iklan

Sorgum sebagai Tanaman Pangan Alternatif Pengganti Padi

incagri.com Incagri.com

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia, dimana makanan pokok dari masyarakatnya adalah nasi. Tak heran jika penduduk di Indonesia kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani dan Indonesiapun di kenal sebagai negara agraris yang mampu meproduksi beras dalam jumlah yang sangat besar. Akan tetapi setiap tahunnya Indonesia selalu mengimpor beras untuk kebutuhan stok pangan dan memasok beras-beras tersebut ke daerah yang kekurangan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor beras dari Thailand periode Januari hingga Oktober 2018 sebanyak 780 ton dengan nilai US$ 377,75. Diperlukan bahan pangan alternatif untuk meminimalisir Indonesia dalam mengimpor beras dari negara lain. Salah satu bahan pangan yang dapat dijadikan alternatif selain jagung, singkong, dan kedelai adalah sorgum. Sorgum merupakan jenis gandum atau serealia yang dapat hidup di wilayah tropis maupun sub tropis di bagian Pasifik tenggara maupun Australia. Sorgum memiliki karakteristik yang tahan terhadap kekeringan dan toleran terhadap genangan air serta relatif tahan dengan gangguan hama maupun penyakit. Sorgum memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di wilayah Indonesia karena memiliki daerah adaptasi yang luas.

Masyarakat Jawa mengenal tanaman sorgum ini dengan sebutan jagung cakul karena memang jika dilihat secara fisik tanaman ini hampir menyerupai jagung. Sorgum sendiri memiliki tinggi rata-rata 2,5 meter hingga 4 meter. Daun sorgum berbentuk lurus sejajar layaknya daun jagung maupun tebu, bijinya berbentuk bulat dan mengkerucut pada bagian ujungnya yang berdiameter sekitar 2mm. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya sehingga dapat berpotensi sebagai sumber bahan baku gula layaknya tebu.

Beberapa penelitian mengenai sorgum, menyebutkan bahwa kandungan protein yang ada di dalam sorgum sangat tinggi daripada sumber pangan lain seperti singkong, jagung, maupun beras. Tepung biji sorgum juga tak kalah kandungan karbohidratnya jika dibandingkan dengan tepung serealia lainnya. Biji sorgum memiliki tiga kandungan karbohidrat yaitu pati, serat dan gula terlarut yang terdiri dari glukosa, sukrosa, maltosa, dan fruktosa. Sorgum juga memiliki keunggulan mineral seperti Ca, P, Fe dan B1 jika dibandinkan dengan beras. Kandungan pati dan protein pada sorgum hampir setara dengan kandungan pati dan protein pada jagung. Perbedaan yang membuat tepung sorgum kurang diminati adalah tidak adanya kandungan gluten layaknya pada tepung terigu, diman gluten ini memberikan efek elastisitas pada adonan mie maupun roti.

Meskipun sudah diketahui kandungan nutrisi sorgum yang tinggi namun saat ini sorgum belum dapat dimanfaatkan secara optimal dikarenakan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan karena nilai jualnya yang belum potensial sebagaimana layaknya jagung, gandum, dan beras. Kendala lainnya datang dari fasilitas sepeti mesin untuk memecah biji sorgum yang sulit untuk dikupas sehingga diperlukan perbaikan teknologi pendukung. Potensi dari bagian sorgum lainnya seperti daun, akar, dan tangkai hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun kompos padahal nira dari sorgum memiliki keunggulan jika dibandingkan nira tebu. Nira merupakan cairan manis yang diperoleh dari batang suatu tanaman. Nira pada sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gula dan bioetanol, jadi hampir semua bagian dari tanaman sorgum dapat dimanfaatkan.

Budidaya sorgum sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, bahkan di lahan marginal pun sorgum dapat tumbuh dengan normal dan produktivitasnya tinggi. Lahan marginal yang dimaksudkan adalah lahan yang kekurangan air, lahan masam, maupun lahan yang memiliki kandungan garam tinggi. Sorgum bisa menjadi sumber pangan alternatif dibandingkan beras dan jagung pada sistem pertanian lahan kering karena kebutuhan air bagi sorgum tak sebanyak padi dan jagung. Selain itu sorgum juga dapat dipanen dua hingga tiga kali dalam sekali tanam. Teknik budidaya sorgum sendiri dimulai dari pengolahan tanah dimana sebelum ditanami, tanah harus dibajak terlebih dahulu kemudian digaru dan diratakan. Tanah tersebut juga harus bersih dari gulma karena pada saat fase pertumbuhan awal sorgum kurang mapu bersaing dengan gulma. Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman, dimana penanaman tersebut dengan membuat lubang dari tugal dengan diberi jarak tanam sekitar 75×25 cm atau 75×20 cm dan masing-masing lubang diberi 2 hingga 3 benih tanaman sorgum.

Diperlukam pula perawatan untuk tanaman sorgum seperti pemupukan dengan tepat, baik tepat dosis, tepat cara, maupun tepat waktu. Adapun penyiangan juga diperlukan mengingat pada fase awal pertumbuhan tanaman sorgum kurang mampu bersaing dengan gulma yang ada. Perawatan dari hama penyakitnya juga harus dilakukan, penyakit yang menyerang sorgum salah satunya adalah bercak pada daun dengan hama utamanya adalah ulat daun. Kemudian tahap terakhir adalah tahap panen dan pasca panen, pada tahap panen hanya perlu memangkas bagian tangkai sekitar 15 cm di bawah bagian biji, setelah itu biji sorgum dikeringkan. Setelah dikira cukup kering, biji sorgum dirontokkan dan disimpan di tempat yang memiliki tingkat kelembaban yang rendah dengan keadaan biji yang kering, besih dan utuh atau tidak pecah. Setelah itu biji sorgum dapat diolah salah satunya adalah dijadian tepung sorgum yang kandungannya tak kalah dengan makanan pokok lainnya.

oleh: Wiji RU

incagri.com Incagri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *