iklan

Penerapan SST (Starter Solution Technology) untuk Mengatasi Masalah Pupuk Berlebih pada Tanaman Cabai

Jawa Timur merupakan propinsi yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam produksi sayuran Indonesia dengan nilai kontribusi 12.05%.Beberapa sayuran dengan kontribusi nasional tinggi dari Jawa Timur adalah bawang merah (28%), cabe (18.6%), kubis (11.7%) dan bawang daun (11.3%). Sentra produksi sayuran di Jawa Timur berada di wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Malang, Sumenep, Pasuruan, Probolinggo dan sebagainya.Kabupaten Kediri dan Blitar merupakan dua kabupaten yang merupakan sentra produksi sayuran utamanya untuk cabe besar, cabe rawit, tomat dan bawang daun (Sekdirjen Hortikultura, 2010).

Pertanian Cabai di Kediri dan Blitar

Sebagaimana kita ketahui bahwa sentra cabe di Jawa Timur adalah  Kediri, Banyuwangi, Jember dan Blitar. Sehingga perlu kita telusuri penyebab rendahnya produktivitas cabai terutama di Kediri dan Blitar. Kondisi tanah  merupakan sumber  daya produktif yang  utama, hasil penelitian Mariyono et al., (2010)  menyatakan bahwa masalah yang berkaitan dengan kondisi tanah di Kediri dan Blitar adalah keasaman tanah. Di Blitar, masalah lain adalah kesuburan tanah yang  rendah karena rendahnya tingkat bahan organik dan penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Jenis tanah adalah lempung, kecuali tanah sisi timur di Blitar, yang liat. Kondisi drainase yang baik dalam tanah liat. Tingkat keasaman di kedua daerah dilaporkan dengan pH 4-5. Kesuburan tanah di Kediri cukup tinggi, sedangkan di Blitar adalah rendah.

Tabel 1. Masalah yang berkaitan dengan Tanah di Kediri dan Blitar


Permasalahan

Salah satu permasalahan yang terjadi di kedua lokasi adalah kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan. Pelaksanaan Pemupukan yang tidak benar menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.  Hal ini menyebabkan produksi cabe berkurang. Dan  perlu suatu teknologi yang diterapkan untuk mengatasi ketidaksuburan dan ketidak efisienan penggunaan pupuk di lahan.

Pembahasan

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut perlu percobaan pemupukan NPK di ke dua lokasi kemudian menganalisa korelasi antara pemupukan dan kurva hasil panen, merekomendasikan pemupukan untuk tanaman tersebut, menentukan tingkat kesuburan tanah dan melaksanakan pemupukan berdasarkan kesuburan tanah. SST (Starter Solution Technology) atau Uji larutan pupuk merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Sayuran Dunia dan telah didiseminasikan ke Thailand, Indonesia, China, India dan Taiwan. SST merupakan teknologi inovasi untuk mengurangi pupuk dan secara bersamaan meningkatkan produktivitas pemupukan. Tujuan aplikasi adalah untuk mencukupi kebutuhan hara pada tanaman muda sebelum sistem akarnya mapan. Tentunya SST ini sangat berpengaruh untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada umur muda (Maryono, 2013). Penggunaan SST memiliki banyak keuntungan antara lain : Pertumbuhan tanaman (cabe) semusim sangat pendek antara 3 – 4 bulan termasuk tanaman cabai, periode pertumbuhan yang pendek mengakibatkan sering kali pemberian pupuk untuk pertumbuhan tanaman menjadi tidak efesien. meningkatkan pertumbuhan awal tanaman muda, mengurangi kebutuhan pupuk, meningkatkan jumlah bunga, meningkatkan unsur hara tersedia untuk tanaman dari pupuk organik, mengurangi pencemaran/polusi tanaman, dan meningkatkan hasil Pertumbuhan awal yang baik akan menjadikan tanaman sehat dan terangsang untuk meningkatkan pertumbuhan yang lebih baik pada fase-fase selanjutnya,  lebih tahan terhadap perubahan iklim maupun serangan hama/penyakit (Chin Hua Ma et al., 2015).

incagri.com Incagri.com

Menurut (Chin Hua Ma, 2015) yang menghidupkan tanah adalah bahan-bahan mineral tanah liat yang membawa muatan negatif, menarik kation bermuatan positif (NH4+,K+,Ca+, Mg2+, dll)serta menolak anion bermuatan negatif (NO3, H2PO4,SO42,etc), sedangkan bahan organik membawa muatan negatif dan sebagian bermuatan positif, dimana muatan positif pada tanah liat lebih besar. Sedangkan jika pupuk yang diberikan ke dalam tanah dalam bentuk padat maka setelah ion nutrien diserap partikel tanah, sisa nutrien di dalam larutan tanah baru tersedia untuk tanaman, akar tanaman menyerap ion nutrien dari larutan tanah yang dapat disentuh, pada waktu nutrien di dalam tanah habis, sebagian nutrien yang terikat di permukaan partikel tanah akan mengisi kembali nutrien dalam larutan tanah.

Disamping itu pupuk yang diberikan dalam larutan tanah lebih mudah tersedia dibandingkan dengan pemberian pupuk dalam bentuk padat, menurut  Salysbury dan Cleon (1995) bahwa akar yang terus tumbuh ke daerah baru dengan membentuk lebih banyak akar cabang atau pencari makanan. Bila air lebih jauh tersedia dalam tanah maka akar akan tumbuh jauh ke bawah permukaan tanah. Pada keadaan lembab (hampir kapasitas lapang) difusi menuju akar tentu cepat, tetapi pada keadaan kering sampai mendekati titik layu permanen, difusi air dan ion terlarut bisa menurun 1000 kali, sehingga tumbuhan akan sulit mendapatkan air dan ion mineral karena kemampuan akar menerobos tanah dan difusi air serta ion menuju akar terbatas.

Metode Penerapan :

  • Bisa dengan cara manual dengan menggunakan gelas/plastik
  • Injeksi dengan mesin sprayer
  • Manual dengan sprayer portable

Waktu penerapan SST :

  • Pada waktu pemindahan tanaman (akar belum dapat mengakses nutrien)
  • Pada waktu akar terluka (setelah bencana hujan lebat/penyakit)
  • Pada waktu pembentukan buah / fase produktif.

Hasil penelitian Ahsol et al, .2012. Bahwa tanaman cabai yang diberi perlakuan SST dengan 4 perlakuan antara lain : (T1) perlakuan kontrol ( perlakuan petani), (T 2) perlakuan SST dan keseimbangan pemupukan (rata-rata petani), (T 3) perlakuan SSt dengan keseimbangan (medium) dan (T 4) perlakuan SST dengan keseimbangan (rendah) diperoleh hasil :

Tabel 2. Komponen Hasil

Tabel 3. Komponen Hasil


Dimana dari ke 4 perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata, dengan demikian pengurangan pupuk tidak mengurangi hasil produksi cabe.

Pada dasarnya SST dapat diartikan teknologi pemacu pertumbuhan dengan menerapkan 3 faktor penentu keberhasilan pemupukan yakni :

  • TEPAT DOSIS : pupuk yang diberikan cukup untuk menjadikan tanaman tumbuh secara maksimum
  • TEPAT CARA : bahwa cara pemberian yang tepat menjadikan akar tanaman dapat langsung menyerap unsur hara yang diberikan
  • TEPAT WAKTU bermakna waktu pemberian harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi tanaman

Pertumbuhan awal tanaman dengan penerapan teknologi SST cukup baik walau hanya satu atau dua kali pemberian

Kesimpulan :

  1. Kesuburan tanah  rendah karena kandungan  bahan organik  rendah serta penggunaan pupuk anorganik berlebihan menyebabkan nutrient tidak berimbang sehingga kandungan garam tinggi, pemupukan tidak cukup, pengurasan bahan organik, degradasi tanah dan polusi lingkungan.
  2. Teknology SST (Starter Solution Technology) secara nyata mampu membuktikan mengurangi kebutuhan pupuk tanaman , lebih efiensi dalam memanfaatkan pupuk, hasilnya cukup bagus dan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia.

Oleh : Evy Latifah

incagri.com Incagri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *