iklan

Pendidikan Kritis Kehutanan

incagri.com Incagri.com

Pendidikan Kritis

Lembaga pendidikan berpotensi menjadi lembaga penerus hipotesis masal, propaganda dan berbagai doktrin serta tidak mampu membangunkan jiwa peserta didiknya sehingga gagal menyiapkan lulusannya untuk berani bangun, sadar, memiliki daya gugat dan akhirnya berani hidup menjadi dirinya sendiri yang terbebas dari penindasan, pembodohan dan ketertinggalan (Soedomo 2013). Sistem pendidikan seperti itu oleh Paulo Freire seorang pencetus pemikiran pendidikan kritis disebut sebagai pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan yang bergaya bank (bank concept of education) yang dijalankan melalui model bercerita (narrative), menggurui dan hafalan sehingga menumbuhkan kebudayaan bisu (submerged in the culture of silent) yang tidak mampu menerjemahkan pengetahuan ke dalam realitas sosial (Freire 2002, Yunus 2007, Hidayat 2012, Freire 2016). Freire adalah penganut filsafat pragmatisme yang berpandangan bahwa sesuatu dikatakan baik/ benar apabila mampu mewujudkan yang diharapkan/berfungsi. Dalam pendidikan, filsafat ini dikembangkan oleh John Dewey yang merupakan salah satu tokoh yang menginspirasi pemikiran-pemikiran Freire tentang pendidikan. Dari situlah freire mengembangkan kritik terhadap proses pendidikan yang berlangsung secara tradisional namun tidak mampu mewujudkan pembebasan masyarakat dari kondisi ketertinggalan dan ketertindasan. Atas kritik tersebut, Freire mengembangkan konsep pendidikan populer melalui pendidikan hadap masalah (berbasis realitas sosial) yang menggabungkan antara pikiran dengan tindakan yang disebut sebagai suatu praksis. Melalui pendidikan populer atau dikenal dengan pendidikan kaum tertindas, sistem pendidikan ditempa dan dibangun kembali bersama dengan dan bukan diperuntukkan bagi, sehingga pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan bukan penjinakan sosial budaya, melalui sebuah proses penyadaran dengan hati. Menurut Freire pendidikan harus terdiri minimal 3 unsur dialektis dalam prosesnya yaitu pengajar, peserta didik dan realitas sosial.

Proses pendidikan yang hanya mengedepankan guru sebagai obyek aktif dan peserta didik sebagai bejana kosong tanpa melibatkan dialog atas kesadaran realitas sosial hanya akan memelihara keberlangsungan penindasan, hipnotis massal dan berbagai propaganda yang melegitimasi kekuasaan. Gambaran proses pendidikan yang seperti itu disusun oleh Freire dalam daftar antagonisme pendidikan gaya bank sebagai berikut (Freire 2002):

  1. Guru mengajar, murid belajar
  2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bicara, murid mendengarkan
  5. Guru mengatur, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihan, murid menuruti
  7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan guru
  8. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri
  9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalisme dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid
  10. Guru adalah subyek, murid adalah obyek.

Pendidikan seperti itu hanya akan menjadikan murid sebagai duplikasi guru dan pada saatnya mereka mengajar akan mengulangi lagi penindasan-penindasan seperti itu. Pada akhirnya pendidikan hanya menjadi wadah untuk menyalurkan agenda-agenda penguasa tanpa daya gugat dan tanpa mampu menghadapi realitas sosial dengan sadar sehingga pada akhirnya pendidikan hanya akan menjadi masalah baru bagi masyarakat (Illich 2015). Freire beranggapan bahwa pendidikan harus menekankan pada penyadaran dan salah satu prasyarat utamanya adalah dialektika dan emansipasi dalam proses pendidikan untuk menghasilkan suatu praksis yang terus menerus.

incagri.com Incagri.com

 Pendidikan popular di kehutanan belum terlambat

Pendidikan secara umum dan pendidikan tinggi secara khusus dimana didalamnya termasuk pendidikan tinggi kehutanan merupakan sebuah institusi sosial yang tidak bisa dianalisis terpisah dari konstalasi sosial, politik dan ekonomi masyarakat yang melingkupinya, oleh sebab itu gagalnya peran pendidikan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan bangsa dan kemanusiaan akan membuahkan krisis yang serius kepada masa depan bangsa, negara dan umat manusia (Afiff 2005). Kerusakan sumberdaya hutan Indonesia oleh berbagai sebab yang saling berkaitan menunjukkan telah terjadinya kegagalan kebijakan, kegagalan institusi, kegagalan pasar dan kegagalan politik bangsa dalam mengelola sumberdaya hutannya, termasuk di dalamnya adalah kegagalan pendidikan (fOReTIKA 2005). Dengan adanya doktrin scientific forestry yang berkembang di pendidikan tinggi, pengelolaan hutan kehutanan menjadi seperti menutup diri dari berbagai kenyataan persoalan yang ada.

Pengajar lebih banyak menekankan pengetahuan ilmiah dari aspek teknis untuk menyelesaikan persoalan yang secara narative memberikan pengetahuan dalam bentuk konsep dan hukum-hukum kepada peserta didik seperti sebuah bejana kosong. Kondisi tersebut sudah saatnya untuk di reform total. Pengajar harus mampu membangkitkan kesadaran peserta didik terhadap berbagai realitas sosial yang ada dalam ruang lingkup bidang kehutanan yang tidak dapat lepas dari berbagai aspek lainnya. Peserta didik harus diajak untuk berdialog dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan kehutanan dari berbagai sudut pandang dan ilmu pengetahuan harus mampu dibumikan melalui dialog yang berlangsung. Sudah saatnya pendekatan dalam menghadapi persoalan adalah transdisciplinary yaitu dengan sadar sejak awal telah mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk memahami masalah yang kompleks (Syafitri 2013). Hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan kemauan pengajar untuk melepaskan ego dirinya untuk mengajak bersama-sama membangkitkan kesadaran peserta didik dan mau membuka diri terhadap berbagai disiplin ilmu pengetahuan lain atas kesadarannya bahwa ilmu kehutanan tidak mampu berdiri sendiri mengatasi berbagai persoalan yang ada sehingga perlu berbagai kebaruan-kebaruan yang dimunculkan melalui didialektikakan antara pengajar dengan peserta didik.

Perlu dipahami bahwa tidak ada pengetahuan yang absolut sehingga sangat mungkin dilakukan pembaruan terus menerus. Kehidupan ini juga akan terus berlanjut apapun situasi yang terjadi, oleh sebab itu perbaikan melalui pendidikan masih sangat mungkin untuk dilakukan dalam rangka menuju kondisi ideal umat manusia sebagaimana Hegel telah menyatakan bahwa sejarah umat manusia merupakan proses dari sebuah ide yang universal yaitu menuju terbentuknya sebuah masyarakat manusia yang ideal. Oleh karenanya, kehidupan manusia akan jauh lebih baik sepanjang sejarahnya seperti biji mangga yang akan tumbuh menjadi pohon mangga, sebagaimana sesuatu yang ada menjadi tidak ada yang akan ada.

“Kesalahan tidak menjadi kebenaran karena propaganda berulang-ulang, Kebenaran tidak menjadi kesalahan karena tidak ada yang melihatnya.” (Mahatma Gandhi)

“If you only have a hammer, you tend to see every problem as a nail.” (Abraham Maslow)

“If I don’t love the world, if I don’t love life, if I don’t love people, I can’t enter into dialogue.” (Paulo Freire)

Baca dan gugatlah!

Oleh : Mutiono, Geo Septianella, Ike Rosmanita, Dodi Ginanjar

incagri.com Incagri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *