iklan

MASYARAKAT EKSTASI DAN DEKONTRUKSI IDENTITAS

Modernisasi dan pembangunan khususnya pembangunan pertanian pada beberapa dekade belakangan ini telah membawa masyarakat petani kedalam berbagai sisi realitas baru kehidupan seperti : kesuksesan, kesempurnaan penampilan, identitas diri, hasrat dan cita-cita, orientasi nilai, moralitas, dll. Kehadiran realitas baru tersebut di atas akan berimplikasi pada hilangnya realitas-realitas masa lalu termasuk kearifan-kearifan masa lalu yang ada di baliknya, yang justru mungkin lebih berharga bagi pembangunan yang berorientasi pada azas-azas humanistik, seperti: rasa kebersamaan, rasa keindahan, spirit spiritualitas, spirit moralitas, dan spirit komunitas.

Jejak-jejak perubahan realitas petani yang dibingkai dengan label petani tradisional (lengkap beserta nilai dan struktur yang ada didalamnya), kini berganti dengan realitas petani yang dicitrakan sebagai petani modern. Sebagai contoh, kehadiran alat mesin traktor, trasplanter, combine harvester menjadi realitas baru dalam realitas petani modern menggantikan realitas buruh tani, peternak sapi dan kerbau bahkan realitas tersebut menggantikan ternak sapi dan kerbau sebagai bagian dari suatu ekosistem. Bunyi aungan sapi dan kerbau yang begitu ramai bersahutan di sawah-sawah petani ketika musim pengolahan tanah tiba, kini berganti dengan deru suara mesin traktor lengkap dengan kepulan asapnya. Begitu juga iring-iringan ibu-ibu buruh tani ketika musim panen dan musim tandur tiba,  berganti dengan parade mesin combine harvester dengan deru mesin dan kepulan asapnya.

Modernisasi dan industrialisasi pertanian ternyata tidak hanya sebatas berdampak pada perubahan alat dan cara usaha tani yang lebih efisien, akan tetapi ada indikasi telah mendorong terjadinya restrukturisasi dan reorientasi nilai dalam kehidupan petani itu sendiri. Seiring kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat, telah muncul gejala-gejala lenyapnya kedalaman makna (deepness), kedangkalan bahasa, lenyapnya batas-batas sosial, bahkan semangat spiritual yang semakin luntur. Masyarakat kontemporer kita dewasa ini cenderung lebih mengutamakan gaya ketimbang makna, lebih menghargai penampilan ketimbang kedalaman, lebih mengejar kulit daripada isi (Piliang, 2011). Pada konteks realitas petani khususnya, menunjukan gejala-gejala yang identik semagaimana yang diungkapkan oleh Piliang (2011), misalnya penggunaan traktor yang disimbolkan sebagai petani modern sedangkan petani yang menggunakan sapi dilabeli petani yang tradisional. Citra petani modern dengan segala kecanggihan alat-alat mesin yang mereka gunakan seakan-akan menjadi simbol kesuksesan, simbol kemegahan dan simbol kekuatan. Padahal alat-alat mesin yang serba canggih tersebut tidak satu pun yang merupakan konstruksi dari realitas petani kita yang sesungguhnya. Kita tidak pernah memikirkan bahwa selalu ada konsekwensi kecanggihan teknologi yang kita pakai. Kita seakan-akan hanyut dalam euforia masyarakat modern yang menggunakan teknologi canggih padahal sesungguhnya kita sengsara ditengah pusaran penjajahan teknologi yang kita gunakan. Dengan istilah lain, simbol kesuksesan, simbol kekuatan, simbol kemegahan yang direpresentasikan dalam kecanggihan alat dan mesin serta teknologi pertanian lainnya bisa jadi masih bersifat semu, dan illusi.

Hingar-bingar modernisasi dan industrialisasi tidak berhenti pada sekedar akumulasi material/kapital (Piliang, 2011), akan tetapi ia memerlukan tanda-tanda untuk merepresentasikan akumulasi tersebut untuk menjadikannya sebagai tontonan (spectacle) yang mengabaikan realitas funsionalnya. Greenhouse termegah dan tercanggih (misalnya garden bay the bay di singapura) telah melunturkan realitas fungsionalnya sebagai arena budidaya tanaman, berganti menjadi simbol kemajuan, simbol kemakmuran dan simbol kesejahteraan. Akan tetapi simbol-simbol tersebut tidak lebih dari sekedar simbol semu, identitas semu, dan makna semu. Simbol kemegahan tersebut sekan tidak peduli dengan nasib petani konvensional yang tergopoh-gopoh mewujudkan kesejahteraan yang real. Simbol-simbol yang dikonstruksi oleh masyarakat modern juga berimplikasi pada reorientasi nilai dan konsep diri. Piliang (2011) mengilustrasikan bahwa masyarakat kontemporer adalah paling berpotensi untuk hilangnya konsep diri didalam hutan rimba citraan (image) masyarakat informasi. Masyarakat informasi global menawarkan beraneka ragam konsep diri lewat iklan, fashion show, teknologi kecantikan, rekayasa genetik, dll. Seakan-akan konsep diri itu kini adalah sesuatu yang dapat diperoleh sebagai sebuah komoditas, sesuatu yang dapat kita beli. Lenyapnya diri yang sesungguhnya menggiring pada lenyapnya –atau setidak-tidaknya – ditolaknya realitas, seperti fenomena pil ectasy. Yang dibeli dari pil ectasy adalah halusinasi dan ilusi. Ketika konsep diri kita menjadi tidak lebih dari sebuah pencitraan semu, illusi dan halusinasi, maka lenyaplah apa yang selama ini disebut sebagai identitas diri. Dengan istilah lain, maka masyarakat yang mengagungkan realitas semu atau masyarakat ectasy akan menggiring terjadinya dekontruksi identitas diri yang penuh dengan halusinasi dan pencitraan.

Sumber : Hamyana, S.ST,M.Si

 

Ekonomi Pedesaan Dan Pertanian

Ekonomi Jawa Timur terus berkembang di atas rata-rata nasional dalam Lima tahun terakhir. Didukung industri manufaktur serta sektor jasa, termasuk pariwisata dan transportasi, Jawa Timur membukukan kinerja yang cukup menggembirakan. Puncak pertumbuhan cepat ekonomi Jawa Timur terjadi pada tahun 2012 sebesar 6,64% dan terus menurun menjadi 6,08 pada tahun 2013 dan 5,86 pada tahun 2015 (BPS, 2015). Meski terus mengalami penurunan, secara makro ekonomi Jawa Timur tetap lebih tinggi pertumbuhannya dari rata-rata nasional.

Upaya  mengurangi kesenjangan ekonomi dilakukan dengan cara membangun basis pertumbuhan pada level  mikro untuk mengimbangi pertumbuhan pada level makro. Pembangunan diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan baru. Tidak hanya itu, program-program berskala nasional telah didesain dan diimplementasikan untuk mengembangkan ekonomi hingga level komunitas.

Terdahulu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), penguatan permodalan petani (PUAP), hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema-skema lain telah dikembangkan. Namun demikian, efektifitas program-program tersebut untuk pemerataan kesejahteraan masih dianggap kurang memadai. Oleh karena itu, wacana untuk mengembangkan kelembagaan ekonomi lokal menjadi lebih masif semakin menguat. Lembaga-ekonomi lokal ini biasanya merupakan usaha-usaha kecil menegah yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (Porter, 2000).

Sementara itu, lembaga ekonomi lokal biasanya memiliki tingkat keterkaitan rendah antara satu dengan yang lainnya. Padahal keterikatan dalam satu sistem merupakan syarat mutlak bagi penciptaan daya saing lembaga. Dengan integrasi maka akan terjadi tingkat efisiensi yang optimal karena antar pelaku ekonomi lokal terjadi sharing sumberdaya dan knowledge. Distribusi barang sebagai misal akan efisien jika mencapai volume tertentu. Karakteristik usaha pedesaan yang kecil, seringkali menjadi penyebab inefisiensi distribusi sehingga membebani ongkos produksi (Duncan and Miranda, 2012).

Para pelaku ekonomi asing akan mengekspor pelaku-pelaku ekonomi yang mereka anggap kuat dan mampu bersaing. Tidak saja pelaku ekonomi besar, negara-negara ASEAN dengan rata-rata merupakan negara berkembang, pelaku ekonomi kecil terutama UKM masih mendominasi. Tentu saja mereka akan memilih UKM-UKM yang dianggap mampu untuk menembus formasi ekonomi negara tujuan, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, maka mempersiapkan kemampuan pelaku ekonomi lokal/kecil ini menjadi penting sebagai salah satu persiapan menghadapi MEA.

Selanjutnya pemutusan hubungan kerja yang dilakukan UMKM tentunya akan berdampak pada permasalahan kemiskinan. Mengingat kedudukan UMKM sebagai stabilisator kekuatan ekonomi,  maka pemutusan hubungan kerja ini akan sangat mempengaruhi kondisi kesejahteraan masyarakat. Dalam jangka panjang banyak pemutusan hubungan kerja di lini UMKM akan membuat taraf pendapatan dari masyarakat semakin turun, dan akan memperlebar kesenjangan sosial dimasyarakat.

Pertanian Masyarakat Dayak Ngaju

Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara tradisional. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut yang masih tradisional atau kearifan lokal disebut sistem handel. Pengelolaan lahan gambut dengan kearifan lokal handel sudah sejak dulu diterapkan oleh masyarakat. Sistem handel yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara berkelompok di satu hamparan lahan yang luas ± 20 ha pada satu sungai kecil.

Berdasarkan hal tersebut ada beberapa aturan adat yang diterapkan dalam melakukan sistem handel sebagai berikut:

  1. Struktur organisasi handel, yaitu ketua, wakil ketua, bendahara, kepala padang dan anggota.
  2. Dilakukan secara bergotong royong
  3. Semua kegiatan harus dilakukan dengan cara barunding dalam menentukan semua kegiatan.
  4. Penyiapan lahan dengan pembakaran harus dengan terkendali yaitu dengan membuat sekat bakar berupa parit atau membersihkan kayu, rumput dan dedaunan sekeliling lahan selebar 3-6 meter.
  5. Pemberian hukuman jipen jika terjadi pelanggaran aturan adat.

Sistem handel yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju dilakukan secara berkelompok di satu hamparan lahan yang luas pada satu sungai kecil. Satu hamparan lahan yang luas diketuai oleh ketua handel. Ketua handel dibantu oleh wakil ketua handel, bendahara, dan kepala padang. Ketua handel adalah orang yang bertugas memimpin dari satu hamparan lahan tersebut. Wakil ketua handel membantu ketua handel. Bendahara handel berfungsi sebagai orang yang menyimpan uang dalam kegiatan penyiapan lahan. Kepala padang berfungsi sebagai orang yang mengatur dalam pembagian lahan dan yang bertanggungjawab jika terjadi perselisihan antar anggota.

Satu handel atau satu hamparan luas pada sungai kecil tersebut dibagi menjadi beberapa lahan yang akan dikelola oleh masing-masing anggota. Luas lahan masing-masing anggota berkisar antara 0.5 ̶ 2 Ha. Luas atau tidaknya lahan yang akan digarap bergantung pada kesanggupan anggota tersebut dalam mengelola lahan tersebut. Berladang dilakukan secara bergotong royong mulai dari persiapan dalam pemilihan ladang sampai dengan pemanenan.

Masyarakat Dayak Ngaju melakukan barunding dalam menentukan semua kegiatan. Barunding merupakan musyawarah yang dilakukan oleh semua anggota handel. Sebelum kegiatan penebasan dan penebangan seluruh anggota barunding untuk menentukan waktunya. Tahapan dalam pengelolaan lahan gambut yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju adalah sebagai berikut: 1) pemilihan tempat yang akan dijadikan ladang, 2) ritual adat, 3) penebasan dan penebangan, 4) pembakaran, 5) penanaman, 6) pemanenan. Semua kegiatan dalam pengelolaan lahan gambut mulai dari pemilihan tempat lahan sampai dengan pemanenan hasil diatur menggunakan sistem handel.

Pada zaman dahulu masyarakat adat Dayak Ngaju memilih lahan yang cocok untuk dijadikan ladang berdasarkan dua faktor yaitu jenis tumbuhan yang ada di lahan tersebut dan jenis tanah (kondisi tanah). Ciri-ciri lahan yang cocok dijadikan untuk ladang adalah banyak tumbuh tanaman mahang (Macanga sp), dahamen (Calamus manna), hanau, suli, sempur (Dillenia sp.), kalakai (Stenochalaena palustris), pawah, kayu kambasirak (Ilex cymosa), kalanduyung. Jenis tanah yang dipilih oleh masyarakat adat Dayak Ngaju untuk dijadikan lahan pertanian untuk tanaman padi gunung adalah tanah tinggi. Tanah tinggi yang dimaksud oleh masyarakat adalah tanah yang tidak tergenang oleh air. Menurut masyarakat tanah geleget atau tanah yang tergenang air (gambut) tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian untuk menanam padi gunung.

Jenis lahan yang akan dijadikan ladang oleh masyarakat yaitu lahan yang masih berupa hutan dan lahan yang sudah pernah dibuka untuk dijadikan ladang. Jenis lahan sangat penting untuk dilaporkan atau diberitahukan pada saat rapat atau koordinasi supaya dapat menentukan jadwal yang tepat dalam melakukan penyiapan lahan. Pembukaan hutan yang akan dijadikan lahan untuk bertani disebut mahimba. Pembukaan lahan bekas pertanian tahun sebelumnya yang akan dijadikan lahan untuk bertani disebut bahu rambung.

Pemilihan lahan bahu rambung yang sesuai untuk dijadikan lahan jika lahan tersebut ditumbuhi oleh banyak vegetasi dan tingginya minimal 2 meter. Lahan bahu rambung akan digarap untuk tanaman padi, jika lahan masih sedikit ditumbuhi rumput dan rumput tersebut masih dapat dikendalikan. Pada saat ini masyarakat masih tetap memilih lahan yang akan dijadikan ladang dengan cara melihat jenis tanaman yang ada di lahan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, masyarakat masih melakukan pemilihan lahan yang dijadikan untuk ladang dengan cara melihat jenis tumbuhan yang tumbuh di lahan atau melihat kepadatan jenis pohon atau vegetasi lainnya.

Pemilihan lahan yang akan dijadikan lahan oleh masyarakat dilakukan dengan melihat kondisi tegakan atau jenis tumbuhan yang tumbuh di lahan tersebut sebelum dilakukan pembukaan lahan. Lahan yang bagus untuk dijadikan ladang adalah lahan yang ada pepohonannya (sebelah kiri). Lahan tersebut sudah ditinggalkan atau dibiarkan selama lima tahun. sedangkan lahan tersebut tidak cocok untuk dijadikan ladang adalah ladang yang vegetasinya tidak rapat dan banyak tumbuh rumput (pawah) dan alang-alang dan sulit untuk dikendalikan. Masyarakat tidak memilih lahan tersebut karena hasil yang didapatkan akan kurang bagus jika tetap membakar lahan yang banyak pawah dan ilalang karena pupuk yang berasal dari tutupan lahan (vegetasi) sangat sedikit. Jenis vegetasi yang terdapat dilahan yang akan dijadikan ladang yaitu mahang (Macaranga sp), sempur (Dillenia sp.), pawah, kayu basirak, galam (Melaleuca leucadendron), mahambung, tumih (Combretocarpus rotundatus Miq), kalawit, dahamen (Calamus manna), hanau, suli, kalakai (Stenochalaena palustris), pawah, kayu kambasirak (Ilex cymosa), kalanduyung.

E Hadiwijoyo