iklan

Bertani di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang merupakan lahan yang sangat kritis dan hampir tidak mungkin dapat untuk dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Akan tetapi berbeda dengan cara pandang bapak Sujana kosim. Lahan yang dimanfaatkan oleh pak sujana adalah lahan kritis bekas tambang pasir tampomas. Disinilah pak sujana dan rekan-rekannya melakukan aktifitas sebagai petani. Ketika musim kemarau kering, tandus dan panas sekali, sehingga perlu semangat, kerja keras, strategi dan juga mental petarung untuk bisa merubah lahan seperti ini menjadi lahan produktif kembali. Pertama kali yang dilakukan untuk menyuburkan tanah kami memanfaatkan pupuk kandang,sisa makanan ternak juga air kencing ternak. Kami yang pada awalnya menjadi bahan tertawaan ejekan juga fitnah karena mau bertani di lahan tandus seperti ini, lama kelamaan malah menjadi idola dan mulai banyak yang mendukung dan mengikuti,bukan hanya daerah sekitar malah banyak yang datang silaturrahmi dari sabang sampai merauke bahkan beberapa orang dari luar negeri. Setelah dilakukan penambahan bahan-bahan organik dari pupuk kandang yang berasal dari ternak sendiri dilakukan penanaman pohon perintis(pakan ternak) setelah itu baru menanam pohon lain (buah-buahan dll). Komoditas yang dipilih adalah komoditas yang tahan cuaca, nilai ekonomis tinggi, dan cepat panen.

Sistem pertanian berkelanjutan yang diterapkan oleh pak Sujana adalah kolaborasi antara tanaman dan ternak, sehingga lahan yang tadinya kritis dan tandus bisa berubah menjadi produktif kembali. Sistem pertanian sepreti ini dapat disebut sebagai sistem agrosilvopastura. Sistem  agrosilvopastura  adalah pengombinasian  komponen  berkayu  (kehutanan)  dengan  pertanian  (semusim)  dan  sekaligus peternakan/binatang  pada  unit  manajemen  lahan  yang  sama (Ma’ruf, 2017). Menurut Hairiah (2013) agroforestry merupakan pertanian masa depan yang mempunyai manfaat secara ekologi, ekonomi dan sosial.

incagri.com Incagri.com

Lahan kritis dulunya dikuasai oleh pengusaha akan tetap pak sujana dan rekan-rekan terus berjuang yang awalnya hanya 100 “tumbak” akhirnya setiap tahunnya terus bertambah. Sedikit demi lahan yang dulunya dikuasai oleh pengusaha beralih kepemilikan menjadi milik petani. Pengambil alihan lahan dengan cara dibeli, jadi kami sebagai pengurus kelompok meminjam uang ke bank kemudian di kredit kan kepada masyarakat (khususnya anggota kelompok tani dan juga masyarakat sekitar).

Setelah lahan menjadi subur dan dapat ditanami dengan tanaman, serta ternak berkembang dengan baik timbul masalah baru. Masalah yang timbul adalah susu kambing etawah (murni atau olahan) yang dihasilkan tidak bisa dijual, jangankan membeli susu kambang etawah dikasih saja orang-orang tidak ada yang mau. Akan tetapi pak sujana dan rekan-rakan tidak lansung putus asa akhirnya mereka melakukan cara bagaimana supaya masyarakat suka dengan produk yang mereka hasilkan. Strategi yang dilakukan pertama kali adalah berani promosi (bagi2 produk secara gratis,sebar brosur) selanjutnya promosi lewat medsos. Promosi yang dilakukan supaya susu kambing laku promosi dengan cara sebagai obat dan kita harus berani promosi gratis,jaga kualitas,kontinuitas produk, berapapun harga kalo memang bagus pasti akan dibutuhkan dan dicari banyak orang Kini masyarakat sudah banyak yang sadar dan mengerti akan pentingnya menjaga kesehatan sehingga sering kali malah kami yang kekurangan produksi. Banyak sekali peluang usaha tani di lahan kritis ini seperti halnya buah naga organik yang kami produksi sangat diminati pasar lokal sampai internasional (ekspor) yang karena keterbatasan produksi tidak dapat terpenuhi.

Sumber : KULWA Pendaringan

incagri.com Incagri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *