnya batas-batas sosial, bahkan semangat spiritual yang semakin luntur. Masyarakat kontemporer kita dewasa ini cenderung lebih mengutamakan gaya ketimbang makna, lebih menghargai penampilan ketimbang kedalaman, lebih mengejar kulit daripada isi (Piliang, 2011). Pada konteks realitas petani khususnya, menunjukan gejala-gejala yang identik semagaimana yang diungkapkan oleh Piliang (2011), misalnya penggunaan traktor yang disimbolkan sebagai petani modern sedangkan petani yang menggunakan sapi dilabeli petani yang tradisional. Citra petani modern dengan segala kecanggihan alat-alat mesin yang mereka gunakan seakan-akan menjadi simbol kesuksesan, simbol kemegahan dan simbol kekuatan. Padahal alat-alat mesin yang serba canggih tersebut tidak satu pun yang merupakan konstruksi dari realitas petani kita yang sesungguhnya. Kita tidak pernah memikirkan bahwa selalu ada konsekwensi kecanggihan teknologi yang kita pakai. Kita seakan-akan hanyut dalam euforia masyarakat modern yang menggunakan teknologi canggih padahal sesungguhnya kita sengsara ditengah pusaran penjajahan teknologi yang kita gunakan. Dengan istilah lain, simbol kesuksesan, simbol kekuatan, simbol kemegahan yang direpresentasikan dalam kecanggihan alat dan mesin serta teknologi pertanian lainnya bisa jadi masih bersifat semu, dan illusi.

Hingar-bingar modernisasi dan industrialisasi tidak berhenti pada sekedar akumulasi material/kapital (Piliang, 2011), akan tetapi ia memerlukan tanda-tanda untuk merepresentasikan akumulasi tersebut untuk menjadikannya sebagai tontonan (spectacle) yang mengabaikan realitas funsionalnya. Greenhouse termegah dan tercanggih (misalnya garden bay the bay di singapura) telah melunturkan realitas fungsionalnya sebagai arena budidaya tanaman, berganti menjadi simbol kemajuan, simbol kemakmuran dan simbol kesejahteraan. Akan tetapi simbol-simbol tersebut tidak lebih dari sekedar simbol semu, identitas semu, dan makna semu. Simbol kemegahan tersebut sekan tidak peduli dengan nasib petani konvensional yang tergopoh-gopoh mewujudkan kesejahteraan yang real. Simbol-simbol yang dikonstruksi oleh masyarakat modern juga berimplikasi pada reorientasi nilai dan konsep diri. Piliang (2011) mengilustrasikan bahwa masyarakat kontemporer adalah paling berpotensi untuk hilangnya konsep diri didalam hutan rimba citraan (image) masyarakat informasi. Masyarakat informasi global menawarkan beraneka ragam konsep diri lewat iklan, fashion show, teknologi kecantikan, rekayasa genetik, dll. Seakan-akan konsep diri itu kini adalah sesuatu yang dapat diperoleh sebagai sebuah komoditas, sesuatu yang dapat kita beli. Lenyapnya diri yang sesungguhnya menggiring pada lenyapnya –atau setidak-tidaknya – ditolaknya realitas, seperti fenomena pil ectasy. Yang dibeli dari pil ectasy adalah halusinasi dan ilusi. Ketika konsep diri kita menjadi tidak lebih dari sebuah pencitraan semu, illusi dan halusinasi, maka lenyaplah apa yang selama ini disebut sebagai identitas diri. Dengan istilah lain, maka masyarakat yang mengagungkan realitas semu atau masyarakat ectasy akan menggiring terjadinya dekontruksi identitas diri yang penuh dengan halusinasi dan pencitraan.

Sumber : Hamyana, S.ST,M.Si

 

Petunjuk Umum Penggunaan Pestisida Nabati

Secara umum penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, mulai dari teknik penyediaan bahan baku sampai produksi masih terbatas. Cara sederhana pemanfaatan pestisida nabati yang umum dilakukan oleh petani di Indonesia dan di negara berkembang lainnya adalah penyemprotan cairan hasil perasan tumbuhan (ekstraksi menggunakan air), pengolahan sederhana, penempatan langsung atau penyebaran bagian tumbuhan di tempat – tempat tertentu pada lahan pertanaman, pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan aktif pestisida), penggunaan serbuk tumbuhan untuk pengendalian hama di penyimpanan, dan pembuatan pestisida nabati dengan cara fermentasi.

Proses pembuatan pestisida nabati

Bagian tanaman seperti daun, bunga, biji dan akar bisa digunakan untuk pengendalian OPT dalam bentuk bubuk (bahan dikeringkan kemudian digiling atau ditumbuk) dan larutan hasil ekstraksi.

Proses ekstraksi sederhana dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu

  1. Ekstraksi bahan segar dengan air :
  2. Pengumpulan bahan/penyortiran
  3. Pencucian
  4. Penghancuran
  • diblender
  • ditumbuk
  1. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)
  2. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi
  3. Larutan hasil ekstraksi siap pakai
  4. Ekstraksi bahan kering dengan air :
  5. Pengumpulan bahan/penyortiran
  6. Pengeringan
  • daun dikeringanginkan
  • biji/bagian yang lebih tebal dijemur di bawah sinar matahari
  1. Pencucian
  2. Penghancuran
  3. digiling atau ditumbuk
  4. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)
  5. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi
  6. Larutan hasil ekstraksi siap pakai
  7. Ekstraksi dengan pelarut alkohol :
  8. Proses seperti di tersebut atas
  9. Ethanol diuapkan

Pembuatan pestisida nabati skala kecil secara sederhana bisa dilakukan oleh petani biayanya lebih murah dan memberikan nilai lebih dalam menekan biaya produksi usahatani.

Petunjuk pembuatan dan aplikasi pestisida yang berasal dari ekstrak tanaman:

  1. Pilih tanaman/bagian tanaman yang yang sehat (bebas dari serangan OPT)
  2. Apabila bahan pestisida akan disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama, pastikan bahwa bagian tanaman yang akan digunakan tersebut benar-benar kering dan disimpat pada tempat yang mempunyai ventilasi. Jangan disimpan dalam tempat yang terbuat dari plastik. Apabila bahan pestisida tersebut akan digunakan pastikan bahan tersebut tidak berjamur
  3. Untuk membuat ekstrak tanaman, gunakan peralatan khusus. Bersihkan peralatan tersebut setelah digunakan
  4. Pada saat pembuatan dan aplikasi ekstrak tanaman, usahakan jangan kontak secara langsung dengan ekstrak tanaman tersebut
  5. Simpanlah sediaan pestisida nabati di tempat khusus, tidak terjangkau oleh anak – anak dan
  6. Bila akan menggunakan biji tanaman, pastikan bahwa biji tersebut benar – benar kering
  7. Sebelum ekstrak tanaman digunakan dalam skala luas, buat percobaan dahulu pada skala yang lebih kecil
  8. Gunakan pakaian pelindung diri pada saat aplikasi pestisida nabati
  9. Jangan menyemprot berlawanan dengan arah angin dan saat angin kencang
  10. Jangan menyemprot ketika turun hujan
  11. Basuh tangan setelah aplikasi pestisida nabati
  12. Cucilah pakaian kerja setelah menggunakan pestisida nabati

Sumber : Prima Tani Balitsa (2008)