iklan

Yang Muda Yang Kaya Dengan Bertani Hortikultura

Petani milyader
Pakde Gun Soetopo adalah seorang entrepeneur senior yang kerap dijuluki sebagai petani milyarder. Pakde gun mempunyai nama lengkap M. Gunung Soetopo yang lahir pada 10 januari 1958 di Sragen. Pakde Gun memliki usaha dengan nama Sabila Farm dan dengan harapan bisa menjadi produsen hortikultura terbesar di Asia bahkan di dunia. Pria kelahiran Sragen ini menetap di Pakem, Yogyakarta dan membuka lahan pertanian yang diberi nama Sabila Farm di Jalan Kaliurang Desa Pakembinangun. Luas area budi daya berbagai komoditas termasuk tanaman unggulannya buah naga 6,5 hektare. Pakde Gun fokus pada budidaya buah naga karena lebih ekonomis yaitu sejak muncul putik atau calon buah hanya perlu menunggu 30 hari untuk dipanen. Alasan kedua, semua tipe tanah bisa dijadikan lahan budi daya buah tersebut
Saat ini, Sabila Farm telah berkembang menjadi suatu tempat agrowisata, tempat belanja buah-buah tropis, dan juga sebagai tempat pelatihan seputar pertanian. Sebagai tempat agrowisata, Sabila farm menawarkan perjalanan menyusuri kebun dengan beragam buah-buah eksotis, udara yang sejuk, serta pemandangan Gunung Merapi yang megah. Menariknya lagi, Anda juga bisa menikmati buah yang telah memasak dengan memetiknya langsung dari pohonnya. Selain itu ada juga layanan tour desa wisata dan aktivitas outdor semisal outbond dan permainan kerjasama tim. Berdasarkan pengalamannya pakde Gun ingin menunjukkan bahwa bertani adalah pekerjaan yang mulia, terhormat, dan bisa menyejahterakan sesama.
Bertani Hortikultura
Bertanian Hortikultura bisa menjadi kaya dibandingkan dengan bertanian tanaman pangan karena untuk tanaman pangan perlu lahan yang luas untuk mendapatkan penghasilan yang cukup dan Harga Tanaman Pangan diatur oleh HET Pemerintah. Akan tetapi untuk tanaman Tanaman Hortikultura harganya tidak diatur-atur dan mekanisme pasar serta teknologi budidaya yang bisa kita mainkan dalam arti Kualitas dan Kontinuitasnya. Pertanian hortikultura meliputi sayuran, buah, tanaman hias, biofarmaka atau empon2, dan perbenihannya. Komponen-komponen inilah yang merupakan sumber rejeki di negeri tropika Indonesia dan harus kita dulang. Pakde gun sudah mulai bertani sejak 1985 dan semua komoditas hortikultura tersebut sudah dilakukan dan sampai pada akhirnya beliau tertarik dengan buah-buahan dan menggunakan tema UD.Sabila Farm , yaitu bertani buah-buahan yang berkhasit dan bertani di Lahan Marginal/miskin. Bertani yang mempunyai tema yang jelas itu membuat usahanya tidak terombang ambing isu ataupun hoax.
Menanam dilahan cadas
Pakde gun melakukan budidaya buah naga di Yogyakarta ini mulai 2005 di lahan cadas. Karena keusilan beliau tersebut sekarang telah membuat UD Sabila Farm terus survive dan bisa bertani dilahan marginal Lainnya antara lain lahan cadas, lahan karst, lahan berbatu gamping, lahan bekas deposal tambang batubara, lahan gambut dan lain-lain.
Personal Branding
Harga buah yang ada di Sabila Farm itu lumayan bagus alias tinggi dibanding Supermarket. Hal ini disebabkan karena kekurangan produksi dan pasar masih menganga/terbuka. Sementara, banyak produksi buah di petani yang tidak laku dan harga jual juga murah bahkan banyak yang ketipu tengkulak. Hal ini sering terjadi karena pada umumnya Petani itu tidak punya “Personal Branding”. Misalnya tidak jelas alamat dan usahanya, kualitas produskinya tidak standard apalagi untuk memnuhi permintaan secara terus menerus (kontinu), Apalagi ada kejahatan leher menggkerok alias Black collar dimana maunya menipu Petani saja. semua kendala yang menghambt Petani untuk bisa menjadi kaya raya dan bahagia tersebut , maka munculah ide Sabila Farm untuk menjadi role model pembangunan hortikultura yang berkemanuaan dan berwibawa.
Hortikultura Tropika
Hortikultura Indonesia atau Tropika sangat diminati di Eropa dan Amerika serta negera-negara SubTropis lainnya. Hal ini dikarenakan buah-buahan tropika itu lebih eksotis, Lebih ada citarasa dan ada sensasinya. Berdasarkan pengalaman pakde Gun yang sering pameran di luar negeri, contohnya di Mese Berlin German dimana setiap awal Februari , Petani-petani produsen Buah sedunia berkumpul dan saling tukar menukar infomasi baik buidaya maupun pasar. Hal ini sangat jauh berbeda seperti di Indonesia yang kadang masih rahasia-rahasiaan.
Peluang Hortikultura di Nusantara ini sangat besar sekali, bisa mencapai 600 T. sayangnya, banyak yang tersia-siakan karena faktor belum adanya tehnologi dan jeleknya trasnportasi serta packing yang belum menjadi kebiasaan Petani. Bila “sampah” ini bisa di kurangi, Maka Hortikutlura Indonesia bisa merajai Asia. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor produk hortikultura buah dan sayuran dengan nominal mencapai 21 triliun rupiah. Sementara itu, omzet dari bertani buah dan sayuran setahun mencapai angka 187 triliun rupiah. Dengan fakta semacam ini, maka dapat kita simpulkan bahwa peluang di sektor pertanian buah dan sayuran masih sangat luas. Kesempatan yang ada juga masih terserak di banyak lini dan tempat. Untuk memulai usaha di sektor pertanian, kita sepatutnya memiliki tema usaha. Hal ini menjadi sangat penting agar apapun pilihan yang sudah tidak kita tetapkan tak terombang-ambing oleh berbagai isu yang tidak bertanggung jawab seperti hoax.

Sumber : KULWA Pendaringan

Budidaya Jamur Tiram

Deskripsi Jamur Tiram

Nama jamur tiram (Pleurotus sp.) diberikan karena bentuk tudung jamur ini yang agak membulat, lonjong dan melengkung menyerupai cangkang tiram. Ukuran diameternya mencapai 3-15 cm. Warna jamur tiram, ada bermacam-macam, tetapi yang umum dibudidayakan adalah jamur tiram putih (Pleurotus florida).

Jamur tiram memiliki inti plasma dan spora yang berbentuk sel-sel lepas atau bersambungan membentuk hifa dan miselium. Hifa membentuk jaringan yang disebut dengan miselium dan miselium menyusun jalinan–jalinan semu menjadi tubuh buah (fruiting body). Pada titik-titik pertemuan miselium akan terbentuk bintik kecil yang disebut pin head atau calon tubuh buah jamur.

Nilai Gizi Jamur Tiram

Selain rasanya yang lezat, jamur tiram juga mengandung gizi yang cukup besar manfaatnya bagi kesehatan manusia sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pakar jamur di Departemen Sains Kementrian Industri Thailand beberapa zat yang terkandung dalam jamur tiram atau Oyster mushroom adalah protein 5,94 %; karbohidrat 50,59 %; serat 1,56 %; lemak 0,17 % dan abu 1,14 %. Selain itu, kandungan senyawa kimia khas jamur tiram berkhasiat mengobati berbagai penyakit manusia seperti tekanan darah tinggi, anti-tumor, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta mampu menanggulangi kekurangan gizi (malnutrisi).

Bila dihitung dari berat kering jamur tiram, kandungan proteinnya adalah 19 – 35 % sementara gandum hanya 7,3 %, kedelai  13,2 %, dan susu sapi 25,2 %. Jamur tiram juga mengandung 9 asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu Lisin, Metionun, Triotofan, Threonin, Valisin, Leusin, Isoleusin, Histidin dan Fenilanin. Kandungan lemak jamur tiram sebagian besar merupakan asam lemak tak jenuh. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok Vitamin B, Vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi Vitamin D dengan bantuan sinar matahari.

 Syarat Tumbuh

Tempat tumbuh jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organik yang ada didalamnya. Pembudidayaan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk gergaji yang digunakan sebaiknya berasal dari kayu yang tidak bergetah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan miselium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain (kontaminan).

Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan lain berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik dan masih baru. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung sebagai sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur (Calsium carbonat) sebagai sumber mineral dan pengatur pH.

Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % atau sesuai dengan kapasitas lapang. Sebaiknya air yang digunakan dalam proses pencampuran media adalah air yang bersih.

Tingkat keasaman (pH)

Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan miselium jamur akan terhambat, bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 – 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat).

 Suhu udara

Pada budidaya jamur tiram suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 – 28 0C dengan kelembaban 60 – 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 – 22 0C dengan kelembaban 70-90 0C.

 Cahaya
Pertumbuhan miselium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar, sebaiknya selama masa pertumbuhan miselium (masa inkubasi), baglog ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya, maka badan buah tidak dapat tumbuh. Oleh karena itu pada masa penumbuhan badan buah, kumbung jamur perlu di atur sedemikian rupa sehingga intensitas sinar matahari yang masuk berkisar antara 60 – 70%.Proses Budidaya Jamur

Budi daya jamur tiram terdiri dari beberpa tahap yang harus dilalui, antara lain :

1. Pencampuran Media

Media yang digunakan terdiri dari; serbuk kayu, bekatul, kapur, tepung jagung dan air. Serbuk kayu berguna sebagai sumber selulose bagi pertumbuhan jamur tiram, sedangkan bekatul adalah sumber vitamin B kompleks yang dibutuhkan dalam pertumbuhan jamur tiram. Langkah awal pembuatan media adalah pengayakan serbuk gergaji. Pengayakan dilakukan dengan alat pengayak biasa berdiameter 0,5 x 0,5 cm yang dilakukan oleh 2 orang. Kemudian, serbuk gergaji dicampur dengan bekatul, kapur, tepung jagung secara merata. Adapun komposisi serbuk kayu : bekatul : gipsum (kapur) : tepung jagung adalah 7 : 1 : 1 : 0,5 (gambar 1). Media yang telah tercampur, kemudian disiram air sampai agak lembab dan di aduk rata. Media yang telah disiram air, lalu ditutup dengan menggunakan terpal (plastik) selama 1 hari dengan tujuan dekomposisi.

Gambar 1. Pencampuran Media Baglog

2.Pembuatan dan Pengemasan Baglog

Pembuatan log dilakukan setelah medianya siap. Ciri media jamur yang baik antara lain: menggumpal saat dikepal dan air tidak menetes.  Media dimasukkan ke dalam kantung plastik PP yang tahan panas berukuran 2 kg. Pada saat proses pemasukan ke dalam plastik, media ditekan agar agak padat. Selain menggunakan tangan, pemadatan media dapat dibantu dengan alat berupa kayu. Kepadatan media berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan miselium. Setelah itu, ujung plastik di beri cincin sebagai jalan keluar badan buah jamur dan di tutup dengan kertas, kapas atau plastik (gambar 2).

Gambar 2. Pengemasan Media Baglog

3. Sterilisasi Media

          Sterilisasi media dilakukan setelah proses pembuatan baglog selesai. Sterilisasi ini bertujuan untuk mematangkan media dan membunuh mikroorganisme lain (selain bibit jamur tiram) agar tidak terjadi kontaminasi. Adapun alat-alat yang digunakan untuk menyeterilkan media terdiri dari drum berkapasitas 200 liter atau ruangan (kamar) dengan kapasitas 1000 log, kompor dan termometer (gambar 3). Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu: minyak tanah, air bersih dan media log itu sendiri. Setelah semua log dimasukkan dalam ruangan sterilisasi, kemudian ruangan ditutup rapat agar steaming (penguapan) berjalan efektif. Pengukusan (penguapan) dilakukan selama 4-5 jam dengan suhu berkisar antara 90-110 oC. Kisaran suhu 90-110 oC menyebabkan mikroorganisme yang terbawa media log menjadi mati. Kenaikan suhu diukur dengan termometer. Sebelum dikeluarkan dari tempat sterilisasi, biasanya log dibiarkan selama 24 jam (overnight) agar media sudah dingin pada saat di keluarkan.

Gambar 3. Alat Sterilisasi Media Baglog

4. Inokulasi Bibit Jamur

Sebelum dilakukan inokulasi bibit jamur, terlebih dahulu disiapkan media log yang akan diinokulasi, bibit jamur, alat penyemprot, alkhohol, bunsen, dan lain sebagainya (gambar 4). Proses inokulasi bibit jamur ke dalam media Log dilakukan pada suatu ruangan khusus yang steril.

Gambar 4. Proses Inokulasi Bibit Jamur Tiram ke Baglog

    Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan pada seluruh bagian ruangan, alat dan bahan yang digunakan selama proses inokulasi berlangsung. Langkah pertama, ambil bibit jamur pada media botol dengan pinset atau stik inokulasi, lalu dimasukkan dalam log yang kemudian tutup kembali cincin baglog dengan kertas atau kapas. Selama proses inokulasi sebaiknya dilakukan dekat dengan bunsen agar tetap steril.

5. Inkubasi

Inkubasi merupakan waktu yang dibutuhkan mulai inokulasi hingga jamur siap ditumbuhkan. Inkubasi dilakukan setelah inokulasi Log Media selesai. Baglog dipindahkan ke ruang inkubasi untuk menumbuhkan miselium jamur, suhu yang diharapkan 22 – 28 0C.

6. Penumbuhan Badan Buah

Setelah miselium memenuhi seluruh permukaan baglog. Kemudian baglog dipindahkan ke ruang produksi (kumbung jamur) dengan membuka tutup cincin log dan diletakkan dengan posisi horizontal dan berselang-seling tiap barisnya (Gambar 5).

Gambar 5. Kumbung Jamur Tiram (kiri) dan Tahapan Perkembangan Badan Buah Jamur Tiram (kanan)

 Selama  penumbuhan badan buah dibutuhkan penyemprotan dengan air bersih secara teratur pada lantai dan Log Media untuk menjaga suhu mikro di sekitar baglog jamur, namun diusahakan agar air tidak sampai masuk ke dalam baglog agar tidak mengganggu proses pembentukan pin head dan menghindari kebusukan. Pemanenan sebaiknya di lakukan pada pagi hari untuk mempertahakan kesegarannya dan mempermudah pemasaran

7. Pemanenan

Kegiatan (cara dan waktu) pemanenan ikut menentukan kualitas jamur tiram putih yang di panen. Panen di lakukan setelah pertumbuhan jamur tiram putih mencapai tingkat yang optimal yakni cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan ini biasanya di lakukan 3 hari setelah tumbuh calon badan buah jamur (pin head). Pada saat itu, ukuran jamur tiram putih sudah cukup besar dengan diameter rata-rata 5-10 cm. Pemanenan perlu dilakukan dengan mencabut keseluruhan rumpun hingga akar-akarnya untuk menghindari adanya akar atau batang jamur yang tertinggal pada saat pemanenan.

8. Sortasi dan Penyimpanan

Sortasi merupakan pemisahan hasil panen ke dalam kategori-kategori yang berbeda berdasarkan karakter fisiknya seperti ukuran, bentuk, dan warna. Biasanya jamur tiram yang berwarna kuning (kualitas rendah) tidak perlu di buang, sedangkan jamur yang kondisinya baik atau segar bisa langsung di packing untuk kemudian di pasarkan. Biasanya jamur tiram yang sudah di panen dapat disimpan lemari es.

Oleh : Fery Abdul Choliq

Dampak Pemupukan terhadap pertanian berkelanjutan

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambah an penduduk serta pertumbuhan sektor industri telah mendorong munculnya system pertanian modern dengan ciri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terhadap pupuk anorganik. Kondisi ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah.  Usaha pertanian dengan mengandalkan bahan kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida kimiawi yang telah banyak dilakukan pada masa lalu dan berlanjut hingga ke masa sekarang serta banyak menimbulkan dampak negatif yang merugikan.  Penggunaan input kimiawi dengan dosis tinggi tidak saja berpengaruh menurunkan tingkat kesuburan tanah, tetapi juga berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yang dapat ditimbulkan oleh pertanian kimiawi adalah tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan. Menyadari akan hal tersebut maka diperlukan usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi cemaran bahan kimia ke dalam tubuh manusia dan lingkungan.

Sejak zaman purba sampai saat ini, pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui pembentukan struktur dan  agregat  tanah  yang mantap dan berkaitan erat dengan kemampuan tanah mengikat air, infiltrasi air, mengurangi resiko terhadap ancaman erosi, meningkatkan kapasitas pertukaran ion dan sebagai pengatur suhu tanah yang semuanya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman ( Kononova, 1999).

Pertanian Berkelanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung” dapat pula “ kemampuan untuk bertahan dan menjaga tidak merosot”.  Dalam  kontek  pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR), 1988 dalam  Reijntjes  C  (2002) menyatakan bahwa Pertanian Berkelanjuta  adalah  pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Namun demikian, banyak orang yang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut ( Soetanto, 2006) :

  1. mantap secara ekologis, yang berarti mampu mempertahankan kualitas sumber daya alam dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan,
  2. bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti dapat mengembalikan biaya dan tenaga yang dikeluarkan serta meningkatkan penghasilan,
  3. manusiawi, yang berarti menghargai semua bentuk kehidupan, dan
  4. luwes, yang mana para petani mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Sugito. Y, (2003) menyatakan bahwa yang perlu diperhatikan dalam penerapan pertanian berkelanjutan antara lain:

  1. Mempertahankan dan memperbaiki kesuburan tanah melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan hasil panen.
  2. Mengurangi tingkat   kerusakan  lahan  sebagai akibat pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
  3. Mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami, misalnya mengusahakan terjadinya siklus bahan organik dan unsur hara.
  4. Dapat meningkatkan daya pegang tanah
  5. Mengurangi penggunaan  input  dari  luar  yang bersifat kimiawi, salah satunya adalah mensubstitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik.
  6. Memberdayakan petani   untuk   meningkat-kan rasa percaya diri atas keberhasilan usaha taninya
  7. Meningkatkan efisiensi  proses  produksi  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan.

Teknik budidaya kimiawi seperti yang dicanangkan pada Revolusi Hijau dapat meningkatkan produksi pada waktu pendek,  namun untuk jangka panjang dapat menurunkan kesuburan kimia, fisik dan biologi tanah, sehingga akan menambah jumlah lahan kritis dan marginal di Indonesia. Selain itu juga akan berakibat pada merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma/ dampak negatif juga akan tampak pada timbulnya hama resisten, berkembangnya organisme parasit, meningkatnya ancaman bagi organisme predator, ikan, burung bahkan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Pengaruh racun tidak hanya terbatas pada daerah pemakaian, tetapi dapat menjadi makin luas melalui komponen rantai makan, seperti air minum, sayuran, buah-buahan dan produk lain yang terkontaminasi. (Zulkarnain,2009).  Introduksi varietas unggul padi yang responsif pada pemupukan, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian hama dan penyakit tanaman menjadi andalan program Bimas. Di satu sisi, Revolusi Hijau terbukti mampu meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi menyebabkan permasalahan lingkungan sebagai dampak dari aplikasi pupuk dan pestisida berlebihan. Penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif, antara lain kecenderungan penggunaan input yang tinggi, terutama pupuk dan pestisida, karena mencemari sumber daya lahan, air dan lingkungan. Sekitar air yang mengairi sebagian sawah di Jawa mengandung 54 mg/l nitrat atau 20% lebih tinggi dari batas toleransi yaitu 45 mg/l (Las et al,2006).

Pupuk   anorganik   dapat   dibedakan   menjadi pupuk tunggal, pupuk majemuk dan pupuk lengkap. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur hara saja, misalnya pupuk urea yang mengandung unsur N, pupuk TSP yang mengandung unsur P dan pupuk KCl yang didominasi oleh unsur K. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari 1 unsur hara, misalnya N+K, N+P,P+K, N+P+K dan sebagainya. Sedangkan pupuk lengkap adalah pupuk  yang mengandung unsur  hara  makro  dan mikro. Pemberian pupuk anorganik  ke  media tanam sangat digemari petani, hal ini disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki pupuk anorganik antara lain

  1. pemberiannya dapat terukur dengan tepat,
  2. kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat dan dalam waktu yang cepat,
  3. kadar unsur yang dikandungnya   tinggi,   sehingga   dengan pemberian    yang sedikit dapat memenuhi kebutuhan tanaman,
  4. banyak diperjual bellikan sehingga mudah didapat,
  5. proses pengangkutan ke lahan lebih mudah karena jumlah yang diangkut lebih sedikit
  6. tanaman memberikan respon yang sangat tinggi terhadap pem-berian pupuk anorganik.

Selain kelebihan yang dimilikinya, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan, yaitu :

  1. selain unsur hara makro, pupuk anorganik sangat sedikit atau hampir tidak mengandung unsur hara mikro,
  2. pemberian pupuk  anorganik  melalui akar harus diimbangi dengan penggunaan pupuk daun yang mengan-dung unsur hara mikro,
  3. Pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dapat merusak tanah,
  4. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kematian tanaman
  5. dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, salinisasi, tercemar logam berat dan tercemar senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah.

Kerusakan srtuktur tanah ini dapat  terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurang nya biodiversitas organisme tanah, dan biasanya terjadi bukan karena kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain ( fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebab-kan pemasaman tanah dan menurunnya populasi cacing secara drastis.

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.  Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.  Penggunaan pupuk yang berlebihan, cenderung tidak efektif dan banyak mengeluarkan biaya. Selain itu untuk zat hara yang tidak diserap tanaman akan terbawa oleh air tanah dan terbuang ke sistem perairan misal ke selokan, sungai, waduk atau danau. Zat hara ini justru akan dimanfaatkan oleh gulma di selokan dan sungai seperti rumput liar, gulma, tanaman air seperti kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Akibatnya sistem perairan akan tertutup dengan tanaman liar ini dan produksi perikanan mungkin terganggu, keseimbangan ekosistem perairan juga akan terganggu.

Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia. Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Oleh : Evy Latifah

 

Inovasi Engeenereed Wood Yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan

Oleh : Handika Setya Wijaya, S.Pd., M.T.

(Teknik Sipil Universitas Tribhuwana Tunggadewi)

Indonesia merupakan 10 besar penghasil kayu terbesar di dunia. Kayu adalah material yang paling ramah lingkungan jika dibandingkan dengan beton dan baja. Berdasarkan laporan APA  dalam Suryoatomo (2013), kebutuhan energi untuk menghasilkan 1 ton material semen, kaca, dan baja berturut-turut adalah 5 kali, 14 kali, dan 24 kali kebutuhan untuk menghasilkan 1 ton material kayu. Dari tinjauan emisi karbon, kayu merupakan material yang paling ramah lingkungan jika dibandingkan dengan beton dan baja. Emisi karbon untuk menghasilkan 1 ton kayu hanya 50 kg C/ton. Hal itu sangat jauh jika dibandingkan dengan beton dan baja yang masing-masing mengeluarkan 210 kg C/ ton dan 660 kg C/ton. Kendala dalam penggunaan kayu untuk konstruksi bangunan adalah kelangkaan kayu dengan dimensi  besar. Untuk menanggulangi masalah tersebut, maka  munculah  kayu  rekayasa (engeenered wood), yaitu box beam, I-Joist, Glued Laminated Timbers, dll. Semua jenis kayu rekayasa tersebut digunakan untuk efisiensi penggunaan material kayu dalam bangunan. Kelebihan kayu rekayasa adalah kayu rekayasa dapat dibentuk dari beberapa lapisan kayu yangmempunyai kekauatan yang rendah. Kekuatan kayu yang rendah tersebut disusun berdasarkan geometri tertentu menjadi sebuah elemen struktur yang kekuatannya hamper sama dengan kayu penampang konvensional. Contoh salah satu konversi kayu rekayasa adalah box beam yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Perbandingan penampang kayu solid dan kayu dengan penampang hollow (box beam) (Sumber: Wijaya, 2014)

Gambar di atas adalah perbandingan antara penampang kayu konvensional dengan penampang box beam dengan luas penampang yang sama. Hasilnya momen inersia penampang rekayasa box beam naik 2,5 kali lipat dari pada penampang kayu konvensional. Maka dari itu kayu rekayasa merupakan salah satu alternative dalam material bangunan yang ekonomis dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan material yang ada selama ini yaitu beton dan baja.

Kopi Bulan Madu

Bodowoso dideklarasikan sebagai kabupaten Republik kopi. Menurut bupati Bodowoso merupakan salah satu penghasil kopi terbaik dunia. Kopi Bondowoso, merupakan salah satu kopi Nusantara yang telah mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis “Java Ijen Raung” dari Kementerian Hukum dan HAM. Kopi yang dijadikan icon kopi Arabika. Pak mukhlis sebagai salah satu warga bondowoso ingin ikut andil untuk mempromosikan Bodowoso sebagai Republik kopi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pak mukhlis adalah membuat satu produk kopi dengan merek “Kopi Bulan Madu”. Kopi bulan madu dihasilkan dari ijen, rawu, argopuro. Kopi yang berasal dari Ijen dan rawu merupakan kopi terbaik di Bondowoso. Menurut pak mukhlis “Kopi Bulan Madu” mempunyai rasa yang lebih asam dan  ada seperti rasa coklatya. “Kopi Bulan Madu” semakin lama di kecap rasanya akan terasa seperti ada rasa pedas. Berdasarkan hasil Skor cup test dengan metode penyangraian menengah (medium roast) berkisar antara 80, 27-84, 88 menempatkan kopi Bondowoso masuk dalam jajaran kopi specialty menurut standar Specialty Coffee Asosiation of America dengan cita rasa spesifik sweetness (manis) dan spicy (pedas).

Kopi bulan madu diolah dengan tangan terampil oleh kelompok tani. Jumlah kelompok tani yang mengelola kopi sebanyak 43 kelompok tani yang di bina oleh Puslit koka Jember dan diawasi bank Indonesia yang memberikan​ bantuan. Berikut ini adalah standar operasional procedure (SOP) Pengolahan kopi yang dilakukan oleh kelompok tani mulai dari berbunga hingga siap seduh. Beberapa proses memang membutuhkan waktu dan tenaga. Setelah buah ranum kemudian dilakukan petik merah, hal ini dilakukan agar kopi yang dihasilkan adalah kopi yang terbaik. Setelah itu, buah kopi tersebut dibawa ke Unit Pengolahan Hasil (UPH) di Bondowoso tepatnya di Kecamatan Sumber Wrigin ada lebih dari 40 UPH yang menaungi sekitar 2000 lebih petani kopi.

Di UPH buah yang sudah dipetik disortasi kembali agar buah kopi yang masih hijau atau belum matang tidak ikut diproses. Kemudian dilakukan perendaman buah kopi di dalam air atau yang biasa disebut  proses perambangam. Proses perambangam dilakukan untuk memisahkan antara biji kopi yang bagus dan tidak. Biji kopi yang bagus adalah biji kopi yang tenggelam. Kemudian biji kopi yang lolos seleksi akan dikupas menggunakan mesin pulper.

Proses tidak hanya dilakukan dengan memilih biji kopi yang tenggelam akan dilakukan lagi sortasi setelah pulper. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memastikan tidak ada kulit kopi yang ikut terfermentasi. Kopi – kopi ini kemudian difermentasi dengan durasi selama 36 jam di dalam karung. Setelah mencapai 36 jam, kopi akan dijemur di bawah sinar matahari. Lamanya penjemuran tergantung cuaca berkisar antara 10-15 hari hingga mencapai kadar air yang pas yakni 11%.

Setelah itu kopi kemudian akan dikupas menggunakan huller untuk memisahkan horn skin (HS) dengan biji kopi (green bean). Kopi yang akan diekspor biasanya dijual dalambentuk HS kering. Untuk produk hikir, petani akan kembali mensortasi green bean yang ada untuk kemudian dijual atau diproses menjadi roasted bean ( biji sangrai) atau ground coffee (biji bubuk). Level roasting yang kerap dipakai petani adalah light to medium atau medium. SOP pengelolaan kopi yang dilakukan oleh kelompok tani harus sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan. Apabila ada kelompoktani yang melanggar maka kelompok tani tersebut akan dikeluarkan dari kelompok tani yang dibina oleh Puslit Koka Jember.

Begitu lah jenis kopi dan SOP bahan baku yang digunakan oleh pak mukhlis untuk membuat “Kopi Bulan Madu”.  Saat ini kopi dijual dalam bentuk bubuk dan merupakan salah satu oleh khas Bondowoso. Varian kopi bulan madu adalah sebagai berikut (1) biasa (kopi Arabika asalan tanpa disortir) dengan harga 25.000/100g , spesial (kopi yang disortir) dengan harga 40.000/100g, blue (ada proses fermentasi) dengan harga 65.000/100g. Salah satu yang menarik dari kopi bulan madu menurut pak mukhlis adalah ketika kita meminum kopi ini nikmatnya seperti orang lagi berbulan madu. Kopi yang nikmat seperti ini lah yang membuat orang akan menjadi ketagihan dan ingin terus meminumnya. Satu cangkir kopi bulan madu rasanya sama seperti 10 cangkir kopi biasa saking nikmatnya tutur pak mukhlis.