iklan

Yang Muda Yang Kaya Dengan Bertani Hortikultura

Petani milyader
Pakde Gun Soetopo adalah seorang entrepeneur senior yang kerap dijuluki sebagai petani milyarder. Pakde gun mempunyai nama lengkap M. Gunung Soetopo yang lahir pada 10 januari 1958 di Sragen. Pakde Gun memliki usaha dengan nama Sabila Farm dan dengan harapan bisa menjadi produsen hortikultura terbesar di Asia bahkan di dunia. Pria kelahiran Sragen ini menetap di Pakem, Yogyakarta dan membuka lahan pertanian yang diberi nama Sabila Farm di Jalan Kaliurang Desa Pakembinangun. Luas area budi daya berbagai komoditas termasuk tanaman unggulannya buah naga 6,5 hektare. Pakde Gun fokus pada budidaya buah naga karena lebih ekonomis yaitu sejak muncul putik atau calon buah hanya perlu menunggu 30 hari untuk dipanen. Alasan kedua, semua tipe tanah bisa dijadikan lahan budi daya buah tersebut
Saat ini, Sabila Farm telah berkembang menjadi suatu tempat agrowisata, tempat belanja buah-buah tropis, dan juga sebagai tempat pelatihan seputar pertanian. Sebagai tempat agrowisata, Sabila farm menawarkan perjalanan menyusuri kebun dengan beragam buah-buah eksotis, udara yang sejuk, serta pemandangan Gunung Merapi yang megah. Menariknya lagi, Anda juga bisa menikmati buah yang telah memasak dengan memetiknya langsung dari pohonnya. Selain itu ada juga layanan tour desa wisata dan aktivitas outdor semisal outbond dan permainan kerjasama tim. Berdasarkan pengalamannya pakde Gun ingin menunjukkan bahwa bertani adalah pekerjaan yang mulia, terhormat, dan bisa menyejahterakan sesama.
Bertani Hortikultura
Bertanian Hortikultura bisa menjadi kaya dibandingkan dengan bertanian tanaman pangan karena untuk tanaman pangan perlu lahan yang luas untuk mendapatkan penghasilan yang cukup dan Harga Tanaman Pangan diatur oleh HET Pemerintah. Akan tetapi untuk tanaman Tanaman Hortikultura harganya tidak diatur-atur dan mekanisme pasar serta teknologi budidaya yang bisa kita mainkan dalam arti Kualitas dan Kontinuitasnya. Pertanian hortikultura meliputi sayuran, buah, tanaman hias, biofarmaka atau empon2, dan perbenihannya. Komponen-komponen inilah yang merupakan sumber rejeki di negeri tropika Indonesia dan harus kita dulang. Pakde gun sudah mulai bertani sejak 1985 dan semua komoditas hortikultura tersebut sudah dilakukan dan sampai pada akhirnya beliau tertarik dengan buah-buahan dan menggunakan tema UD.Sabila Farm , yaitu bertani buah-buahan yang berkhasit dan bertani di Lahan Marginal/miskin. Bertani yang mempunyai tema yang jelas itu membuat usahanya tidak terombang ambing isu ataupun hoax.
Menanam dilahan cadas
Pakde gun melakukan budidaya buah naga di Yogyakarta ini mulai 2005 di lahan cadas. Karena keusilan beliau tersebut sekarang telah membuat UD Sabila Farm terus survive dan bisa bertani dilahan marginal Lainnya antara lain lahan cadas, lahan karst, lahan berbatu gamping, lahan bekas deposal tambang batubara, lahan gambut dan lain-lain.
Personal Branding
Harga buah yang ada di Sabila Farm itu lumayan bagus alias tinggi dibanding Supermarket. Hal ini disebabkan karena kekurangan produksi dan pasar masih menganga/terbuka. Sementara, banyak produksi buah di petani yang tidak laku dan harga jual juga murah bahkan banyak yang ketipu tengkulak. Hal ini sering terjadi karena pada umumnya Petani itu tidak punya “Personal Branding”. Misalnya tidak jelas alamat dan usahanya, kualitas produskinya tidak standard apalagi untuk memnuhi permintaan secara terus menerus (kontinu), Apalagi ada kejahatan leher menggkerok alias Black collar dimana maunya menipu Petani saja. semua kendala yang menghambt Petani untuk bisa menjadi kaya raya dan bahagia tersebut , maka munculah ide Sabila Farm untuk menjadi role model pembangunan hortikultura yang berkemanuaan dan berwibawa.
Hortikultura Tropika
Hortikultura Indonesia atau Tropika sangat diminati di Eropa dan Amerika serta negera-negara SubTropis lainnya. Hal ini dikarenakan buah-buahan tropika itu lebih eksotis, Lebih ada citarasa dan ada sensasinya. Berdasarkan pengalaman pakde Gun yang sering pameran di luar negeri, contohnya di Mese Berlin German dimana setiap awal Februari , Petani-petani produsen Buah sedunia berkumpul dan saling tukar menukar infomasi baik buidaya maupun pasar. Hal ini sangat jauh berbeda seperti di Indonesia yang kadang masih rahasia-rahasiaan.
Peluang Hortikultura di Nusantara ini sangat besar sekali, bisa mencapai 600 T. sayangnya, banyak yang tersia-siakan karena faktor belum adanya tehnologi dan jeleknya trasnportasi serta packing yang belum menjadi kebiasaan Petani. Bila “sampah” ini bisa di kurangi, Maka Hortikutlura Indonesia bisa merajai Asia. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor produk hortikultura buah dan sayuran dengan nominal mencapai 21 triliun rupiah. Sementara itu, omzet dari bertani buah dan sayuran setahun mencapai angka 187 triliun rupiah. Dengan fakta semacam ini, maka dapat kita simpulkan bahwa peluang di sektor pertanian buah dan sayuran masih sangat luas. Kesempatan yang ada juga masih terserak di banyak lini dan tempat. Untuk memulai usaha di sektor pertanian, kita sepatutnya memiliki tema usaha. Hal ini menjadi sangat penting agar apapun pilihan yang sudah tidak kita tetapkan tak terombang-ambing oleh berbagai isu yang tidak bertanggung jawab seperti hoax.

Sumber : KULWA Pendaringan

Dampak Pemupukan terhadap pertanian berkelanjutan

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambah an penduduk serta pertumbuhan sektor industri telah mendorong munculnya system pertanian modern dengan ciri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terhadap pupuk anorganik. Kondisi ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah.  Usaha pertanian dengan mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan berlanjut hingga ke masa sekarang serta banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.  Penggunaan input kimiawi dengan dosis tinggi tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia ke dalam tubuh manusia dan lingkungan.

Sejak zaman purba sampai saat ini, pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan struktur dan  agregat  tanah  yang mantap dan berkaitan erat dengan kemampuan tanah mengikat air, infiltrasi air, mengurangi resiko terhadap ancaman erosi, meningkatkan kapasitas pertukaran ion dan sebagai pengatur suhu tanah yang semuanya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman ( Kononova, 1999).

Pertanian Berkelanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung” dapat pula “ kemampuan untuk bertahan dan menjaga tidak merosot”.  Dalam  kontek  pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR), 1988 dalam  Reijntjes  C  (2002) menyatakan bahwa Pertanian Berkelanjuta  adalah  pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Namun demikian, banyak orang yang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut ( Soetanto, 2006) :

  1. mantap secara ekologis, yang berarti mampu mempertahankan kualitas sumber daya alam dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan,
  2. bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti dapat mengembalikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan serta meningkatkan penghasilan,
  3. manusiawi, yang berarti menghargai semua bentuk kehidupan, dan
  4. luwes, yang mana para petani mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Sugito. Y, (2003) menyatakan bahwa yang perlu diperhatikan dalam penerapan pertanian berkelanjutan antara lain:

  1. Mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil panen.
  2. Mengurangi tingkat   kerusakan  lahan  sebagai akibat pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
  3. Mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami, misalnya mengusahakan terjadinya siklus bahan organik dan unsur hara.
  4. Dapat meningkatkan daya pegang tanah
  5. Mengurangi penggunaan  input  dari  luar  yang bersifat kimiawi, salah satunya adalah mensubstitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik.
  6. Memberdayakan petani   untuk   meningkat-kan rasa percaya diri atas keberhasilan usaha taninya
  7. Meningkatkan efisiensi  proses  produksi  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan.

Teknik budidaya kimiawi seperti yang dicanangkan pada Revolusi Hijau dapat meningkatkan produksi pada waktu pendek,  namun untuk jangka panjang dapat menurunkan kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah, sehingga akan menambah jumlah lahan kritis dan marginal di Indonesia. Selain itu juga akan berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma/ dampak negatif juga akan tampak pada timbulnya hama resisten, berkembangnya organisme parasit, meningkatnya ancaman bagi organisme predator, ikan, burung bahkan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Pengaruh racun tidak hanya terbatas pada daerah pemakaian, tetapi dapat menjadi makin luas melalui komponen rantai makan, seperti air minum, sayuran, buah-buahan dan produk lain yang terkontaminasi. (Zulkarnain,2009).  Introduksi varietas unggul padi yang responsif pada pemupukan, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi andalan program Bimas. Di satu sisi, Revolusi Hijau terbukti mampu meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi menyebabkan permasalahan lingkungan sebagai dampak dari aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif, antara lain kecenderungan penggunaan input yang tinggi, terutama pupuk dan pestisida, karena mencemari sumber daya lahan, air dan lingkungan. Sekitar air yang mengairi sebagian sawah di Jawa mengandung 54 mg/l nitrat atau 20% lebih tinggi dari batas toleransi yaitu 45 mg/l (Las et al,2006).

Pupuk   anorganik   dapat   dibedakan   menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara saja, misalnya pupuk urea yang mengandung unsur N, pupuk TSP yang mengandung unsur P dan pupuk KCl yang didominasi oleh unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya N+K, N+P,P+K, N+P+K dan sebagainya. Sedangkan pupuk lengkap adalah pupuk  yang mengandung unsur  hara  makro  dan mikro. Pemberian pupuk anorganik  ke  media tanam sangat digemari petani, hal ini disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki pupuk anorganik antara lain

  1. pemberiannya dapat terukur dengan tepat,
  2. kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat dan dalam waktu yang cepat,
  3. kadar unsur yang dikandungnya   tinggi,   sehingga   dengan pemberian    yang sedikit dapat memenuhi kebutuhan tanaman,
  4. banyak diperjual bellikan sehingga mudah didapat,
  5. proses pengangkutan ke lahan lebih mudah karena jumlah yang diangkut lebih sedikit
  6. tanaman memberikan respon yang sangat tinggi terhadap pem-berian pupuk anorganik.

Selain kelebihan yang dimilikinya, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan, yaitu :

  1. selain unsur hara makro, pupuk anorganik sangat sedikit atau hampir tidak mengandung unsur hara mikro,
  2. pemberian pupuk  anorganik  melalui akar harus diimbangi dengan penggunaan pupuk daun yang mengan-dung unsur hara mikro,
  3. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat merusak tanah,
  4. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian tanaman
  5. dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, salinisasi, tercemar logam berat dan tercemar senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah.

Kerusakan srtuktur tanah ini dapat  terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurang nya biodiversitas organisme tanah, dan biasanya terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain ( fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebab-kan pemasaman tanah dan menurunnya populasi cacing secara drastis.

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.  Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.  Penggunaan pupuk yang berlebihan, cenderung tidak efektif dan banyak mengeluarkan biaya. Selain itu untuk zat hara yang tidak diserap tanaman akan terbawa oleh air tanah dan terbuang ke sistem perairan misal ke selokan, sungai, waduk atau danau. Zat hara ini justru akan dimanfaatkan oleh gulma di selokan dan sungai seperti rumput liar, gulma, tanaman air seperti kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Akibatnya sistem perairan akan tertutup dengan tanaman liar ini dan produksi perikanan mungkin terganggu, keseimbangan ekosistem perairan juga akan terganggu.

Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia. Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Oleh : Evy Latifah

 

Inovasi Engeenereed Wood Yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan

Oleh : Handika Setya Wijaya, S.Pd., M.T.

(Teknik Sipil Universitas Tribhuwana Tunggadewi)

Indonesia merupakan 10 besar penghasil kayu terbesar di dunia. Kayu adalah material yang paling ramah lingkungan jika dibandingkan dengan beton dan baja. Berdasarkan laporan APA  dalam Suryoatomo (2013), kebutuhan energi untuk menghasilkan 1 ton material semen, kaca, dan baja berturut-turut adalah 5 kali, 14 kali, dan 24 kali kebutuhan untuk menghasilkan 1 ton material kayu. Dari tinjauan emisi karbon, kayu merupakan material yang paling ramah lingkungan jika dibandingkan dengan beton dan baja. Emisi karbon untuk menghasilkan 1 ton kayu hanya 50 kg C/ton. Hal itu sangat jauh jika dibandingkan dengan beton dan baja yang masing-masing mengeluarkan 210 kg C/ ton dan 660 kg C/ton. Kendala dalam penggunaan kayu untuk konstruksi bangunan adalah kelangkaan kayu dengan dimensi  besar. Untuk menanggulangi masalah tersebut, maka  munculah  kayu  rekayasa (engeenered wood), yaitu box beam, I-Joist, Glued Laminated Timbers, dll. Semua jenis kayu rekayasa tersebut digunakan untuk efisiensi penggunaan material kayu dalam bangunan. Kelebihan kayu rekayasa adalah kayu rekayasa dapat dibentuk dari beberapa lapisan kayu yangmempunyai kekauatan yang rendah. Kekuatan kayu yang rendah tersebut disusun berdasarkan geometri tertentu menjadi sebuah elemen struktur yang kekuatannya hamper sama dengan kayu penampang konvensional. Contoh salah satu konversi kayu rekayasa adalah box beam yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Perbandingan penampang kayu solid dan kayu dengan penampang hollow (box beam) (Sumber: Wijaya, 2014)

Gambar di atas adalah perbandingan antara penampang kayu konvensional dengan penampang box beam dengan luas penampang yang sama. Hasilnya momen inersia penampang rekayasa box beam naik 2,5 kali lipat dari pada penampang kayu konvensional. Maka dari itu kayu rekayasa merupakan salah satu alternative dalam material bangunan yang ekonomis dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan material yang ada selama ini yaitu beton dan baja.