iklan

Permasalahan Pertanian Di Daerah Pedesaan

incagri.com Incagri.com

SIDOARJO – Di era modern seperti saat ini semua kegiatan diorientasikan di daerah perkotaan baik dari sektor pendidikan, pemerintahan, maupun sektor-sektor lainnya sehingga memicu masyarakat pedesaan untuk melakukan migrasi dengan dalih merubah nasib. Padahal tidak semudah itu untuk merubah nasib di perkotaan, dibutuhkan kemampuan yang kompeten agar dapat bersaing dengan masyarakat perkotaan yang cenderung lebih maju dalam hal pendidikan dan teknologi.Hal semacam ini membuat orang-orang berpendidikan yang berada di desa  juga berkeinginan untuk bermigrasi ke perkotaan sehingga menyisakan masyarakat pedesaan yang masih berpegang dengan teknik pertanian konvensional. Sehingga berhektar-hektar persawahan tidak dimanfatkan secara optimal oleh petani karena kurangnya edukasi mengenai teknik-teknik pertanian modern yang lebih efektif dan efisien. Hal ini terjadi di Desa Bogempinggir Kec. Balongbendo Kab. Sidoarjo, di desa ini terbentang berhektar-hektar sawah tapi tidak dimanfaatkan secara optimal dan banyak sawah yang terbengkalai karena ketidaksanggupan pemilik mengolah sawah-sawah mereka yang bisa dibilang sangat luas. Padahal jika dimanfaatkan secara optimal dengan teknik yang benar bisa membawa untung yang sangat besar bagi petani di desa tersebut.

Salah satu faktor yang membuat kurang optimalnya pemanfaatan lahan di Desa Bogempinggir yaitu karena kurangnya edukasi tentang teknik-teknik pertanian modern yang dapat menghemat tenaga tapi justru meningkatkan hasil dan kualitas panen. Dari berhektar-hektar sawah yang terdapat di Desa Bogempinggir masih didomiasi oleh tanaman padi dan diolah dengan cara-cara pertanian konvensional misalnya pembajakan sawahnya masih menggunakan alat tradisional bertenaga manusia dan mesin pembajak kecil yang tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama jika salah seorang petani memiliki lahan seluas satu hektar apa lagi jumlah mesin pembajak yang dimiliki petani pedesaan pastilah sangat minim ditambah jumlah tenaga kerja yang juga sangat minim pula.

Selain itu teknik pengairan yang masih diterapkan di desa Bogempinggir yaitu hanya mengandalkan sungai-sungi kecil disekitar persawahan yang dibuatkan jalan agar dapat mengairi sawah atau dengan memompa air dari sungai, mengandalkan air hujan saat musim penghujan dengan cara membuat tadah hujan yang akan digunakan untuk mengairi sawah ketika musim kemarau tiba. Tentu saja pengairan yang seperti itu sangat tidak efektif baik bagi tanaman maupun bagi petani sendiri memerlukan tenaga yang besar tapi hasil panen tidak maksimal. Kurangnya pengetahuan tentang pupuk di Desa Bogempinggir juga menyebabkan petani hanya menggunakan pupuk  urea dan pupuk kandang saja, padahal pupuk urea tidak baik jika digunakan terus menerus pada tanaman. Selain itu pupuk kandang juga tidak menyediakan semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman, pupuk kandang meningkatkan resiko terkontaminasinya tanaman dengan bakteri yang terkandung dalam pupuk karena pupuk kandang merupakan kotoran dari hewan ternak. Perlu menggunakan berbagai jenis pupuk untuk memenuhi kebutuhan zat hara tanah bagi tanman.

Cara pembasmian gulma di Desa Bogempinggir juga bisa dibilang masih sangat tradisional yaitu hanya dicabut sendiri oleh para pemilik sawah dari satu sisi ke sisi yang lain. Tentu saja cara ini sangatlah menguras energi dan tidak efektif bagaimana tidak karena luasnya lahan yang dimiliki para petani, setelah petani mencabuti sisi yang lain dan berpindah ke sisi lainnya gulma-gulma baru akan mulai muncul lagi pada sisi yang sebelumnya telah dicabut gulmanya sehingga nutrisi untuk tanaman akan terbagi tidak terserap oleh tanaman secara maksimal. Petani di Desa Bogempinggir juga tidak begitu mengenal pestisida lagi-lagi karena kurangnya pengetahuan akan pestisida, kalaupun ada pestisida yang diketahui petani formulanya masih sangat sederhana dan dibuat dari bahan-bahan alami oleh para petani sendiri.

Pemanenan padi di Desa Bogempinggir juga masih menggunakan cara yang tradisional yaitu disabit batang-batang padi dari lahan ke lahan lalu dirontokkan dengan mesin perontok yang masih manual menggunakan bantuan beberapa manusia untuk memproses perontokan padi. Sehingga membutuhkan waktu yang lama juga tenaga yang besar, selain itu biji-biji padi juga tidak terlepas sempurna banyak biji padi yang masih menempel di batang padi mengharuskan petani melakukan perontokan dengan cara di pukul-pukul dengan kuat lalu memilah antara biji padi dan daun padi yang kering.

Pandangan anak muda tentang petani yang dianggap rendah drajatnya membuat minat para pemuda untuk mempelajari pertanian sangatlah rendah bahkan bagi pemuda di pedesaan itu sendiri, mereka lebih berkeinginan untuk bekerja sebagai pegawai kantoran yang berdomisili di kota. Padahal jika dilihat peluangnya pertanian sangatlah meyakinkan selama pertanian itu menggunakan ilmu dan teknik yang benar serta mengikuti era modern dengan menggunakan teknologi-teknologi yang dapat diaplikasikan pada pertanian. Seiring berkembangnya zaman pertanian konvensional akan kalah dengan pertanian modern yang lebih unggul dari segala aspek, akhirnya kearifan lokal pedesaan pun akan hilang karena tegerus oleh zaman modern. Perlu adanya kesadaran dari para pemuda dan pemerintah agar kearifan lokal tetap terjaga tanpa tergerus oleh zaman tetapi juga tidak merugikan petani pedesaan yang tentu saja kalah saing dengan petani-petani modern di perkotaan.

Oleh: Novita Febrianti

incagri.com Incagri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *